Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Batas yang Lenyap
BAB 2: Batas yang Lenyap
Aroma pengharum ruangan mewah langsung menyambut Luna begitu pintu kamar suite di lantai dua puluh itu tertutup rapat. Bunyi klik dari kunci otomatis terdengar seperti vonis akhir bagi pertahanan diri Luna.
Gadis itu berdiri mematung di dekat pintu, meremas tas sandangnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kamar ini begitu luas, dengan ranjang berukuran king size berseprai putih bersih yang mendominasi ruangan, serta dinding kaca besar yang memperlihatkan kerlip lampu kota Jakarta di bawah guyuran hujan.
Devano melepaskan jam tangan mahalnya, meletakkannya begitu saja di atas meja, lalu membuka tiga kancing kemejanya, memperlihatkan dada bidangnya yang kokoh berhias bulu-bulu halus yang maskulin. Pria itu berbalik, menatap Luna yang masih berdiri gemetar seperti anak kelinci yang tersesat.
"Kenapa masih di sana? Sini," panggil Devano. Suaranya rendah, berat, dan dipenuhi getaran dominasi yang pekat.
"Mas Devano... tolong antarkan aku pulang," lirih Luna. Setitik air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ini tidak benar, Mas. Aku ini adik Siska. Aku mantan adik iparmu..."
Mendengar nama Siska disebut, rahang Devano mendadak mengeras. Tatapan matanya yang tadi sempat melunak kini berubah menjadi sedingin es, namun berkilat penuh gairah yang tertahan. Pria itu melangkah lebar, mengikis jarak di antara mereka dalam tiga detik, lalu mencengkeram kedua bahu Luna—tidak sampai menyakiti, tapi cukup kuat untuk mengunci seluruh pergerakan gadis itu di dinding.
"Jangan sebut nama wanita sialan itu di depan wajahku, Luna!" desis Devano, napasnya yang hangat beraroma alkohol tipis menerpa permukaan wajah Luna. "Kakakmu bersenang-senang di luar negeri dengan pria kaya itu setelah menghancurkan harga diriku sebagai seorang suami!"
"Tapi itu Kak Siska, Mas! Bukan aku!" tangis Luna pecah. Dadanya sesak. Dia mencintai Devano, ya, sangat mencintainya sejak dulu. Tapi bukan seperti ini cara yang dia inginkan.
Devano menatap wajah Luna yang basah oleh air mata. Wajah yang begitu mirip dengan Siska, namun memiliki sorot mata yang jauh lebih polos, tulus, dan rapuh. Kemarahan Devano perlahan melebur menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih gelap, panas, dan penuh obsesi.
"Wajah kalian terlalu mirip, Luna..." bisik Devano.
Jemari kokoh Devano bergerak pelan, mengusap air mata di pipi Luna, lalu perlahan turun ke tengkuk gadis itu, menariknya mendekat. Sebelum Luna sempat memprotes, Devano menundukkan kepalanya, mengunci bibir Luna dalam sebuah ciuman yang dalam dan menuntut.
Mmpff... Luna terbelalak, tangannya mencoba mendorong dada bidang Devano. Namun, Devano justru mempererat pelukannya, merapatkan tubuh mereka tanpa celah.
Sentuhan bibir Devano yang awalnya kasar perlahan berubah menjadi sapuan yang begitu lembut namun menghanyutkan. Lidah Devano menyusup masuk, menjelajahi rongga mulut Luna dengan ritme yang memabukkan. Luna yang masih polos seketika merasa seluruh pasokan udaranya tersedot habis. Sensasi hangat dan basah itu membuat kepala Luna mendadak pening, mabuk kepayang oleh ciuman sang mantan ipar yang begitu ahli.
Tidak memberi kesempatan Luna untuk bernapas, tangan besar Devano mulai bergerak liar. Telapak tangannya yang hangat menyusup ke balik gaun kerja Luna, meraba kulit punggungnya yang mulus. Sentuhan itu memberikan efek seperti sengatan listrik yang membuat tubuh Luna meremang hebat.
"Mas Devano... ahh..." lenguh Luna meloloskan diri sejenak ketika bibir Devano berpindah, mengecup dagunya lalu turun memburu leher jenjang Luna.
