NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Kedatangan Naga dari Selatan

Pagi berikutnya, Kota Qingyun tidak seperti biasanya. Udara terasa lebih panas, bukan karena matahari, melainkan karena ketegangan yang merayap di setiap sudut jalan. Bendera-bendera merah dengan lambang api berkobar dikibarkan di gerbang utama kota.

Clan Yan telah tiba.

Lin Fan berdiri di halaman belakang penginapan "Awan Terbang", milik Clan Lin. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu kusam, kepalanya menunduk, seolah-olah ia hanyalah bagian dari latar belakang yang tak bernyawa. Namun, indranya yang telah tajam berkat kultivasi Level 3 menangkap setiap detail suara dan getaran dari depan gerbang.

Derap kaki kuda-kuda perang berbunyi berat, diikuti oleh suara roda kereta kayu yang diperkuat besi. Aroma wewangian mahal, campuran cendana dan rempah-rempah asing, menyerbu hidung Lin Fan, mengalahkan bau kotoran kuda yang biasa ia hirup.

"Berdiri tegak! Jangan menunduk terlalu rendah sampai terlihat seperti hamba sahaya!" bisik Tuan Bao, Kepala Pelayan, sambil berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas. Keringat mengucur deras dari dahinya yang botak. "Ingat, tamu kita adalah Tuan Muda Yan Lie, ahli waris langsung Clan Yan. Satu kesalahan saja, dan kepala kalian akan menjadi hiasan di gerbang mereka!"

Lin Fan tetap diam, namun matanya menyipit sedikit. Yan Lie. Nama itu sudah sering ia dengar. Di mata dunia kultivasi lokal, Yan Lie adalah genius sejati. Usianya sama dengan Lin Hu, tujuh belas tahun, namun kabarnya ia sudah mencapai Tahap Qi Level 7, ambang batas menuju Tahap Fondasi.

Sebuah kereta besar berwarna hitam dengan ukiran naga api berhenti tepat di depan pintu masuk penginapan. Tirai beludru merah tersingkap, dan sepasang sepatu bot kulit hitam menginjak tanah.

Seorang pemuda keluar dari kereta.

Ia tinggi, berotot, dengan rambut merah menyala yang diikat tinggi. Wajahnya tampan namun kasar, dengan alis tebal yang memberikan kesan agresif. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang besar dengan sarung berwarna emas. Aura panas memancar dari tubuhnya, membuat udara di sekitarnya tampak bergelombang.

Di belakangnya, turun dua pengawal berseragam merah, keduanya memiliki aura Tahap Qi Level 5 atau 6—jauh lebih kuat dari penjaga biasa Clan Lin.

Lin Hu, yang sudah menunggu di depan pintu dengan senyum menjilat, segera membungkuk dalam-dalam. "Selamat datang, Saudara Yan! Clan Lin menyambut kedatangan Anda dengan hormat."

Yan Lie tidak bahkan menatap Lin Hu. Matanya yang tajam menyapu area sekitar dengan tatapan meremehkan, seolah-olah ia sedang memeriksa kandang hewan, bukan penginapan bintang lima.

"Tempat ini bau," ucap Yan Lie datar. Suaranya berat dan menggema. "Pastikan kamar terbaikku sudah siap. Dan aku ingin mandi air panas sekarang juga. Jika suhunya tidak tepat, aku akan membakar tempat ini."

Lin Hu tertawa gugup. "Tentu, tentu! Silakan masuk, Saudara Yan!"

Saat rombongan itu berjalan melewati halaman, Lin Fan yang sedang memegang ember air di sudut, sengaja menjaga napasnya agar tidak terdeteksi. Namun, saat Yan Lie melewatinya, langkah pemuda itu terhenti sejenak.

Yan Lie menoleh. Matanya yang berwarna kemerahan menatap lurus ke arah Lin Fan.

Lin Fan merasakan tekanan mental yang berat, seperti ada gunung kecil yang menekan dadanya. Ini adalah niat pembunuh yang bocor dari seorang kultivator tingkat tinggi. Bagi orang biasa, tatapan ini bisa membuat mereka pingsan karena ketakutan.

Tapi Lin Fan tidak pingsan. Ia mengalirkan Qi Teknik Napas Besi ke kulitnya secara instan, menahan goncangan mental itu, dan tetap menunduk dengan patuh.

"Hmm?" Yan Lie mengerutkan kening, sepertinya bingung mengapa "pelayan sampah" ini tidak gemetar ketakutan seperti yang lain. Namun, ia segera kehilangan minat. Baginya, Lin Fan tidak lebih penting daripada semut di kakinya.

"Jangan melamun, anjing," desis Yan Lie pelan, cukup hanya untuk didengar Lin Fan, sebelum melanjutkan langkahnya masuk ke dalam penginapan.

Lin Fan mengepalkan tangan di balik punggungnya. Jemarinya memutih. Rasa marah mendidih di dalam dadanya, namun ia menelannya bulat-bulat. Belum saatnya. Aku masih terlalu lemah.

