NovelToon NovelToon
Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi / Time Travel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Calista F.

Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Pagi itu, Akademi Starfell terasa jauh lebih berisik dibanding biasanya.

Bukan karena rumor baru. Bukan juga karena Ares Blackwood tiba-tiba muncul lagi di kelas orang lain.

Melainkan karena satu pengumuman besar yang ditempel tepat di papan utama akademi sejak subuh tadi.

UJIAN PRAKTIK PEMILIHAN ARTEFAK JIWA

Seluruh murid tahun kedua wajib hadir di Aula Tempur pukul sembilan pagi.

Dan sekarang… Freya sedang berdiri membeku di depan papan pengumuman sambil menatap tulisan itu seperti orang yang baru menerima surat kematian.

"…Hah?"

Aria yang berdiri di sampingnya ikut membaca ulang pengumuman itu pelan.

"Artefak Jiwa…"

Wajah gadis itu langsung sedikit pucat.

Sedangkan Freya? Freya rasanya ingin pingsan. Karena ia tahu persis arc ini. Dan arc ini sangat penting di novel asli.

Di dunia ini, setiap manusia yang memiliki mana akan membangkitkan Artefak Jiwa mereka saat mencapai usia tertentu. Artefak itu adalah senjata yang terhubung langsung dengan jiwa pemiliknya.

Ada yang berbentuk pedang. Busur. Cambuk. Buku sihir. Tombak. Bahkan ada yang berbentuk jam saku, cincin, hingga boneka kutukan.

Semakin kuat jiwa seseorang, semakin kuat pula artefak yang terbangun.

Dan masalahnya… Freya asli punya artefak yang sangat terkenal yaitu Pedang sihir kelas tinggi bernama Crimson Valkyrie.

Pedang cantik berwarna merah gelap dengan kemampuan api penghancur berskala besar. Sangat kuat. Sangat berbahaya. Dan sangat cocok untuk villain wanita arogan.

Masalahnya sekarang… "Aku bahkan gak bisa pegang pedang…"

Aria menoleh bingung. "Hah?"

Freya langsung batuk kecil. "Maksudku… sudah lama tidak latihan."

Padahal aslinya? Ia bahkan tidak pernah latihan.

Karena di kehidupan sebelumnya Freya hanyalah manusia biasa. Bukan pendekar. Bukan penyihir. Bukan tokoh fantasy overpower.

Ia cuma cewek biasa yang suka baca novel sambil rebahan. Dan sekarang dia disuruh ujian tempur pakai senjata jiwa.

"Ya Tuhan…" gumam Freya lemas.

Aria langsung panik. "Freya? Kamu sakit?"

"Aku sakit mental…"

"Hah?"

Freya menatap langit-langit akademi dengan mata kosong. 'Kenapa hidupku makin lama makin hardcore sih?'

Namun sebelum Freya sempat menangisi nasibnya lebih jauh…

BRAK.

Seseorang tiba-tiba menyender santai ke papan pengumuman tepat di sampingnya.

"Wah."

Freya bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa. Ares Caelum Blackwood.

"Ekspresimu lucu sekali pagi-pagi begini," katanya santai sambil menyeringai kecil.

Freya langsung memegangi dahinya. "Kenapa kamu muncul terus sih?"

"Takdir."

"Itu lebih menyeramkan."

Ares tertawa kecil.

Hari ini ia mengenakan seragam hitam akademi dengan mantel pendek khas kelas tempur elit. Rambut hitam kecokelatannya terlihat sedikit berantakan seperti biasa, dan mata emasnya berbinar penuh hiburan saat menatap Freya.

"Aku dengar hari ini ujian artefak."

"Aku juga dengar," jawab Freya lemas.

"Lalu kenapa wajahmu seperti orang yang baru kehilangan masa depan?"

"Karena mungkin memang begitu."

Ares tertawa lagi.

Sedangkan Aria hanya melihat mereka bergantian dengan ekspresi bingung. "Kalian akrab sekali sekarang…"

"ENGGAK."

"Lumayan."

Freya langsung menoleh tidak percaya. "Kenapa jawabanmu selalu bikin hidupku lebih susah?"

"Karena reaksimu lucu."

Freya mulai yakin pria ini hidup dari penderitaan orang lain.

Tak lama kemudian, suara lonceng besar akademi terdengar menggema. Tanda seluruh murid harus menuju Aula Tempur. Dan begitu Freya sampai di sana… Ia langsung sadar satu hal.

'…Aku benar-benar tamat.'

