NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Dragon Blood

Tepuk tangan meriah menyambut Atlas saat ia kembali memasuki gedung pertemuan. Lampu-lampu diredupkan, kini hanya menerangi dua pria paruh baya di depan, tidak lain adalah Darius dan Benjamin.

Darius mulai berbicara, menyampaikan pidatonya. Hal ini membuat Atlas menyadari bahwa Benjamin akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk membantunya.

"Sial! Kenapa kau harus berpidato di saat sepenting ini, Tuan Benjamin!"

Tidak ingin membuang waktu, Atlas kembali keluar dari gedung. "Argh! Apa lagi yang bisa kulakukan?! Di mana aku bisa mendapatkan informasi tentang mobil itu?”

Kegelisahan terlihat jelas di wajah Atlas saat ia kembali berjalan kearah taman.

"Baik, aku harus mengosongkan pikiranku. Tadi aku mendapat penglihatan karena aku berhasil menenangkan diri. Kumohon padamu, wahai kalung! Berikan kekuatanmu dan tunjukkan di mana Alicia berada!"

Ia sejenak mengesampingkan keputusasaan yang merayap dan duduk di tempat yang sama saat ia menerima petunjuk sebelumnya.

Sayangnya, Atlas tidak menemukan ketenangan itu lagi. Pikirannya semakin kacau, dan ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Wajah ketakutan Alicia terus terbayang di kepalanya, membuat segalanya semakin rumit.

Atlas membuka matanya dan berdiri sambil berteriak. "Argh! Aku butuh ketenangan itu!”

Amarah yang memuncak membuat Atlas menendang keras sisi jalan. Rasa sakit di kakinya tidak lagi terasa. Ia berteriak seperti orang gila, tanpa peduli apakah suaranya terdengar sampai ke dalam gedung atau tidak.

Ia meluapkan seluruh kegelisahan dan kepanikannya dalam tendangan itu. Hingga akhirnya, Atlas mulai merasa lelah dan kembali duduk.

Napas Atlas naik turun, jantungnya berdegup kencang. Namun, pikiran yang semrawut mulai mereda. Atlas menutup matanya. Tidak ada lagi pikiran di kepalanya, dan sesuatu yang ia inginkan mulai muncul.

Mobil dengan nomor polisi REJ-288 melintasi jalan sepi, lampunya yang redup menyatu dengan bangunan-bangunan terbengkalai. Mobil itu masuk ke sebuah gang di antara dua bangunan, dengan coretan grafiti dan tong sampah besi hitam di sisi-sisinya. Di seberang gang terdapat sebuah bangunan tua berwarna cokelat yang diterangi lampu putih.

Mata Atlas langsung terbuka, dan penglihatan itu berakhir. Jantungnya berdegup kencang, dan pikirannya mulai menebak setiap area di kota yang sesuai dengan petunjuk tersebut.

"Aku butuh nama jalan dan lokasinya! Mungkin aku harus menggunakan kekuatanku lagi..."

Atlas kembali menutup matanya, berharap mendapatkan petunjuk tambahan. Namun, Atlas tidak mendapatkan apa pun.

"Sial! Selalu seperti ini!"

Meskipun frustrasi, kali ini Atlas berhasil menahan dirinya untuk tidak meluapkan amarah secara membabi buta. Ia segera melangkah meninggalkan area gedung.

Langkahnya terlihat tergesa-gesa saat menuju gerbang keluar. Ia menatap ponselnya yang mati, menggenggamnya sambil bergumam, "Kenapa harus habis di saat paling tidak tepat!"

Entah bagaimana, ponsel Atlas tiba-tiba menyala. Tanpa membuang waktu, tangannya segera membuka layar. Dengan petunjuk yang ia dapatkan sebelumnya, Atlas mulai mencari gambaran setiap sudut kota melalui internet.

Dari berbagai informasi dan gambar yang ia temukan dengan berbagai kata kunci, tidak satu pun yang cocok dengan apa yang ia lihat dari petunjuk tersebut. Atlas hanya bisa menggeram dan mengepalkan tangannya, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

"Apa lagi yang harus kulakukan? Ke mana aku harus pergi?" gumamnya.

Sebuah taksi di seberang jalan kemudian menarik perhatian Atlas. Ia berlari cepat dan langsung masuk ke dalam taksi itu, yang pengemudinya sedang tertidur.

"Pak, bawa aku ke setiap sudut kota!” serunya.

Pengemudi taksi itu melirik Atlas dengan sinis, masih berbaring di kursinya, terlihat acuh saat berkata, "Orang gila!"

"Apa katamu?!" Atlas yang mendengar itu mulai kesal. Ia memukul sisi kursi pengemudi hingga pria kurus itu terkejut.

"Hei! Jangan buat keributan di sini! Apa sebenarnya maumu? Mau merampokku? Silahkan saja, rampok aku kalau kau sudah bosan hidup!" pengemudi taksi itu mengacungkan pistol ke arah Atlas.

