Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminjam Piyama
Aveline tidak langsung menutup buku yang ada di tangannya. Tatapannya masih bergerak mengikuti baris terakhir sebelum akhirnya berhenti dengan sendirinya. Tanpa mengalihkan posisi tubuhnya, ia berbicara datar, seolah Sabine sudah seharusnya memahami maksudnya tanpa perlu dipanggil lebih dulu.
“Lakukan tugasmu.”
Tangannya bergerak sedikit, tidak mengarah ke Sabine, melainkan menunjuk ke arah meja di sisi ruangan. Di sana telah terletak selembar kain panjang dan lebar, terlipat rapi. Di sampingnya tersedia alat-alat jahit—gunting, jarum, benang, dan beberapa peniti yang sudah disusun teratur.
Sabine langsung mengangguk. Ia tidak bertanya, tidak pula menunda. Kakinya melangkah mendekat ke meja, berhenti tepat di depannya. Tangannya terangkat perlahan, menyentuh kain itu dengan hati-hati, seolah memastikan kualitasnya sebelum mulai bekerja.
Baru saat itu Aveline mengangkat pandangannya. Matanya bergerak ke arah Sabine, tenang tanpa perubahan. Tetapi cukup jelas untuk membuat Sabine berhenti sejenak.
“Bentuknya lurus. Ikuti garis tubuh, tapi jangan terlalu ketat. Bagian atas cukup menutup, tanpa potongan berlebihan. Sisinya ditarik ke satu arah, beri lipatan supaya jatuhnya rapi. Panjangnya di atas lutut.”
Nada suaranya tetap sama, tidak cepat, tidak pula panjang. Setiap kalimat langsung ke inti. Tidak ada istilah rumit, tetapi cukup jelas untuk membentuk gambaran utuh.
Sabine mengangguk lagi. Kali ini tanpa ragu. Penjelasan itu cukup baginya.
Ia mulai bekerja.
Kain yang tadi terlipat dibuka perlahan di atas meja. Jemarinya merapikan permukaan kain, menarik sedikit bagian yang berkerut agar kembali rata. Gunting diambil, lalu diletakkan sebentar di sisi meja, sementara ia lebih dulu mengukur dengan mata dan sentuhan tangan. Tidak ada pita ukur, tetapi ia sudah terbiasa memperkirakan panjang dan lebar dari pengalaman.
Setelah memastikan posisi, ia mulai memotong.
Suara gunting terdengar pelan, teratur, mengikuti garis yang ia buat sendiri. Potongan pertama lurus, kemudian bagian samping sedikit dimiringkan untuk membentuk lekukan halus. Tidak terburu-buru, setiap gerakan dilakukan dengan hati-hati agar tidak perlu mengulang.
Setelah itu jarum diambil.
Benang dimasukkan dengan cepat, lalu ujungnya ditarik hingga panjang yang cukup. Sabine mulai menjahit dari bagian dalam, menyatukan sisi kain yang sudah dipotong. Jahitannya kecil, rapat, dan konsisten. Tangan kirinya menahan kain tetap pada tempatnya, sementara tangan kanan bergerak naik turun dengan ritme yang stabil.
Beberapa kali ia berhenti untuk memasang peniti, memastikan lipatan tetap pada posisi yang diinginkan. Bagian samping ditarik sedikit, lalu dilipat dan dijahit agar jatuhnya tidak kaku. Ia menekan kain dengan telapak tangan, merapikan garis yang terbentuk sebelum melanjutkan jahitan berikutnya.
Ruangan tetap sunyi, hanya terdengar gesekan kain dan bunyi jarum yang bergerak.
Sementara Aveline akhirnya menutup buku di tangannya. Gerakannya tenang, tidak menunjukkan bahwa ia memperhatikan setiap detail yang terjadi di meja itu.
“Katakan pada Liora,” ucapnya tanpa melihat. “Pesankan beberapa gaun untukku di butik.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang sama.
“Pilih yang rapi. Potongannya jelas. Tidak terlalu banyak hiasan.”
Sabine mengangkat wajahnya. Tatapannya sempat terarah ke Aveline, lalu segera turun kembali. Kepalanya menunduk.
“Baik, Nona.”
Aveline tidak memberi tanggapan. Ia sudah berdiri dari sofa, kain yang sejak tadi melilit tubuhnya masih terpasang rapi. Tidak ada perubahan pada cara ia membawanya—tetap bersih dan tertutup, meskipun hanya berupa lilitan sederhana.
Langkahnya bergerak menuju tangga.
Ia menaiki anak tangga satu per satu tanpa tergesa. Setiap langkah stabil, tidak terhenti di tengah. Namun arah yang ia tuju tidak sesuai dengan yang biasa.
Aveline tidak berbelok ke kamarnya.
Ia justru berjalan lurus menuju kamar William.