Setelah rombongan Yan Lie masuk, suasana di halaman kembali ramai dengan para pelayan yang berlarian membawa barang-barang. Lin Hu mendekati Lin Fan, wajahnya penuh dengan kepuasan diri.

"Lihat itu, Lin Fan?" kata Lin Hu sambil menyilangkan tangan. "Itulah perbedaan antara langit dan bumi. Yan Lie adalah naga, sedangkan kau... kau bahkan tidak layak menjadi kotoran di sepatunya. Belajarlah dari dia. Itulah puncak kekuatan yang harus kau impikan, meskipun kau tidak akan pernah mencapainya."

Lin Fan mengangkat kepala perlahan. Ia menatap Lin Hu dengan ekspresi kosong. "Ya, Tuan Muda. Perbedaan itu sangat jelas."

Kalimat itu terdengar seperti pengakuan kekalahan, tetapi nada suara Lin Fan datar, tanpa emosi. Lin Hu merasa aneh, tapi karena egonya yang besar, ia mengabaikannya dan tertawa puas sebelum pergi mengikuti Yan Lie.

Sore harinya, Lin Fan ditugaskan untuk mengantarkan air panas ke kamar suite utama Yan Lie. Ini adalah tugas berbahaya. Jika airnya tumpah atau suhunya salah, nyawanya bisa melayang.

Lin Fan membawa dua ember besar berisi air mendidih dengan tongkat pikul. Berkat Teknik Napas Besi dan Qi Level 3, beban itu terasa ringan baginya. Ia berjalan dengan stabil, tidak setetes pun air yang tumpah.

Saat ia sampai di depan kamar suite, dua pengawal Yan Lie menghalangi jalannya.

"Letakkan di sini," kata salah satu pengawal dengan kasar.

"Tuan Muda meminta airnya dibawa masuk hingga ke tepi bak mandi," kata Lin Fan tenang, mengingat instruksi Tuan Bao.

Pengawal itu tertawa sinis. "Kau berani membantah? Letakkan di sini atau kami patahkan kakimu."

Tepat saat ketegangan memuncak, pintu kamar terbuka. Yan Lie keluar, hanya mengenakan celana longgar, dada bidangya telanjang, menampilkan otot-otot yang padat dan bekas luka pertempuran.

"Apa ribut-ribut ini?" tanya Yan Lie.

"Pelayan ini keras kepala, Tuan Muda," lapor pengawalnya.

Yan Lie menatap Lin Fan. Ia mengenali pemuda itu dari pagi hari. "Oh, kamu. Semut yang tidak gemetar tadi."

Lin Fan membungkuk. "Hamba hanya melaksanakan perintah, Tuan Muda."

Yan Lie melangkah mendekat. Ia mengeluarkan jari telunjuknya, yang ujungnya menyala dengan api kecil berwarna biru. Api itu sangat panas, mampu melelehkan besi dalam hitungan detik.

"Aku bosan," kata Yan Lie sambil tersenyum jahat. "Jika kau bisa mengambil api ini dengan tangan telanjangmu tanpa terbakar, aku akan memberimu satu Batu Spirit Tinggi. Jika tidak... aku akan membakar tanganmu sebagai pelajaran."

Para pengawal tertawa. Ini adalah lelucon kejam. Tidak ada manusia biasa, bahkan kultivator Level 1 atau 2, yang bisa menyentuh api kultivasi Yan Lie tanpa terluka parah.

Lin Fan menatap api biru itu. Otaknya bekerja cepat. Menolak berarti kematian atau cacat permanen. Menerima berarti risiko tinggi. Tapi... ia punya Teknik Napas Besi. Dan ia punya Manik Giok yang bisa memurnikan energi, meski ia ragu apakah itu bisa memurnikan api eksternal secara langsung.

Namun, Lin Fan tahu satu hal: Yan Lie sedang mengujinya. Bukan karena kebaikan, tapi karena rasa penasaran sadis. Jika ia menunjukkan ketakutan, Yan Lie mungkin akan benar-benar membakarnya untuk hiburan. Jika ia menunjukkan ketenangan, Yan Lie mungkin akan berhenti sebelum itu terjadi.

Ini adalah judi.

Lin Fan menarik napas dalam. Ia mengalirkan seluruh Qi-nya ke telapak tangan kanannya, mengaktifkan Teknik Napas Besi hingga kulitnya berubah menjadi keabu-abuan logam.

"Izinkan hamba mencoba, Tuan Muda," kata Lin Fan.

Ia mengulurkan tangannya. Perlahan, sangat perlahan, ia mendekatkan telapak tangannya ke ujung jari Yan Lie.

Panasnya luar biasa. Kulitnya mulai terasa perih, asap tipis mulai keluar dari pori-porinya. Rasa sakit itu menusuk saraf-sarafnya.

Jangan mundur. Jangan gemetar.

Yan Lie mengamati dengan seksama. Senyumnya memudar sedikit. Dia melihat kulit tangan Lin Fan tidak langsung hangus. Ada lapisan energi tipis yang melindungi daging di bawahnya.

Ck.

