Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 – Wanita Biasa
Suasana di ruangan itu terasa begitu menekan.
Pandangan ayah Raka masih lekat tertuju pada Alya.
Tajam.
Menilai.
Seolah sedang mengukur nilai dirinya dari ujung kepala sampai kaki.
Alya berdiri di belakang Raka, namun perlahan ia melangkah maju.
Keluar dari bayangan pria itu.
Sebuah gerakan kecil—
Namun cukup untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu.
Raka langsung menoleh.
“Alya.”
Nada suaranya rendah, seolah ingin menahannya.
Namun Alya hanya menggeleng pelan.
Untuk sekali ini—
Ia tidak ingin terus bersembunyi.
“Aku bisa jawab sendiri,” katanya pelan.
Pandangan ayah Raka sedikit berubah, mungkin tidak menyangka Alya akan berani berbicara langsung.
“Oh?” Pria itu bersandar dengan santai. “Silakan.”
Alya menarik napas perlahan.
Jantungnya berdetak cepat.
Namun anehnya—
Ia tidak merasa ingin mundur.
“Bapak benar,” katanya jujur. “Aku bukan dari dunia kalian.”
Ruangan itu langsung sunyi.
Raka sedikit menegang di samping Alya.
Namun Alya melanjutkan—
“Aku juga tidak punya apa-apa yang bisa dibandingkan dengan keluarga Han.”
Pandangan ayah Raka tetap dingin.
“Setidaknya kamu sadar.”
Kalimat itu menusuk.
Namun Alya tidak berhenti.
“Tapi aku juga tidak pernah datang ke hidup Raka untuk mengambil sesuatu.”
Kesunyian.
“Aku tetap di sini karena aku memilih.”
Pandangan pria tua itu sedikit menyipit.
“Memilih apa?”
Alya menoleh sesaat ke arah Raka.
Dan saat mata mereka bertemu—
Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.
Keberanian.
Yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
“Aku memilih dia.”
Kini, ruangan itu benar-benar sunyi.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Bahkan napas Alya sendiri terdengar terlalu jelas di telinganya.
Pandangan Raka langsung berubah.
Dalam.
Terlalu dalam.
Seolah kalimat itu menghantamnya lebih keras dari siapa pun.
Ayahnya mengamati mereka berdua beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
Tanpa humor.
“Perasaan.” Ia menggeleng pelan. “Sesuatu yang paling tidak stabil di dunia.”
“Bisa jadi,” jawab Alya tenang.
“Tapi itu juga yang paling jujur.”
Pandangan pria tua itu kembali tajam.
“Dan kamu pikir perasaan itu cukup untuk bertahan di dunia ini?”
Alya tidak langsung menjawab.
Namun kali ini—
Raka yang melangkah maju.
“Cukup.”
Nada suaranya dingin.
Namun tidak lagi setajam sebelumnya.
Lebih… tegas.
“Kalau Ayah datang untuk menguji Alya, saya rasa sudah cukup.”
Ayahnya menoleh perlahan.
“Kenapa? Kamu takut dia tidak bisa menjawab?”
“Saya tidak suka Anda memperlakukannya seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Seperti seseorang yang harus membuktikan dirinya layak untuk saya.”
Kesunyian.
Dan untuk pertama kalinya—
Ekspresi ayah Raka berubah sedikit.
Tipis sekali.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa kalimat itu tidak terduga baginya.
“Dia memang harus membuktikannya,” jawab pria itu tenang.
“Tidak.” Raka menatap ayahnya dengan tegas. “Saya yang memilihnya.”
Dan kalimat itu—
Terasa jauh lebih kuat dari kalimat apa pun yang terucap sebelumnya.
Alya menahan napasnya.
Karena untuk pertama kalinya—
Ia benar-benar merasa dipilih.
Bukan karena kontrak.
Bukan karena keadaan.
Tapi karena dirinya sendiri.
Ayah Raka berdiri perlahan dari tempat duduknya.
Langkahnya tampak tenang, namun auranya tetap terasa menekan.
Ia berjalan mendekat.
Berhenti tepat di depan Alya.
Pandangannya turun sedikit.
Mengamati dengan saksama.
Seolah mencoba menemukan sesuatu yang tidak terlihat.
“Kamu berani,” katanya akhirnya.
Alya tidak menjawab.
Namun ia juga tidak mundur.
“Namun keberanian saja tidak cukup.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu kamu harus siap dengan konsekuensinya.”
Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat.
“Konsekuensi apa?”
Pria itu tersenyum tipis.
Sangat tipis.
“Dunia ini tidak akan ramah padamu.”
