Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Rahmat Mengawasi
Buat yang penasaran sama visualnya dok gabut muda
Mirip Kenzie atau Elina ya? Suka versi muda atau matang?
***
Surabaya
Setelah menempuh perjalanan cukup lama dari Papua, akhirnya keluarga Iptu Nana tiba di rumah duka. Para tetangga sudah menunggu di sana dan mereka bersiap untuk acara pemakaman. Rencananya kedua orang tua Lucky Buwono akan dimakamkan usai Ashar. Iptu Nana terkejut saat melihat karangan bunga dari Hoshi, PRC Group Surabaya, Valentino dan tim kasus dingin sudah ada di rumah duka.
"Kok ada PRC Group, Na? Kok bisa tahu?" tanya ayahnya.
"Papa macam tidak tahu saja bagaimana Pak Quinn."
Lucky Buwono melihat karangan bunga itu dan terkejut saat tahu siapa Quinn Reeves. Dirinya tidak tahu jika delapan belas tahun dari sekarang, akan dipertemukan dengan salah satu cucu Hoshi. Lucky Buwono akan menjadi cucu menantu yang paling absurd tapi family man. ( Baca Lucky Daisy ).
"Apa Papa dan Mama kenal petinggi PRC Group?" gumam Lucky.
"Nggak dik. Tim aku yang kenal. Bahkan aku sudah jadi bagian PRC Group karena sudah tanda tangan perjanjian." Iptu Nana menoleh ke Lucky.
"Kamu nggak perjanjian aneh-aneh tho?"
"Hanya tidak boleh korupsi, tidak boleh selingkuh, tidak boleh manipulasi data dan tidak boleh aneh-aneh," jawab Iptu Nana. "Bagus sih. Biar aku dan mas Rommy jadi lebih menghormati wadah pernikahan apalagi kita sudah ada Yoga."
Lucky mengangguk. "Yoga masih kecil mbak. Jangan macam-macam dah kamu!"
"Kagak lah! Rugi bandar kalau aku atau Mas Rommy cari perkara. Aku bisa didepak dari kasus dingin dan Mas Rommy bisa ditendang pak Dewa Hadiyanto." Suami Iptu Nana memang bekerja di Bank Artha Jaya milik keluarga Hadiyanto.
"Untung kamu paham."
Iptu Nana memeluk Lucky. "Kalau kamu dapat pacar atau istri nanti, jangan jahatin ya. Kamu sudah minta anak orang, kamu harus jaga dan cintai dia ya? Kalau kamu sampai jahatin anak orang, bisa-bisa bokap lu bangkit dari kubur macam film Suzanna lho!"
Lucky melirik sebal. "Gue lagi berduka ... Malah kena tauziah unfaedah sampai bawa-bawa Suzanna pula!"
***
RS Bhayangkara Jakarta
Dokter Rahmat sudah bersiap untuk memulai mencuci tangan sebelum operasi ketika melihat Dokter Westin masuk dengan baju scrub warna hijau. Dokter senior itu sempat menggoda salah satu suster yang akan menjadi asisten di dalam ruang operasi yang menurut Dokter Rahmat agak sedikit melecehkan.
"Ah Dokter Rahmat. Sudah cuci tangan?" ucap Dokter Westin.
"Sudah Dok. Saya sudah mempelajari kondisi pasien. Saya rasa kita tidak perlu mengangkat limpanya."
Dokter Westin mendelik ke arah Dokter Rahmat. "Berikan alasanmu."
"Itu termasuk pembengkakan kecil, Dokter Westin."
Seniornya hanya tersenyum simpul. "Kamu memang harus banyak belajar banyak Dokter Rahmat. Kamu nanti akan tahu saat kita sudah berada di ruang operasi."
"Tapi ...."
"Aku lebih senior dari kamu, Rahmat! Ingat itu!" potong Dokter Westin dengan tatapan dingin sedingin es kutub utara.
Dokter Rahmat merasa bergidik saat melihat tatapan itu. Tatapan yang ... mematikan!
