NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di serang

BRAK… BRAK… BRAK…

Suara-suara keras mengguncang rumah kayu tua di mana Rex dan wanita yang ia culik itu berada.

Deburan jantungnya berpacu kencang, mengalirkan adrenalin ke seluruh tubuhnya.Ia merasakan sesuatu yang tidak beres.

Instingnya sebagai pembunuh bayaran langsung menyala. Dengan gerakan cepat dan senyap, ia meraih pistolnya yang tersimpan di balik bantal sofa, jari-jarinya sudah siap untuk menarik pelatuk.

Langkah kakinya perlahan mendekati pintu, mencoba mengintip dari celah kecil di antara tirai jendela yang usang.

“Cari pria itu, dan bunuh jika kalian melihatnya!” suara berat dan dingin seorang pria memecah kesunyian.

Suara itu terdengar tegas dan penuh otoritas, menunjukkan bahwa mereka datang dengan tujuan untuk membunuhnya.

Rex bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang punggungnya. Ia tahu, ini bukan sekadar penyerbuan biasa. Ini adalah jebakan maut.

Rex bersembunyi di sudut ruangan, mengintip melalui celah sempit yang gelap masih di ruangan yang sama. Ia menghitung jumlah mereka dengan hati-hati. Ketegangan mencekamnya.

“Satu… dua… tiga… empat… lima,” ia menghitung dalam hati, mencoba menganalisis situasi dan merencanakan strategi untuk bertahan hidup.

Kegelapan di sekitar menambah kesan mencekam, menciptakan suasana yang penuh dengan ketidakpastian dan bahaya.

Khuk… khuk… khuk…

Suara batuk Maple yang keras memecah kesunyian. Suara itu cukup nyaring untuk didengar oleh orang-orang di luar.

Rex mengutuk dalam hati. Ia tak menyangka wanita itu akan membuat suara yang begitu keras. Ia harus bertindak cepat.

Ia mendekati wanita itu dengan langkah cepat, pistol masih tergenggam erat di tangannya. Ia ingin langsung menembak wanita itu untuk menghilangkan semua jejak, namun suara tembakan akan mengkhianati keberadaannya. Para penyerang pasti akan langsung menyerbu ke dalam ruangan.

Dengan gerakan cepat dan terampil, Rex menggendong Maple seperti karung beras. Ia membawa wanita itu ke sebuah lemari besar dan tua yang terletak di sudut ruangan.

Lemari itu terbuat dari kayu jati tua yang kokoh, bau kayu tua dan debu memenuhi hidungnya. Ia mendorong Maple masuk ke dalam lemari.

“Diam, jangan bersuara,” bisik Rex, suaranya berat dan dingin, menciptakan hawa mencekam di telinga Maple.

Maple terdiam kaku, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan. Kegelapan yang menyelimuti indranya diperparah oleh kain hitam yang masih menutupi matanya.

Ini adalah pertama kalinya ia mendengar suara pria itu, suara berat dan dingin yang penuh dengan ancaman. Suara itu bergema di telinganya, menciptakan rasa ngeri yang tak tertahankan.

Setiap hembusan napas pria itu terasa seperti ancaman maut yang semakin mendekat. Ia yakin, pria ini akan membunuhnya.

Rasa putus asa dan kepanikan mencengkeram hatinya, menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih tersisa.

*

Rex menutup lemari tua itu dengan hati-hati, kemudian berjalan dengan perlahan mendekati pintu, mencoba mengintip dari baliknya.

Ia bisa mendengar suara langkah kaki di luar, salah satu dari musuh-musuhnya sedang mendekati ruangan tempat ia bersembunyi.

Pintu ruangan itu sudah terbuka, memberikan celah bagi Rex untuk mengintai. Ia bersembunyi di balik pintu, menunggu kesempatan yang tepat. Jantungnya berdebar kencang, menciptakan irama yang menegangkan.

Saat salah satu musuh itu memasuki ruangan, dengan gerakan cepat dan terlatih, Rex langsung menyergapnya.

Ia menekan kepala musuh itu dengan kuat, lalu memutarnya dengan cepat dan mematikan. Musuh itu langsung tewas seketika tanpa sempat melawan.

