Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Pemuda malang itu mati dalam keputusasaan, menangisi keluarga yang membuangnya, meratapi cinta kasih yang dibalas dengan belati di punggung.
"Menyedihkan," gumam Nomor Nol, suaranya kini terdengar lebih muda namun sarat akan kebekuan es abadi. "Kau mati karena kau percaya pada ilusi bernama keluarga. Tapi jangan khawatir, Valerius. Mulai detik ini, namamu adalah namaku. Dan hutang darahmu... akan kutagih dengan bunga yang akan membuat dunia ini menangis darah."
Ia berdiri sepenuhnya. Tubuh barunya ini lemah, diracuni, dan dipenuhi luka goresan. Pakaian bangsawannya yang terbuat dari sutra hitam telah robek dan berlumuran darah kental.
Tepat di depan matanya, sebuah layar transparan berwarna merah darah muncul dengan suara dengungan pelan.
[Selamat Datang, Host Valerius van Draken, di Dunia Aethelgard.]
[Status Saat Ini: Sekarat (Efek Racun Janda Hitam).]
[Sistem Penyulut Kiamat Aktif. Sistem ini dirancang untuk mereka yang berjalan di jalan pembantaian dan tirani. Kekuatan hanya bisa diperoleh melalui penderitaan orang lain, penyebaran teror, dan dominasi mutlak.]
Tiba-tiba, suara erangan yang memilukan memecah keheningan malam Lembah Tengkorak.
Valerius menoleh. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, di balik tumpukan usus monster raksasa, seorang manusia merangkak dengan susah payah. Itu adalah seorang prajurit dari Orde Cahaya, mengenakan sisa-sisa zirah perak yang telah remuk. Prajurit itu kehilangan separuh kaki kirinya, darahnya mengalir deras membentuk genangan di tanah berlumpur.
Valerius melangkah mendekat tanpa suara. Saat bayangannya jatuh menutupi tubuh prajurit itu, sang prajurit mendongak. Wajah prajurit itu bernama Elian, seorang pemuda yang baru saja direkrut. Matanya basah oleh air mata.
Di tangannya yang gemetar, ia menggenggam erat sebuah liontin kayu kecil yang berisi lukisan wajah istrinya yang sedang hamil. Elian tidak ingin mati. Ia telah berjanji untuk pulang sebelum musim dingin tiba. Ia ingin melihat wajah anak pertamanya.
Rasa sakit di kakinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat menyadari bahwa janji itu akan hancur malam ini.
Melihat Valerius berdiri di depannya dengan pakaian bangsawan yang hancur, mata Elian memancarkan secercah harapan yang rapuh. Ia mengira telah menemukan manusia lain, seorang kawan di tengah neraka ini.
"T-Tuan..." suara Elian bergetar, batuk mengeluarkan gumpalan darah. "Tolong... tolong aku. Aku memiliki p-penawar luka di sabukku... Tolong balut lukaku. Aku... aku punya istri yang sedang menungguku. Anakku... anakku belum lahir. Tolong aku, demi Cahaya Suci..."
Valerius menatap wajah Elian yang dipenuhi harapan. Di dunia yang dikuasai hukum rimba ini, harapan adalah racun yang paling mematikan. Valerius merasakan ingatan dari tubuh lamanya—betapa Valerius asli mungkin akan menangis dan mencoba menolong prajurit ini, hanya untuk mati bersama-sama dimakan monster.
Tapi pria yang berdiri di sini sekarang bukanlah pemuda naif itu.
Valerius perlahan berjongkok di samping Elian. Wajahnya tidak menunjukkan rasa kasihan, empati, atau kesedihan. Hanya ada kekosongan absolut yang mengisap cahaya di sekitarnya.
"Istrimu sedang menunggumu," ucap Valerius pelan. Nadanya begitu lembut, berbanding terbalik dengan sorot matanya.
"Y-ya... Maria... dia menungguku..." Elian tersenyum lemah, air mata menetes dari sudut matanya, merasa lega karena mengira bangsawan di depannya ini memiliki hati nurani.
Valerius mengulurkan tangannya yang kotor oleh darah, menyentuh liontin kayu di tangan Elian. "Dia pasti akan sangat sedih ketika mengetahui suaminya mati dimakan monster di lembah yang busuk ini. Dia akan menangis, mungkin menjadi gila, atau lebih buruk lagi... ia akan melahirkan anakmu di dunia yang kejam ini tanpa pelindung, membiarkan anak itu tumbuh menjadi budak atau makanan bagi anjing-anjing bangsawan."
