cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Bundaaa.....!"
"Haaaiiii, maaf yaaa, Bunda telat jemput Zona. Yasudah ayo kita pulang,"
Zona naik ke motor bagian depan. Setelah Zona duduk nyaman, Niya menjalankan motornya untuk pulang ke rumah. Tapi diperjalanan pulang ke rumah, lagi lagi Zona meminta jajan.
"Bunda, kita mampir disupermaket ya. Zona mau beli jajan,"
Niya menghembus napas, selalu saja begitu. Jika pergi kemana mana pasti Zona minta beli jajan. "Tapi jangan banyak banyak, Bunda bawa uang dikit soalnya,"
"Iya, Zona janji,"
Niya mengangguk, dia pun menghentikan motornya didepan supermaket. Zona turun dari motor dan langsung berlari kesenengan masuk kedalam supermaket. Niya turun dari motor dan mengikuti Zona dari belakang.
Zona membuka freezer, dia mengambil susu kotak yang berukuran besar satu. Menutupnya, kemudian berlari menuju rak jajanan yang lain. Niya sudah was was jika Zona akan mengambil jajan banyak banyak.
Niya mendekati Zona, dia berbisik ditelinga Zona. "Zona, ingat janjinya. Zona sudah janji sama Bunda untuk tidak jajan banyak banyak lho,"
Wajah ceria Zona berubah cemberut. Mendengus dengan bibir maju. "Bunda selalu saja seperti itu!" Zona berteriak membuat Niya terkejut dan malu. Takut orang orang mendengar teriakan Zona.
"Zona, jangan teriak teriak dong, disini banyak orang, malu,"
Kesabaran Niya mulai teruji, selalu begini jika bepergian bersama Zona. Janji yang sudah Zona ucapkan lagi lagi terlupakan. Pergi dikit saja langsung minta jajan. Dikit dikit minta jajan dikit dikit minta jajan.
Kenapa Zona berbeda dengan Arfi? Saat Arfi kecil dulu dia tidak pernah minta jajan, sampai sekarang Arfi juga jarang minta uang, kecuali Niya yang memang ingin memberikannya waktu akan ke sekolah. Setelah pulang sekolah Arfi tidak minta.
"Biarkan saja, soalnya Bunda begitu. Selalu larang Zona untuk beli ini itu!"
Gadis kecil ini semakin kesal karena menurutnya Bundanya terlalu pelit. Jajan dikit saja sudah diwanti wanti. Zona sangat kesal. Tapi dia tetap memgambil satu box permen yupi kesukaannya lau mengambil coklat bong bong lima biji.
Niya membuang napas lelah, dibalik kelucuan dan Zona yang menggemaskan, satu minusnya adalah ini. Zona suka jajan dan susah dinasihati. Jika Niya menasihatinya Zona justru kesal kadang menurut dan kadang tidak, contohnya seperti saat ini.
"Yasudah. Zona sudah jajan sekarang nanti tidak boleh beli jajan lagi."
"Huh!"
Zona berjalan menuju kasir dengan wajah kesal dan jalan khas bocah marah. Niya mengikutinya dibelakang. Dia was was menunggu total jajan yang Zona beli.
Kasir menghitung dan memasukan jajan kedalam keresek putih. "Semuanya tiga puluh ribu lima ratus Bu," memasukan strok belanjaan didalam kresek, kemudian memberikannya pada Zona.
Niya mengambil uang didalam saku, menghitung sesuai yang mbak kasir sebutkan. Niya bernapas lega saat uang yang dia bawa masih sisa dua ribu rupiah.
"Ini mbak, makasih ya,"
Setelah selesai membayar, Niya menuntun Zona keluar dari dalam supermaket. Dia menuntun Zona menuju motornya, tapi Zona menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman. Niya menatap Zona sepertinya anak kecil ini masih marah padanya.
"Zona sayang. Maafkan Bunda. Uang Bunda tinggal sedikit takut tidak cukup buat bayar jajannya Zona. Ayah belum kasih uang lagi ke Bunda,"
Niya memberitahunya dengan suara yang cukup lembut. Tahu jika putri kecilnya ini sedang menahan kesal padanya.