Aula Tempur Starfell sangat besar. Arena bundar raksasa terbentang di tengah ruangan dengan lantai batu putih dipenuhi ukiran sihir berwarna perak.

Ratusan kursi penonton mengelilingi arena. Api sihir biru menyala di dinding. Dan di bagian depan terdapat puluhan artefak melayang di udara.

Pedang. Tombak. Busur. Buku sihir. Cambuk. Belati. Sarung tangan tempur. Semuanya memancarkan aura mana berbeda.

Indah. Dan menyeramkan.

"Seluruh murid harap tenang." Suara seorang profesor tua menggema memenuhi aula.

Profesor Rowan Eldric. Instruktur utama divisi tempur Starfell. Pria tua berambut abu-abu itu berdiri di tengah arena sambil membawa tongkat sihir panjang.

"Hari ini kalian akan menjalani resonansi artefak jiwa."

Suasana langsung menjadi serius.

"Artefak bukan sekadar senjata." Tatapan Profesor Rowan menyapu seluruh murid. "Artefak adalah cerminan jiwa kalian."

Ia mengetukkan tongkatnya ke lantai. Kemudian lingkaran sihir besar langsung muncul di arena.

"Beberapa dari kalian akan membangkitkan kekuatan hebat."

Api biru menyala.

"Dan beberapa lainnya mungkin tidak."

Freya langsung menelan ludah. 'Please jangan malu-maluin… Aku mohon.'

"Namun ingat baik-baik," lanjut sang profesor tajam. "Artefak tidak memilih orang kuat."

Tatapannya menjadi serius. "Artefak memilih jiwa yang paling jujur terhadap dirinya sendiri."

Hening memenuhi aula.

Dan entah kenapa… Kalimat itu membuat Freya sedikit terdiam.

'Jiwa paling jujur… ya. Kalau begitu… Apa artefaknya masih menganggap dirinya Freya yang asli? Atau… Artefak itu akan menolak dirinya?'

"Pemanggilan akan dimulai satu per satu."

Satu demi satu murid mulai maju ke arena. Dan Freya langsung menyadari sesuatu yang mengerikan.

Semua orang keren banget. Ada yang memanggil tombak petir. Ada yang membangkitkan rantai es. Ada yang mengeluarkan buku sihir bercahaya.

Bahkan Isabella Morgana berhasil membangkitkan cambuk mawar berduri dengan sihir api merah muda.

Dan tentu saja… Isabella langsung memamerkannya dengan wajah bangga.

"Cantik sekali…"

"Artefak keluarga Morgana memang kuat…"

Freya malah makin stres. "Kenapa semua orang di sini jadi terlihat seperti protagonis?"

Aria menepuk bahunya pelan. "Freya pasti bisa."

Freya langsung tersentuh. 'Ya ampun. Aria terlalu baik.'

Tak lama kemudian…

"Aria Elowen."

Nama itu dipanggil. Aria langsung menegang.

Dan Freya refleks menggenggam tangannya sebentar. "Tenang."

Aria menatapnya gugup. "Aku takut gagal…"

"Kamu itu female lead...eh maksudku…" Freya buru-buru batuk kecil. "Kamu pasti hebat."

Aria terlihat bingung tapi akhirnya tersenyum kecil. Lalu gadis itu berjalan perlahan menuju arena. Dan detik Aria menyentuh lingkaran sihir…

CRAAASH.

Cahaya keemasan langsung meledak memenuhi aula. Seluruh murid membelalak.

Angin mana berputar di sekitar tubuh Aria. Dan perlahan… Sebuah busur putih keemasan muncul di tangannya.

Indah. Elegan. Dan memancarkan aura suci yang hangat.

Profesor Rowan sampai sedikit membelalak.

"Sacred-class artifact…"

Bisikan langsung memenuhi aula.

"Itu langka…"

"Mana sucinya luar biasa…"

Aria sendiri terlihat shock. "A-Aku…?"

Freya langsung hampir menangis bangga. 'YA AMPUN FEMALE LEAD EMANG BEDA.'

Busur itu benar-benar cocok untuk Aria. Lembut tapi kuat. Dan saat Aria menoleh ke arah Freya dengan gugup, Freya langsung mengangkat dua jempol penuh semangat.

"KEREN BANGET ARIA"

Aria langsung tersipu malu. Namun di sisi lain aula… Zevian diam-diam memperhatikan Freya, bukan artefak Aria.

Cara gadis itu tersenyum. Cara matanya berbinar bangga. Semua reaksinya terasa sangat tulus.