Atlas meninju wajah pengemudi taksi itu.

"Ugh!"

Pengemudi yang ceroboh itu membuat Atlas berhasil merebut pistol yang berada di pahanya. Ancaman yang tadinya ditujukan kepada Atlas kini berbalik kepada pengemudi tersebut.

"Ulangi lagi, dan aku jamin kau yang akan mati lebih dulu! Cepat nyalakan mobilmu dan bawa aku berkeliling kota!" Atlas mengarahkan pistol ke kepala pengemudi.

Situasi terpojok membuat pengemudi taksi itu pasrah. Rasa takut jelas terlihat dari tangannya yang gemetar saat menggerakkan tuas dan setir. Mobil sedan kuning itu melaju.

Mata Atlas menyapu jalan di kiri dan kanan dengan cepat sementara mulutnya berbicara tegas. "Terus jalan, jangan berhenti sampai aku bilang berhenti!"

Pengemudi taksi itu menuruti perintah Atlas, dan perjalanan itu berlangsung hampir setengah jam. Kesabaran Atlas mulai menipis karena petunjuk masih belum ditemukan. Setiap jalan dengan gang tidak ada yang cocok dengan gambaran di pikirannya.

"U-um... T-Tuan, b-bolehkah aku berhenti sebentar? Aku ingin ke toilet... Aku mau buang air kecil." Suara pengemudi itu gemetar. Ia melirik Atlas lewat kaca depan dengan tatapan takut.

"Baik, berhenti sekarang, lakukan di jalan dan aku beri waktu tiga menit saja! Cepat!" Mobil itu berhenti di depan bangunan yang remang-remang. Pengemudi itu segera keluar tanpa membuang waktu. Mata Atlas mengawasinya saat berjalan ke belakang, dan saat itulah ia melihat sebuah bangunan yang persis sama dengan yang ia lihat dalam penglihatannya—bangunan tua berwarna cokelat dengan lampu putih.

Seketika, Atlas menatap ke arah seberang bangunan itu, matanya melebar saat sebuah gang gelap terlihat jelas. Tangannya secara refleks memukul kursi mobil sambil berbisik, "Tempat ini! Alicia!”

~ ~ ~

Dua pria saling membenturkan gelas mereka di bawah cahaya redup di sudut ruangan yang gelap. Gelas di tangan mereka berisi anggur terbaik di dunia, dan seringai muncul di wajah salah satu pria itu, tidak lain adalah Stevan.

"Kerja bagus, Brian." Stevan menepuk bahu pria berambut putih di depannya. "Kelompokmu cukup cerdas untuk menciptakan tempat tersembunyi seperti ini di tengah kota. Aku tidak salah memilihmu untuk membantuku."

"Terima kasih atas pujianmu. Kau bekerja sama dengan Dragon Blood, Tuan Stevan. Biar aku bertanya, apakah pernah ada misi yang gagal selama beberapa dekade kelompok ini berdiri? Bahkan ketika ayahku menyerahkan mandat kepadaku untuk melanjutkan kelompok ini lima tahun lalu, kami tetap berada di puncak. Profesional dan efisien adalah motto kami. Lagipula, aku bekerja sesuai dengan bayaran, dan kau menawarkan harga yang membuatku bekerja melampaui motto kami."

Stevan tersenyum miring dan menghabiskan minumannya. Ia mengangguk lalu berjalan ke sebuah ruangan di dekatnya. Ruangan itu memiliki pencahayaan yang lebih redup dari sebelumnya, dan Alicia terbaring di atas ranjang dengan tangan dan kaki terikat. Kepala dan wajahnya tampak terluka.

Tiga pria berwajah garang duduk di sekitar ranjang, mengawasi adik Atlas dengan seksama.

"Apakah dia akan mati? Dia sudah tidak sadar cukup lama. Kurasa orang-orangmu memukul kepalanya terlalu keras," tanya salah satu pria.

"Dia koma, tapi itu bukan masalah. Mengingat kau hanya menyuruh kami menculik gadis ini tanpa peduli kondisinya," jawab pria lain.

Stevan mendekati Alicia dan kini berdiri di samping ranjang. "Ya, aku hanya butuh dia sebagai umpan. Kakaknya adalah target utamaku! Bajingan itu mencoba menjatuhkanku! Dia pikir dia siapa?"

Mata Stevan dipenuhi kebencian, amarahnya terhadap Atlas telah mencapai puncak, dan ia tak sabar untuk melampiaskannya. Rasa sakit di hatinya karena terus-menerus mengalami hal buruk akibat Atlas memenuhi pikirannya dengan keinginan untuk menghancurkan kehidupan semua orang yang dekat dengan Atlas.

"Memulai semuanya dari gadis ini adalah langkah terbaik, Tuan Stevan. Mari kita pikirkan langkah berikutnya untuk kakaknya. Siapa yang berani mengganggu orang paling dikagumi dan berkuasa di kota ini? Jika mereka berani mengusikmu, orang itu pasti sudah bosan hidup."

