Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu Merebut
Nadia melangkah dengan langkah besar.
Dada perempuan itu naik turun menahan amarah.
Begitu sampai di hadapan meja, ia menatap Ratna tajam.
“Ratna!”
Suara Nadia meninggi.
Beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.
Ratna.
Nama itu saja sudah cukup membuat dada Nadia sesak.
Sejak kecil, sepupunya itu selalu ingin memiliki apa pun yang Nadia punya.
Bahkan setelah kedua orang tua Nadia meninggal, ayah Ratna mengambil sebagian besar hasil penjualan rumah warisan yang seharusnya menjadi hak Nadia.
Ratna selalu hadir seperti duri dalam daging.
Tersenyum manis, tetapi diam-diam melukai.
Ratna menoleh.
Senyum mengejek terbit di sudut bibirnya.
Sementara Nanda menegang.
Cup minuman bersoda di tangannya hampir terjatuh.
“Kenapa kamu memberikan makanan dan minuman sembarangan pada Nanda?” suara Nadia bergetar menahan marah.
Tanpa menunggu jawaban, Nadia mengambil gelas minuman bersoda dari tangan Nanda.
“Ya ampun, Mira,” Ratna menyandarkan tubuh ke kursi. “Sesekali saja. Nggak akan mati, kan? Lagian dia bukan anak….”
“Stop, Ratna.”
Nada suara Nadia tegas.
Ia tak ingin Ratna menyebut sesuatu yang bisa mengungkap kenyataan bahwa Nanda bukan anak kandungnya.
“Maaf, Bunda.”
Suara Nanda bergetar.
Mata anak itu mulai berkaca-kaca.
Nadia langsung berjongkok di hadapannya.
Ia menggenggam kedua tangan kecil itu.
“Sayang, Bunda melakukan ini karena Bunda sayang pada Nanda.”
Nadia mengusap pipi anak itu.
“Lihat, sekarang Nanda sehat. Jarang sakit. Dan selalu menjadi juara kelas. Itu karena Nanda anak yang pintar.”
Ratna terkekeh pelan.
“Ah, kamu tahu apa tentang mendidik anak?” katanya sinis. “Kamu cuma ibu rumah tangga, . Kurang pergaulan. Anak-anak itu harus senang. Kalau sakit, ya tinggal diobati.”
Tatapan Nadia berubah tajam.
“Enak sekali kamu bicara.” Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan. “Siapa kamu sampai merasa berhak merusak semua hal yang sudah aku bangun untuk Nanda?”
Ratna mengangkat bahu.
“Kalau aturanmu bikin anak tertekan, mungkin memang aturannya yang salah.”
“Bunda…” bisik Nanda pelan.
Sebelum Nadia sempat menjawab, suara Yuni terdengar.
“Ada apa ini?” Ucap Yuni
Yuni sudah sampai di luar Mall terus mengoceh tapi dia mengoceh sendirian, nadia tidak ada, dia kembali ke dalam mall dan melihat Nadia sedang memarahi Ratna..
Nanda segera berlari memeluk neneknya.
“Oma, Bunda galak terus,” adunya sambil menangis. “Nanda cuma ingin seperti anak-anak lain. Makan seblak, es teh manis, minum soda.”
Nadia menoleh kepada Yuni.
“Bu, bulan lalu Nanda sampai dirawat di rumah sakit karena makanan dari luar. Saya hanya ingin menjaga kesehatannya.”
Yuni ingin menyela.
Namun Ratna lebih dulu berdiri dan menyapa dengan suara manis.
“Mamah, maafkan Ratna. Tadi Ratna dan Mas Raka menjemput Nanda di TK.”
Kalimat itu membuat jantung Nadia seperti berhenti berdetak.
Tadi Ratna dan Mas Raka.
Jadi benar.
Semalaman ia menunggu Raka pulang.
Pesan-pesannya tak dibalas.
Teleponnya tak diangkat.
Tetapi suaminya sempat menjemput Nanda bersama Ratna.
Ratna tentu sengaja mengatakannya.
Seolah ingin memastikan Nadia tahu bahwa ada sesuatu yang tak lagi menjadi miliknya seorang diri.
Ratna melanjutkan dengan suara lembut.
“Nanda bilang dia ingin sekali makan seblak, jadi Ratna ajak ke sini.”
“Sudahlah, jangan diperpanjang,” kata Yuni. “Kalau mau jemput Nanda, harusnya bilang sama Mamah.”
Hati Nadia sempat menghangat.
Namun kehangatan itu hanya berlangsung sesaat.
“Supaya kita bisa jalan-jalan bersama,” lanjut Yuni sambil tersenyum kepada Ratna. “Aku, kamu, dan Nanda.”
Yuni menoleh sekilas ke arah Nadia.
“Nadia nggak pandai memilih barang-barang bagus. Kalau ke mal sama dia, rasanya seperti membawa pembantu.”
Kalimat itu menghantam tepat ke dada Nadia.
Tangannya yang menggenggam kantong belanja mengencang.
