Berlatar di Seoul, Seo Yerin adalah wanita karier sempurna yang hidupnya hancur setelah diracuni oleh suaminya sendiri dan dikhianati sahabat dekatnya. Namun setelah kematiannya, ia secara misterius kembali ke masa lalu tepat di hari saat dirinya dilamar.
Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Pertama, dia menghajar orang yang melamarnya tepat di hadapan semua orang dan merencanakan balas dendam kepada sahabat dan semua orang yang membuatnya menderita.
Namun di tengah usahanya mengubah takdir, ia tanpa sadar terlibat dengan seorang pria berbahaya dari dunia bawah tanah—seorang mafia dingin yang juga sedang menyiapkan balas dendamnya sendiri.
Apakah pembalasan dendamnya dapat membawanya menuju kebahagiaan? Atau malah membuatnya semakin terseret ke dalam jurang neraka? Saksikan perjalanan Yerin hanya di novel ini ☺️☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SuciptaYasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 Kemarahan Yeon Nara
Keesokan harinya.
Matahari pagi bersinar begitu cerah seolah-olah ikut merayakan suasana hati Yerin yang sedang membubung tinggi.
Begitu turun dari mobilnya di depan lobi Seorin Fashion, aura Yerin tampak luar biasa cerah. Ia menatap gedung tinggi itu seperti taman bermain anak-anak, buka gedung kantor yang formal dan kaku.
Ia berjalan memasuki lobi sambil sesekali melompat kecil seperti anak-anak.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Nona Yerin hari ini...?" gumam si supir yang biasa menjadi tempat pelampiasan Yerin saat dia kesal atau marah.
Disisi lain, langkah Yerin tiba-tiba terhenti di dekat taman kecil depan gedung.
"Ah... kucing."
Seekor kucing oranye sedang tidur malas di bawah semak. Tanpa ragu, Yerin langsung berjongkok di dekatnya, tidak peduli pada rok kerjanya yang menyentuh lantai.
"Halo, kecil..." gumamnya sambil mengelus kepala si kucing dan tertawa cekikikan sendirian.
Beberapa pegawai yang kebetulan lewat saling bertatapan dengan alis berkerut, mereka semua heran melihat pemandangan langka sang Ketua Tim Perancang yang mendadak menjadi begitu manis.
Keceriaan itu berlanjut hingga ke lantai atas.
Pagi itu, di ruang kerja tim perancang, atmosfer tampak sangat suram. Wajah-wajah para staf terlihat lelah karena tumpukan pekerjaan yang menggunung.
Hal itu tidak lain disebabkan oleh kebiasaan ketua mereka yang sering meninggalkan pekerjaannya belakangan ini.
Brak!
Pintu terbuka.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Yerin dengan nada suara yang terlampau riang.
Ia berjalan memutari ruangan, menyapa stafnya satu per satu dengan sikap akrab yang tidak biasa.
Begitu Yerin melangkah masuk ke ruang kerja pribadinya, kasak-kusuk langsung pecah di kubu tim perancang.
"Ketua Seo bersemangat sekali, padahal draf revisi di mejanya sudah menumpuk hampir setengah meter."
"Apa dia baru menang lotre?"
"Aih, kau ini. Apa kau pikir keluarga Seo semiskin itu sampai harus heboh karena menang lotre?"
"Benar juga. Lalu, apa yang membuatnya seceria itu hari ini?"
Di dalam ruang kerja utama, Nara tampak duduk di balik mejanya dengan kondisi yang berantakan. Lingkara hitam di bawah matanya memperlihatkan dengan jelas bahwa sang asisten kurang tidur akibat harus mengurus berkas-berkas yang ditinggalkan Yerin.
Melihat bosnya masuk dengan senyum selebar lumba-lumba, Nara menopang dagunya dan menatap Yerin penuh selidik.
"Nona... ada apa dengan wajah cerah itu?" tanya Nara curiga.
Yerin berjalan mendekati meja asistennya itu dengan gerakan menggoda dan ikut menaruh kedua tangannya di dagu.
"Hmm... apa aku harus memberitahu Nara yang imut ini atau tidak ya...?"
Nara langsung melipat tangan di dada, memalingkan wajah dan berpura-pura merajuk. "Terserah. Tidak usah bilang kalau Anda memang tidak mau. Lagipula saya hanyalah robot yang mengurus pekerjaan anda."
Melihat ekspresi merajuk asistennya yang sangat menggemaskan, Yerin tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Baiklah, baiklah, akan aku beritahu."
Yerin membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Nara yang kini sudah menajam penuh rasa ingin tahu.
Ia mulai menceritakan semua hal yang terjadi di pesta kemarin dan hubungannya dengan Yo-han. Mendengar hal itu seketika membuat mata Nara langsung melebar.
....
Di belahan kota Seoul yang lain, atmosfer yang kontras sedang terjadi.