Sebelum tangan Lin Fan benar-benar menyentuh api, Yan Lie mematikan apinya.

"Lumayan," gumam Yan Lie, suaranya terdengar sedikit terkesan, meski masih arogan. "Kulitmu lebih keras dari kebanyakan pelayan. Kau berlatih teknik pertahanan dasar? Dari mana kau mempelajarinya, sampah?"

Lin Fan segera menarik tangannya kembali, menyembunyikan telapak tangannya yang memerah dan melepuh sedikit di balik lengan bajunya. Ia membungkuk lagi. "Hamba belajar dari mengamati alam, Tuan Muda. Seperti batu yang tahan terhadap panas matahari."

Jawaban ambigu itu membuat Yan Lie tertawa pendek. "Heh. Cerdas juga lidahmu. Ambil ini."

Yan Lie melemparkan sebuah benda kecil ke arah Lin Fan. Lin Fan menangkapnya. Itu adalah sebuah Batu Spirit Rendah, bukan Tinggi seperti yang dijanjikan. Janji seorang bangsawan seringkali hanya angin.

"Pergilah. Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi hari ini."

Lin Fan membungkuk sekali lagi, lalu berbalik dan pergi dengan langkah tenang. Saat ia berbelok di sudut koridor, jauh dari pandangan Yan Lie, ia baru menghela napas panjang. Tangannya gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena sisa panas yang masih tertanam di tulangnya.

Ia membuka telapak tangannya. Luka bakar itu parah, kulitnya gosong. Tapi saat ia fokus, energi dingin dari Manik Giok di Dantian-nya mengalir ke tangannya, mendinginkan luka dan mempercepat penyembuhan. Dalam beberapa menit, rasa sakitnya berkurang drastis.

Lin Fan menatap Batu Spirit Rendah di tangannya. Nilainya kecil, tapi simbolismenya besar. Ia baru saja bertransaksi dengan musuh terkuat generasinya, dan ia selamat.

"Dia kuat," batin Lin Fan. "Tapi dia ceroboh. Dia meremehkan lawan berdasarkan penampilan. Itu adalah kelemahan fatal."

Lin Fan memasukkan batu spirit itu ke sakunya. Ia tidak akan menghabiskannya. Ia akan menggunakannya untuk membeli bahan herbal murah di pasar gelap nanti, yang bisa ia murnikan menjadi pil berkualitas.

Malam itu, Lin Fan tidak tidur. Ia duduk di gubuknya, mengobati lukanya, dan memikirkan strategi berikutnya. Yan Lie akan tinggal di sini selama tiga hari. Tiga hari adalah waktu yang lama. Dan di mana ada kekacauan, di situ ada peluang.

Tiba-tiba, ada ketukan halus di dinding gubuknya.

Tok. Tok. Tok.

Lin Fan waspada. "Siapa?"

"Aku," bisik suara Lin Yue dari luar. "Buka pintunya. Aku punya berita buruk. Dan... Aku butuh bantuanmu lagi."

Lin Fan segera membuka pintu. Lin Yue masuk dengan wajah pucat, membawa gulungan kertas yang tampak robek.

"Apa yang terjadi?" tanya Lin Fan.

"Clan Yan tidak hanya datang untuk berdagang," kata Lin Yue, suaranya bergetar. "Mereka mencari sesuatu. Ayahku mendengar percakapan mereka. Mereka mencari 'Biji Api Abadi' yang konon terkubur di reruntuhan kuno di bawah Kota Qingyun. Dan mereka berencana menggunakan ledakan api besar untuk menggali tanah itu besok malam."

Lin Fan terdiam. Ledakan api besar di bawah kota?

"Itu akan meruntuhkan fondasi setengah kota," kata Lin Fan dingin. "Termasuk kediaman Clan Lin. Termasuk asrama pelayan."

"Tepat," kata Lin Yue. "Mereka tidak peduli dengan nyawa kami. Bagi mereka, kami hanya semut. Jika ledakan itu terjadi, ribuan orang akan mati. Kita harus menghentikannya, Lin Fan. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian. Aku butuh seseorang yang bisa menyusup ke kamar Yan Lie dan mencuri peta lokasi penggalian mereka, atau setidaknya sabotase alat ledaknya."

Lin Fan menatap Lin Yue. Permintaan ini gila. Menyusup ke kamar genius Level 7 yang dijaga ketat? Itu bunuh diri.

Tapi jika dia menolak, rumahnya, dan satu-satunya tempat yang ia miliki saat ini, akan hancur.

Lin Fan menatap telapak tangannya yang sudah sembuh. Ia memikirkan Yan Lie yang arogan. Ia memikirkan Lin Hu yang bodoh. Ia memikirkan nasib para pelayan yang tidak berdosa.

"Aku akan melakukannya," kata Lin Fan akhirnya. "Tapi aku butuh sesuatu darimu."

"Apa?"

"Aku butuh akses ke gudang obat racun ayahmu. Dan... aku butuh kau membuatkan ilusi suara untuk mengalihkan perhatian penjaga."

Lin Yue menelan ludah, lalu mengangguk tegas. "Deal."

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!