Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Malam Pertama
Langkah kakinya semakin mendekat. Hingga bunyi derit kasur kamar kini terdengar di sebelahku. Aku memejamkan mata. Tak berani menatap ustaz Afwan yang kini menjadi suamiku. Tiba-tiba, ia memegang ubun-ubunku dengan satu telapak tangannya. Satunya lagi ia tampung seperti tengah berdoa. Hingga sebuah kecupan, kini mendarat di keningku.
“Boleh, kubuka cadarmu?” tanyanya meminta izin kepadaku. Aku mengangguk pelan. Namun, mataku terus menunduk sedari tadi. Menatap marmer putih di bawah sana.
“Maa syaa Allah.” Cadar itu akhirnya terbuka juga. Menampilkan wajahku yang penuh dengan riasan. Aku tersenyum canggung, kemudian memberanikan diri menatapnya walau dengan setengah menunduk.
Tiba-tiba … tangan itu meraih wajahku. Kini, kami saling memandang satu sama lain. Tak terbatas waktu.
“Sekarang, kita boleh saling pandang. Justru, itu adalah pahala yang besar.”
“I … iyakah? Maksud saya … iya.”
Ia tertawa. Hingga tampak deretan giginya yang rapi. Aku kini tersipu malu oleh tawa yang ia curahkan padaku.
“Ayo, kita berbincang dulu. Menurutmu, apa yang akan kita perbincangkan malam ini? Ha, dimulai dari kamu dulu. Aku ingin bertanya, kamu … apa alasan terbesarmu mau menikah denganku?” Pertanyaanya membuatku kini mendongak menatapnya. Kedua mataku sibuk mencari tempat teraman untuk berlabuh. Namun, tiba-tiba … ia menahan wajahku.
“Sudah … matanya lihat aku saja. Jangan ke mana-mana.”
Kini, kedua mataku dipaksa untuk tetap tertuju padanya. Kutarik napas perlahan, sesekali aku memejamkan mata karena tak sanggup menatapnya lebih lama lagi. Ia tertawa renyah seperti gigitan biskuit. Matanya sesekali terpejam karena tak kuasa menahan gelak tawa. Kemudian, belaian lembut itu mendarat di puncak kepalaku.
“Mungkin, ustaz dulu yang bercerita,” ucapku kemudian, mulai memberanikan diri berbicara. Ia lantas menolehkan pandangan ke arahku. Tatapan yang begitu dalam dan seolah mampu menembus jantungku.
“Ya, baik. Aku … mulai cerita dari mana, ya? Ha … alasanku memilihmu. Satu, kamu salihah.” Ia menatapku lama saat berhasil melontarkan kalimat itu. Seraya tersenyum tipis padaku.
“Dua, kamu … seperti bidadari. Tiga ….” Ia menjeda kalimatnya. Kemudian melanjutkannya kembali.
“Kamu mencintai Hamzah—anak kita.” Kali ini … senyuman itu seperti mengandung makna yang dalam. Suamiku, orang yang aku paksakan jatuh cinta karena-Nya. Semoga, aku benar-benar bisa membahagiakannya dan Hamzah.
“Aku udah jelasin ke kamu alasanku memilihmu. Sekarang, bagaimana denganmu? Apa alasan terbesarmu memilihku?” Ia menanti jawabanku. Sesekali, menggenggam tanganku erat. Satu kecupan manis kini mendarat di punggung tanganku.
Irama jantungku tak pernah bosan untuk berdetak kencang. Hingga membuatku kesulitan mengatur detaknya yang kian memburu. Aku tak paham dengan apa yang terjadi padaku sedari tadi. Hingga satu kalimat kini terbit dari lisanku.
“Aku memilihmu karena Allah.” Kedua sudut bibirku, kini terangkat. Aku bisa menyelami sesuatu di balik tatapannya itu. Ia … sedang berbahagia.
“Aku tahu jawaban itu klise. Tapi … memang itulah alasanku memilihmu menjadi suamiku.”
“Jawaban itu bukanlah jawaban klise. Dan … aku pun juga demikian. Memilihmu karena Allah.” Mata kami saling bertamu. Cukup lama untuk terikat pandang satu sama lain. Hingga tiba-tiba, sebuah kecupan kembali mendarat di keningku. Aku terkesiap seketika. Lantas merinding.