Jeong-won berjalan cepat menyusuri koridor korporat sambil membawa map tebal. Ia menghampiri Yo-han untuk membahas agenda penting.
"Bos, ini berkas untuk rencana rapat bersama para petinggi Moonlight Club siang ini," ucap Jeong-won menyerahkan dokumen tentang kelab hiburan malam terbesar di distrik Seoul tersebut.
Yo-han menerima dokumen itu dan membacanya sekilas sebelum akhirnya berdiri. "Aku tidak punya banyak waktu, umumkan rapat sekarang juga," ucapnya.
"Siap Bos!"
Namun, tepat sebelum melangkah pergi, ia seakan teringat sesuatu. "Jeong-won."
"Ya, Bos?"
"Tarik uang tunai sebesar 500 miliar won dari rekening pribadiku."
Jeong-won nyaris menjatuhkan pulpennya. Matanya melotot mendengar nominal yang tidak masuk akal itu. "Li-lima ratus miliar won?! Bos, Anda mau membeli gedung pemerintahan atau bagaimana? Untuk apa uang sebanyak itu?"
Yo-han merapikan kerah jasnya, lalu menjawab dengan nada santai. "Aku akan menggunakannya sebagai mahar dan dana persiapan pernikahanku."
Jeong-won mengangguk-angguk patuh secara mekanis. "Ah, untuk pernikahan... Tunggu. APA?! ME-MENIKAH?!"
Teriakan heboh asistennya itu membuat Yo-han mengernyit risih. "Apa ada yang salah dengan itu?"
"Tentu saja salah! Maksudku, tidak salah, tapi... Bos! Setahuku selama ini Anda bahkan tidak punya waktu untuk berkencan, apalagi punya pacar! Lalu sekarang tiba-tiba menikah? Dengan siapa?!"
"Diamlah dan lakukan saja apa yang kuperintahkan. Nanti kau akan mengetahuinya sendiri," potong Yo-han dingin.
Tanpa memedulikan asistennya yang masih mematung dengan mulut menganga lebar, Yo-han melangkah pergi sendirian menuju ruang rapat utama Moonlight Club.
Beberapa menit kemudian, ia dan para petinggi klub sudah duduk dengan suasana yang tegang.
Topik pembahasan mereka adalah tentang keinginan para petinggi perusahaan untuk ekspansi dan perluasan wilayah kekuasaan mereka ke distrik sebelah. Namun Yo-han sama sekali tidak setuju dengan rencana itu.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk memperluas wilayah. Lebih baik kita fokus memperkuat pengaruh dan memperketat pengawasan di distrik hiburan yang sudah kita kuasai saat ini," ucap Yo-han tegas, memotong presentasi salah satu direktur.
Para petinggi di ruangan itu saling lirik, namun tidak ada satu pun yang berani membantah.
Sebagai eksekutif tertinggi yang memegang kendali bisnis legal maupun ilegal keluarga Geumryeon, Yo-han bukan sekadar penagih utang; ia adalah otak finansial yang dipercaya langsung oleh sang kepala keluarga untuk mengurus beberapa perusahaan milik keluarga.
Di tengah keheningan yang menegangkan itu, tiba-tiba—
BRAAK!
Pintu ruang rapat dihantam terbuka dengan sangat kasar. Seorang wanita muda melangkah masuk dengan napas memburu, matanya menyiratkan amarah yang siap membakar apa saja di hadapannya.
Di belakangnya, dua orang penjaga berbadan besar tampak pucat, mereka langsung menunduk ketakutan ke arah Yo-han.
"Maaf Bos... kami tidak bisa menghentikannya."
Yo-han yang mengenali sosok tersebut seketika berdiri dari kursinya. Aura dominannya mengendur, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam saat ia menundukkan kepalanya ke arah wanita itu.
"Nona Nara..." ucap Yo-han dengan suara rendah.
Wanita itu tak lain adalah Yeon Nara, putri dari penguasa tertinggi kedua mereka.
Nara tidak membalas sapaan formal Yo-han. Sebaliknya ia berjalan cepat membelah ruangan dan mengabaikan tatapan bingung para petinggi klub.
Begitu langkahnya berhenti tepat di depan Yo-han, tanpa basa-basi, Nara langsung mengangkat tangannya.
PLAK!!!
Tamparan keras mendarat telak di pipi Yo-han. Hal itu seketika membuat seluruh petinggi perusahaan bangkit dari kursi mereka.
biasa'a akan mengulangkan kejadian" sblm'a
keren crita'a
bagus alur'a... jgn smp gk lanjut ya thor
oowh... ternyata anak pungut yg menguasai dunia bawah calon'a yerin, gpp yg penting kuat smua
😂🤭
betul g yaa🤔
lanjuuut thor💪
aah inilah org yg akan menolong yerin, seorang dr dunia bawah