NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Bidadari Penebus Nyawa

Suasana di dalam aula utama Perguruan Melati Putih tampak begitu mencekam. Bau harum bunga melati yang biasanya menenangkan batin, kini berganti dengan bau busuk uap racun yang keluar dari pori-pori kulit Dewi Melati dan Selasih. Keduanya terbaring lunglai di atas ranjang bambu dengan wajah yang kian membiru pekat.

Rangga Nata duduk bersila di antara keduanya. Keringat sebesar biji jagung bercucuran membasahi Rompi Harimau Putihnya. Kedua telapak tangan pemuda itu menempel di punggung Dewi Melati dan Selasih, menyalurkan hawa murni dari ajian Nafas Naga Inti Alam.

"Uhuk...!" Selasih menyemburkan darah hitam kental. Tubuhnya menggigil hebat.

"Tahan, Selasih! Jangan biarkan hawa dingin itu menyentuh jantungmu!" seru Rangga dengan suara yang bergetar menahan beban tenaga dalam yang luar biasa besar.

Namun, kekuatan racun Ular Bangkai milik Nini Suro dan pukulan Tapak Arwah si Topeng Perak bukanlah perkara mudah. Setiap kali hawa murni Rangga mendesak racun itu, seketika racun tersebut menyebar kembali bagaikan ribuan jarum yang menusuk saraf.

"Percuma, Bocah Edan! Kau hanya akan ikut mati terpanggang racun jika terus memaksakan tenaga dalammu!"

Sret!

Tiba-tiba, sebuah bayangan merah berkelebat masuk ke dalam aula melewati jendela yang hancur. Tanpa banyak bicara, sosok itu mengibaskan selendang sutra putihnya yang panjang.

Plakk!

Sentuhan selendang itu membuat kaitan tenaga dalam Rangga terputus. Rangga terhuyung ke depan, napasnya tersengal-sengal. Matanya menatap tajam ke arah sosok yang baru datang.

Seorang gadis cantik dengan pakaian ringkas berwarna merah darah berdiri dengan angkuh. Wajahnya sangat ayu, namun sepasang matanya memancarkan kedinginan yang sanggup membekukan nyali laki-laki mana pun. Di tangannya tergenggam sebilah pedang ramping dengan sarung berukir bunga mawar.

"Siapa kau?! Berani-beraninya mengganggu pengobatan ini!" bentak Rangga geram.

Gadis itu mendengus sinis. "Aku adalah Ayu Wulandari, yang dikenal orang sebagai Bidadari Penebus Nyawa. Jika aku tidak memutuskan aliran tenagamu tadi, saat ini kau sudah jadi mayat bersama dua wanita ini, Dasar Laki-laki Tolol!"

"Apa katamu?!" Rangga berdiri, tangannya sudah memegang hulu Pedang Naga Emas.

"Jangan sombong dengan pedang besarmu itu! Kau tidak tahu apa-apa tentang racun Nini Suro. Semakin kau desak dengan tenaga dalam kasar, semakin cepat racun itu menghisap sumsum tulang mereka!" tukas Ayu Wulandari tajam.

Ia melangkah mendekati Selasih, namun Rangga segera menghadang. "Minggir, Nisanak! Aku tidak kenal siapa kau!"

"Terserah! Kalau kau ingin mereka mati, silakan teruskan kegoblokanmu! Semua lelaki memang sama saja, hanya mengandalkan otot tanpa otak!" ketus Ayu Wulandari sambil membuang muka.

Melihat Dewi Melati yang kian sekarat, Rangga akhirnya mengalah. Ia merasakan aura yang dibawa gadis ini memang berhawa murni, meski sikapnya luar biasa galak.

Ayu Wulandari mengeluarkan sebuah botol porselen kecil. Ia meneteskan cairan bening ke mulut kedua korban, lalu dengan gerakan tangan yang sangat lincah, ia melakukan totokan di tujuh titik saraf kematian. Ajaib, warna biru di wajah Selasih perlahan memudar menjadi pucat biasa.

"Mereka hanya punya waktu tiga hari. Penawar sejatinya ada di tangan Nini Suro. Jika dalam tiga hari kau tidak mendapatkan Empedu Macan Putih dari istana Macan Hitam, kau boleh gali kubur untuk mereka sekarang," ujar Ayu Wulandari dingin.

Beberapa murid Melati Putih yang selamat mulai berdatangan masuk. Melihat sosok Rangga yang kini terlihat gagah dan tampan setelah membersihkan diri, banyak di antara mereka yang menatap dengan pandangan memuja, meski dalam keadaan berduka.

"Pendekar Naga... terima kasih telah menyelamatkan kami tadi," bisik salah seorang murid wanita dengan wajah merona merah.

Ayu Wulandari melirik sinis ke arah murid-murid itu. "Hmph! Dasar perempuan-perempuan genit. Hanya melihat wajah tampan sedikit saja sudah lupa kalau perguruannya hampir punah. Dan kau, Rangga Nata! Jangan merasa bangga karena dipuja-puja. Bagiku, kau tetaplah lelaki ceroboh yang membiarkan musuh melarikan diri!"

Rangga menggaruk kepalanya, kembali sedikit pada sifat aslinya yang agak urakan. "Aduh, Nisanak Bidadari... kau ini cantik-cantik kok galak sekali. Apa tidak takut cepat tua?"

"Kurang ajar! Kau mau mencoba ketajaman pedangku?!" Ayu Wulandari menghunus sedikit pedangnya, menimbulkan kilatan cahaya yang menusuk mata.

"Sudahlah... aku tidak punya waktu untuk bertengkar dengan gadis galak sepertimu. Aku akan berangkat ke Istana Macan Hitam malam ini juga," ujar Rangga dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat serius.

"Kau mau bunuh diri? Istana itu dijaga ribuan orang!" seru Selasih yang ternyata sudah mulai sadar, meski suaranya sangat lemah. "Rangga... jangan pergi sendirian..."

"Aku akan ikut," cetus Ayu Wulandari tiba-tiba.

Rangga menoleh heran. "Tadi kau bilang aku tolol, sekarang kau mau ikut?"

"Jangan salah sangka! Aku ikut karena aku ingin melihat Nini Suro mati di tanganku. Dan aku harus memastikan kau tidak berbuat konyol yang bisa merusak rencanaku. Ingat, aku tetap menganggapmu sebagai musuh!" tegas Ayu Wulandari.

Rangga tersenyum tipis. "Baiklah, Bidadari Galak. Kita lihat siapa yang akan berbuat konyol nanti."

Malam itu, di bawah naungan rembulan yang tertutup awan mendung, dua sosok pendekar muda—sang Pendekar Naga dan sang Bidadari Penebus Nyawa—meluncur cepat meninggalkan Perguruan Melati Putih.

Di belakang mereka, tatapan penuh harap dan kekaguman dari para gadis Melati Putih mengiringi, sementara intrik perasaan mulai tumbuh di antara debu-debu persilatan tanah Andalas.

Istana Macan Hitam di puncak Gunung Tiga Puluh kini menjadi tujuan akhir. Sebuah tempat di mana darah dan keadilan akan segera beradu dalam satu titik penentuan.

Bersambung...

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!