Entah mengapa, Dokter Rahmat merasa operasi kali ini, dia harus mengawasi secara serius!
***
Lampu ruang operasi menyilaukan, memantul di permukaan alat-alat bedah yang tersusun rapi. Suasana tegang, bukan hanya karena prosedur pengangkatan limpa yang berisiko, tapi juga karena satu hal yang hanya diketahui oleh Dokter Rahmat.
Dia pun berdiri di sisi ruangan, mengenakan scrub hijau, matanya tajam mengamati setiap gerakan Dokter Westin.
“Scalpel,” ucap Dokter Westin tenang.
Perawat menyerahkan pisau bedah. Tangannya stabil, terlalu stabil, pikir Dokter Rahmat. Tidak ada getaran, tidak ada keraguan. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini … bukan hanya di ruang operasi.
Dokter Rahmat melangkah mendekat, pura-pura memeriksa monitor pasien.
“Tekanan darah stabil?” tanyanya.
“Stabil,” jawab perawat singkat.
Dokter Westin mulai membuat sayatan dengan presisi tinggi. Gerakannya efisien, hampir dingin. Tidak ada komunikasi kecil, tidak ada instruksi tambahan selain yang benar-benar diperlukan.
Dokter Rahmat memperhatikan lebih dalam. Cara Dokter Westin memegang pisau, sudut sayatan, bahkan jeda sepersekian detik sebelum melanjutkan semuanya terasa … terlalu sempurna. Seolah dia menikmati kontrol penuh atas hidup dan mati seseorang.
“Clamp,” kata Dokter Westin lagi.
Dokter Rahmat menyadari sesuatu. Westin tidak pernah melihat wajah pasien terlalu lama. Fokusnya selalu pada organ, jaringan, bagian tubuh bukan manusia secara utuh.
“Kau sudah sering melakukan ini?” Dokter Rahmat mencoba membuka percakapan.
Dokter Westin tidak menoleh. “Cukup sering untuk tidak membuat kesalahan.”
Jawaban yang singkat. Datar. Tanpa emosi.
Jantung Dokter Rahmat berdetak lebih cepat. Ingatannya melayang pada laporan-laporan misterius, pasien yang meninggal tanpa penyebab jelas, pola luka yang … mirip.
“Perdarahan di sisi kiri,” ujar Dokter Rahmat, sengaja menguji.
Dokter Westin langsung merespons, tapi bukan ke arah yang Dokter Rahmat maksud. Dia justru menjepit pembuluh lain yang bahkan belum bermasalah.
Itu bukan kesalahan. Itu … antisipasi atau kebiasaan agar menutupi semua kejahatannya? Dokter Rahmat tidak tahu.
Dokter Rahmat menelan ludah. Kecurigaannya semakin kuat. Ini bukan sekadar dokter berbakat.
Ini seseorang yang tahu tubuh manusia … terlalu dalam. Dan mungkin, tidak hanya di ruang operasi.
“Dokter Westin,” suara Dokter Rahmat sedikit lebih rendah sekarang, “anda yakin ini hanya tentang menyelamatkan pasien?”
Untuk pertama kalinya, Dokter Westin berhenti. Dia seolah ingin tahu bagaimana reaksi semua orang di ruang operasi itu.
Hening sejenak lalu perlahan, tanpa menoleh, ia berkata, “Bukankah itu alasan kita semua ada di sini, Dokter Rahmat?”
Nada suaranya tenang. Tapi ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dokter Rahmat berdiri.
Operasi masih berlangsung. Namun bagi Dokter Rahmat, ini bukan lagi sekadar operasi.
Ini adalah awal dari pembuktian … apakah ia sedang berdiri di samping seorang dokter hebat atau seorang pembunuh yang belum tertangkap.
Dokter Rahmat memperhatikan lebih seksama. Dia bertekad akan mengawasi pasien ini dan pasien lainnya yang sudah ada dalam daftar jadwal dioperasi oleh Dokter Westin.
Apalagi yang hendak anda lakukan?
***
Yuhuuu up Sore yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....