Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Garis Dingin di Balik Cadar Malam
Malam pertama di ndalem setelah akad nikah yang dilaksanakan secara sederhana pagi tadi terasa begitu mencekam bagi Arini. Tidak ada dekorasi bunga yang harum, tidak ada musik rebana yang mengalun ceria layaknya pesta pernikahan anak seorang Kyai besar. Hanya ada kesunyian yang berat di kamar luas berlantai kayu jati ini. Arini duduk di tepi ranjang yang ditutupi sprei putih bersih, jemarinya meremas kain gamisnya sendiri. Ia masih mengenakan busana pengantin muslimah yang anggun, menunggu pintu kayu besar itu terbuka dan membawa suaminya masuk.
Namun, ketika gagang pintu akhirnya bergerak, jantung Arini berdegup kencang bukan karena debar romantis, melainkan karena rasa was-was yang tak menentu. Zikri masuk, namun penampilannya sungguh jauh dari citra seorang pengantin pria. Ia tidak lagi mengenakan baju koko putih atau sarung yang rapi. Pria itu kini mengenakan kaos hitam tak berlengan yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh, dengan celana kargo gelap yang penuh saku.
Rambutnya yang biasanya tertutup peci kini acak-acakan, jatuh menutupi sebagian keningnya yang tegas.
Zikri tidak menatap Arini. Ia berjalan melewati istrinya begitu saja seolah Arini hanyalah bagian dari furnitur kamar. Ia menuju meja sudut, melempar kunci motornya hingga menimbulkan bunyi klontang yang nyaring di keheningan malam, lalu menyalakan rokok di dekat jendela yang ia buka lebar-lebar.
"Gus... di dalam kamar tidak baik merokok. Asapnya bisa menempel di gorden dan... ini area ndalem," suara Arini memecah keheningan, hampir seperti bisikan yang bergetar.
Zikri menoleh perlahan. Asap rokok keluar dari sela bibirnya yang tipis, membentuk pola abstrak di udara sebelum tertiup angin malam.
Tatapannya dingin, setajam silet yang siap mengiris keberanian Arini.
"Sudah kubilang tadi sore, jangan panggil aku Gus kalau kita cuma berdua. Namaku Zikri. Dan jangan pernah berpikir untuk mengatur apa yang boleh atau tidak boleh aku lakukan di kamarku sendiri," sahutnya dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Arini menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya. "Ini sekarang kamar kita, Zikri. Saya istrimu. Saya hanya ingin yang terbaik untuk kesehatanmu dan kesucian rumah ini."
Zikri terkekeh. Suara tawanya terdengar hambar, bahkan sedikit mengejek. Ia mematikan rokoknya yang baru setengah di asbak kayu, lalu berjalan mendekati Arini. Langkahnya pelan, predatoris. Ia berhenti tepat di depan Arini yang duduk di ranjang, memaksa Arini mendongak untuk menatapnya. Zikri membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Arini hingga Arini bisa mencium aroma tembakau dan maskulin yang kuat.
"Dengar, Arini. Kamu di sini karena permintaan Abi yang tidak bisa kubantah, dan aku di sini karena aku tidak punya pilihan lain untuk saat ini.
Kita punya kesepakatan diam-diam, oke? Kamu urus urusanmu sebagai 'istri pajangan' di depan santri dan orang tua kita, dan aku urus urusanku sendiri. Jangan berharap ada adegan romantis atau malam pertama yang manis seperti di novel-novel picisan yang sering kamu tulis itu.
Aku bukan tokoh fiksi, dan aku bukan pria baik-baik."
"Aku tidak mengharapkan itu," dusta Arini.
Sebagai seorang penulis genre romance, jauh di lubuk hatinya, ia selalu memiliki secercah harapan bahwa setiap pria sekeras apa pun pasti memiliki celah lembut. "Tapi kita sudah sah secara agama dan negara. Apa salahnya kita mencoba membangun komunikasi? Kita akan hidup bersama, Zikri."
"Mencoba apa? Berpura-pura bahagia?" Zikri berdiri tegak kembali, memasukkan tangannya ke saku celana. Matanya menatap tajam ke arah lemari seolah sedang merencanakan pelarian.
"Aku punya dunia yang tidak akan pernah kamu mengerti. Dunia yang penuh oli, aspal, dan kebebasan yang tidak dibatasi oleh pagar-pagar pesantren yang membosankan ini. Kamu? Kamu hanyalah gadis kota yang terperangkap dalam delusi tentang 'memperbaiki' pria nakal. Simpan energimu, karena kamu akan kecewa."
Zikri menyambar jaket kulit hitamnya yang tergeletak di kursi.