Langkahnya berhenti di depan pintu. Sebelum pada akhirnya tangan gadis itu terangkat, lalu mengetuk permukaan kayu tersebut dua kali dengan ritme yang tenang.
Tok, tok.
Hening.
Tidak ada jawaban dari dalam. Pintu tetap tertutup, tidak bergerak, seolah tidak ada siapapun di baliknya. Aveline berdiri tanpa bergeser, tetapi alisnya sedikit mengernyit. Ia menghela napas pendek, lalu berdecak pelan, jelas menunjukkan ketidaksabarannya.
Namun tidak lama kemudian, suara kunci terdengar dari dalam.
Pintu terbuka.
William berdiri di sana, hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Rambutnya masih basah, beberapa helai jatuh ke depan, sementara sisanya disibakkan ke belakang dengan seadanya. Tetesan air masih terlihat di sepanjang lehernya, turun perlahan ke dada yang terbuka. Garis otot di bahunya terlihat jelas, begitu juga dengan bidang dadanya yang padat dan tegas, seolah terbentuk dari latihan yang tidak pernah terlewat. Punggungnya lurus, posturnya tetap rapi meskipun baru saja keluar dari kamar mandi.
Tatapannya langsung jatuh pada Aveline.
Sorot mata itu tidak berubah banyak, tetap tenang seperti biasanya. Namun jelas ada jeda sesaat ketika ia melihat apa yang dikenakan wanita itu—atau lebih tepatnya, apa yang tidak ia kenakan. Kain yang melilit tubuh Aveline sederhana, hanya cukup menutup bagian penting tanpa struktur jelas seperti pakaian. Tidak ada usaha untuk terlihat layak sebagai seorang bangsawan.
Sudut bibir William terangkat tipis.
Ia terkekeh pelan, pendek dan lebih terdengar seperti ejekan yang ditahan.
“Tidak kusangka kau benar-benar berniat membuang semua gaun hanya untuk menutupi tubuhmu dengan kain seperti itu.”
Aveline tidak langsung menjawab. Kepalanya sedikit miring ke satu sisi, matanya tetap menatap lurus ke arah William tanpa menghindar sedikitpun. Ekspresinya tidak berubah, seolah kalimat itu tidak cukup berarti untuk memancing reaksi.
William melanjutkan, nada suaranya tetap datar.
“Apakah kau tahu apa yang sedang kau lakukan?”
“Memangnya apa yang kulakukan?” balas Aveline tanpa ragu. Suaranya tenang, seolah ia tidak melakukan kesalahan.
William menarik napas pendek, lalu menggeleng pelan.
“Melakukan hal konyol seperti ini, lalu dengan percaya diri mengetuk pintu kamarku.” Tatapannya tidak lepas dari Aveline. “Kau bahkan tidak berpikir sedikitpun apa yang sedang kulakukan di dalam.”
Aveline tidak terlihat terpengaruh. Ia hanya menatap balik dengan sikap yang sama, tanpa berubah.
“Kenapa aku harus memikirkan semua itu?” jawabnya langsung, tanpa jeda.
“Apa yang kulakukan tidak salah. Sejak awal kau juga hanya terpaksa menikah denganku, bukan?”
William mengangkat tangannya, mengusap rambutnya ke belakang. Air yang masih tersisa membuat gerakannya lebih berat, tetapi ia tetap melakukannya tanpa tergesa. Setelah itu, ia mengangguk sekali, disertai helaan napas yang terlihat pasrah.
“Jadi, apa yang ingin kau—”
Kalimat itu terhenti ketika Aveline sudah bergerak lebih dulu.
Ia melangkah masuk ke dalam kamar tanpa menunggu izin, melewati William seolah itu hal biasa. Tidak ada keraguan, dan tidak ada penjelasan.
“Aku ingin meminjam piyamamu.”
Kalimat itu diucapkan begitu saja saat ia melangkah masuk lebih jauh.
Untuk pertama kalinya, ekspresi William berubah.
Bukan marah ataupun kesal, tetapi jelas ada keterkejutan yang tidak ia tutupi sepenuhnya. Tatapannya mengikuti langkah Aveline, mencoba memastikan apa yang baru saja terjadi benar-benar nyata.
Namun Aveline sudah berada di dalam.
William berdiri beberapa detik di tempatnya, lalu berbalik dan ikut masuk.
Sial!
‘Apakah wanita ini sama sekali tidak memiliki rasa malu?’
Aveline tidak berhenti setelah melangkah masuk. Ia berjalan lurus melewati bagian tengah kamar, seolah sudah tahu ke mana harus pergi tanpa perlu melihat sekeliling terlalu lama. Tatapannya bergerak singkat, cukup untuk mengenali susunan ruangan, lalu berhenti pada lemari pakaian di sisi dinding.
Tangannya langsung terangkat.
