NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Selena terbangun dengan rasa pusing yang luar biasa. Kepalanya berat dan tubuhnya terasa lemah seolah-olah ia baru saja ditarik keluar dari mimpi buruk yang terlalu nyata.

Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi pergelangannya terasa dingin dan kaku. Saat kesadarannya semakin jelas, ia menyadari sesuatu, tangannya terikat.

Dengan panik, Selena membuka matanya sepenuhnya. Ia berada di dalam ruangan batu besar yang hanya diterangi oleh obor di dinding. Udara di sekitarnya lembab dengan aroma tanah dan kayu terbakar.

Ia duduk di atas kursi kayu yang keras, kedua tangannya diikat dengan rantai besi berwarna hitam pekat yang memancarkan aura aneh.

"Akhirnya kamu bangun."

Sebuah suara terdengar dari sudut ruangan. Selena menoleh cepat dan matanya langsung bertemu dengan tatapan emas dingin milik Lucian.

Ia bersandar santai di kursi berlapis kulit hitam dan satu kakinya disilangkan di atas yang lain, senyum tipis bermain di bibirnya.

"Aku harus mengakui, kamu lebih kuat dari yang kukira, bahkan Dewan Tertinggi terkejut dengan kekuatanmu," katanya santai.

Selena mengepalkan rahangnya. "Apa yang kamu inginkan, Lucian?"

Lucian berdiri perlahan dan langkahnya terdengar jelas di lantai batu yang dingin.

"Aku ingin menolongmu."

Selena tertawa sinis. "Menolongku?" Ia menarik rantai di pergelangan tangannya. "Ini yang kau sebut menolong?"

Lucian menggeleng dan matanya masih penuh dengan ketenangan yang membuat Selena semakin frustrasi.

"Kamu belum mengerti, Selena. Dewan ingin membunuhmu. Mereka takut pada kekuatan Darah Bulan. Mereka pikir kamu adalah ancaman bagi keseimbangan dunia ini."

Selena terdiam. Lucian melangkah lebih dekat, menatapnya dengan intens.

"Tapi aku berbeda."

Ia bersandar sedikit, mendekat ke wajah Selena.

"Aku tidak ingin menghancurkanmu. Aku ingin membangkitkan potensimu."

Selena merasakan hawa dingin menjalar ke tulang belakangnya. "Kamu ingin mengendalikan aku."

Lucian tersenyum kecil. "Aku ingin bekerja sama denganmu."

Selena mencengkeram pergelangan tangannya dan berusaha menahan gemetar yang muncul akibat rantai itu.

"Aku tidak tertarik bekerja sama dengan monster sepertimu."

Lucian menghela napas seolah kecewa dengan jawabannya. "Sayang sekali, karena aku tidak akan memberimu banyak pilihan."

Ia menjentikkan jarinya. Pintu ruangan terbuka dan seorang pria berjubah hitam masuk membawa sesuatu dalam tangannya. Belati perak dengan ukiran kuno.

Selena membeku. Lucian mengambil belati itu dengan santai, lalu membolak-baliknya di tangannya sebelum menatap Selena lagi.

"Jadi begini, aku akan memberimu dua pilihan."

Ia mengangkat belati itu perlahan dan membiarkan cahaya obor memantulkan sinarnya ke mata Selena.

"Kamu bisa tetap keras kepala dan mati di tangan Dewan."

Ia berjongkok di depan Selena dan menatapnya langsung.

"Atau kamu bisa menerima tawaranku dan aku akan memastikan kamu menjadi sesuatu yang lebih kuat dari yang pernah kamu bayangkan."

Selena menelan ludah. Lucian tersenyum tipis, lalu berbisik, "Apa pilihanmu, Selena?"

Ruangan terasa semakin sempit. Belati perak di tangan Lucian berkilauan dalam cahaya obor yang redup dan tatapannya tetap tidak terbaca seperti pemangsa yang sabar menunggu buruannya jatuh ke dalam perangkap.

Selena berusaha menenangkan napasnya. Ia harus berpikir jernih. "Apa yang terjadi jika aku menolak?" suaranya terdengar lebih stabil dari yang ia rasakan.

Lucian menghela napas seolah pertanyaannya adalah sesuatu yang sudah ia duga.

"Kanu akan mati, tentu saja," katanya ringan seperti sedang mendiskusikan cuaca. "Dewan sudah memutuskan. Mereka tidak akan membiarkan Darah Bulan hidup lebih lama lagi."

Ia mengangkat belati itu membiarkan ujungnya melayang hanya beberapa inci dari wajah Selena.

