NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Satu minggu adalah waktu yang sangat lama bagi Lulu, namun terasa seperti mimpi indah yang tak ingin ia akhiri. Selama tujuh hari itu, Sisil—satu-satunya sahabat tempat ia berbagi dunia—tidak masuk sekolah karena demam berdarah. Di saat itulah, Arlan benar-benar masuk ke setiap celah hidup Lulu. Tanpa peringatan dari Sisil, Lulu seperti domba yang sukarela berjalan ke kandang singa karena terpukau oleh kehangatan palsu sang predator.

Senin pagi ini, suasana kelas XI-IPA 2 tampak lebih riuh. Sisil sudah kembali. Wajahnya masih sedikit pucat, namun matanya yang tajam di balik kacamata bulatnya langsung mencari keberadaan Lulu. Ia membawa sekotak kecil kue buatan ibunya.

"Lulu! Gue balik—" Kalimat Sisil terhenti tepat di ambang pintu.

Ia melihat Lulu sedang duduk di bangkunya, tapi pemandangannya aneh. Lulu memang masih memakai kacamata hitam tebalnya, tapi bajunya dipenuhi aksesori mahal yang mencolok—jepit rambut kristal dan gelang bermerek yang sangat kontras dengan penampilan cupunya. Dan yang paling gila, Lulu sedang senyum-senyum sendiri menatap layar ponsel mahal pemberian seseorang.

"Lu? Ini beneran lo?" Sisil menghampiri dengan wajah bingung.

Lulu mendongak, matanya berbinar di balik lensa kacamatanya yang sedikit berembun. "Sisil! Kamu udah sembuh? Syukurlah!" Lulu berdiri dan memeluk sahabatnya erat.

"Gue yang harusnya nanya, lo sehat?" Sisil melepaskan pelukan dan menunjuk gelang di tangan Lulu. "Ini apa, Lu? Dan kenapa seisi kelas bisik-bisik soal lo?"

Lulu menarik Sisil duduk di pojokan. "Sil, ada banyak banget yang mau aku ceritain. Selama kamu nggak masuk... aku jadian sama Arlan."

Sisil mematung. Kotak kue di tangannya hampir saja jatuh. "Arlan? Arlan yang mana? Arlan Wiraguna? Kakak kelas XII-IPS yang punya BMW itu? Yang ketua geng nakal itu?!"

Lulu mengangguk cepat, wajahnya memerah. "Dia baik banget, Sil. Kamu nggak tahu aja. Dia yang nemenin aku tiap hari pas kamu sakit. Dia bilang... dia suka kepolosanku. Dia bilang kacamata aku ini unik."

Sisil menarik napas dalam-dalam. Sebagai orang yang selama ini berada di kasta terbawah bersama Lulu, ia tahu betul reputasi Arlan. "Lu, dengerin gue. Cowok kayak Arlan itu nggak mungkin tiba-tiba cinta sama kutu buku kayak kita. Ini aneh banget! Gue takut lo cuma dijadiin mainan atau... taruhan!"

Lulu melepaskan tangan Sisil. "Kamu jahat banget, Sil. Aku pikir sebagai sahabat, kamu bakal seneng liat aku bahagia. Arlan beda. Dia itu kesepian di rumahnya yang besar, dia cuma butuh seseorang yang tulus. Dan itu aku."

"Dia yang bilang dia kesepian? Itu mah trik lama buat narik simpati, Lu!" seru Sisil frustrasi.

Belum sempat Lulu membalas, pintu kelas terbuka lebar. Arlan berdiri di sana, bersandar di kusen pintu dengan gaya yang sangat sombong. Begitu melihat Arlan, teman-teman sekelas Lulu langsung hening. Arlan berjalan santai menghampiri meja Lulu, sama sekali tidak mempedulikan guru yang mungkin akan lewat.

"Hai, Sayang," Arlan mengusap rambut Lulu di depan mata Sisil. Sisil refleks membuat wajah mual.

"Arlan, kenalin ini Sisil, sahabat aku," ucap Lulu mencoba mencairkan suasana.

Arlan melirik Sisil dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Oh, ini si 'Kutu Buku' temen nasib kamu itu? Yang bikin kamu telat bales pesan aku karena sibuk bahas pelajaran?"

Sisil berdiri, menantang tatapan Arlan. "Nama gue Sisil. Dan gue harap lo nggak punya niat aneh-aneh sama Lulu."

