Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Neraka Terbuka
Cahaya putih dari Formasi Pemindah Ruang raksasa di Alun-alun Langit menyilaukan mata, merobek ruang dan waktu dalam sekejap. Ketika sensasi mual dan pusing yang mencengkeram perut itu memudar, pemandangan kota megah yang indah telah lenyap tanpa sisa.
Sebagai gantinya, udara yang masuk ke paru-paru terasa menyengat, dipenuhi bau belerang, darah kering, dan kelembapan yang mencekik.
Chu Chen membuka matanya. Ia dan tiga ribu calon murid berlabel "sampah" lainnya kini berdiri berdesakan di dasar sebuah lembah ngarai raksasa. Dinding tebing di sekeliling mereka menjulang hingga menyentuh awan ungu yang beracun, tertutup oleh batuan tajam yang menonjol keluar bagaikan ribuan jarum hitam raksasa. Tidak ada jalan keluar selain bertahan hidup di dasar mangkuk neraka ini.
"Selamat datang di Jalur Asura, wahai sekam-sekam fana."
Suara sedingin es bergema dari atas tebing, diperkuat oleh gelombang Qi yang menggetarkan tulang rusuk setiap orang di bawah sana. Tiga orang Penatua Sekte Awan Suci berdiri di atas pedang terbang mereka, menatap ke bawah seolah sedang melihat tumpukan sampah yang akan segera dibakar.
Kepanikan mulai menyebar di antara para calon murid. Banyak dari mereka yang gemetar, beberapa bahkan sudah menangis menyadari mereka benar-benar telah dibuang.
"Kalian berada di Lembah Jarum Beracun," lanjut Penatua yang berada di tengah. "Aturannya sangat sederhana, bahkan anjing liar pun bisa memahaminya. Bertahan hidup selama tujuh hari. Di dalam lembah ini, berkeliaran Kalajengking Jarum Besi, Binatang Buas Tingkat 1 kelas atas. Kumpulkan sepuluh Inti Kalajengking, dan bawa kembali ke titik ini saat susunan formasi terbuka tujuh hari lagi."
Penatua itu tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang sangat kejam. "Sekte Awan Suci tidak peduli bagaimana cara kalian mendapatkan inti tersebut. Kalian bisa memburunya sendiri... atau kalian bisa membunuh orang di sebelah kalian yang sudah susah payah mengumpulkannya. Tidak ada hukum. Tidak ada batasan. Jika kalian mati, itu karena kelemahan kalian sendiri. Waktu kalian... dimulai dari sekarang."
WUUUSH!
Ketiga Penatua itu berbalik dan melesat pergi, menembus awan beracun dan menghilang dari pandangan. Pada saat yang sama, lapisan perisai energi tipis yang mengelilingi titik pendaratan mereka mendadak pecah berkeping-keping.
Keheningan yang mencekam turun menyelimuti tiga ribu pemuda dan pemudi itu. Selama tiga tarikan napas penuh, tidak ada yang bergerak. Saling tatap dengan penuh kecurigaan.
Lalu, naluri bertahan hidup yang paling purba mengambil alih.
"Mati kau!"
Sebuah lolongan memecah keheningan. Seorang pemuda bertubuh kekar mencabut goloknya dan langsung membelah leher calon murid berwajah pucat yang berdiri di dekatnya. Darah segar menyembur tinggi, menyirami tanah berbatu.
Itu adalah percikan api yang menyulut tumpukan kayu kering. Dalam hitungan detik, alun-alun titik pendaratan itu berubah menjadi ladang pembantaian massal.
Alur pemikiran mereka sangat sederhana dan biadab: jika mereka harus mendapatkan sepuluh Inti Kalajengking, mengapa harus repot-repot mencari monster berbisa di dalam gua? Lebih baik membantai calon murid lain sejak awal, mengurangi saingan, merampas perbekalan mereka, dan menunggu sisa yang selamat membawa inti tersebut di hari ketujuh!
"Gila! Tempat ini benar-benar gila!" Meng Fan mencabut sebilah pedang pendek dari balik jubahnya. Wajahnya sepucat kertas melihat potongan tubuh yang mulai beterbangan. "Chu Chen, kita harus keluar dari tempat pendaratan ini! Terlalu banyak orang, kita akan mati terinjak!"
"Terlambat," jawab Chu Chen datar. Matanya yang hitam pekat menatap tenang ke arah depan.
Dari kerumunan yang saling bantai, sekelompok pemuda berpakaian seragam kelompok pendekar bayaran telah memisahkan diri. Mereka berjumlah enam orang, bergerak dengan sangat rapi dan selaras, jelas telah merencanakan persekutuan ini sebelum mendaftar. Pemimpin mereka adalah seorang pria bermata satu yang memancarkan aura Alam Penempaan Raga Lapis Keenam.
