Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Dengan Iblis & Mawar di Pulau Neraka
Jam 6 pagi. Langit masih semburat jingga.
Florence sudah duduk di teras, sesuai perintah. Gaun putih selutut membalut tubuhnya — pasti pilihan Lucifer lagi. Di depannya, meja marmer panjang penuh sarapan Amerika: pancake, bacon, telur, jus jeruk. Terlalu banyak untuk dua orang. Terlalu mewah untuk seorang tahanan.
Lucifer muncul 10 menit kemudian. Tanpa jas. Hanya kemeja hitam digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot penuh urat. Rambutnya masih basah. Dia habis berenang atau habis membunuh orang, Florence tidak bisa bedakan.
Dia duduk di ujung meja. Tidak menyapa. Langsung ke intinya.
“Makan.”
Florence tidak menyentuh apa pun. Tangannya dingin. “Kamu janji mau bicara soal orang tuaku.”
Lucifer mengiris steaknya. Gerakan elegan untuk tangan yang biasa menarik pelatuk. “Aku selalu tepati janji.”
Dia menjentikkan jari. Salah satu anak buahnya datang membawa map coklat yang sama dengan kemarin. Map itu diletakkan di depan Florence. Debar jantung Florence langsung menggila.
“Buka.”
Dengan tangan gemetar, Florence membuka map itu. Isinya foto. Laporan. Catatan.
Dua nama di halaman pertama: Richard Beatrix & Anna Beatrix. Wajah orang tuanya. Muda, tersenyum, menggendong balita berambut coklat. Dia.
Air mata Florence langsung menggenang. 17 tahun dia berdoa untuk wajah ini.
Lalu lembar kedua. Foto pemakaman. Dua nisan bersebelahan. Tanggal kematiannya 15 tahun lalu. Kecelakaan mobil.
Kata-kata di laporan itu hitam di atas putih: Deceased. Confirmed.
“Dunia ini kejam, Florence,” suara Lucifer datar, tanpa simpati. “Orang tuamu sudah mati. Lama. Tidak ada keajaiban. Tidak ada reuni.”
Dunia Florence runtuh. Harapan yang dia pegang sejak di panti, doa yang dia bisikkan tiap malam, semuanya dusta. Dia menutup mulut, menahan isak yang mau pecah. Salib di lehernya terasa panas.
Lucifer menatapnya. Tidak ada iba di mata biru itu. Hanya meneliti, seperti ilmuwan melihat reaksi tikus lab.
Bohong.
Semuanya bohong. Richard & Anna Beatrix masih hidup. tapi informasi tentang mereka tidak di temukan, diluar jangkauan Lucifer, dan menurut nya itu tidak terlalu penting.Kematian mereka adalah cerita yang dia karang semalam. Kenapa? Karena gadis yang punya harapan itu berbahaya. Gadis yang patah lebih mudah dikurung. Lebih mudah... dimiliki.
“Makan,” ulang Lucifer. “Sebelum makananmu dingin. Atau sebelum aku berubah pikiran dan kubur kamu di sebelah mereka.”
Florence menghapus air mata kasar. Benci membakar dadanya. Dia mengambil garpu, menusuk pancake dengan marah. Dia makan. Setiap kunyahan terasa seperti menelan kaca.
Bagus. Patah. Itulah yang Lucifer mau. Atau... seharusnya mau.
Di tengah makan, anak buah lain datang. Bukan membawa senjata. Tapi setangkai mawar.
Mawar merah. Masih ada embunnya. Satu tangkai, tapi sempurna.
“Taruhan di sini,” Lucifer menyender, menatap Florence tajam. “Kamu pikir aku akan kasih bunga?”
Florence diam. Bingung.
Lucifer mengambil mawar itu. Dia berdiri, melangkah memutari meja sampai di samping Florence. Aromanya — mint, whisky, dan bahaya — menyergap lagi.
“Mawar di pulau neraka tidak tumbuh sembarangan,” bisiknya. Suaranya rendah, hanya untuk Florence. “Dia tumbuh karena disiram darah. Sama seperti kamu. Kamu ada di sini karena darah.”
Dia menyelipkan mawar itu ke belakang telinga Florence. Jemarinya sengaja menyentuh kulit pipi Florence sedetik lebih lama. Kelembutan yang salah tempat. Kejam yang menyamar.
“Hadiah karena kamu patuh dan makan,” katanya. “Tapi ingat, Florence. Mawar itu indah. Tapi durinya membunuh.”
Jari Lucifer menekan batang mawar, sengaja. Darah menetes dari ujung jarinya, jatuh ke gaun putih Florence. Setetes merah di atas putih suci.
“Seperti aku,” lanjutnya sambil menjilat darahnya sendiri dari jarinya. Sorot matanya gelap, posesif. “Aku bisa kasih kamu indah. Tapi aku juga yang akan membunuhmu kalau kau menusukku dari belakang.”
Florence beku. Di telinganya ada mawar. Di gaunnya ada darah iblis. Di dadanya ada duka karena orang tua yang katanya mati.
Dan di kepalanya, untuk pertama kali, dia bertanya: kalau orang tuanya benar mati, kenapa mata Lucifer terlihat seperti menyembunyikan sesuatu saat bicara?
Sarapan dengan iblis selesai. Tapi perang baru saja dimulai.
Lucifer kembali ke kursinya. “Aturan kelima: Kamu boleh simpan mawar itu. Sampai dia layu. Saat dia mati, kamu ingat siapa yang kasih hidup, dan siapa yang bisa mengambilnya.”
Dia melirik map di meja. Laporan palsu.
Florence tidak boleh tahu. Belum. Tidak sebelum Lucifer memutuskan apakah gadis ini pantas jadi ratunya, atau sekadar pion yang mati cantik.