NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11- Rumor di kantor

Rumor di Kantor

Pagi itu Mona datang lebih awal dari biasanya, namun bukannya langsung fokus bekerja, pikirannya justru terus teringat kejadian semalam.

Kamu cantik malam ini

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya sejak tadi malam. Dan yang paling menyebalkan… ia tidak bisa berhenti memikirkannya.

“Ya Tuhan, Mona sadar…” gumamnya pelan sambil menepuk pipinya sendiri.

Ia mencoba bersikap normal saat memasuki lantai khusus direksi, namun baru beberapa langkah… beberapa staf langsung menatapnya dengan ekspresi aneh.

“Pagi, Bu Mona.”

“Pagi…”

“Wah, semangat sekali hari ini.”

Mona mengernyit bingung.

“Aneh banget,” gumamnya pelan.

Ia berjalan menuju mejanya dan langsung membeku. Di atas meja sekretarisnya sudah ada satu buket bunga mawar putih lengkap dengan kartu kecil. Mata Mona membesar.

“Hah?!” Kaget Mona.

Ia segera mengambil kartu itu.

Untuk wanita paling cerewet di kantor. — W

“W?!” Mona mengernyit bingung.

Wajah Mona langsung merah padam. Tidak mungkin… tidak mungkin Wira melakukan hal seperti ini. Mustahil, pria dingin itu bahkan jarang tersenyum.

Mana mungkin mengirim bunga?

“Mbak Monaaaa…”

Suara panjang menggoda membuat Mona langsung menutup kartu itu buru-buru. Salah satu staf wanita mendekat sambil tersenyum jahil.

“Wah, siapa nih yang ngirim bunga?” tanya staf itu.

“Bukan urusan kamu.”

“Uhuy… galak banget.”

Mona buru-buru menyimpan kartu itu ke laci meja, namun jantungnya masih berdegup tidak karuan. Dan tepat saat itu... pintu lift terbuka.

Wira keluar dengan langkah tenang seperti biasa. Semua staf langsung kembali sibuk berpura-pura bekerja, sementara Mona pura-pura fokus menatap laptop.

Padahal tangannya dingin karena gugup. Wira melirik sekilas ke meja Mona, lalu ke buket bunga itu dan sudut bibirnya naik tipis.

“Hari ini jadwal saya?” ujar Wira.

Mona langsung berdiri cepat.

“A-ada meeting jam sembilan, wawancara investor jam sebelas, lalu makan siang bersama klien dari Singapura.”

“Bagus.”

Pria itu berjalan melewati meja Mona, namun saat posisinya tepat di samping Mona…

Wira berkata pelan tanpa menoleh, “Kamu suka bunganya?”

Mona langsung membeku.

Jadi benar dia?!

“P-Pak Wira yang kirim?” tanya Mona gugup.

“Memangnya ada pria lain?” tanya balik Wira.

Nada datarnya justru membuat Mona makin salah tingkah.

“Kenapa kirim bunga?” tanya Mona lagi.

Kini Wira berhenti melangkah. Ia menatap Mona singkat.

“Karena sekretaris saya bekerja dengan baik.”

Lalu pria itu langsung masuk ke ruangannya, sementara Mona masih berdiri membeku dengan wajah merah dan tentu saja… seluruh staf mendengar percakapan tadi.

Satu kantor langsung heboh.

***

Siang harinya, rumor mulai menyebar cepat. Bahkan beberapa karyawan sengaja lewat depan meja Mona hanya untuk melihat bunga itu.

“Mbak Mona dekat sama Pak Wira ya?”

“Katanya kemarin datang acara hotel bareng.”

“Jangan-jangan pacaran…”

Mona hampir stres mendengarnya.

“Tidak ada yang pacaran!” bantahnya untuk kesekian kali.

Namun justru semakin dibantah, orang-orang makin tidak percaya. Apalagi… ini pertama kalinya Wira terlihat memperlakukan seseorang seistimewa itu.

Biasanya sekretarisnya hanya bertahan beberapa bulan sebelum menyerah menghadapi sifat dinginnya, tapi Mona berbeda dan semua orang mulai menyadarinya.

***

Menjelang sore, Mona masuk ke ruangan CEO membawa beberapa dokumen.

Namun baru saja ia menaruh map di meja… “Kenapa wajahmu kusut?”

Mona langsung mendelik.

“Karena Bapak.”

“Saya?” ucap Wira dengan menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa kirim bunga ke kantor?!” jawab Mona kesal.

Wira tampak santai menyender di kursinya.

“Salah?” tanya Wira lagi.

“Sekarang semua orang salah paham!” jawab Mona lemas.

“Biarkan saja.” Jawaban santai itu membuat Mona makin kesal.

“Pak Wira!” ketus Mona.

“Apa?” jawab Wira santai.

“Kita cuma atasan dan bawahan.”

Entah kenapa… setelah kalimat itu keluar, suasana ruangan mendadak berubah. Tatapan Wira perlahan menjadi lebih dalam.

“Tapi mereka tidak salah sepenuhnya.”

Deg

Jantung Mona langsung kacau.

“A-Apa maksud Bapak?” tanya mona dengan melebarkan matanya.

Wira bangkit dari kursinya perlahan, lalu berjalan mendekat. Satu langkah, dua langkah, sampai Mona refleks mundur kecil. Kini jarak mereka sangat dekat, Mona bahkan bisa mencium aroma parfum khas pria itu.

“Mona,” ucap Wira pelan.

“Iya?” jawab Mona.

“Kamu benar-benar tidak sadar?” tanya Wira.

“Sadar apa?” Mona mulai gugup.

Tatapan Wira turun menatap mata gadis itu dalam-dalam, lalu pria itu mengembuskan napas pelan sambil mengacak rambutnya frustrasi.

“Lupakan.”

“Hah?”

“Saya ada meeting.”

Wira langsung berjalan melewati Mona begitu saja, meninggalkan Mona yang makin bingung sendiri.

“Pak Wira aneh banget…”

Namun tanpa Mona sadari… di balik sikap dinginnya, Wira sedang berusaha keras menahan sesuatu. Perasaan yang perlahan tumbuh terlalu cepat, dan itu membuatnya mulai kehilangan kendali.

***

Malam harinya, Mona pulang lebih larut dari biasanya. Ia berjalan pelan keluar gedung kantor sambil memijat pundaknya yang pegal.

Namun tiba-tiba… sebuah mobil sport merah berhenti di depannya. Kaca mobil turun perlahan dan seorang pria tampan tersenyum lebar dari balik kemudi.

“Halo cantik.”

Mona mengernyit bingung.

“Maaf?” tanya Mona bingung.

Pria itu turun dari mobil sambil tersenyum santai.

“Jadi kamu Mona,” ujar pria itu.

“Siapa ya?” tanya Mona.

“Alden.” Pria itu mengulurkan tangan. “Sahabat sekaligus mimpi buruk Wira Aditama.” lanjutnya.

Mona langsung membelalak dan di saat bersamaan… dari kejauhan, Wira baru saja keluar gedung.

Tatapannya langsung berubah tajam saat melihat Mona berdiri bersama pria itu. Untuk pertama kalinya… Wira merasakan sesuatu yang sangat mengganggu.

Cemburu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!