Brian, pemimpin geng itu, melirik Stevan, dan matanya menyiratkan keinginan lain akan uang. Ia sengaja memancing amarah Stevan untuk mendapatkan bayaran lebih besar dalam membantu melenyapkan Atlas.

Dendam dari orang penting dan kaya seperti Stevan merupakan peluang bisnis bagi para kriminal seperti mereka.

"Kau benar, Atlas hanyalah sampah yang tidak pantas melawanku!" Stevan meninju dinding lalu keluar dari ruangan.

Ia mengisi kembali gelas kosongnya dengan anggur dan langsung meneguknya tiga kali. Wajah Atlas terlihat jelas di pikirannya. Dalam kekesalannya, Stevan tanpa sadar menggenggam gelas itu terlalu erat hingga retak.

Senyum pemimpin geng tampak licik saat ia menepuk bahu Stevan dan berkata, "Balas dendammu harus dibayar lunas, dan kau tahu kau harus menggunakan jasa seseorang untuk membantumu, Tuan Stevan."

Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Stevan berdering. Panggilan masuk itu dari Bianca. Stevan segera menjauh dari Brian untuk menjawab telepon.

"Bianca, ada apa, sayang?"

"Di mana kau, sayang? Aku ditahan oleh penjaga Tuan Benjamin! Atlas tadi menghampiriku mencari dirimu! Dia sangat marah karena Alicia menghilang. Aku diminta jujur, tapi aku tetap diam. Aku hanya bisa menghubungimu sekarang karena penjaganya pergi ke toilet!"

Stevan mengepalkan tinjunya. "Tapi mereka tidak menyakitimu, kan?! Tetap tenang, aku akan segera ke sana. Ikuti saja apa yang mereka inginkan, aku jamin mereka tidak akan berani menyakitimu. Apakah kau mendapatkan informasi apa pun saat di sana?"

"Tidak, mereka tidak menyentuhku. Mereka menempatkanku di sebuah ruangan kecil. Sayangnya, aku tidak bisa mendapatkan informasi apa pun, dan Atlas sudah tidak ada di sana. Dia pergi mencarimu, sayang. Aku harap kau baik-baik saja di sana."

"Tenanglah. Kau tahu aku tidak akan berhenti sampai aku membalas dendam pada Atlas. Kita sudah selangkah lebih maju dari si bodoh itu! Aku janji, jika mereka menyentuhmu sedikit saja, dia akan menerima sesuatu yang jauh lebih mengerikan dalam hidupnya! Dan—"

"Sayang, penjaga Tuan Benjamin sudah kembali! Aku harus menutup telepon, sampai jumpa, aku mencintaimu!"

Panggilan terputus. Stevan kembali ke arah Brian dengan ekspresi yang lebih tegang.

"Sepertinya Atlas sudah mulai mencariku, dan aku ingin anak buahmu dalam siaga penuh. Bajingan itu, meskipun lemah, sering membuat gerakan tak terduga! Aku akan melipatgandakan bayaranmu, jadi bergeraklah dan kerahkan semua kekuatanmu dengan efektif. Tangkap dia dalam keadaan babak belur, atau lebih tepatnya sampai dia tidak bisa melawan lagi! Aku ingin mengakhiri hidupnya dengan tanganku sendiri. Aku sudah melawannya beberapa kali, dan aku selalu gagal, harus kuakui. Kekuatan yang kuanggap remeh ternyata mampu menjatuhkanku. Jadi kali ini, aku ingin lebih berhati-hati," kata Stevan dengan tekad dan sedikit kehati-hatian dalam suaranya.

Brian menundukkan kepalanya dan berkata, "Permintaan diterima, Tuan Stevan. Aku akan segera memerintahkan semua anak buahku. Namun, kami tidak bisa bekerja tanpa uang muka. Kau sudah membuktikan kesuksesanmu kepadaku, tapi bisnis tetaplah bisnis. Profesionalisme harus dijaga, aku harap kau mengerti, Tuan Stevan."

"Diam, aku mengerti maksudmu!"

Stevan mengeluarkan sebuah cek dari saku jasnya, dengan nilai seratus juta dolar tertulis di atas cek kosong itu.

"Aku akan menambahkan lima kali lipat jumlah itu setelah semuanya selesai." Stevan menyerahkan cek tersebut kepada Brian.

Senyum Brian semakin lebar saat menerima cek itu dan berkata, "Terima kasih, Tuan Stevan. Senang bisa bekerja sama denganmu. Aku jamin Atlas akan kami dapatkan."

"Bagus, aku tidak akan membiarkannya menghalangiku. Aku akan menunjukkan padanya konsekuensi karena berani melawanku," gumam Stevan pada dirinya sendiri.

1
Was pray
kalau kegoblogkan Alicia masih berlanjut malas nerusin baca novel ini
Was pray
Alicia kok menjengkelkan sih Thor? jadi sisi negatif novel
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!