Pintu lemari dibuka tanpa ragu.
Di belakangnya, William akhirnya menutup pintu kamar dengan satu dorongan ringan. Suara kayu yang bertemu kembali terdengar jelas di ruangan itu. Ia tidak langsung mendekat, hanya berdiri beberapa langkah dari tempatnya semula, memperhatikan apa yang dilakukan Aveline.
“Kau tahu itu milikku, bukan?” ucapnya datar. Tidak ada nada tinggi, tetapi cukup jelas untuk terdengar sebagai peringatan.
Aveline tidak menoleh. Tangannya sudah masuk ke dalam lemari, menyentuh beberapa helai pakaian yang tergantung rapi. Jemarinya bergerak dari satu kain ke kain lain, merasakan teksturnya tanpa terburu-buru.
“Aku tahu,” jawabnya singkat.
Tidak ada penjelasan tambahan.
Ia menarik satu pakaian keluar—piyama satin yang lebih longgar dari pakaian formal. Kainnya jatuh ringan, tidak tebal, cukup untuk dipakai tanpa terasa berat di tubuh.
Aveline mengangkatnya sedikit, memperhatikan potongan dan panjangnya.
“Bahannya cukup ringan.”
Kalimat itu keluar seperti catatan biasa, bukan pujian, bukan pula kritik.
William mengangkat satu alis tipis. Tatapannya tetap tertuju pada Aveline, mengikuti setiap gerakannya. Cara wanita itu berdiri di dalam kamarnya, membuka lemari, lalu memilih pakaian seolah itu memang miliknya sendiri—semuanya terasa tidak pada tempatnya, tetapi juga tidak bisa ia bantah.
“Aku tidak mengizinkanmu mengambilnya,” lanjutnya.
Nada suaranya masih sama, tidak berubah, tetapi kali ini lebih jelas sebagai batas.
Aveline akhirnya berbalik.
Pakaian itu masih berada di tangannya. Kain yang melilit tubuhnya tetap terpasang rapi, tidak bergeser sedikit pun meskipun ia bergerak. Tatapannya langsung mengarah ke William, tenang, tanpa tanda ragu.
“Aku tidak meminta izin.”
Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa beban, seolah hanya sebuah pernyataan sederhana, itu sudah lebih dari cukup.
Beberapa detik hening. William tidak langsung menjawab. Tangannya kembali terangkat, memijat pelipisnya sebentar. Ia menarik napas pendek, lalu menghembuskannya perlahan.
Tatapannya masih tertuju pada Aveline.
Kali ini ia menatap lebih lama.
Bukan hanya pada pakaian di tangannya, tetapi pada keseluruhan sikapnya—bagaimana cara wanita itu berdiri, berbicara, dan bahkan ia tidak menunjukkan sedikitpun rasa canggung berada di dalam kamar pria.
“Kau benar-benar berubah,” ucapnya.
Nada suaranya tidak mengandung penilaian jelas, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia menyadarinya.
Aveline tidak menanggapi kalimat itu. Ia hanya menatap sebentar, lalu menurunkan pandangannya kembali ke pakaian di tangannya. Jemarinya merapikan bagian lipatan kain itu seolah memastikan tidak ada yang kusut.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah melewati William.
Jarak di antara mereka cukup dekat saat ia lewat, tetapi ia tidak berhenti. Tidak ada gerakan menghindar, tidak pula usaha untuk menjaga jarak lebih jauh. Langkahnya tetap sama—tenang dan lurus menuju pintu.
Tangannya terangkat, membuka pintu tanpa kesulitan.
Sebelum keluar, ia berhenti sepersekian detik.
“Terima kasih.”
Kalimat itu diucapkan begitu ringan, tanpa menoleh. Ia melangkah keluar begitu saja, dan pintu kembali tertutup.
Sementara William tetap berdiri di tempatnya.
Beberapa detik berlalu tanpa gerakan. Tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang baru saja tertutup, seakan ia mencoba memahami apa yang barusan terjadi.
“Wanita ini …,” gumamnya pelan.
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
~oo0oo~
Pintu kamar terbuka pelan.
Aveline keluar dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia masuk tadi. Piyama milik William kini terpasang di tubuhnya—sedikit lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri. Bagian lengan jatuh melewati pergelangan tangannya. Kain satin itu mengikuti geraknya dengan ringan, tidak kaku, dan justru terlihat lebih rapi dibanding lilitan kain sebelumnya.
Ia tidak berhenti di koridor.
Langkahnya langsung menuju tangga, lalu turun tanpa tergesa. Setiap pijakan tetap stabil, tidak ada perubahan ritme. Seolah tidak ada yang perlu dipikirkan.
Di bawah, para pelayan sudah bersiap.