Belanjaan itu dibeli dengan uangnya.
Selama ini, ia yang diam-diam menutupi kekurangan keuangan rumah tangga.
Ia yang membayar banyak kebutuhan.
Ia yang mengantar Yuni ke rumah sakit.
Ia yang mengurus Nanda dari pagi hingga malam.
Namun di mata ibu mertuanya, ia tak lebih dari seorang pembantu.
Nadia menunduk sejenak.
Berusaha menelan luka yang terasa semakin sesak.
Sementara di hadapannya, Ratna tersenyum tipis.
Senyum kemenangan yang membuat Nadia sadar.
Bukan hanya pernikahannya yang sedang terancam.
Perlahan-lahan, tempatnya di hati orang-orang yang ia cintai pun sedang direbut.
“Maaf, Mas Raka menelepon,” ujar Ratna.
Dengan sengaja, ia mengeraskan volume ponselnya.
Suara Raka terdengar jelas di telinga Nadia.
“Kamu di mana?”
“Ini, Mas. Habis antar Nanda makan.”
“Oh, ya sudah. Tolong antarkan Nanda pulang, ya. Setelah itu kamu balik lagi ke kantor. Ada meeting.”
“Baik, Mas.”
Ratna menutup telepon.
Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah baru saja memenangkan sesuatu.
Ia menoleh kepada Nanda dengan tatapan penuh kasih.
“Nanda sayang, Mamah kerja dulu, ya.”
Nanda mengangguk kecil.
Ratna lalu menatap Yuni.
“Mamah, aku kembali kerja dulu. Kalau tadi nggak ada agenda, sebenarnya aku mau antar Mamah pulang pakai mobil baru. Tapi aku sudah ditunggu.”
Yuni tersenyum hangat.
Senyum yang sudah sangat jarang Nadia terima.
“Ya sudah, pergilah. Karier kamu penting. Mamah bisa pulang naik taksi online.”
Nadia berdiri membisu.
Ada nyeri yang menjalar pelan di dadanya.
Yuni selalu menuntut padanya ini dan itu tanpa memberi toleransi sedikitpun
Sedangkan sama Ratna ibu mertuanya sangat pengertian
Dalam hati bertanya sebenarnya siapa menantunya
Ratna telah merebut begitu banyak hal dalam hidupnya.
Perhatian Yuni.
Kekaguman Nanda.
Dan sekarang… kedekatan dengan Raka.
Namun demi Nanda, Nadia masih memilih bertahan. Nanda dan nadia sama sama anak yatim apalagi nanda di urus sejak bayi merah membuat hubungan emosional nadia pada nanda kuat,
Ratna menoleh padanya.
“Nadia, aku pergi dulu, ya. Jangan terlalu keras sama Nanda, oke?”
Nadia tidak menjawab.
Ia terlalu lelah untuk sekadar membuka mulut.
“Sudah, ayo pulang,” kata Yuni.
Nadia meraih tas sekolah Nanda dan kantong-kantong belanja.
Sementara Yuni menggandeng tangan Nanda.
Anak itu berjalan dengan wajah tertunduk.
Entah karena takut, entah karena merasa bersalah.
Mereka keluar dari mal dalam diam.
Tak ada satu pun yang berbicara.
Beberapa menit kemudian, taksi online datang.
Nadia duduk di kursi depan.
Yuni dan Nanda duduk di kursi belakang.
Suasana di dalam mobil sunyi.
Hanya terdengar dengungan pendingin udara dan musik pelan dari radio.
Tiba-tiba suara Yuni memecah keheningan.
“Andaikan kamu punya mobil sendiri seperti Ratna.”
Nadia memejamkan mata sejenak.
Bukan karena ia tak mampu.
Kalau hanya membeli sebuah mobil, Nadia lebih dari sanggup.
Bahkan jika ingin, ia bisa membeli mobil yang jauh lebih baik daripada milik Ratna.
Namun untuk apa?
Nadia tak pernah merasa perlu membeli sesuatu hanya demi menandingi orang lain.
Selama ada taksi online, ia bisa pergi ke mana saja dengan nyaman.
Tak perlu repot memikirkan sopir, parkir, atau biaya perawatan.
Lagipula, ada kepuasan tersendiri saat ia bisa berbagi rezeki dengan para pengemudi yang bekerja keras mencari nafkah.
Di mata Nadia, kesederhanaan bukanlah kekurangan.
Itu adalah pilihan hidup.
Sayangnya, tak semua orang memahaminya.
Nadia menatap jalanan di depan.
Di dadanya, luka-luka hari itu masih terasa hangat.
Ucapan Ratna.
Sikap Raka.
Tatapan Nanda.
Dan kalimat Yuni yang tak pernah gagal merendahkan dirinya.
Namun Nadia tetap memilih diam.
Karena terkadang, diam adalah satu-satunya cara agar air mata tidak jatuh di hadapan orang-orang yang tak pernah benar-benar memahami perasaannya.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