Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 My elite lover
Seorang gadis cantik duduk dengan anggun mengenakan gaun malam warna emerald green yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya diikat tinggi, menampakkan leher jenjang dan wajah cantiknya yang natural. Di sebelahnya duduk seorang wanita paruh baya yang terlihat anggun di usianya yang tak lagi muda, Ratna Admajha sang Mama tercinta, dan di hadapannya duduk Miranti Wijaya dan suaminya Antonio Wijaya orang tua dari calon suaminya.
Renata Admajha atau akrab di sapa Rena oleh orang-orang terdekatnya, ia terlihat sedang memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosannya sesekali ia ikut menjawab pertanyaan yang di lontarkan padanya. Sedangkan sang ibu terlihat sudah sangat akrab mengobrol bersama calon besannya, mereka membahas tentang pernikahan anak-anaknya dengan antusias.
"Sayang, apa kamu sudah menelpon Rendy? Biasanya dia selalu on time orangnya!" tanya Miranti dengan senyum ramah, menepuk lembut punggung tangan calon menantu kesayangannya.
Renata hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan sopan. "Hm! Rena cuman chat aja Tan. Kata Rendy sih dia lagi otw, sejak 30 menit yang lalu Tante," jujur Rena apa adanya.
"Oh ya, seharusnya Rendy udah sampe, tapi mana tu anak?" sahut Miranti merasa tak enak membuat calon besan dan menantunya menunggu lama.
"Mungkin Nak Rendy terjebak macet, kita tunggu aja," timpal Ratna bijak.
Rena mengangguk kecil, meskipun dalam hati ia mendumel kesal pada calon suaminya itu, jujur ia masih ragu dengan perjodohan ini, Tapi mau gimana lagi Renata hanya tak ingin mengecewakan sang Mama yang begitu antusias dengan perjodohan yang telah lama di sepakati oleh kedua belah pihak keluarga, apa lagi ini permintaan terakhir dari almarhum sang ayah.
Renata yang bosan menunggu akhirnya memutuskan untuk ke kamar mandi sekaligus ingin menenangkan diri sejenak.
"Mam! Tante, Om. Rena izin ke kamar mandi sebentar ya."
"Silahkan, Sayang!" sahut Miranti dengan senyum hangatnya.
"Hm! Tapi jangan lama-lama ya, nanti Nak Rendy datang kamu malah nggak ada," tambah Ratna dengan lembut, ia tahu anaknya itu masih belum sepenuhnya menerima perjodohan ini, tapi ia juga yakin kalau Rendy pemuda yang tepat untuk sang putri.
"Siap, Mam!" balas Rena dengan senyum manisnya.
Dengan langkah pasti dan postur tubuh yang tegap, Renata beranjak dari kursinya. Ia berjalan menyusuri lorong restoran menuju area toilet wanita.
Saat ia baru saja melangkah mendekati pintu kamar mandi, ia mendengar suara bisik-bisikan dari kamar mandi sebelah awalnya ia mengira itu suara orang yang mungkin lagi telponan, namun semakin ia mendekat suara bisikan itu terdengar lebih jelas dan familiar di telinganya.
Renata menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena bahagia, melainkan karena firasat buruk yang menyeruak.
"Rendy! Aku hamil ! Anak ini darah dagingmu, kamu harus bertanggung jawab!" suara seseorang dari dalam kamar mandi.
"Apa maksudnya?! Jangan becanda Sasa! Bagaimana bisa kamu hamil!? Bukannya dari awal aku sudah menegaskan sama kamu untuk menjaganya supaya tidak kecolongan seperti ini!" sahut seorang ypria dengan nada kesal dan Panik.
"Ya mana aku tahu! Yang jelas sekarang aku hamil! Dan kamu harus menikahi aku!"
"Kau gila! Dari awal kau sudah tahukan jika keluarga aku sudah menjodohkan aku dengan Rena, dan kamu sendiri tidak mempermasalahkan itu! Kenapa sekarang ngotot minta dinikahin!" serkas pria itu dengan suara meninggi.
"Enak aja, aku gak mau menanggung semua beban ini sendiri! Lagian aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah nantinya! Bagaimana pun ini darah daging kamu Ren!"
"Kamu gugurkan kandungan itu! Itu satu-satunya cara. Aku tidak ingin anak itu mengacaukan rencana pernikahan aku dan Rena!"
"Tidak! Aku tidak mungkin membunuh darah dagingku sendiri!" tangis wanita itu akhirnya pecah dalam bisikan.
"Kamu jahat Ren! Setelah semua pegorbananku, kau mau mencampakkan aku dan calon anakmu begitu saja!? Apa lebihnya Renata! Sampai kamu tega melakukan semua ini pada kami, padahal kau jelas tahu aku sangat mencintaimu dari dulu! Jauh sebelum Renata hadir dalam hidupmu!" lanjutnya dengan suara serak menahan tagis.
Suara dan pengakuan itu bagai petir yang menyambar di siang bolong bagi Renata.