Dan entah kenapa… Zevian terus memperhatikannya tanpa sadar.

Tak lama kemudian…

"Ares Caelum Blackwood."

Ares berjalan santai ke arena dengan satu tangan di saku. Dan detik lingkaran sihir aktif…

BOOOOM.

Aura hitam keemasan langsung meledak liar.

Beberapa murid sampai refleks mundur. Lalu perlahan… Sepasang pistol sihir hitam muncul di kedua tangan Ares.

Desainnya elegan. Dipenuhi ukiran emas. Dan memancarkan mana berbahaya.

Freya langsung bengong. "…PISTOL?"

Ares memutar salah satunya santai. "Keren kan?"

"KENAPA DUNIA FANTASY ADA GLOCK?"

"Hah?"

"Enggak. Tidak penting."

Ares tertawa kecil melihat reaksinya. "Nama artefaknya Eclipse Howl."

Ia mengarahkan pistolnya ke udara.

DOR.

Peluru mana hitam meledak jadi kupu-kupu cahaya di langit aula.

Seluruh murid langsung heboh.

"Gila…"

"Artefak tipe jarak jauh…"

"Dan mana sebesar itu…"

Freya mulai sadar. '…Cowok ini memang monster.'

Dan lebih parahnya lagi… Ares masih sempat melirik Freya sambil menyeringai kecil. Seolah sengaja pamer.

Tak lama kemudian…

“Zevian Aldric Arkwright.”

Suasana aula langsung berubah.

Zevian berjalan maju dengan tenang. Dan entah kenapa… Bahkan udara terasa lebih berat saat dia memasuki arena.

Lalu...

DRAAAAAASH.

Mana hitam kebiruan meledak seperti badai. Api biru gelap berputar di sekitar tubuh Zevian. Dan perlahan… Sebuah pedang panjang muncul di tangannya.

Pedang hitam elegan dengan garis cahaya biru di sepanjang bilahnya. Aura dingin dan tajam langsung memenuhi aula.

Profesor Rowan sampai terdiam beberapa detik. "…Soulblade kelas dominator."

Semua murid langsung gempar.

"Monster…"

"Mana dia mengerikan…"

"Pantas jadi kandidat pewaris kekaisaran…"

Freya juga ikut bengong. '…Oke. Male lead memang beda.'

Dan di tengah semua kekaguman itu… Zevian justru melirik ke arah Freya.

Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Dan Freya langsung refleks pura-pura melihat langit-langit.

'Jangan lihat aku. Aku takut.'

Sayangnya… Tak lama kemudian nama paling mengerikan akhirnya dipanggil.

"Freya Valencia Vane."

Hening.

Seluruh aula langsung fokus padanya. Karena semua orang tahu. Freya adalah putri keluarga Vane. Keluarga pengguna api terkuat di kerajaan.

Ekspektasi mereka tinggi. Sedangkan Freya sendiri? Kakinya hampir lemas.

"Aku mau kabur…"

Aria langsung panik. "Freya."

Ares terlihat seperti hampir tertawa. Bahkan Zevian menatapnya lebih serius sekarang.

Freya akhirnya berjalan masuk ke arena seperti narapidana menuju eksekusi.

'Kalem… tenang… jangan mati…'

Ia berdiri di tengah lingkaran sihir. Dan perlahan… Cahaya mulai muncul di bawah kakinya.

Hangat. Panas. Lalu...

BOOOOOOM.

Api merah langsung meledak ke langit aula. Semua murid terkejut. Mana Freya jauh lebih besar dari dugaan mereka.

Angin panas berputar liar. Dan di tengah kobaran api itu… Sebuah pedang perlahan muncul.

Cantik. Bilah merah gelapnya berkilau seperti darah. Gagang emasnya dipenuhi ukiran bunga mawar api.

Crimson Valkyrie. Persis seperti di novel.

Dan saat Freya menggenggam pedang itu… Sebuah suara wanita terdengar di kepalanya.

"Jadi kau bukan pemilik tubuh ini."

Freya langsung membeku. '…Hah?'

Suara itu terdengar dewasa. Tenang. Dan sangat tajam. "Aku bisa merasakan jiwamu berbeda."

Freya hampir menjatuhkan pedangnya. 'ASTAGA PEDANGNYA BISA NGOMONG?'

Untungnya dari luar ekspresinya masih terlihat cukup normal.

Kurang lebih.

"Apa kau takut?" suara itu terdengar lagi.

Freya menelan ludah pelan dalam hati. 'Sedikit.'

"Hm."