"Mau ke mana lagi?" Arini berdiri, suaranya naik satu oktav. "Ini malam pertama kita, Zikri! Jam sebelas malam. Apa kata para santri atau penjaga keamanan kalau mereka melihat motor putra Kyai keluar jam segini?"
"Biarkan mereka bicara. Mereka sudah terbiasa melihat Gus-nya berubah jadi setan di malam hari," jawab Zikri tanpa menoleh.
Ia melangkah keluar, menutup pintu dengan dentuman yang cukup keras hingga membuat bahu Arini terlonjak. Tak lama kemudian, suara raungan mesin Ninja yang berat dan bertenaga besar itu kembali membelah kesunyian Al-Ikhlas.
Arini berlari menuju jendela, menatap bayangan motor hitam itu melesat cepat, menembus kabut tipis dan menghilang di balik gerbang besar yang dijaga santri yang tampak bingung namun tak berani menghalangi.
Arini terduduk lesu di lantai. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Ia mengambil buku catatan kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya, jemarinya gemetar saat memegang pena. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, ia menuliskan kalimat pembuka untuk perjalanan barunya ini:
“Pernikahan ini bukan awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan sebuah penjara dengan jeruji yang terbuat dari ekspektasi orang lain. Dan sipirnya adalah pria yang paling ingin kucintai, tapi tampaknya dia adalah orang yang paling berhasrat untuk menghancurkanku.”
Waktu berlalu dengan sangat lambat. Arini tidak bisa memejamkan mata. Setiap suara jangkrik atau gesekan dahan pohon di luar jendela membuatnya terjaga, berharap itu adalah suara mesin motor suaminya yang kembali. Namun, hingga jam menunjukkan pukul tiga pagi, kamar itu tetap sunyi.
Arini memutuskan untuk keluar kamar. Ia butuh air minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena tangis. Saat melewati ruang tengah yang gelap, ia melihat bayangan seseorang duduk di teras belakang. Dengan ragu, Arini melangkah mendekat.
Zikri sudah kembali. Namun, ia tidak masuk ke dalam. Pria itu duduk di sofa rotan teras belakang dengan baju yang kotor oleh debu jalanan dan sedikit noda oli di tangannya. Ia tampak sangat lelah. Matanya terpejam, kepalanya bersandar pada sandaran sofa, sementara jaket kulitnya tergeletak di lantai begitu saja.
Arini tidak membangunkannya. Ada rasa iba yang tiba-tiba menyusup di antara kemarahannya. Ia mengambil sebuah sarung bersih yang terlipat di atas meja kayu dekat pintu, lalu dengan gerakan sepelan mungkin, ia menyelimuti tubuh Zikri.
Saat tangan Arini baru saja melepaskan ujung sarung, sebuah tangan yang kasar dan kuat tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya dengan gerakan refleks yang cepat. Arini terpekik kecil. Mata Zikri terbuka, merah karena angin malam dan kurang tidur. Tatapannya tidak lagi tajam, melainkan tampak kosong dan rapuh.
"Jangan terlalu baik, Arini," bisik Zikri. Suaranya serak, hampir habis. "Itu cuma bakal bikin kamu lebih sakit nantinya. Aku bukan tempat yang aman untuk kamu menggantungkan harapan."
Zikri melepaskan cengkeramannya, lalu membalikkan badannya membelakangi Arini, kembali mencoba memejamkan mata di atas sofa yang keras itu. Arini terpaku di tempatnya berdiri. Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman yang ia ucapkan di kamar tadi. Itu terdengar seperti sebuah peringatan tulus—sebuah pengakuan bahwa di dalam dirinya ada badai yang tidak ingin ia bagi dengan siapa pun, termasuk Arini.
Arini kembali ke kamar dengan perasaan yang lebih berkecamuk. Ia menyadari satu hal: Zikri bukan sekadar "bad boy" yang ingin memberontak. Ia adalah pria yang sedang terluka dan merasa tersesat di rumahnya sendiri. Dan bagi Arini, itu adalah tantangan yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar menghadapi pria kasar.
Di balik cadar malam pesantren yang tenang, sebuah perang batin baru saja dimulai. Arini tidak tahu apakah ia akan menjadi penawar bagi luka Zikri, atau justru ia akan ikut hancur bersama pria itu dalam perjalanan menuju akhir yang ia rasakan tidak akan berakhir indah.
Arini menutup matanya saat adzan subuh mulai berkumandang, menyadari bahwa mulai besok, ia harus memakai topeng "istri Gus yang bahagia" di hadapan ribuan santri, sementara hatinya baru saja mulai membeku. Perjalanan panjang ini baru saja dimulai, dan ia baru saja menyelesaikan halaman pertama dari tragedi yang mungkin tidak akan pernah ia sanggup selesaikan.
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr