NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Sci-Fi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Sesampainya di halaman rumah, Lilis turun dari mobil dengan perasaan rindu yang membuncah meski baru sebentar meninggalkan rumah masa kecilnya ini. Ia melangkah masuk bersama sang ayah yang membawa bungkusan jajan yang mereka beli di jalan tadi.

"Assalamualaikum," ucap Lilis dengan nada riang saat membuka pintu rumah.

Di dalam rumah, sudah ada ibunya, Rita, yang sedang bersantai, serta adiknya, Rafka, yang tampak sedang sibuk dengan aktivitasnya.

Lilis segera menghampiri dan bersalam pada ibu, mencium tangan Rita dengan takzim.

"Waalaikumussalam, anak Ibu sudah sampai," sambut Rita dengan senyum lebar, mengusap bahu putri sulungnya yang kini telah menjadi seorang istri.

"Bawa apa tuh, Kak?" tanya Rafka.

Lilis tersenyum melihat adiknya yang langsung mendekat ke arah meja. "Martabak tadi, mau ngga?" tawar Lilis.

"Aku udah makan tadi, buat kamu aja semua," lanjut Lilis lagi.

"Yah, mau lah kak. Siapa yng ngga mau makanan."

Setelah berbincang sebentar di ruang tengah, Lilis melangkah menuju kamarnya yang terletak di bagian belakang.

Kamarnya masih sama seperti terakhir kali dia ke sini. Tata letak meja tulis tempat ia biasa menyusun buku dan hiasan dinding yang ia pasang sendiri masih berada di posisi yang sama, seolah waktu berhenti di ruangan itu sejak ia menikah dengan Arka.

Lilis meletakkan tasnya di atas ranjang yang masih tertata rapi. Ia merasa sangat nyaman kembali ke ruang pribadinya yang penuh kenangan ini. Tanpa membuang waktu, Lilis segera mengambil handuk dan perlengkapan dari lemari tuanya, lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan ganti baju.

Selesai mandi, ia mengenakan pakaian santai yang masih ia simpan di rumah orang tuanya.

Lilis mulai mengumpulkan barang-barang yang ingin ia bawa pulang. Sesuai dengan tujuannya tadi, ia perlahan melipat baju-baju tidurnya yang masih tersimpan di lemari dan memasukkannya ke dalam tas dengan rapi.

"Masih di sana nggak ya?" gumamnya pelan pada diri sendiri.

Ia kemudian berlutut di samping ranjangnya dan mengambil kardus dari bawah tempat tidur. Kardus itu tampak sedikit berdebu.

Kardus itu berisi tentang buku-buku sewaktu dia mondok. Di sela-sela buku agama dan catatan pelajaran pesantren tersebut, terselip beberapa foto dengan teman sekamarnya. Senyum tipis terukir di bibir Lilis saat mengenang masa-masa menuntut ilmu di sekolah berasrama tersebut.

Namun, gerakan tangannya terhenti saat ia terpaku pada sebuah surat. Itu adalah surat dari Rama. Dulu dia adalah seorang kakak kelasnya yang pernah mengisi hari-hari di pondok dengan kekaguman diam-diam.

Lilis membuka dan membacanya, tenggelam dalam kata-kata masa lalu yang belum sempat ia buang.

Tanpa sadar, Arka sudah datang dan berada di belakangnya. Kehadiran suaminya yang begitu senyap tidak disadari oleh Lilis yang sedang bernostalgia. Tiba-tiba, tangan kokoh Arka mengambil kertas itu dari genggamannya.

Lilis kaget setengah mati. Ia langsung berbalik dan mendapati suaminya.

Arka membaca barisan kalimat di atas kertas usang itu, yang ternyata berisi surat cinta penuh kata-kata manis dari masa lalu Lilis. Ketegangan langsung menyelimuti kamar yang semula tenang tersebut.

"Ihh Mas, jangan dibaca!" ucap Lilis dengan nada panik sambil berusaha menggapai kertas itu dari tangan suaminya.

Arka menatap Lilis dengan tatapan yang dalam dan dingin.

"Kenapa nggak boleh Mas baca?"

"Itu udah nggak penting, mau aku bakar," jawab Lilis cepat.

"Kenapa masih disimpan? Mas nggak suka," tegas Arka, menunjukkan ketidaksenangannya melihat bukti perasaan pria lain untuk istrinya.

Lilis menarik napas panjang, mencoba menjelaskan situasinya agar tidak terjadi salah paham.

"Aku tadi ngecek buku-buku aku dulu. Terus nggak sengaja ketemu itu," jelas Lilis.

"Kenapa masih disimpan lagi?" Arka kembali mendesak.

"Aku belum sempat. Ini juga karena tadi kepikiran tadi. Jangan marah ya," pinta Lilis lembut sambil menatap wajah suaminya dengan penuh permohonan.

"Mas nggak marah," jawab Arka singkat, namun nada bicaranya tidak sinkron dengan ekspresi wajahnya.

"Terus kenapa? Wajahnya kok gitu. Mas cemburu?"

Arka hanya diam. Ia tidak membantah ataupun mengiyakan, dan memilih untuk duduk di depan kardus sambil menatap tumpukan barang-barang lama milik Lilis dengan pikiran yang berkecamuk.

"Mas, demi Allah, itu cuma barang lama yang terselip," ucap Lilis dengan nada suara yang mulai bergetar, berusaha meyakinkan Arka.

"Waktu itu aku buru-buru pulang dari pondok, jadi semua buku dan kertas langsung aku masukkan ke kardus tanpa dicek lagi. Aku benar-benar lupa kalau surat itu ada di sana."

Sementara Arka mulai melihat-lihat isi kardus, jemarinya dengan tenang namun teliti membalik-balik buku-buku agama dan catatan lama Lilis. Ia seolah sedang mencari tahu lebih dalam tentang kehidupan istrinya sebelum mengenalnya.

"Surat itu nggak pernah aku balas, Mas. Rama itu cuma kakak kelas aku."

"Tapi hampir nikah kan" Ketus arka.

Arka terus membolak-balik isi kardus dengan teliti, hingga tanpa sengaja ia menjatuhkan selembar foto yang terselip di antara buku-buku tebal. Saat ia mengambilnya, keningnya berkerut heran.

"Kok ada foto Mas di sini? Ini kayaknya waktu SMA deh," ucap Arka sambil menatap lekat foto seorang remaja laki-laki berseragam SMA yang sedang berdiri di lapangan basket. Wajahnya tampak lebih muda.

Lilis langsung malu dan merebut foto itu dengan gerakan cepat, wajahnya kini merah padam karena rahasia kecilnya terbongkar.

"Dapat dari mana, Lis?. Kok di simpan"

"Kan dulu Mas pernah bilang buat nungguin Mas selesai kuliah," ucap Lilis.

"Tapi kenapa nggak ditunggu? Justru kamu yang malah mau nikah duluan," balas Arka pelan.

"Dulu aku kecewa banget sama Mas," potong Lilis cepat.

"Kecewa kenapa? Mas rasa kita waktu itu lost contact. Nomormu juga nggak tahu yang mana, media sosial juga nggak ada," bela Arka. Ia merasa selama ini mereka terpisah hanya karena komunikasi yang terputus secara alami.

Lilis menyeka sudut matanya, tawa pahit lolos dari bibirnya. "Aku blok semua media sosial Mas. Waktu itu pas aku kuliah semester satu, aku ada inisiatif buat ketemu sama Mas. Aku bodoh sih waktu itu, nekat ke kampus Mas tanpa bilang-bilang. Tapi pas nyampe... aku malah lihat Mas lagi jalan bareng sama cewek lain."

"Mas kelihatan bahagia banget ketawa sama perempuan itu. Di situ aku sadar, mungkin janji tunggu Mas itu cuma kalimat penenang buat aku yang masih bocah saat itu. Makanya aku pulang, aku hapus semua tentang Mas, dan aku coba buka hati buat orang lain, meskipun akhirnya aku nggak bisa."

Arka tertegun, ia baru menyadari bahwa ada kesalahpahaman besar yang mendasari sikap dingin Lilis di awal pertemuan mereka kembali. Ia mendekat, duduk tepat di depan Lilis, dan mencoba meraih tangan istrinya.

Arka menatap Lilis dengan tatapan yang semakin dalam, ada rasa sakit yang tersirat saat mendengar istrinya sempat mencoba membuka hati untuk pria lain karena sebuah kesalahpahaman.

"Terus kenapa kamu terima lamaran pria itu?" tanya Arka, suaranya terdengar sedikit serak.

Lilis menunduk, memainkan jemarinya dengan gelisah. "Waktu itu dia masih saja mengejar-ngejar aku. Yakinin aku bahwa dia serius. Tahunya dia yang bohongi aku selama ini," jawab Lilis pelan, mengingat masa lalu yang pahit.

Arka menghela napas panjang, lalu ia memegang kedua bahu Lilis agar mereka saling berhadapan. "Lis, dengar Mas. Mas nggak pernah pacaran sama siapapun selama kuliah," tegas Arka dengan nada yang sangat jujur.