Arlan terkekeh, suara tawanya terdengar sangat meremehkan. "Galak juga ya temen kamu, Lu. Pantesan kamu jadi kuper kalau gaulnya sama orang kayak gini." Arlan beralih ke Lulu, mengabaikan keberadaan Sisil seolah gadis itu hanyalah debu. "Lu, nanti istirahat ikut aku ya. Kita makan di luar sekolah. Aku nggak mau kamu makan bekal di kelas terus kayak orang susah."

"Tapi Arlan, aku udah janji mau makan bareng Sisil hari ini..."

Arlan langsung mengubah raut wajahnya menjadi sedih yang dibuat-buat. Ia melepaskan tangan Lulu. "Oh, jadi sekarang temen kamu lebih penting daripada aku? Padahal aku udah bela-belain pesen makanan enak buat kamu. Aku pikir kamu kangen sama aku..."

Lulu langsung merasa bersalah. Inilah senjata Arlan yang paling mematikan. "Bukan gitu, Arlan... aku kangen kok."

"Ya udah, pilih aja. Kamu mau hargai usaha aku, atau mau dengerin omongan temen kamu yang baru masuk ini?" tanya Arlan dengan nada dingin.

Lulu menatap Sisil dengan penuh permohonan. "Sil, maaf ya... hari ini aja. Besok kita makan bareng lagi!"

Sisil hanya bisa melongo saat melihat sahabatnya ditarik keluar kelas oleh Arlan. Sebelum keluar pintu, Arlan sempat menoleh ke arah Sisil dan memberikan senyum kemenangan yang sangat licik—sebuah peringatan bahwa sekarang Lulu adalah miliknya.

Di dalam mobil, Arlan tidak langsung menjalankan mesinnya. Ia menatap Lulu yang masih memakai kacamata tebalnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Lu, aku nggak suka kamu deket-deket lagi sama Sisil," ucap Arlan tiba-tiba.

Lulu terkejut. "Kenapa? Dia sahabat aku, Arlan."

"Dia itu punya energi negatif, Lu. Kamu liat tadi kan? Baru masuk aja dia udah mau ngerusak hubungan kita. Dia iri sama kamu. Dia iri karena kamu dapet perhatian dari aku, sedangkan dia tetep jadi cewek nggak dilirik siapa-siapa," Arlan menggenggam tangan Lulu. "Orang kayak dia bakal narik kamu jatuh lagi ke lubang yang sama. Kamu mau balik jadi Lulu yang nggak punya siapa-siapa?"

Lulu menggeleng pelan. "Nggak mau..."

"Makanya, dengerin aku. Kurangi ngobrol sama dia. Dia cuma mau cari celah buat hancurin kita," Arlan menatap Lulu dengan pandangan 'tulus' yang palsu. "Hanya aku yang sayang sama kamu apa adanya, Lu. Meskipun kamu... yah, pake kacamata setebel ini."

Lulu mengangguk patuh. Di otaknya, benih keraguan terhadap Sisil mulai tumbuh karena hasutan Arlan.

Saat kembali ke sekolah, Sisil mencoba mencegat Lulu di depan toilet. "Lu! Kita harus bicara. Gue denger dari anak-anak kelas XII, Arlan itu cuma taruhan sama Reno buat deketin lo!"

Lulu berhenti melangkah. Ia menatap Sisil dengan pandangan yang kini sudah terhasut narasi Arlan. "Sil, berhenti fitnah Arlan. Aku tahu kamu iri. Kamu nggak suka liat aku punya pacar keren kayak Arlan, kan? Kamu mau aku tetep jadi temen 'cupu' kamu biar kamu ada temennya?"

Sisil terbelalak. "Apa? Gue iri? Lu, gue ini sahabat lo!"

"Sahabat nggak akan jelek-jelekin pacar sahabatnya sendiri, Sil. Arlan bener, kamu cuma mau narik aku jatuh. Mulai sekarang, tolong jangan ikut campur urusan aku sama Arlan lagi."

Lulu berjalan pergi meninggalkan Sisil yang berdiri mematung. Air mata Sisil jatuh, bukan karena marah, tapi karena takut. Ia melihat sahabatnya sudah benar-benar terjerat. Lulu yang cerdas kini telah lenyap ditelan bayang-bayang Arlan Wiraguna.

Di pojok koridor, Arlan menyaksikan kejadian itu sambil tersenyum puas. Satu per satu orang yang bisa menyadarkan Lulu telah ia singkirkan. Kini, Lulu benar-benar sendirian, hanya bergantung pada kasih sayang palsunya. Dan itulah saat di mana Arlan tahu, dia bisa mulai "menghancurkan" Lulu perlahan-lahan.

1
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!