NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipertemukan

Senin, pukul 15.00..

Suara langkah kaki yang berlari terbirit-birit terdengar sangat jelas menggema di lorong kelas itu. Bunyinya sangat riuh saking cepatnya orang itu berlari hingga membuat siswa dan siswi yang sedang berada di lorong sedikit terkejut.

Orang itu kemudian berhenti tepat di depan sebuah pintu, lalu membukanya dengan kasar.

"Gawat!" teriaknya, mengagetkan semua orang yang sedang berada di dalam ruangan.

"Gawat apanya, Tamma?" tanya Hendy dengan nada penasaran.

Hendy yang sedang asyik menari bersama Judika seketika menghentikan gerakannya.

Saat ini, Yongki sedang sibuk menulis lirik lagu. Arjuna sedang memasak beberapa mangkuk mie instan. Nathan sedang belajar fisika, dan Jericko sedang menonton televisi yang menayangkan penampilan girlband papan atas.

Mendengar teriakan itu, mereka pun serentak menghentikan kegiatan masing-masing. Sepertinya menonton girlband adalah salah satu cara untuk menghibur Jericko yang sedang kesal karena kakinya terkilir.

Tamma berkata dengan sangat cepat hingga suaranya tak terdengar jelas, napasnya tersengal-sengal tak beraturan.

"Kau bicara apa, Tamma? Duduklah dulu. Tarik napas dalam-dalam," kata Arjuna lembut dan santai.

"Tidak, Kak! Ini masalah yang sangat gawat. Kalau terlambat, aku bisa dibunuh oleh orang itu," ucap Tamma masih belum bisa tenang.

"Dibunuh? Kau mau dibunuh?"

Lagi-lagi mereka yang ada di situ terkejut. Apalagi Nathan, mulutnya menganga lebar. Kini mereka benar-benar menghentikan segala aktivitasnya.

Tamma mengangguk. "Iya. Karena itu aku ingin minta tolong pada kalian."

"Tunggu dulu, aku tidak mengerti! Siapa yang mau membunuhmu? Lalu kenapa kau mau dibunuh?" tanya Yongki dengan nada tidak sabar.

Tamma mengeluarkan sebuah bola tenis dari saku celananya. Semua mata memperhatikan benda itu dengan seksama.

"Bola tenis?" Jericko memiringkan kepalanya, tidak mengerti.

Tamma mengangguk sekali lagi. "Tadi pagi aku memainkan bola ini saat berangkat ke sekolah. Kalian tahu kan rumahku berada di sekitar daerah sekolah 'itu'? Saat aku iseng melempar bola ini, ternyata bolanya meleset jauh ke sana. Karena bola ini pemberian Ayah, aku langsung mencarinya ke sekolah itu. Tapi..."

"Tapi?" kali ini Judika yang bertanya. Semua tatapan serius tertuju pada Tamma.

"Bola ini memecahkan kaca ruangan di sana. Awalnya aku berniat minta maaf, tapi memang nasibku sedang sial. Ternyata kaca yang pecah adalah kaca milik klub musik mereka." Wajah Tamma berubah pucat. Tidak biasanya dia ketakutan seperti itu.

Semuanya terdiam sejenak. Mereka saling memandang satu sama lain.

Judika mengernyitkan keningnya. "Kak, maksud kalian sekolah yang mana? Aku tidak mengerti."

Tentu saja Judika tidak mengerti karena dia baru bersekolah di sana beberapa hari.

Walaupun mereka bertujuh sudah berteman baik sejak lama, para kakaknya tidak pernah menceritakan apa pun tentang sekolah yang dimaksud Tamma.

Nathan berdiri. Dia berjalan menuju pintu. Dia melihat keluar, memeriksa apakah ada orang lain di luar sana.

Setelah memastikan aman, Nathan segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.

"Sekarang kau duduk dulu, Tamma," perintahnya.

Tamma pun langsung menuruti. Dia duduk di samping Jericko.

"Lalu apa yang mereka katakan padamu?" tanya Nathan lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.

"Mereka bilang akan menungguku saat pulang sekolah. Aku pikir itu hanya bualan saja. Tapi tadi saat aku keluar kelas, beberapa anak perempuan berbisik-bisik mengatakan bahwa klub musik dari sekolah itu sudah berada di gerbang sekolah. Pasti mereka sedang menungguku, Kak." Tamma menggigil ketakutan.