Mata pria bermata satu itu mengunci Chu Chen dan Meng Fan yang berdiri di sudut.
"Hei, dua tikus kurus itu! Si Tua pemabuk dan bocah berwajah mati!" teriak pemimpin bermata satu itu sambil menunjuk ke arah mereka dengan pedangnya yang berlumuran darah. "Habisi mereka berdua! Rampas kantong mereka! Orang-orang cacat seperti mereka hanya akan membuang-buang udara di lembah ini!"
Kelima anak buahnya tertawa bengis, melesat maju mengepung Chu Chen dan Meng Fan. Aura Lapis Keempat dan Kelima Penempaan Raga meledak dari tubuh mereka.
Meng Fan menggertakkan giginya. Ia menenggak araknya dalam satu tegukan besar, lalu menyemburkan kabut arak itu ke arah pedangnya. "Sialan! Aku mungkin hanya Akar Roh Tingkat Tiga, tapi aku tidak akan mati sebagai anjing sembelihan! Chu Chen, berlindung di belakangku, aku akan mencoba membuka jalan!"
Namun, sebuah tangan yang terasa sekuat penjepit baja mencengkeram bahu Meng Fan dan menariknya ke belakang.
"Simpan tenagamu, Pemabuk," suara Chu Chen terdengar dingin, menembus hiruk-pikuk jeritan kematian di sekitar mereka. "Biarkan aku yang membersihkan jalan."
Meng Fan tertegun. Sebelum ia sempat memprotes, sosok berjubah hitam itu telah melesat maju.
Bukan melarikan diri, Chu Chen justru menerjang langsung ke arah kepungan enam orang tersebut. Tidak ada pedang yang ditarik. Ia menghadapi kilatan baja tajam murni dengan tangan kosong.
"Bocah sombong yang mencari mati!" salah satu penyerang menebaskan pedangnya ke arah leher Chu Chen dengan kekuatan Lapis Keempat.
Di mata Chu Chen yang kini telah memancarkan kilatan vertikal keemasan samar, gerakan pedang itu tampak sangat lambat. Ia tidak repot-repot menghindar. Ia hanya mengangkat lengan kirinya, mengeraskan ototnya hingga setingkat batu karang Lapis Kelima Puncak, dan menangkis tebasan tersebut secara langsung.
TRANG!
Bunga api memercik. Mata sang penyerang hampir melompat keluar saat melihat pedangnya tidak mampu merobek kulit Chu Chen, bahkan pedang itu bergetar hebat hingga tangannya mati rasa.
"Keras seka—"
Sebelum penyerang itu bisa bereaksi, tangan kanan Chu Chen telah mencengkeram tenggorokannya.
Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan Dasar!
Di tengah kekacauan dan debu yang beterbangan, tidak ada yang menyadari kilatan hisapan energi yang mengerikan itu. Esensi darah dan Qi di dalam tubuh penyerang itu tersedot bersih hanya dalam waktu dua detik. Chu Chen melempar mayat keriput itu bagaikan membuang sampah, membiarkan tubuhnya berderak menyerap kekuatan murni tersebut.
"Apa yang terjadi pada Wang?!" teriak salah satu temannya dengan panik.
"Dia menggunakan teknik rahasia! Serang bersamaan!" perintah pria bermata satu dari belakang.
Tiga pedang menusuk dari tiga arah berbeda, menyegel setiap ruang gerak Chu Chen.
Namun Chu Chen adalah pemangsa yang telah diuji oleh binatang buas. Ia menunduk tajam menghindari tebasan pertama, memutar tubuhnya dengan kelenturan yang mustahil bagi manusia biasa, dan melepaskan sebuah tendangan menyapu yang menghantam lutut penyerang kedua.
KRAK! Suara tulang hancur terdengar nyaring. Penyerang kedua ambruk dengan jeritan histeris.
Tanpa membuang laju geraknya, Chu Chen melesat ke arah penyerang ketiga. Tangan kirinya menangkap pergelangan tangan musuh yang memegang pedang, sementara telapak tangan kanannya menghantam tepat di tengah dada penyerang itu.
Hisapan mematikan kembali aktif. Jantung musuh itu meledak di dalam akibat ditarik paksa esensinya.
"Dua," bisik Chu Chen dingin. Matanya menyala, merasakan Dantian naganya yang seperti jurang mulai sedikit bergetar kegirangan menerima makanan berdarah ini.
Pria bermata satu, sang pemimpin kelompok, akhirnya menyadari ada yang salah. Pemuda berjubah hitam ini bukanlah sampah. Setiap gerakannya sangat lugas, tanpa gerakan sia-sia, dan setiap serangannya berujung pada kematian yang aneh.