“Apakah begini rasanya dicium dengan penuh cinta?” Aku memegang dadaku. Ada getar di dalamnya yang tak sanggup kuhentikan. Mungkin, Allah menyuruhku untuk membiarkannya hilang begitu saja.
Malam semakin larut. Aku telah menyelesaikan hajatku berbincang dengan suamiku—ustaz Afwan. Kulihat, ia tengah membaca sebuah Al Quran. Aku baru saja selesai dari mandi. Lalu beralih mengambil Al Quran yang terletak di lemari kamar.
“Kamu, sudah belajar tahsin Al Quran?” tanyanya padaku.
Aku menggeleng cepat. Berharap menemukan jawaban solusi darinya setelah itu.
“Bagaimana kalau malam ini kita mulai belajar?” Jawaban itu, itulah yang kuinginkan selama ini. Belajar membaca Al Quran sesuai dengan pelafalan yang benar.
Kami pun duduk bersama di sebuah karpet. Ia duduk berhadapan denganku. Sesekali kami saling tertawa kita aku gagal dalam melafalkan sebuah huruf. Terutama huruf ‘Ain. Ia lagi-lagi membelai lembut kepalaku. Aku membalas belaiannya itu dengan senyuman.
Hampir setengah jam kami belajar. Hingga rasa kantuk kini mulai menjalar.
“Sepertinya, kamu sudah mengantuk. Ayo kita tidur.”
Deg!
Bunyi jantungku nyaris terdengar di telinga. Pandangan yang semula hampir buram oleh kantuk, kini kembali terjaga. Lantas, aku bersuara ….
“Nggak, kok. Aku masih fresh masih bangun. Masih ….”
“Masih belum siap?” Ia lagi-lagi tersenyum dan tertawa. Tawa yang tidak begitu keras, tapi cukup menggangguku.
Aku hanya bisa diam menunduk. Sesekali menolehkan pandangan ke arahnya.
“Sayang. Boleh aku panggil dengan nama itu?”
“Sudah! Jangan dilanjutkan.” Aku menepuk dadaku. Sesak.
“Ha ha ha. Bisa-bisanya ada seorang istri tak berani menatap suaminya. Apa, aku ini jelek? Atau ….”
“Baiklah. Kita tidur saja. Tapi ….”
“Tapi apa?” Ia menanti jawabanku. Kini, kedua alisnya saling bertaut.
“Kita hanya benar-benar tidur.”
“Baiklah. Kita hanya benar-benar tidur. Tapi ….” Aku mendongak. Menatapnya yang kini bersiap untuk melanjutkan ucapannya.
“Ah … sudahlah. Mari kita tidur. Aku tahu, mungkin kamu sedang capek.”
Aku mengembuskan napas lega. Sesekali mengelus dadaku yang kini perlahan mulai berkurang debarnya.
Malam itu, kami bukan hanya berada di satu atap. Tetapi juga satu kamar. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sepasang suami dan istri di tempatkan di satu kamar yang sama, tapi tetap bisa mengontrol diri masing-masing. Apa … aku bisa memercayai hal itu saat ini?
Aku memeluk erat gulingku. Sembari tidur membelakanginya. Kucoba menghalau badai pikiran dengan memejamkan mata. Namun, sialnya … mataku sedari tadi tak juga kunjung terlelap. Kudengar, di sebelahku bunyi kasur yang berderit sedari tadi. Seolah suamiku menunjukan kegelisahan yang sama denganku.
Hingga tiba-tiba … sebuah suara memanggilku dengan lembut.
“Adelin—”
Deg!
Jantungku kembali berdebar. Iramanya terdengar acak. Aku berusaha untuk tetap diam di posisiku. Hingga ustaz Afwan kini kembali bersuara.
“Apa … kamu sudah tidur?” tanyanya padaku.
“Sayang. Aku tidak bisa tidur.” Bunyi detak jantungku semakin nyaring di telinga. Hingga tiba-tiba … sebuah tangan kini meraih pinggangku. Kemudian, memeluknya erat dari arah belakang.
“Sayang … bolehkah?”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?