Gerakan Rex begitu cepat dan terampil, menunjukkan pengalamannya sebagai pembunuh bayaran yang handal.

Suara tulang leher yang patah terdengar samar-samar di tengah keheningan, menambah kesan mencekam dari situasi tersebut. Rex memastikan musuhnya benar-benar tewas sebelum melanjutkan rencananya.

*

Rex menyeret tubuh musuh yang telah tewas, meletakkannya di sudut ruangan agar tidak terlihat.

Ia kembali mengintai, mencari kesempatan untuk melumpuhkan musuh-musuhnya satu per satu. Gerakannya senyap dan terampil, menunjukkan pengalamannya yang luas dalam dunia gelap.

Ia melihat salah satu musuh sedang turun dari lantai dua. Tanpa ragu, Rex langsung menyerangnya. Dengan cepat dan tepat, ia menghajar musuh itu hingga jatuh tersungkur. Kemudian, dengan pisau kecil yang tersembunyi di balik pakaiannya, ia menusuk leher musuh itu hingga tewas.

Tiga musuh masih tersisa. Rex bergegas naik ke lantai dua, namun keberadaannya terdeteksi.

Seorang musuh melihatnya dan langsung melepaskan tembakan bertubi-tubi. Peluru-peluru itu bersarang di dinding, menciptakan lubang-lubang kecil yang menambah kesan menegangkan.

Dor… dor… doooorrr…

Suara tembakan membahana di rumah itu. Rex dengan sigap menghindar, menjatuhkan tubuhnya di bawah tangga untuk berlindung. Ia membalas tembakan, menembak ke arah musuh yang sedang membidiknya.

Dor… dor…

Salah satu musuh tertembak tepat di jantung. Ia jatuh tersungkur, menambahkan satu lagi korban pada daftar kematian di rumah itu.

Dor… dor…

Tembakan dari arah pintu utama kembali datang. Rex dengan cekatan menghindar, geraknya lincah dan terlatih.

Ia tahu, ia sedang dikepung. Dua musuh masih tersisa, salah satu di lantai atas dan satu lagi di pintu utama.

Ia terjebak dalam perangkap maut. Setiap detik terasa seperti pertarungan hidup dan mati. Ia harus menemukan cara untuk keluar dari situasi ini.

Rex memanfaatkan kesempatan saat musuh di lantai dua berhenti menembak. Ia menyadari bahwa pria itu kehabisan peluru.

Musuh itu mencoba mengambil senjata temannya yang telah tewas, tidak menyadari bahaya yang mengintai.

Itulah kesempatan yang ditunggu-tunggu Rex. Dengan cepat dan tepat, ia menembak kepala musuh itu hingga tewas seketika. Satu musuh telah berhasil dilumpuhkan.

Kini, hanya tersisa satu musuh, yang Rex yakini sebagai pemimpin mereka. Musuh itu mencoba menembak Rex, namun Rex membalas tembakan itu.

Keduanya saling bertukar tembakan hingga akhirnya kehabisan peluru. Keheningan menyelimuti ruangan sejenak, hanya suara napas mereka yang terdengar.

Kedua pria itu keluar dari persembunyian, siap untuk duel hidup dan mati. Tatapan mata mereka bertemu, menunjukkan tekad dan kebencian yang membara.

Pertarungan terakhir akan segera dimulai. Kehidupan dan kematian akan ditentukan dalam pertarungan sengit ini.

Bughz… bughz… Suara pukulan beradu dengan keras. Rex dan musuhnya saling beradu kekuatan dan kelincahan.

Rex, dengan pengalamannya yang luas, mampu mengungguli lawannya. Pukulannya tepat dan akurat, mengenai sasaran dengan akurat. Musuhnya mulai kepayahan, napasnya terengah-engah, dan gerakannya semakin lambat.

Dengan nafas terengah-engah, Rex melihat kesempatan. Ia langsung menendang musuh yang sudah tak berdaya itu hingga jatuh tersungkur.

Rex tak memberikan kesempatan sedikit pun bagi musuhnya untuk melawan. Dengan cepat dan tepat, ia mengeluarkan pisau kecilnya dan langsung menghujamkan ke leher musuhnya.

Musuh terakhir itu pun tewas seketika. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya tertinggal bau anyir darah dan aroma keringat yang menyengat.

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!