Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Permintaan Maaf (Versi Elvano)
"Brak!"
Sebuah amplop putih mendarat kasar di atas meja kaca yang licin itu. Suaranya cukup keras hingga membuat Elvano yang sedang memeriksa grafik saham di tabletnya terpaksa mendongak.
Di hadapannya, Aluna berdiri dengan napas memburu. Wajahnya tidak lagi kusut seperti semalam. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya, tapi matanya memancarkan api permusuhan yang berkobar-kobar.
"Itu surat pengunduran diri saya," ucap Aluna tegas, tanpa basa-basi. "Silahkan Bapak baca, tanda tangan, dan biarkan saya pergi dari gedung ini detik ini juga."
Elvano menatap amplop itu sekilas, lalu beralih menatap Aluna. Wajahnya datar, tidak ada guratan kaget sedikit pun. Seolah dia sudah memprediksi skenario ini akan terjadi.
"Duduk," perintah Elvano singkat.
"Saya nggak mau duduk!" tolak Aluna. "Saya mau resign! Bapak tuli atau gimana? Semalam Bapak sendiri yang ngusir saya, kan? Bapak bilang saya cuma peduli uang, kan? Nah, sekarang saya buktikan kalau saya nggak butuh uang Bapak!"
Elvano menghela napas panjang. Dia meletakkan tabletnya, lalu mengambil amplop putih itu. Dengan gerakan perlahan dan menyebalkan, dia memutar-mutar amplop itu di tangannya.
"Kamu lupa isi kontrak kerja kita, Aluna?" tanya Elvano santai. "Minimal tiga bulan. Kalau mundur sebelum waktunya, denda penalti sepuluh kali lipat gaji pokok. Kamu punya uangnya?"
"Saya nggak peduli!" Aluna menggebrak meja. "Tuntut saja saya! Penjarakan saya sekalian! Lebih baik saya mendekam di penjara daripada kerja sama bos yang nggak punya hati nurani dan bisanya cuma nuduh orang sembarangan!"
"Drama," gumam Elvano.
Tanpa membuka isinya, Elvano memasukkan amplop itu ke dalam mesin penghancur kertas (shredder) di samping mejanya.
Krrrrrtttt...
Suara kertas digiling terdengar menyakitkan di telinga Aluna.
"Bapak!" pekik Aluna tak percaya. "Itu surat resmi!"
"Itu sampah," koreksi Elvano. Dia kembali bersandar di kursi kebesarannya, menatap Aluna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Permohonan ditolak. Kamu aset berharga. Saya tidak membuang aset yang baru saja menunjukkan performa gemilang di lapangan."
"Performa gemilang apanya? Bapak maki-maki saya di depan umum!"
"Itu kesalahan input data," potong Elvano cepat. Dia menegakkan tubuhnya, nada suaranya berubah sedikit lebih serius. "Semalam... saya kekurangan data. Saya mengambil keputusan berdasarkan asumsi yang salah. Saya mengira kamu lalai, padahal kamu sedang melakukan mitigasi risiko."
Aluna melongo. "Bapak ngomong apa sih? Mitigasi risiko? Maksud Bapak, Bapak salah nuduh saya, gitu?"
Elvano berdehem pelan, terlihat tidak nyaman. Gengsinya terlalu tinggi untuk mengucapkan kata 'maaf' yang sederhana. Lidahnya terasa kelu jika harus mengakui kesalahan secara verbal.
Jadi, dia melakukan apa yang paling dia kuasai: berbicara dengan bahasa uang.
Elvano membuka laci mejanya. Dia mengeluarkan kartu debit berwarna biru laut—kartu keramat milik Elora yang semalam dikembalikan Aluna.
Dia meletakkan kartu itu di pinggir meja, lalu mendorongnya pelan ke arah Aluna.
"Ambil," perintah Elvano.
"Nggak mau," Aluna membuang muka. "Kasih aja ke satpam atau ke siapa kek. Saya udah nggak mau jadi babysitter adik Bapak."
"Elora tidak mau makan dari pagi," ucap Elvano tiba-tiba.