"Kak, tolong jelaskan dulu siapa yang kalian maksud. Aku benar-benar tidak mengerti dengan pembicaraan kalian," ucap Judika yang mulai kesal, akhirnya merengek.

Yongki menghela napas panjang. Dia melirik ke arah Judika.

"Mereka adalah klub musik dari sekolah paling terkenal di daerah ini. Tentu kau tahu sekolah Tonan High School kan?"

Judika mengangguk.

"Bagus kalau kau tahu. Klub musik mereka pun adalah yang terbaik di sini. Mereka sudah memenangkan beberapa penghargaan, tampil di acara-acara besar, bahkan sudah diakui oleh Menteri Kebudayaan karena penampilan mereka yang selalu mengutamakan budaya, meski dikemas dalam gaya yang lebih modern. Aku pun mengakui kalau klub itu sangat hebat."

"Tapi sayangnya, mereka adalah orang-orang yang suka berbuat semaunya. Klub kita pernah bertanding melawan mereka, dan dari situ aku tahu persis bagaimana sikap mereka."

Yongki berhenti sejenak. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu berhenti menatap Judika yang sedang fokus mendengarkan ceritanya.

"Mereka menang telak saat bertanding melawan kita karena memang level mereka berada jauh di atas kita. Kami pun mengakui hal itu. Tapi saat akan bersalaman usai pertandingan, mereka berkata, 'Sebaiknya kalian belajar lebih giat lagi. Kemampuan musik kalian masih belum apa-apa. Kalian seharusnya malu sudah berani menginjakkan kaki di lomba besar ini.'"

Judika menganga tak percaya. Benarkah mereka berkata sekasar itu?

"Nathan yang mendengar hal itu langsung geram dan memukul salah satu dari mereka. Tentu saja kami berusaha menghentikannya, tapi lagi-lagi mereka mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Akhirnya kami semua pun berkelahi," sambung Yongki.

Arjuna melanjutkan cerita itu.

"Kami semua dihukum. Bahkan mereka juga diberi peringatan oleh pihak sekolah. Tapi sayangnya, hukuman yang diberikan sangat tidak adil. Klub kita tidak diperbolehkan mengikuti berbagai macam lomba. Sedangkan mereka hanya diskors dari kegiatan klub selama sebulan."

"Dan jika kita berani membuat masalah lagi dengan mereka, klub kita akan dibubarkan sepenuhnya," tambah Nathan.

Suasana kembali hening. Mereka semua diam mematung.

Tiba-tiba Judika berdiri tegak.

"Biar aku yang keluar menemui mereka," katanya mantap.

Tamma seketika terkejut. "Hei, anak kecil sepertimu bisa apa? Jangan! Aku tidak mau kau berurusan dengan orang-orang seperti itu."

"Kakak, jangan memperlakukan aku seperti anak kecil lagi. Aku ini sudah enam belas tahun," sahut Judika sambil melirik tajam.

Dengan langkah mantap, dia berjalan ke arah pintu.

"Jika kau berani keluar ruangan, aku patahkan lehermu, Judika Pratama!" ancam Jericko. "Kau tetap di sini bersama Tamma. Biar kami yang menangani."

Judika berhenti melangkah, tapi dia tidak menoleh sedikit pun ke arah mereka.

"Kalau kalian berurusan lagi dengan mereka, klub ini akan dibubarkan. Begitu bukan? Klub ini memang tidak hebat, aku tahu itu. Tapi setidaknya klub inilah yang membuat kalian menjadi dekat seperti sekarang. Berkat klub ini juga aku bisa mengenal kalian. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam."

Judika menoleh ke belakang sambil tersenyum manis, lalu berlari secepat mungkin agar tidak ditangkap oleh kakak-kakaknya.

"Cih! Anak itu benar-benar nakal. Berlagak sok keren begitu. Kapan dia mau mendengarkan kita!" rutuk Nathan kesal. "Kalau begini caranya, tidak ada cara lain." Nathan pun berdiri dari kursinya, berniat menyusul Judika.

"Tunggu, Nathan," kali ini Arjuna yang berdiri.

"Biar aku yang pergi ke sana. Aku tidak mau kau emosi lagi seperti waktu itu. Kalian semua tetap di sini," perintah mutlak dari sang kakak tertua itu.

