NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyanyian Kabut dan Roda-Roda Pagi

Fajar belum sepenuhnya pecah di langit desa, namun udara dingin sudah lebih dulu menyusup melalui celah-celah dinding kayu penginapan, membawa aroma embun dan sisa pembakaran kayu dari dapur Nenek.

Suara kokok ayam hutan bersahutan di kejauhan, membelah kesunyian yang magis.

Di teras, Senja berdiri mematung, merapatkan jaketnya. Ia menatap hamparan kabut putih yang merayap rendah di atas permukaan tanah, seolah-olah alam sedang menyembunyikan sesuatu di balik selimut putihnya yang tebal.

Pikirannya masih berkelana pada percakapan semalam.

Meski suasana sempat mencair, tetap ada rasa tidak nyaman yang mengganjal setiap kali matanya beradu dengan Arkala. Ada sebuah wilayah yang tidak terlihat, namun terasa sangat nyata—sebuah garis batas yang ditarik oleh Arkala di sekeliling Arunika.

"Woi, Dit! Masih hidup lu?" sebuah suara serak memecah lamunan Senja.

Senja menoleh. Arkala berdiri di dekat motor bak roda tiga yang terparkir di halaman, sedang memeriksa tekanan ban.

Lelaki itu mengenakan jaket jins usang dan sepatu bot karet. Wajahnya tampak ketus, seolah-olah kedamaian semalam hanyalah sebuah mimpi yang tidak ingin ia akui di pagi hari yang dingin ini.

"Gue kira lu masih pingsan kena angin subuh," ledek Arkala lagi. Ia menatap Senja dari bawah ke atas dengan tatapan menilai yang tidak bersahabat.

Senja tertawa pendek, meski ada nada kesal di dalamnya. Ia melangkah turun dari teras menuju halaman yang sedikit becek.

"Enak saja. Gue sudah bangun dari tadi. Udara di sini kalau tidak dinikmati rugi, Kal. Lu pikir gue orang kota manja yang nggak bisa bangun pagi?"

Arkala mendengus, lalu menepuk bak besi motornya dengan keras. "Ya buktinya muka lu masih kusut begitu. Mumpung lu sudah melek, sini lu cek oli. Jangan cuma jago teori soal proyek bokap lu saja."

"Gue mengerti soal mesin, nggak perlu lu suruh-suruh," sahut Senja. Ia mendekat dan mulai ikut memperhatikan mesin motor bak itu.

Mereka berdua berjongkok, namun atmosfer di antara mereka kembali memanas.

Tidak ada lagi candaan tentang tukang kebun, yang ada hanyalah dua laki-laki yang saling mengukur kekuatan.

"Denger ya, Dit," bisik Arkala tiba-tiba, suaranya sangat rendah agar tidak terdengar sampai ke dalam rumah. "Gue tahu lu mulai sering cari muka di depan Arunika.

Tapi jangan pikir karena semalam kita bisa ngopi bareng, lu punya akses bebas buat deketin dia. Lu itu cuma singgah, inget itu."

Senja mengetatkan rahangnya, tangannya yang memegang kunci mesin sedikit bergetar.

"Kenapa lu selalu merasa terancam, Kal? Gue cuma mau berteman sama dia. Apa itu salah? Atau lu sebenernya takut kalau Arunika lebih nyaman ngobrol sama gue daripada dengerin ocehan kasar lu tiap hari?"

Arkala berdiri dengan sentakan cepat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Senja.

"Nyaman? Lu pikir modal kata-kata manis bisa bikin dia aman? Gue yang jagain dia pas dia hancur, Dit. Lu nggak tahu apa-apa soal dia. Jadi, mending lu jaga jarak sebelum gue beneran hilang kesabaran."

"Lu posesif, Kal. Itu bukan jagain, itu namanya mengekang,".

Tepat saat ketegangan itu memuncak, pintu rumah terbuka. Bunyi derit pintu itu memaksa keduanya untuk mundur seketika.

Arunika muncul dengan balutan sweter rajut berwarna krem. Wajahnya yang polos tampak bersinar lembut di bawah cahaya remang fajar. Ia membawa sebuah keranjang bambu kecil dan dua botol air mineral.

"Sudah siap?" tanya Arunika dengan suara yang begitu jernih, seolah-olah ia tidak merasakan percikan api yang baru saja terjadi di halaman.

Senja mendongak, matanya tak sengaja terpaku pada senyum Arunika.

Seketika amarahnya mendingin, berganti dengan keinginan untuk melindungi suasana ini agar tetap tenang. "Pagi, Ka. Ini sudah siap semua. Arkala tadi cuma lagi kasih sedikit 'arahan' soal motornya."

"Iya, Ka. Dia ini lelet banget belajarnya," sahut Arkala sambil berpura-pura sibuk dengan setang motor, meski matanya masih memberikan lirikan tajam pada Senja.

Arunika tertawa kecil. "Sudah, jangan saling ejek terus. Ayo berangkat, nanti bumbu dapur yang dicari Nenek keburu habis diambil orang di pasar."