Api di sekitar pedang bergetar pelan.

"Aneh."

Freya makin panik. 'Jangan bongkar aku di depan semua orang please...'

"Jiwamu lemah."

"…Sakit banget ngomongnya."

"Tapi hangat."

Freya bengong.

Dan sebelum ia sempat memahami maksudnya… Pedang itu tiba-tiba bersinar lebih terang.

BOOOOM.

Api merah membentuk sayap besar di belakang Freya. Seluruh aula langsung heboh.

"Resonansi penuh?"

"Mana dia gila…"

"Putri Freya sehebat itu?"

Bahkan Profesor Rowan terlihat terkejut sekarang.

Sedangkan Freya sendiri cuma bisa berdiri kaku sambil menahan mental breakdown. 'SUMPAH...AKU GAK NGERTI APA YANG TERJADI.'

Namun anehnya… Crimson Valkyrie terasa hangat di tangannya.

Tidak menolak. Tidak menyerang. Seolah… Pedang itu menerima dirinya. Dan entah kenapa… Freya sedikit lega karenanya.

Beberapa saat kemudian, ujian akhirnya selesai. Namun tentu saja… Freya kembali jadi pusat perhatian nasional.

"Artefaknya luar biasa…"

"Mana dia bahkan lebih besar dari Isabella…"

"Tapi kenapa dia sekarang terlihat lembut ya?"

Freya mulai merasa lelah hidup. Saat ia keluar aula bersama Aria… Ares langsung muncul di sampingnya lagi.

"Wah."

Freya langsung refleks curiga. "Apa?"

"Pedangmu keren."

"…Makasih."

"Dan kau ternyata kuat juga."

Freya tertawa kaku. 'Kalau aja kamu tahu aku tadi hampir pingsan.'

Aria ikut tersenyum kecil. "Freya terlihat sangat cantik tadi."

DOR.

Critical damage.

Freya langsung memegang dadanya. "Aria…"

"Hah?

"Kamu terlalu manis… Apa kamu berminat jadi kakak iparku?"

"Hah?"

"Lupakan."

Aria langsung bingung sendiri.

Sedangkan Ares malah ngakak pelan melihat reaksi Freya.

Dan tidak jauh dari mereka… Zevian kembali memperhatikan Freya dalam diam.

Namun kali ini berbeda. Karena saat Freya memegang pedangnya tadi...Untuk sepersekian detik… Zevian melihat sesuatu.

Kesepian. Ketakutan. Dan tekad aneh yang bercampur jadi satu di mata gadis itu.

Tatapan yang tidak pernah dimiliki Freya sebelumnya.

Dan semakin Zevian melihatnya… Semakin sulit baginya berhenti memperhatikan Freya Valencia Vane.

1
aku
lagi 😁
aku
😭😭 alasan nmr 83 😭😭 🤣🤣🤣no.1 nya cembokurr 🤣🤣
aku
mulai mekar kah bunga asmara pangeran?? 😁
aku
🤣🤣🤣🤣 jlebbb 🤣🤣🤣
aku
aduduh,ngabrut 🤣🤣🤣 seminar ekonomi 🤣🤣🤣
aku
jangan2 si ares kyk emaknya 🤣
frina ayu: faktor genetik kak 😭
total 1 replies
paijo londo
lyra dulu meninggal karena TDK ada yg membantu untuk menutup gerbangnya hingga mengambil nyawanya sedangkan Freya mulai banyak yg munyukainya hingga tanpa ragu berani mengorbankan nyawanya untuk Freya 💪freya
paijo londo
celetukan Freya bikin Ares suka ketawa
paijo londo
frey lucu ya kalo ngumpat dalam hati kita yg baca jadi ketawa ngakak 🤣🤣
aku
kok kesian sm monster2 nya 😭😭
aku
res, lu lama2 gue gibeng jg. bkin reader kepo maksimal. 😭😭 agk curiga tp jg menghibur 🤣
aku
ceileeeehhh terkesimo kah kau frey 😌😌
aku
ares, lama2 kau makin mengerikan 😭😭
aku
selamatkan jantungmu frey 🤣🤣
aku
bnr, tidak fantassttt ish ish ish 😌😌🤣🤣
aku
ceplas ceplos dn bar bar kah aslinya ra??? 🤣🤣🤣
frina ayu: asbun kak dia🤣
total 1 replies
aku
heh 🤣🤣 nyukurin yg asli mati duluan 🤣🤣 astagaa
frina ayu: takutnua kalo gak dimatiin nanti rebutan tubuh kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!