Senyum di wajah Elian seketika membeku. Rasa lega yang baru saja mekar di dadanya digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Ia menatap mata Valerius dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa yang ada di depannya bukanlah manusia. Mata hitam itu menyerupai jurang tak berdasar.
"T-Tuan... apa... apa maksudmu?" Elian mulai gemetar hebat, bukan karena rasa sakit dari lukanya, melainkan karena insting bertahannya yang menjeritkan bahaya.
"Harapan adalah penyakit, Prajurit," bisik Valerius, suaranya berubah menjadi desisan yang mengerikan. "Kau sekarat. Menyelamatkanmu berarti membebani diriku sendiri, dan di dunia ini, beban adalah awal dari kematian. Istrimu akan janda, dan anakmu tidak akan pernah mengenal ayahnya. Itulah realitas yang tidak bisa diubah oleh doa-doamu."
Dengan gerakan yang sangat santai dan metodis, Valerius mencabut sebilah belati berburu yang terselip di sabuk Elian. Logam dingin belati itu memantulkan cahaya bulan kembar.
"TIDAK! KUMOHON!" Elian menjerit, mencoba merangkak mundur, mencengkeram liontinnya seolah itu adalah jimat pelindung. Pikirannya hancur berkeping-keping. Keputusasaan menelan jiwanya. Bayangan wajah istrinya yang tersenyum kini berubah menjadi bayangan istrinya yang menangis darah di atas makam tanpa nisan. Rasa sakit emosional yang ditimbulkan oleh kata-kata Valerius jauh lebih menyiksa daripada kaki yang terputus.
Valerius tidak ragu sedetik pun. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, ia menancapkan belati itu tepat ke jantung Elian. Gerakannya cepat, efisien, dan bersih.
Mata Elian terbelalak lebar. Mulutnya terbuka tanpa suara, menatap Valerius dengan sisa-sisa napas yang putus. Liontin kayu itu terlepas dari genggamannya, jatuh dan ternoda oleh darahnya sendiri di tanah berlumpur.
Perlahan, cahaya kehidupan padam dari mata prajurit muda itu, menyisakan tatapan kosong yang diwarnai oleh keputusasaan mutlak di detik-detik terakhir hidupnya.
Valerius menarik belati itu dengan suara robekan daging yang memuakkan. Ia berdiri tegak, menyeka darah yang memercik ke wajahnya. Ia tidak merasakan penyesalan.
Di dunianya yang dulu, ia telah membunuh jutaan orang dengan kebijakan. Membunuh satu orang dengan tangannya sendiri terasa anehnya... memuaskan.
Detik berikutnya, layar merah di hadapannya berkedip cepat.
[Target Dieliminasi: Prajurit Orde Cahaya (Tingkat: Manusia Biasa).]
[Kondisi Mental Target Sebelum Kematian: Keputusasaan Ekstrem (Teror Psikologis Berhasil).]
[Hadiah: +50 Poin Dosa (Bonus Keputusasaan).]
[Level Up! Host mencapai Level 1.]
[Racun Janda Hitam Berhasil Dinetralisir.] [Skill Aktif Terbuka: 'Mata Penilai Iblis' - Mengizinkan Host melihat kelemahan fisik dan trauma emosional target.]
Rasa sakit dari racun yang menggerogoti organ tubuhnya seketika lenyap, digantikan oleh gelombang energi hangat yang mengalir di pembuluh darahnya. Otot-ototnya yang lemah kini terasa lebih padat dan bertenaga. Valerius mengepalkan tangannya, merasakan aliran Mana untuk pertama kalinya. Kekuatan. Sesuatu yang sangat ia pahami dan puja.
Ia menunduk menatap mayat Elian, lalu menatap hamparan mayat di Lembah Tengkorak yang membentang hingga ke kaki pegunungan hitam. Angin malam berhembus kencang, membawa lolongan monster dari kegelapan.
Di dunia ini, para dewa disembah karena kebaikan palsu mereka, dan iblis ditakuti karena kebrutalan mereka. Valerius tidak tertarik menjadi dewa yang munafik ataupun iblis yang tak berotak. Ia adalah sang terpidana mati, sang arsitek kehancuran.
"Dunia ini adalah penjara yang jauh lebih besar," bisik Valerius kepada angin malam, menyarungkan belati berdarah itu ke pinggangnya. "Dan aku... akan menjadi kepala sipir yang baru."