Pandangan Alya tidak goyah.
“Sudah terbiasa.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
Dan entah kenapa—
Raka langsung menoleh cepat ke arahnya.
Karena kalimat itu terdengar terlalu jujur.
Terlalu… menyentuh.
Ayahnya memperhatikan Alya beberapa detik lagi.
Lalu akhirnya mengangguk kecil.
Seolah mencatat sesuatu dalam pikirannya.
“Kita lihat saja,” katanya pelan.
Lalu pria itu berbalik.
“Pertemuan ini cukup.”
Dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan keluar, diikuti oleh para pria formal yang tadi ikut datang.
Pintu tertutup.
Dan suasana di mansion itu kembali sunyi.
Namun kali ini—
Kesunyiannya terasa berbeda.
Lebih ringan.
Lebih lega.
Alya menghembuskan napas panjang.
Baru menyadari bahwa dirinya menahan napas sejak tadi.
“Alya.”
Suara Raka terdengar lebih dekat sekarang.
Alya menoleh.
Dan sebelum ia sempat bicara—
Raka tiba-tiba menariknya ke dalam pelukannya. Dekapan itu terasa kuat, terlalu erat, seolah memastikan bahwa Alya benar-benar ada di sana.
Jantung Alya serasa melonjak.
“Kamu…”
“Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Anda.”
Napas Alya langsung terasa hangat.
Karena nada suara Raka terdengar sangat serius.
Dan untuk pertama kalinya—
Alya tidak merasa perlu menyangkalnya.
Ia membalas pelukan itu pelan.
Menyandarkan wajah di dada pria itu.
“Aku tidak takut lagi.”
Raka sedikit menjauh.
Menatapnya.
“Benarkah?”
Alya mengangguk kecil.
“Karena kamu di sini.”
Pandangan Raka berubah.
Lebih lembut.
Lebih dalam.
Dan kali ini—
Tidak ada lagi keraguan di dalamnya.
Siang itu, suasana mansion kembali normal.
Namun bagi Alya—
Segalanya terasa berbeda.
Ia duduk di ruang tengah sambil menatap keluar jendela.
Pikirannya jauh lebih tenang sekarang.
Bukan karena masalahnya hilang.
Tapi karena ia akhirnya tahu satu hal—
Ia tidak sendirian.
“Alya.”
Raka berjalan mendekat sambil membawa dua cangkir kopi.
Hal itu seperti yang terjadi semalam, seolah menjadi kebiasaan baru yang mulai terbentuk tanpa mereka sadari.
“Terima kasih.”
Alya menerima cangkir itu lalu menatap pria itu.
“Kamu marah kepada ayahmu?”
Raka duduk di sampingnya.
“Tidak.”
“Kamu yakin?”
“Saya terbiasa.”
Jawaban itu lagi.
Dan kali ini—
Alya tidak suka mendengarnya.
“Kamu tidak harus terus terbiasa dengan hal yang menyakitkan.”
Raka sedikit terdiam.
Seolah tidak menyangka akan mendengar itu.
“Dan kamu tidak harus terus melindungi ku sendirian,” lanjut Alya pelan.
Pandangan pria itu berubah sedikit.
“Sekarang aku juga ingin berdiri di sampingmu.”
Kesunyian.
Namun bukan kesunyian yang canggung.
Lebih seperti sesuatu yang perlahan menguat di antara mereka.
Raka mengangkat tangan lalu menyentuh pipi Alya lembut.
“Kamu membuat semuanya jadi lebih sulit.”
Alya mengernyit kecil.
“Maksudnya?”
“Saya jadi tidak bisa membayangkan hidup tanpa Anda.”
Jantung Alya serasa berhenti sesaat.
Karena kalimat itu—
Terlalu besar.
Terlalu jujur.
Dan terlalu berbahaya untuk seseorang yang awalnya hanya masuk dalam hidupnya sebagai perjanjian.
“Aku juga,” bisiknya pelan.
Pandangan mereka bertemu.
Dan kali ini—
Tidak ada lagi yang menghalangi.
Raka perlahan mendekat.
Memberi Alya waktu untuk mundur.
Namun Alya tidak bergerak.
Dan beberapa detik kemudian—
Bibir mereka kembali bertemu.
Lebih dalam.
Lebih lama.
Dan kali ini—
Tidak ada keraguan sama sekali.
Namun di luar sana—
Langkah-langkah besar sudah mulai dijalankan.
Dan tanpa mereka sadari—
Seseorang sedang bersiap mengungkap kebenaran yang bisa menghancurkan segalanya.