Meja makan telah kembali terisi. Hidangan pagi tersusun rapi—roti panggang yang masih hangat, telur, potongan daging, sup ringan, serta beberapa buah yang sudah dipotong dan disusun di atas piring. Greta berdiri di sisi meja, memastikan semuanya berada pada tempatnya. Sabine dan Marta berada tidak jauh, masing-masing menjaga posisi tanpa banyak bergerak.
Langkah Aveline terdengar dari tangga.
Beberapa kepala terangkat.
Namun arah yang ia tuju tidak menuju meja makan.
Aveline berjalan lurus melewati hidangan yang sudah disiapkan, tanpa memberi satu pun pandangan ke arah sana. Tatapannya justru tertuju pada rak bahan makanan di sisi dapur terbuka.
Tangannya terangkat.
Ia mengambil beberapa bahan tanpa ragu—pasta kering, tomat, bawang putih, minyak, serta beberapa bumbu yang tersusun rapi di rak. Gerakannya terampil, tetapi jelas ia tahu apa yang ia ambil.
Para pelayan saling melirik.
Sabine menahan napas. Marta berhenti sejenak di tempatnya. Bahkan Greta yang biasanya tenang terlihat sedikit mengernyit, jelas tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Nona mereka.
Aveline tidak memperhatikan itu.
Di saat yang sama, langkah kaki lain terdengar dari tangga.
William turun.
Kali ini ia sudah berpakaian rapi. Kemeja putih terpasang dengan benar, bagian kerah terbuka tanpa dasi, sementara lengan bajunya digulung hingga siku. Celana gelapnya jatuh lurus, mempertegas postur tubuhnya yang tegap. Rambutnya sudah lebih kering, disisir ke belakang dengan rapi, meskipun masih menyisakan sedikit kelembapan.
Langkahnya terhenti di tengah tangga.
Tatapannya jatuh pada Aveline.
Wanita itu berdiri di depan meja dapur, mengenakan piyamanya. Kain yang sedikit kebesaran itu justru membuat gerakannya terlihat lebih bebas, tidak terikat seperti pakaian formal. Ia sudah mulai menyiapkan bahan di depannya, tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan.
William tidak langsung turun
Ia memperhatikan aktivitas Aveline beberapa saat.
Sedangkan gadis itu meraih karet rambut kecil yang terletak di dekatnya. Tangannya bergerak cepat, mengumpulkan rambut panjangnya ke belakang. Ia menggulungnya menjadi satu, lalu menjepitnya dengan rapi agar tidak jatuh ke depan.
Gerakan itu sederhana. Namun cukup membuat William terdiam lebih lama dari seharusnya.
Tatapannya tidak berpindah. Tetapi Aveline tidak menyadarinya.
Ia mulai bergerak mengambil panci dan meletakkannya di atas kompor. Api dinyalakan dengan gerakan yang pasti. Air dituangkan, lalu dibiarkan memanas. Sementara itu, tangannya sudah mulai mengupas bawang putih, memotongnya tipis dengan pisau yang dipegang stabil.
Gerakannya stabil tanpa keraguan.
Suara pisau menyentuh papan potong terdengar teratur, berbeda dari kebiasaan pelayan lain yang cenderung terburu-buru.
Greta memperhatikan tanpa sadar. Di sisi lain Sabine menahan diri untuk tidak bergerak lebih dekat.
Tidak ada yang berani bertanya.
Tetapi pada akhirnya William memilih untuk segera turun.
Langkahnya kembali stabil, tetapi pandangannya masih tertuju pada Aveline. Ia tidak mendekat terlalu jauh, hanya berhenti beberapa langkah dari meja dapur, cukup untuk melihat dengan jelas apa yang dilakukan wanita itu.
“Sejak kapan kau memasak?” tanyanya.
Nada suaranya datar, tetapi jelas bukan sekadar basa-basi.
Aveline tidak berhenti.
Ia menuangkan sedikit minyak ke dalam wajan, lalu memasukkan potongan bawang putih yang sudah disiapkan. Suara desisan halus langsung terdengar saat bahan itu menyentuh permukaan panas.
“Sudah lama,” jawabnya singkat.
Tidak ada penjelasan tambahan.
Begitupun dengan William yang tidak langsung membalas.
Tatapannya tetap pada tangan Aveline yang terus bergerak—mengaduk, menambahkan bahan, lalu mengatur api dengan tepat.
Waktu berlalu dalam keheningan yang berbeda dari sebelumnya. Namun suasana itu tidak bertahan lama, saat langkah kaki cepat terdengar dari arah koridor.
Ralf muncul di ambang ruangan. Napasnya sedikit tidak teratur, tetapi ia berusaha tetap tegak saat berhenti di tempatnya.
“Tuan … Nona.”
Suaranya terpotong sejenak. Pria itu menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Kepala Pelayan Ines … tidak ada di kamarnya.”
.
.
.
Bersambung
William and Aveline (Soren) 😍