"Mungkin yang kamu lihat waktu itu cuma teman sekelas Mas. Kita cuma berteman, nggak lebih. Mas sering kerja kelompok dan diskusi di kampus, tapi hati Mas nggak pernah ke mana-mana," lanjutnya lagi.

Arka meraih tangan Lilis dan menggenggamnya erat. "Waktu itu Mas bukannya lupa, tapi Mas takut mengganggu belajar kamu saat kamu masih menuntut ilmu agama. Mas ingin setelah kita sama-sama lulus, Mas akan langsung melamar kamu secara resmi. Mas mau datang sebagai pria yang sudah siap, bukan cuma modal janji."

Lilis terdiam, air matanya kini benar-benar luruh. Segala beban dan kecemburuan yang ia simpan bertahun-tahun seolah luruh mendengar penjelasan Arka.

Air mata yang sedari tadi ia tahan kini luruh membasahi pipinya. Ternyata, selama ini ia hanya terjebak dalam prasangkanya sendiri.

"Mas benar-benar nggak pacaran?" tanya Lilis dengan suara serak, mencari kepastian di mata suaminya.

Arka membawa tangan Lilis ke dadanya, membiarkan istrinya merasakan detak jantungnya yang beraturan namun pasti. "Demi Allah, Lis. Hanya ada kamu yang Mas tunggu. Mas sengaja membatasi komunikasi agar kamu fokus di pondok. Mas nggak mau jadi gangguan buat hafalan dan belajarmu."

"Maafin aku, Mas. Aku yang bodoh karena langsung ambil kesimpulan sendiri dan malah mencoba menerima orang lain."

Arka tersenyum tipis, lalu tangannya beralih menghapus air mata di pipi Lilis. "Sekarang kamu sudah tahu kebenarannya. Jadi, jangan pernah simpan keraguan lagi, apalagi menyimpan surat dari pria lain hanya karena kamu pikir Mas mengkhianatimu."

Arka kemudian melirik kardus berisi buku-buku masa mondok Lilis. "Kardus ini... biarkan Mas yang bantu merapikannya. Barang yang tidak perlu, sebaiknya kita singkirkan agar rumah tangga kita tidak punya ruang untuk masa lalu yang salah paham."

1
aroem
bagus
Aghitsna Agis
lis cerita ke mas arka biar nga salah faham
𝐈𝐬𝐭𝐲
arka kok jadi seorang yg pencemburu ya🤔 cemburu boleh tapi jgn terlalu malah jadinya gak baik...
Aidil Kenzie Zie
si Arka pencemburu
Aidil Kenzie Zie
ingat waktu TK dulu Liam dibuat nangis sama Tiara gara gara diajak menikah sama Liam e. taunya beneran mau dinikahi 🤭🤭🤭🤭🤭
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
𝐈𝐬𝐭𝐲
Lumayan
Aghitsna Agis
arka kan lilisnya juga nga nerima rama malah nolak keras sm rama hrsnya arka senang lilis nolak rama bkn malah meledak marah2 kalau nerima batu metasa harga firinya diinjak2
Nice1808
Gila rama ngaku bujang padahal bristri dan anak, wadoh tau agama kok gak terus terang🤭🤣
Aghitsna Agis
lilis harus hati kalau dirumah sendirian takutnya tiba2 rama datang lagi dan rama senak jidatnya aja faham agama dari mana kaya gitu
Ryan Dynaz
sepupu blh nikah tuh...oke aja kok
falea sezi
sah aja masih kaku
Aidil Kenzie Zie
udah sah juga dibiasakan aja💪💪💪
Sri Supriatin
mampir Thor, langsung gercep semangat 8 bab nich, lanjut Thor 🤭🤭🙏🙏🙏
Nice1808
lanjut thor semngat💪💪💪
・゚・ Mitchi ・゚・
bukannya sepupu ga bisa nikah ya thor, kan masih hubungan darah mba rita sama arya. 🤔
Nabila Nabil: Arya sama rita sekandung lhooo.....
total 2 replies
Evi Lusiana
arka sm lilis itu sepupu an y thor,arka anakny arya,adikny mb rita
ig: denaa_127: iya Arya almarhum ayah arka dan tiara
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Lilis 🤔🤔🤔
ig: denaa_127: namanya Lilis, tapi nama asli Elisa 🙏
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Arka beneran gercep
Aidil Kenzie Zie
mampir tor padahal cerita maknya belum kelar dibaca malah lari kesini 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!