Darah di seluruh tubuh Renata seolah berhenti mengalir. Dadanya sesak, rasanya ingin muntah mendengar kebohongan itu. Namun, air matanya tidak jatuh. Sebaliknya, sebuah ketenangan dingin justru menyelimuti hatinya.
Klik.
Tanpa aba-aba, Renata mengaktifkan fitur perekam suara di ponsel mahalnya. Ia ingin bukti. Ia ingin semua kata-kata pengakuan dosa itu terekam jelas tanpa bantahan nantinya.
Tanpa ragu, Rena mendorong kuat pintu yang sejak tadi tertutup rapat, menggunakan bahunya.
BRAAK!
Pintu kamar mandi didobrak hingga terbuka lebar dengan suara keras yang memekakkan telinga.
Begitu pintu itu terbuka lebar pemandangan pertama yang terlihat Rendy berdiri dengan kemeja yang sedikit berantakan, wajahnya pucat pasi seolah melihat hantu. Sasa berdiri di depannya dengan wajah sama pacarnya dan mata yang sembab.
Keduanya membeku, terpaku melihat Renata yang berdiri di ambang pintu dengan wajah tenang.
Renata berdiri tegak. Gaun indahnya seolah menjadi baju perang. Wajahnya datar, sangat datar. Tidak ada amarah yang meledak-ledak, tidak ada tangisan histeris. Justru ketiadaan ekspresi itulah yang membuat suasana menjadi mencekam dan menakutkan.
Matanya yang indah menatap keduanya bergantian ... dengan tatapan penuh jijik dan kecewa.
"Wah sungguh drama yang sangat mengharukan, kalian sangat cocok," seru Renata pelan, namun suaranya terdengar sangat jelas, dingin, dan menusuk.
"Sampai lupa waktu jika ada janji dengan ...?"
Rendy lemas. Kakinya terasa seperti dipaku ke lantai. Wajah tampannya kini terlihat menyedihkan, pucat dan panik yang tak dapat disembunyikan.
"Re ... Renata ..." Rendy terbata-bata, suaranya parau. "Ini ... ini tidak seperti yang kamu lihat, sayang. Ini salah paham, aku bisa jelaskan ..."
Belum sempat Rendy melanjutkan kata-katanya, Sasa yang sadar permainan sudah terbongkar, justru mengubah ekspresinya. Air matanya mengering seketika, dan munculah senyuman sinis yang sangat menyebalkan di bibirnya.
Sasa berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya manja ke dada Rendy, menatap Renata dengan tatapan kemenangan.
"Salah paham?" potong Sasa dengan nada mengejek. "Enggak ada yang salah paham. Kita saling mencintai. Dan sekarang aku sedang hamil!"
Sasa mendongak menatap Rendy. "Katakan padanya, Ren! Katakan kalau kamu lebih memilih aku! Suruh dia mundur!"
Rendy menatap Sasa dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Bagaimana mungkin wanita di depannya ini memintanya mengakui hal itu di depan calon istrinya? Wanita yang sebenarnya sudah ia taksir sejak pertama kali bertemu.
"Kamu gila?!" desis Rendy gemetar. "Aku mencintai Rena! Aku tidak mau kehilangan Renata! Awalnya mungkin ini perjodohan, tapi aku sungguh mencintainya!" tekan Rendy dengan suara serak sambil melepaskan pegangan Sasa dan berusaha meraih tangan Renata.
"Rena! Percaya padaku! Jangan dengarkan Sasa ia hanya ngelantur! Aku mencintai kamu Rena!"
Renata mundur selangkah, menghindari sentuhan Rendy seolah tangan pria itu penuh kuman. Ia menatap ponselnya sebentar, lalu menekan tombol stop. Bukti sudah aman tersimpan.
"Cukup," potong Renata, suaranya tenang namun mematikan.
Ia mendongak, menatap wajah kedua orang yang pernah ia percaya itu dengan tatapan terakhir yang penuh penyesalan dan kebencian.
"Jangan sentuh aku. Tanganmu kotor, Rendy.
Dan kamu, Sasa ... aku benar-benar buta pernah menganggapmu sahabat. Selama ini aku percaya, aku jaga perasaanmu, tapi balasanmu begitu busuk. Mulai detik ini ... persahabatan kita selesai! Aku tidak mau lagi mengenalmu!"
Renata menarik napas panjang, menegakkan kepalanya tinggi-tinggi, mempertahankan martabatnya hingga detik terakhir.
"Pernikahan kita batal! Aku gak mau menikah sama pria pengecut kayak kamu! Dan jelaskan sendiri alasannya pada orang tuamu!"
"Tidak Rena, pernikahan kita tinggal dua minggu lagi, jangan batalkan pernikahan kita Rena! Aku akan memperbaiki semuanya dan beri aku kesempatan sekali lagi Rena!" teriak Rendy putus asa, namun Renata sudah tak lagi menoleh.
Bersambung ....