NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah ketua the Viper

"Untuk membunuh keturunan Moretti saja kau tidak becus!"

"Tapi Ayah, aku sudah mengerahkan pembunuh bayaran tingkat atas untuk melenyapkannya. Tapi dia terlalu kuat!"

Pyarrr!

"Terlalu kuat katamu?! Kau malah melempar alasan bodoh setelah kegagalan besar ini!"

"Ayah, kenapa kau harus semarah ini? Aku tidak mau disalahkan sepenuhnya! Buktinya pembunuh bayaran yang kukirim bisa melukai Dante dengan dua tembakan telak di punggungnya! Itu pencapaian yang besar!"

"Dua tembakan telak dan kau bangga, hah?! Kau merasa hebat hanya karena dua peluru murahan itu?!"

"Tentu saja! Dua tembakan di punggung seharusnya sudah cukup untuk membuat manusia biasa mati atau setidaknya lumpuh total di atas ranjang rumah sakit!"

"Tapi bajingan yang kau lawan itu Dante Moretti, bodoh! Dua pelurumu itu sama sekali tidak ada apa-apanya!"

"Apa maksud Ayah tidak ada apa-apanya? Dia sekarat di rumah sakit waktu itu!"

"Sekarat? Buka matamu lebar-lebar! Mata-mata kita baru saja melapor kalau Dante sudah keluar dari rumah sakit atas kemauannya sendiri dan sekarang sudah pulang ke mansionnya di Jakarta!"

"A-Apa? Keluar dari rumah sakit? Bagaimana mungkin? Luka seperti itu seharusnya membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pulih!"

"Itulah bukti kalau kau dan pembunuh bayaranmu itu tidak becus! Kau mengira dua peluru itu sudah membuatnya tamat, padahal bagi Dante, itu hanya seperti luka goresan kecil yang tidak bisa menghentikannya untuk kembali ke mansion!"

"Tapi... tapi dia pasti memaksakan diri, Ayah. Dia pasti sedang menahan sakit di mansionnya saat ini. Fisiknya tidak mungkin sekuat itu!"

"Aku tidak peduli dia menahan sakit atau tidak! Yang aku inginkan adalah keturunan Moretti itu mati membusuk, bukan pulang ke rumahnya sambil menertawakan kebodohan kita!"

"Maafkan aku, Ayah... aku tidak menyangka dia sekeras kepala dan seneat itu untuk langsung pulang ke Jakarta."

"Kau terlalu meremehkan darah Moretti. Sekarang dia sudah berada di sarangnya sendiri, dan mengincarnya lagi di Jakarta akan jauh lebih sulit dari sebelumnya!"

"Lalu... lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Ayah? Apakah kita harus mengirim pasukan langsung ke mansionnya untuk menyelesaikan tugas?"

"Jangan bertindak bodoh lagi! Kau sudah mengacaukan kesempatan emas kita di luar rumah sakit, dan sekarang kau mau menyerahkan nyawamu langsung di wilayah kekuasaannya?!"

"Tapi aku tidak mau menyerah begitu saja, Ayah! Aku ingin membuktikan padamu kalau aku bisa melenyapkannya!"

"Tutup mulutmu! Simpan ambisi bodohmu itu sebelum kau benar-benar membuat klan The Viper ini hancur karena kecerobohanmu!"

"Baik, Ayah..."

"Keluar dari hadapanku sekarang! Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi sebelum kau menemukan cara yang pasti untuk membuat Dante Moretti benar-benar lenyap dari dunia ini!"

_________

"Hisshh...!" Dante meringis pelan saat merasakan sensasi perih yang menyengat di kulitnya. Rahangnya mengatup rapat, menahan kedutan nyeri yang menjalar di sepanjang belikat hingga punggungnya.

"Rasakan! Enak kan? Makanya, kalau punya otak itu dipakai, Dante Moretti!" omel Nayara tanpa belas kasihan. Tangan gadis itu bergerak cekatan namun penuh penekanan saat membersihkan darah segar yang kembali merembes dari sela-sela jahitan punggung Dante yang terbuka.

"Kau sengaja menekannya, hah?" desis Dante, melirik tajam ke belakang lewat bahunya. Pria itu duduk tegap di tepi ranjang kamarnya dengan kemeja yang sengaja dilepas, memperlihatkan perban lama yang sudah bernoda merah pekat.