Mau tidak mau harus mereka turuti. Arjuna memang lembut dan baik, tapi sekalinya dia serius, tidak akan ada yang berani melawannya.

Arjuna berlari menyusul Judika.

^^^

Sesampainya di gerbang sekolah, mereka berdua melihat beberapa pemuda dengan seragam sekolah berbeda sudah menunggu di sana. Arjuna segera mengenali salah satu di antara mereka, orang yang waktu itu menjadi provokator perkelahian mereka.

"Oh, Arjuna Haditama! Kau rupanya," ucap pemuda itu sambil tersenyum sinis.

Arjuna berusaha menahan emosinya, dia tersenyum palsu.

"Sudah lama tidak bertemu, Jodha," ucap Arjuna seraya menundukkan kepalanya, berusaha bersikap semanis mungkin.

"Cih! Sejak kapan kau jadi sesopan itu, Arjuna?" Jodha kembali tersenyum sinis.

"Sejak klub kami menerima hukuman itu," jawab Arjuna mulai tersulut emosi.

Seketika bahunya ditepuk oleh Judika. Si bungsu itu pun mulai membuka suara.

"Maaf, kak. Perkenalkan, aku Judika. Mungkin kalian tidak mengenalku karena aku anak baru di sini. Tapi aku adalah salah satu anggota klub musik di sekolah ini. Kalau boleh tahu, ada urusan apa kakak ke sini?" tanya Judika berusaha bersikap sopan.

"Oh, jadi kau anak baru? Hahaha. Kalian tidak berani menghadapi kami secara langsung, lalu menyuruh anak ini turun tangan? Baiklah kalau begitu. Aku ingin kalian menyerahkan Tamma pada kami," ucap Jodha.

"Ada apa dengannya?" tanya Arjuna menantang.

"Dia sudah memecahkan kaca di ruangan klub kami, kak. Bukannya minta maaf, dia malah kabur," sela Jofan, salah satu pemuda itu, dengan nada yang lebih sopan.

Walaupun mereka bermusuhan, Jofan termasuk orang yang sopan terhadap yang lebih tua.

"Begitu? Apakah kalian yakin tidak mengancamnya saat itu?" tanya Judika dengan nada datar, tapi jelas sekali dia sedang menantang mereka saat itu.

"Apa maksudmu?"

Judika menghela napas panjang. "Kak Tamma bukan tipe orang yang tidak bertanggung jawab. Dia pasti akan minta maaf, apa pun kesalahannya. Kecuali kalau kalian mengancamnya saat itu." Judika masih bersikap tenang, walaupun di dalam kepalanya sudah mendidih sejak tadi.

"Kau..." Jodha mengepalkan tinjunya, bersiap memukul Judika.

Saat Jodha hendak melayangkan pukulannya, tangannya tertahan oleh seseorang dari belakang. Sepertinya orang itu baru datang karena dia tidak berada di sana sebelumnya.

"Jangan berbuat ceroboh, Jodha! Tangannya itu jauh lebih kuat dari tanganmu," tegur orang itu.

Mendengar itu, Jodha tidak berkutik. Dia melepaskan tangannya dengan paksa dari cengkeraman orang itu.

Sementara Judika tampak sangat terkejut saat Jodha hendak memukulnya. Sekarang keterkejutan menjadi jauh lebih besar saat melihat siapa yang menahan tangan Jodha tadi. Judika bisa melihat orang itu dengan jelas.

Deg..

Jantungnya berdebar keras. Kepalanya yang sejak tadi sudah panas, makin terasa membara. Pupil matanya pun membesar, pertanda ketidakpercayaannya terhadap apa yang dilihatnya saat itu.

"Kak Chan-chandra?" ucap Judika terbata-bata.

Orang yang dipanggilnya pun tidak kalah terkejut. Dia menunjukkan reaksi yang sama persis dengan Judika.

"Judika?"

Mereka berdua terdiam sambil saling memandang. Tidak seperti biasanya, Judika memandangnya dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.

Arjuna menepuk pundak Judika yang masih terdiam tanpa kata.

"Kau kenal dengan Chandra?" tanyanya memastikan.

Judika hanya diam. Dia tidak mengatakan apapun.

"T-tentu saja dia kenal denganku, Arjuna." Chandra sepertinya sudah bisa menguasai keadaan, lalu tersenyum lebar seperti biasanya.

"Karena dia adalah adikku."

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!