"Kecuali aku yang membunuhmu duluan," lanjutnya dengan nada berbahaya.

Selena merasakan darahnya mendidih.

Ia tahu Lucian tidak hanya sekadar bermain kata-kata. Jika ia menolak, maka Dewan akan mengambil alih eksekusi dan mereka tidak akan memberinya kematian yang cepat, tapi menerima tawaran Lucian? Itu akan seperti menjual jiwanya ke dalam kegelapan.

Lucian tampaknya bisa membaca keraguannya, karena ia menyeringai dan berkata dengan nada menggoda, "Jangan salah paham, Sayangku! Aku tidak ingin memaksamu."

Belati itu berputar di jarinya dengan lincah sebelum ia menyelipkannya kembali ke sarungnya.

"Tapi aku akan memberimu bukti kenapa kamu harus memilihku."

Sebelum Selena bisa bertanya apa maksudnya, Lucian menoleh ke arah pria berjubah hitam yang berdiri diam di sudut ruangan.

"Bawa dia!" perintahnya.

Selena nyaris tidak punya waktu untuk bereaksi sebelum pria itu mendekatinya dan dengan mudah melepaskan rantai di pergelangannya. Tubuhnya masih lemah, tetapi ia memaksa dirinya berdiri, meskipun lututnya sedikit gemetar.

"Ke mana kamu membawaku?" tanyanya tajam.

Lucian hanya tersenyum dan berjalan ke pintu.

"Untuk melihat sesuatu yang akan mengubah segalanya."

***

Selena dibawa melewati lorong-lorong batu yang gelap. Udara semakin dingin, dan dindingnya semakin kasar seolah-olah mereka semakin dalam ke perut bumi.

Selena berusaha mengingat jalannya, tetapi tempat ini seperti labirin bawah tanah tidak ada patokan yang bisa ia hafalkan.

Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di depan sebuah gerbang besi besar dengan ukiran simbol kuno.

Lucian menyentuh gerbang itu dan seketika simbol-simbolnya menyala dengan cahaya merah tua.

Dengan suara gemuruh, gerbang terbuka.

Selena langsung mencium bau darah.

Jantungnya berdetak kencang saat ia melangkah masuk. Ruangan di balik gerbang itu lebih luas daripada yang ia duga. Obor-obor besar menyala di sepanjang dinding, menerangi pemandangan yang membuatnya tercekat.

Di tengah ruangan ada sel-sel besar dari besi hitam dan di dalamnya ada manusia serigala bukan hanya satu atau dua, tetapi puluhan.

Beberapa tampak dalam wujud manusia dan tubuh mereka penuh luka dan rantai sihir melilit pergelangan tangan mereka, sedangkan yang lain masih dalam bentuk serigala, bulu mereka berdiri, dan mata mereka bersinar liar, tetapi tubuh mereka tampak lemah. Selena melangkah lebih dekat ke salah satu sel, menahan napasnya.

Lucian berdiri di sampingnya dan mengamati ekspresinya dengan penuh perhatian.

Selena mengepalkan tangannya. "Apa yang telah kamu lakukan?"

Lucian mendesah seolah-olah ia kecewa dengan tuduhan itu. "Aku tidak melakukan apa pun pada mereka. Dewan yang menangkap mereka."

Ia melangkah lebih dekat dan membiarkan kata-katanya menggantung di udara sebelum melanjutkan, "Mereka semua adalah sisa-sisa Darah Bulan sama sepertimu. Mereka yang tidak bisa dikendalikan yang dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup."

Selena menatap sosok-sosok di balik jeruji.

Beberapa dari mereka menatapnya dengan harapan dan yang lain sudah menyerah, mata mereka kosong.

Lucian mencondongkan tubuhnya lebih dekat, suaranya menjadi lebih lembut.

"Jika kau memilihku, aku akan membebaskan mereka."

Selena menoleh cepat dan menatapnya tajam. "Apa?"

Lucian tersenyum kecil. "Aku bisa membebaskan mereka. Aku bisa memberimu pasukan."

Ia menyentuh dagunya dengan lembut, memaksanya menatap matanya.

"Kamu bisa melawan Dewan, Selena. Kamu bisa menghancurkan mereka sebelum mereka menghancurkanmu."

Suara Lucian merasuk ke dalam pikirannya dan membawa godaan yang berbahaya.

"Jadi bagaimana? Masih ingin menolakku?"

Selena menatap sosok-sosok yang tertawan itu sekali lagi. Mereka butuh seseorang untuk menyelamatkan mereka, tapi apakah ia benar-benar bisa percaya pada Lucian?

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!