"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suasana di area belakang rumah keluarga Surya mendadak beku. Ucapan Nyonya Widya tentang status pernikahan yang tidak terdaftar masih menggantung di udara seperti racun yang mematikan.
Aira menatap Dewa dengan tatapan yang hancur, sementara Pak Surya dan Siska mulai menunjukkan senyum kemenangan yang keji di tengah ketakutan mereka.
"Jadi... kalian hanya tinggal bersama tanpa ikatan sah?" Siska tertawa meremehkan, suaranya melengking tajam. "Wah, Mbak Aira, ternyata kuli ini bukan cuma miskin, tapi juga penipu! Masih mau membela pria yang bahkan tidak bisa memberimu status hukum?"
Pak Surya mendengus, rasa percaya dirinya kembali pulih setelah mendengar ucapan Nyonya Widya. "Sudah kuduga. Dewa, beraninya kamu mencemari nama baik keluargaku dengan pernikahan palsu! Cepat ambil sabun itu dan selesaikan cucianmu, lalu pergi dari sini selamanya!"
Dewa hendak membuka suara, matanya berkilat menatap ibunya dengan amarah yang tertahan.
Ia ingin menjelaskan bahwa Bara telah mengurus semuanya secara legal di belakang layar tanpa sepengetahuan Nyonya Widya. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, sebuah gerakan mengejutkan terjadi.
Aira melangkah maju. Tangannya yang gemetar karena amarah kini bergerak dengan pasti. Ia menyambar tangan Dewa yang masih memegang piring kotor penuh sisa lemak, lalu menariknya menjauh dari bak cuci piring.
PRANG!
Aira membanting piring itu ke lantai semen hingga hancur berkeping-keping. Suara pecahan piring itu bergema di seluruh area belakang, membungkam tawa Siska dan makian Pak Surya.
"Cukup!" teriak Aira. Suaranya tidak lagi lembut atau penuh keraguan. Itu adalah suara seorang wanita yang telah mencapai batas kesabarannya.
"Aira! Apa yang kamu lakukan? Itu piring mahal!" bentak Pak Surya.
Aira tidak menghiraukan ayahnya. Ia berdiri tepat di depan Dewa, seolah menjadi perisai bagi suaminya. Ia menatap ayahnya, adiknya, dan Nyonya Widya dengan tatapan yang membara.
"Kalian semua menyebut kami miskin? Kalian menyebut suamiku tidak berharga karena maharnya hanya seratus ribu rupiah?" Aira tertawa getir, air mata mengalir di pipinya, namun ia tidak menunduk. "Harta bisa dicari, kedudukan bisa dibeli. Tapi di mana kalian meletakkan rasa kemanusiaan kalian?"
Aira menunjuk ke arah tumpukan piring kotor. "Ayah... pria ini adalah suamiku. Orang yang Ayah paksa untuk menikahi aku demi menghapus mitos langkahan yang Ayah takuti. Dia datang saat tidak ada satu pun pria kaya yang Ayah puja mau menoleh padaku. Dia menjagaku, dia memberiku makan dengan tangannya yang kasar, dan dia menghormatiku di saat Ayah sendiri membuangku!"
"Dia hanya kuli, Aira! Dia sampah!" teriak Siska.
"Jika dia sampah, maka aku adalah bagian dari sampah itu!" balas Aira telak. "Aku lebih memilih hidup di gang sempit dengan pria yang punya hati, daripada tinggal di rumah mewah ini dengan orang-orang yang jiwanya sudah busuk oleh kesombongan!"
Aira menoleh ke arah Nyonya Widya yang masih berdiri dengan angkuh. "Dan untuk Anda, Nyonya Besar... Anda boleh memiliki pesawat pribadi, Anda boleh memiliki seluruh gedung di kota ini. Tapi Anda adalah ibu paling miskin yang pernah aku temui. Anda mencoba menghancurkan kebahagiaan anak Anda sendiri hanya karena ego."
Aira kembali menatap Dewa. Ia meraih telapak tangan Dewa yang kasar karena debu proyek - yang sebenarnya adalah debu samaran, lalu mencium punggung tangan itu dengan takzim di depan semua orang.
"Mas Dewa... ayo kita pergi," ucap Aira lembut namun tegas. "Jangan kotori tanganmu dengan piring-piring ini. Kita punya harga diri yang tidak sanggup mereka beli, bahkan jika mereka menjual seluruh harta mereka."
Dewa terpaku. Selama hidupnya sebagai pewaris tunggal Pradipta Group, ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menjilatnya karena kekuasaannya.
Ia sering melihat wanita-wanita sosialita yang memperebutkannya demi status. Namun hari ini, ia melihat sesuatu yang jauh lebih berharga dari seluruh saham perusahaannya.
Ia melihat seorang wanita yang mencintainya dengan sisa-sisa napasnya. Seorang wanita yang bersedia berdiri di tengah badai penghinaan, membela seorang pria yang ia kira tidak punya apa-apa di depan dunia.
Dewa menatap mata Aira yang basah oleh air mata namun penuh keberanian. Di mata Dewa, Aira bukan lagi sekadar istri dari sebuah perjodohan paksa. Ia adalah berlian paling murni yang pernah Dewa temukan, berlian yang tidak butuh potongan sempurna untuk berkilau.
"Aira... kamu benar-benar luar biasa," batin Dewa. Rasa cinta yang selama ini tertutup oleh dinding keraguan kini meledak dalam dadanya. Ia sadar, ia tidak akan pernah membiarkan wanita ini menangis lagi.
Aira menarik tangan Dewa, menuntunnya berjalan melewati kerumunan tamu yang kini hanya bisa terdiam menyaksikan drama tersebut. Nyonya Widya tampak terpukul, wajah angkuhnya sedikit retak melihat keteguhan Aira.
Saat mereka sampai di depan motor tua Dewa, Aira berhenti. Ia menghapus air matanya dengan ujung kerudungnya, lalu menatap Dewa dengan senyum tulus yang sangat manis.
"Maafkan aku ya, Mas. Aku sudah bikin keributan," bisik Aira. "Tapi aku tidak tahan melihat mereka memperlakukanmu seperti itu."
Dewa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih wajah Aira dengan kedua tangannya, menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh kerinduan, sebuah tatapan yang memancarkan rasa cinta yang luar biasa dalam.
"Terima kasih, Aira," suara Dewa berat karena emosi. "Terima kasih karena sudah percaya padaku saat dunia tidak. Mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh merendahkanmu. Aku berjanji."
Saat Dewa hendak menyalakan motornya, Bara mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Wajah Dewa berubah menjadi sangat dingin.
"Tuan Muda, Nyonya Widya baru saja memerintahkan untuk memblokir seluruh rekening Anda, termasuk dana yang Anda siapkan untuk melindungi kontrakan itu."
Dewa menatap Aira yang sedang naik ke boncengan motor dengan wajah lelah namun tenang. Ia menyadari satu hal, pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.
Bisakah Dewa melindungi berliannya saat seluruh kekuasaannya diputus oleh ibunya sendiri? Ataukah ia terpaksa mengakui identitasnya lebih cepat untuk menyelamatkan tempat tinggal mereka?
...----------------...
To Be Continue ....