Arkala naik ke kursi kemudi, sementara Senja dan Arunika naik ke bak belakang.

Di atas motor yang berderu keras, angin dingin menerpa wajah mereka. Senja duduk berseberangan dengan Arunika, dipisahkan oleh jarak yang sempit namun terasa jauh karena kehadiran Arkala di depan.

"Kamu tidak kedinginan, Dit?" tanya Arunika pelan.

"Sedikit, tapi asyik. Aku jarang merasakan naik motor bak begini," jawab Senja. Ia menatap Arunika yang sedang merapikan kerudungnya. "Kamu sering ke pasar pagi-pagi begini sama Arkala?"

Arunika mengangguk. "Hampir setiap dua hari sekali. Sejak dulu, Arkala itu memang yang paling rajin mengantar jemput. Dia pelindung yang luar biasa buatku."

Senja melirik punggung Arkala. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan cara Arkala memandangnya dari spion. Setiap kali Senja tertawa bersama Arunika, Arkala sengaja menggas motornya dengan kencang, membuat mereka terguncang.

"Woi, di depan ada tanjakan! Pegangan!" teriak Arkala sengaja, lalu mengoper gigi motor dengan hentakan yang sangat kasar.

Motor melonjak, membuat Senja hampir terjungkal.

Secara refleks, ia meraih tepi bak motor, sementara tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Arunika yang juga mencari pegangan.

Detik itu juga, mata mereka bertemu. Senja merasakan desiran aneh di dadanya, sebuah perasaan familiar yang menyakitkan.

Arkala melihat itu dari spion. Wajahnya mengeras. Ia sengaja menghentikan motor dengan mendadak saat sampai di pinggir pasar, membuat Senja hampir tersungkur ke depan.

"Dah sampai! Turun lu, Dit! Jangan keenakan duduk di situ," bentak Arkala ketus.

"Pelan-pelan dong, Kal! Hampir saja Adit jatuh," protes Arunika.

"Halah, dia cowok, Ka. Masa gitu saja jatuh," sahut Arkala sambil turun dari motor dengan langkah kasar.

Ia menatap Senja dengan tatapan penuh peringatan sebelum pergi menuju kios daging. "Inget ya, Dit. Jangan sampai lu hilang. Lu hilang di sini, gue nggak bakal cari."

Kini tinggal Senja dan Arunika di tengah keramaian pasar. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong sempit yang lantainya sedikit becek.

Senja dengan setia mengikuti langkah Arunika, sesekali membantunya membawakan kantong belanjaan.

"Maafin Arkala ya, Dit. Dia memang sedikit... emosional pagi ini," ucap Arunika sambil memilih cabai merah.

"Nggak apa-apa, Ka. Aku sudah biasa sama sikap dia yang seperti pagar berduri itu," jawab Senja. Ia menatap Arunika yang sedang tersenyum pada pedagang.

Di dalam hatinya, Senja bertekad: ia tidak akan membiarkan Arkala mengintimidasi perasaannya. Jika memang ada sesuatu yang menariknya ke desa ini, ia akan memastikannya, apa pun taruhannya dengan Arkala.

Saat mereka sedang asyik memilih sayuran, seorang pedagang tua menatap mereka dengan senyum lebar. "Cah ayu, ini suaminya ya? Ganteng benar, cocok sekali sama kamu."

Wajah Arunika memerah seketika. "Bukan, Nek. Ini teman yang sedang berkunjung."

Senja hanya terdiam, namun ia melihat Arkala sudah berdiri tidak jauh dari sana, menatap mereka. Arkala mendengar ucapan pedagang itu, dan matanya menyala penuh amarah yang tertahan.

Pertempuran tanpa kata itu baru saja dimulai.

Di pasar yang riuh ini, di bawah langit fajar yang mulai terang, dua laki-laki itu saling mengunci dalam kebencian yang sama: ketakutan akan kehilangan perhatian dari satu gadis yang sama.

"Sudah belanjanya?" tanya Arkala saat ia menghampiri mereka. Ia langsung mengambil keranjang dari tangan Arunika tanpa melihat ke arah Senja. "Ayo balik. Nggak usah lama-lama di sini". ucap Arkala.

Senja hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang seolah berkata pada Arkala: lu nggak akan bisa menang selamanya, Kal.

Mereka pun naik kembali ke motor bak. Dalam perjalanan pulang, matahari sudah naik lebih tinggi. Namun di hati Senja dan Arkala, awan gelap persaingan baru saja terbentuk, siap untuk menumpahkan badai kapan saja.

"Besok gue yang bawa motornya, Kal. Sesuai taruhan," celetuk Senja memecah keheningan.

Arkala hanya mendengus kencang. "Liat saja nanti, lu sanggup apa nggak."

Motor bak itu terus melaju, membawa tiga orang dengan pikiran yang berbeda-beda menuju satu rumah kayu yang sama, di mana rahasia besar tentang siapa mereka sebenarnya masih terkunci rapat di balik kenangan yang hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!