"Keparat! Jangan meremehkanku!" Pria bermata satu itu meraung. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, melepaskan kekuatan penuh Lapis Keenam Penempaan Raga. Urat-urat di lengannya menonjol saat ia melayangkan kapak besarnya ke arah kepala Chu Chen, membelah udara dengan suara siulan mematikan.
Meng Fan, yang menonton dari belakang, menahan napasnya. "Lapis Keenam! Kekuatannya terlalu besar, Chu Chen tidak akan bisa—"
Chu Chen mendongak. Bukannya mundur, sudut bibirnya justru melengkung membentuk senyuman buas. Ia telah memakan esensi Lapis Kelima dan Keempat barusan. Fisiknya berada tepat di ambang batas. Ia membutuhkan benturan yang sangat keras untuk memecahkan cangkangnya.
Chu Chen mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, memusatkan seluruh tenaga fisik naga dan energi yang baru ia telan ke satu titik, lalu meninju ke atas, menyambut bilah kapak besi yang turun itu dengan tinju telanjang!
BUMMM!!
Gelombang kejut meledak dari titik benturan, meniup debu dan darah di sekitar mereka.
Mata pria bermata satu itu membelalak ngeri. Tinju telanjang Chu Chen menghantam mata kapaknya yang setebal tiga cun... dan mata kapak itu retak sebelum akhirnya hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam!
Daya pantul yang mengerikan menjalar ke seluruh lengan pria bermata satu itu, merobek otot dan mematahkan tulang tangannya. Ia terhuyung mundur, memuntahkan darah segar.
Namun, efek dari benturan itu pada Chu Chen jauh lebih mencengangkan.
KRAK! KRAK!
Suara retakan tak kasat mata bergema di dalam tubuh Chu Chen. Gelombang panas yang luar biasa meledak dari meridiannya. Energi dari mayat-mayat sebelumnya dan benturan dahsyat ini akhirnya memecahkan lapisan penghalang di tubuhnya.
Otot-otot Chu Chen menegang, kulitnya memancarkan pendaran warna perunggu yang sangat tipis sebelum kembali normal. Kekuatan yang mengalir di setiap inci pembuluh darahnya melonjak dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.
Alam Penempaan Raga Lapis Keenam!
Mata naga Chu Chen berkilat mematikan. Ia tidak membiarkan pria bermata satu itu lolos. Ia melesat memangkas jarak bagaikan kilat hitam, tangan kanannya menembus pertahanan pria yang sedang terluka itu, dan langsung mencengkeram wajahnya.
"Ampun—"
Pusaran Ketiadaan.
Kata-kata terakhir itu tertelan oleh daya hisap mutlak. Esensi Lapis Keenam yang kental mengalir deras ke dalam lengan Chu Chen, menstabilkan fondasi barunya dalam sekejap mata. Pria kuat itu layu seperti bunga yang disiram air mendidih.
Melihat pemimpin mereka mati mengering dalam hitungan detik, dua anak buah yang tersisa kehilangan seluruh kewarasan mereka. Mereka menjatuhkan senjata dan lari terbirit-birit menembus kerumunan.
Chu Chen tidak mengejar. Ia melepaskan mayat pria bermata satu itu ke tanah berbatu.
Meng Fan berjalan mendekat, pedangnya masih bergetar di tangannya. Ia menatap mayat-mayat aneh yang keriput itu, lalu menatap punggung Chu Chen dengan tatapan horor bercampur takjub.
"Kau... kau gila," bisik Meng Fan. "Kau bukan fana dengan Akar Roh Cacat. Monster jenis apa kau ini sebenarnya?"
Chu Chen membalikkan badannya. Percikan darah di wajahnya membuatnya terlihat seperti dewa kematian yang turun ke dunia fana. Ia menatap ke sekeliling; pembantaian di titik pendaratan masih berlangsung, namun beberapa kelompok yang melihat aksi brutal Chu Chen mulai menjaga jarak, tidak berani mendekat.
"Hanya seorang pemburu yang sedang kelaparan," jawab Chu Chen tenang. Ia memungut beberapa Kantong Penyimpanan fana dari mayat-mayat itu. "Tempat ini sudah tidak terkendali. Orang-orang yang kuat telah selesai membentuk kubu. Mari kita bergerak ke dalam ngarai. Kalajengking jarum dan mangsa yang sebenarnya ada di sana."
Chu Chen melangkah pergi, membelah lautan darah dan mayat menuju kabut beracun di kedalaman lembah. Ia baru saja mencapai Lapis Keenam, namun rasa laparnya tidak berkurang, melainkan bertambah besar. Tiga ribu calon murid di tempat ini... pesta baru saja dimulai.