Aluna menoleh sedikit. Naluri keibuannya tersentil. "Hah? Kenapa?"
"Dia mogok makan. Dia mengunci diri di kamar. Dia bilang dia nggak mau keluar kalau bukan kamu yang bujuk dia," Elvano menatap Aluna lurus-lurus. "Dia butuh kamu, Aluna. Semalam... dia ketakutan setengah mati. Dan cuma kamu yang dia percaya sekarang."
Aluna terdiam. Bayangan wajah Elora yang menangis ketakutan di klub malam itu kembali terlintas. Gadis manja itu memang menyebalkan, tapi dia juga korban.
"Itu trik Bapak doang kan biar saya luluh?" tuduh Aluna, meski hatinya mulai goyah.
"Saya tidak berbohong soal kondisi Elora," Elvano merogoh saku jasnya. Kali ini dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan biru yang masih kaku, seolah baru diambil dari bank.
Dia meletakkan uang itu di atas kartu debit tadi.
"Saya tahu kamu marah. Integritas kamu terluka," kata Elvano kaku. Dia menunjuk uang itu. "Ini kompensasi tambahan. Saya naikkan gaji pokok kamu dua puluh persen mulai bulan ini. Itu angka yang sangat tinggi.”
Aluna menatap tumpukan uang itu. "Bapak pikir semua bisa diselesain pake duit?"
"Dan ini..." Elvano menunjuk selembar uang lima puluh ribu yang terselip di antara lembaran seratus ribuan. "Ini ganti rugi biaya uang bensin kamu semalam. Plus biaya laundry jaket dan celana piyama kamu yang mungkin kotor kena air soda."
Aluna menatap uang lima puluh ribu itu. Elvano bahkan menghitung biaya laundry? Orang ini benar-benar kalkulator berjalan.
"Bapak..." Aluna kehilangan kata-kata.
"Ambil, Aluna. Kembali bekerja. Lupakan kejadian semalam. Kita reset neraca emosional kita jadi nol," bujuk Elvano dengan gaya bahasanya yang aneh. "Saya butuh kamu menjaga Elora. Saya tidak percaya orang lain selain kamu."
Itu adalah kalimat paling mendekati "maaf" dan "terima kasih" yang bisa diucapkan oleh seorang Elvano Diwantara.
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara dengungan AC sentral.
Aluna menatap kartu debit itu, lalu menatap uang kompensasi yang menggiurkan itu. Naik gaji 20%? Itu tawaran yang sangat bagus. Sangat logis untuk diterima.
Tapi Aluna ingat rasa sakit hatinya semalam. Dia ingat tatapan merendahkan Elvano di klub. Dia ingat bagaimana Elvano menuduhnya hanya peduli pada bonus.
Aluna maju selangkah. Tangannya terulur.
Elvano tersenyum tipis, mengira dia menang. Uang selalu menang, pikirnya.
Tapi Aluna tidak mengambil uang itu.
Aluna hanya mengambil kartu debit biru milik Elora. Dia menyambar kartu itu dengan cepat, membiarkan tumpukan uang sogokan dan uang ganti rugi ojek itu tetap tergeletak di meja.
"Saya ambil kartunya," kata Aluna dingin. "Karena saya kasihan sama Elora. Dia nggak salah apa-apa."
Elvano mengernyit. "Uangnya? Itu hak kamu."
"Simpan uang Bapak," tolak Aluna tegas. Dia menatap Elvano dengan sorot mata yang tajam, menusuk langsung ke ego pria itu.
"Bapak boleh simpan kenaikan gaji dua puluh persen itu. Bapak boleh simpan uang ganti rugi laundry itu. Saya nggak butuh sogokan Bapak buat ngelakuin pekerjaan saya dengan bener."
Aluna memasukkan kartu debit itu ke saku kemejanya, menepuknya pelan.
"Saya kerja pakai hati, Pak. Bukan cuma cari duit kayak Bapak yang apa-apa dihitung untung rugi," ucap Aluna penuh penekanan. "Saya bertahan di sini demi Elora. Bukan demi Bapak. Jadi jangan harap saya bakal bersikap manis sama Bapak mulai sekarang."
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