Devano menghisap dan menggigit kecil kulit leher Luna, meninggalkan tanda kemerahan yang pekat di sana. Bersamaan dengan itu, tangan Devano naik ke depan, meraba dan meremas lembut gundukan kenyal di dada Luna yang berbalut pakaian dalam. Remasan yang pas dan penuh kehangatan itu membuat Luna melenguh pasrah, kedua tangannya yang tadi memukul dada Devano kini justru beralih meremas kemeja pria itu, mencari pegangan karena lututnya sudah benar-benar lemas.
Akal sehat Luna lumpuh total. Rasa bersalah pada sang kakak menguap begitu saja, digantikan oleh gairah panas yang membakar seluruh tubuhnya. Luna benar-benar terlena oleh perlakuan Devano yang begitu dominan namun penuh kelembutan yang menyiksa.
Dengan satu gerakan sensual, Devano mengangkat tubuh Luna, membawa gadis itu ke atas ranjang king size yang empuk. Gaun Luna terlepas begitu saja di lantai, menyisakan tubuh polosnya yang gemetar di bawah kungkungan tubuh kekar Devano.
"Kamu begitu indah, Luna... jauh lebih nyata daripada Siska," bisik Devano dengan suara parau menahan hasrat yang sudah di ujung tanduk. Matanya menggelap melihat keindahan tubuh adik iparnya sendiri.
Devano kembali mencium Luna dengan sangat intens, menyatukan bibir mereka sementara tangannya menuntun kaki Luna untuk terbuka. Ketika detik-detik penyatuan itu tiba, Luna sempat memekik pelan menahan rasa perih yang asing dan pekat menembus intinya.
"Sshh... sakit, Mas..." rintih Luna dengan air mata yang kembali menetes, meremas bahu kokoh Devano hingga kukunya memutih.
Devano tertegun sejenak, menyadari bahwa dia adalah pria pertama yang menyentuh Luna. Rasa posesif yang luar biasa seketika membuncah di dada sang CEO. Dia mengecup kening Luna dengan lembut, membisikkan kata-kata penenang sembari mulai bergerak perlahan, menuntun Luna masuk ke dalam puncak penyatuan yang begitu nikmat dan memabukkan.
Malam itu, di bawah rintik hujan kota yang tak kunjung reda di balik dinding kaca, mereka berdua tenggelam dalam badai gairah yang panas. Luna sepenuhnya pasrah, menyerahkan seluruh kesucian dan cinta terpendamnya, melebur bersama setiap sentuhan tak kenal ampun dari pria yang paling terlarang untuk dia miliki.
Keesokan paginya, cahaya matahari yang mengintip dari balik tirai kelabu membangunkan Luna. Tubuhnya terasa pegal, dan saat dia menggeser tubuhnya, rasa perih di area sensitifnya langsung menyergap batinnya, mempertegas apa yang terjadi semalam.
Luna membuka mata, menarik selimut putih untuk menutupi dadanya yang polos. Di sampingnya, sisi ranjang sudah kosong dan mendingin.
Pandangan Luna berputar ke arah sudut kamar. Di dekat jendela besar, Devano sudah berpakaian rapi dengan kemeja hitam baru. Pria itu berdiri memunggungi ranjang sembari mengembuskan asap rokoknya ke kaca.
Mendengar pergerakan di ranjang, Devano membalikkan badan. Wajahnya kembali menjadi CEO Devano yang dingin, datar, dan tak tersetuh. Seolah-olah badai gairah dan penyatuan panas yang mereka lewati semalam tidak pernah terjadi.
Devano melangkah mendekati nakas di samping ranjang Luna. Dengan gerakan santai, dia meletakkan sebuah kartu ATM berwarna hitam di atas meja kayu tersebut.
Plak. Suara kartu itu beradu dengan meja terdengar begitu nyaring di telinga Luna.
"Di dalam sana ada uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhanmu selama satu tahun ke depan," ucap Devano dingin, matanya menatap Luna tanpa ekspresi. "Anggap saja itu bayaran karena kamu sudah menuruti egoku semalam. Dan ingat satu hal, Luna... Siska tidak boleh tahu tentang malam ini."
Hati Luna yang tadinya sempat melambung langsung dihempaskan ke dasar jurang terdalam. Air matanya menetes tanpa suara, membasahi sprei putih hotel. Bayaran? Dia menganggapku sekerendahan itu?