Sebenarnya Niya kasihan dengan Zona karena jatah jajan selalu dibatasi. Tapi keuangan yang diberikan Mas Riyan terbatas, belum cukup untuk semua keperluan dan kebutuhan rumah tangganya selama ini. Hanya saja sebisa mungkin Niya diam karena Niya sadar diri. Dia belum bisa cari uang.
"Ah, Bunda. Zona minta maaf, Zona janji tidak minta jajan lagi."
Bocah kecil ini memeluk Niya kelihatan sudah tidak marah lagi. Niya tersenyum, terharu dengan sikap Zona yang menyayanginya seperti ini.
Zona Maafkan Bunda
"Yasudah, ayo kita pulang. Hari sudah semakin panas."
"Ayo Bundaaa..."
Dengan semangat Zona naik ke atas motor bagian depan. Jajan dia gantung di gantungan motor bagian depan. Senyumnya mereka saat Bundanya mulai menjalankan motornya.
Tidak makan waktu lama Niya dan Zona sudah sampai di rumah. Mereka segera masuk ke dalam rumah setelah motor terpakir dengan benar di garasi.
"Bunda, ayo temani Zona makan jajannya." Zona melepas tas gendong kecilnya di sofa, lalu membuka keresek yang berisi jajannya.
"Uh, enaknyaaa. Bunda mau tidak?" Zona menawari Bundanya.
Niya menggeleng. "Buat Zona saja. Bunda masuk kamar dulu ya. Ingat, makannya jangan berantakan. Buang sampah pada tempatnya juga ya,"
Niya mengingatkan supaya tidak seperti yang sudah sudah. Karena Zona selalu tidak membuang bungkus jajan setelah jajan habis dia makan. Sampai sampai menimbulkan semut berdatangan.
Zona mengangguk sambil meminum susu kotak. Bocah kecil itu terlihat sangat menikmatinya. Niya tersenyum, lalu berjalan menuju kamarnya. Begitu sampai di dalam kamar, Niya menutup pintu, dia bersandar di belakang pintu dengan ingatan yang tertuju pada kejadian di mall tadi pagi.
"Mas Riyan, kau lihat. Nafkah untuk ku dan anak anak saja masih kurang. Kenapa kau tega mengkhianati aku?"
Niya mengambil uang kembalian dua ribu dari supermaket tadi. Itu adalah uang yang dia punya sekarang. Hanya itu saja. Tidak ada yang lain. Niya juga pusing jika nanti Zona minta jajan lagi dia mau belikannya pakai apa. Malau makanan di dapur sudah habis bagaimana. Uang Niya sudah habis. Bersisa dua ribu. Niya terduduk di lantai. Niya merasa lelah mengatur keuangan yang masih saja selalu kurang.
Selama ini suaminya selalu memberikan uang nafkah satu juta lima ratus sebulan, itu pun tidak pasti. Terkadang malah kurang dari satu juta lima ratus. Padahal keuangan yang harus dia keluarkan senilai tiga juta. Sudah berulang kali Niya membicarakan ini pada suaminya, tapi suaminya menuli, padahal Niya tahu jika suaminya punya uang banyak direkening.
Niya tidak meminta harus di kasih nafkah yang banyak. Tapi setidaknya tidak kekurangan seperti ini. Kasihan anak anak, uang jajan mereka dan kebutuhan sekolah terbatas. Kadang lauk untuk makan mereka saja sangat irit. Jika mengingat semua itu Niya sakit hati.
"Apa aku kerja saja ya? Lumayan kan nanti uangnya bisa buat uang jajan tambahan. Tapi...Zona sama Arfi nanti sama siapa? Mereka masih terlalu kecil. Mereka juga belum bisa apa apa sendiri."
Lagi lagi keinginan Niya untuk bekerja terhempaskan begitu saja. Cita cita ingin membuat keuangan menjadi lebih baik tertunda. Lagi lagi harus bertahan dengan keuangan yang mencekik.
Ting !
Niya menoleh karena mendengar notifikasi pesan darri ponselnya. Mengambil ponselnya dan melihat dari siapa pesan itu.
"Rizki....?"
pesan dari siapa?