"Kalau aku sengaja, sudah kusiram luka ini pakai alkohol satu botol!" semprot Nayara, wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap. Dia menarik plester perban lama dengan sekali sentakan kasar. "Bagaimana tidak terbuka lagi jalurnya?! Begitu sampai di mansion, bukannya tidur atau istirahat di kamar, kau malah langsung melenggang ke ruang bawah tanah untuk menyiksa pengkhianat! Kau pikir tubuhmu itu terbuat dari besi, hah?!"

"Itu urusan faksi yang harus kuselesaikan dengan cepat. Kau tidak perlu ikut campur," jawab Dante datar, meski napasnya agak memburu menahan perih saat kapas berantiseptik menyentuh lukanya lagi.

"Aku terpaksa ikut campur karena aku yang repot harus mengobatimu seperti ini!" bentak Nayara, tangannya gemetar menahan amarah sekaligus ngeri melihat tiga titik jahitan yang tampak merenggang akibat aktivitas ekstrem pria itu di ruang penyiksaan. "Aku benar-benar heran ya, apa seseru itu menjadi raja iblis? Sampai-sampai dalam kondisi belum sembuh dan tubuh masih penuh lubang peluru pun, kau sudah tidak sabar untuk menyiksa orang?!"

Dante terbelalak. Dia langsung membalikkan tubuhnya dengan sentakan cepat, mengabaikan ringisan nyeri dari punggungnya demi menatap langsung ke arah mata Nayara. Dia benar-benar tidak menyangka mulut tawanan kecilnya ini bisa sewarna dan seberani itu melabelinya sebagai 'raja iblis' tepat di depan wajahnya.

Suasana kamar mendadak hening selama beberapa detik. Namun, alih-alih meledak marah dan mencekik leher Nayara seperti yang biasa dia lakukan pada orang lain, seulas senyuman usil dan smirk licik perlahan terukir di bibir tipis Dante.

"Kenapa? Apa kau mau mencoba masuk ke sana dan merasakannya sendiri, Naya?" tanya Dante dengan suara rendah yang mengintimidasi namun sarat akan nada menggoda.

"Mencoba apa?! Menjadi korban siksaanmu? Ogah!" ketus Nayara, mundur selangkah sambil memeluk kotak obat di dadanya.

Dante terkekeh sinis, matanya berkilat jenaka menatap wajah panik gadis itu. "Bukan menjadi korban. Maksudku, apa kau mau mencoba ikut menyiksa orang bersamaku? Dengar, Kucing Liar... menurutku menyiksa orang itu sangat enak. Ada rasa geli-geli sensasional tersendiri saat mendengar jeritan mereka."

Nayara melotot sempurna, menjatuhkan rahangnya karena benar-benar syok mendengar jawaban psikopat di depannya. "K-Kau... kau benar-benar gila! Geli-geli bagaimana, hah dasar sakit jiwa?!"

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Tiba-tiba, suara batuk kecil yang kentara sekali terdengar dari arah ambang pintu. Lucas yang sejak tadi berdiri diam untuk menjaga keamanan di dalam kamar, langsung mengalihkan pandangannya ke langit-langit langit kamar dengan wajah kaku, pura-pura tidak mendengar selera humor tuannya yang sangat di luar nalar manusia normal itu.

"Maaf, Tuan Muda," ucap Lucas setelah berhasil mengendalikan tenggorokannya, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa.

Dante melirik Lucas sekilas dengan tatapan dingin, membuat tangan kanannya itu kembali bungkam dan merapatkan posisinya di dekat pintu. Dante lalu kembali memutar tubuhnya membelakangi Nayara. "Cepat selesaikan perbannya. Aku tidak punya waktu semalaman untuk mendengarkan khotbahmu."

"mmm,diam dan jangan bergerak!" perintah Nayara, masih dengan sisa rasa kesal dan syok di dadanya.

Gadis itu melangkah mendekat lagi, mulai menempelkan kasa steril yang baru di atas luka Dante. Karena posisi duduk Dante yang cukup tinggi di tepi ranjang, Nayara harus sedikit menjinjitkan kakinya dan mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa menjangkau belikat kanan bagian atas pria itu dengan pas. Jarak mereka kembali terkikis, menyisakan keheningan yang mendadak terasa canggung.

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!