NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 DARAH ADIK UNTUK KAKAK

“Pemukulnya, Mbak...” suara Lestari pelan, tapi menggema di seluruh penjara bawah tanah itu. Tangannya masih terulur, telapaknya terbuka. “Biar Lestari yang mukul. Biar Lestari yang gantiin Mbak jagain gerbang.”

Mbak Dewi mendesis. Pemukul tulang di tangannya bergetar hebat. Sorot mata putihnya beralih dari Lestari, ke kami, ke tujuh penabuh gamelan yang terkapar di dinding, lalu balik lagi ke Lestari.

“...Bohong...” desisnya. “...Kau mau... bebas... kau mau... tinggalkan Mbak... sendiri...”

“Bebas?” Lestari ketawa. Ketawanya pahit, hampa. “Mbak lihat Lestari. 3 tahun di sini, di sel paling pojok. Mbak jadi Sipir, Lestari jadi tahanan. Bebas dari mana, Mbak?”

Kami berlima masih terpaku di dekat lubang masuk. Tidak berani napas. Ini drama keluarga paling ngeri yang pernah kulihat. Kakak-beradik rebutan siapa yang mati.

Dari atas, suara Paklik Joyo kembali menggema. “LESTARI! WAKTUMU TINGGAL 4 MENIT! GERHANA MAU HABIS!”

Empat menit. Setelah itu, Anjing Gerbang dapat tenaga penuh lagi. Dan Mbak Dewi juga.

Mbak Dewi menoleh ke atas, ke arah lubang. “Kuncen tua... masih hidup... kau...” Dia mengangkat pemukul tulang itu tinggi-tinggi. “Kau yang kirim mereka! Kau yang langgar perjanjian!”

Dia ayunkan pemukul tulang itu bukan ke lonceng, tapi ke atas, ke arah lubang.

WUUUSSSHHH!!!

Energi hitam pekat melesat dari ujung pemukul. Menghantam dinding sumur di atas.

DOOOMM!!!

Dari atas terdengar suara Paklik Joyo terbatuk. “Ukh!” Lalu senyap.

“PAKLIK!” teriak Rendi.

Tidak ada jawaban. Cahaya senter dari atas mati. Gerhana belum selesai, tapi bantuan dari atas sudah putus.

Sekarang tinggal kami berenam, lawan Mbak Dewi, tujuh penabuh, dan Anjing Gerbang.

Mbak Dewi kembali menatap Lestari. Seringainya kejam. “Lihat, Dik? Tidak ada yang bisa tolong kau. Kau akan tetap di sini. Temani Mbak. Selamanya.”

Lestari tidak mundur. Dia malah maju selangkah. Sekarang dia berdiri tepat di bibir panggung batu, di bawah Mbak Dewi.

“Mbak ingat tidak?” tanya Lestari, suaranya bergetar. “Waktu kecil, kalau Lestari nangis, Mbak yang selalu nyanyiin Lestari. Lagu Lelo Ledung.”

Mbak Dewi diam. Pemukul di tangannya turun sedikit.

“Lelo ledung... anakku turu...” Lestari mulai nyanyi. Suaranya serak, fals, karena 3 tahun tidak pernah bicara. Tapi nada itu... nada itu menusuk. “...tak emban silir-silir... ben ra udan...”

Satu per satu, mata putih Mbak Dewi... berair. Air mata darah. Netes ke panggung batu. Tess... tess...

Tujuh penabuh gamelan yang tadinya mau bangkit, mendadak diam. Mereka menunduk. Topeng kayu mereka bergetar.

Lagu itu. Lagu itu punya kekuatan.

“...yo wis, anakku... ojo nangis...” Lestari lanjut, air matanya sendiri juga turun. “...Sesuk esuk tak tukokne... wedang ronde...”

BRUK.

Mbak Dewi jatuh berlutut. Pemukul tulang terlepas dari tangannya, menggelinding di panggung batu.

“Mbak...” bisik Lestari. Dia naik ke panggung, berlutut di depan kakaknya. Dia pegang pipi Mbak Dewi yang basah darah. “Lestari capek, Mbak. 3 tahun Lestari nunggu Mbak sadar. Mbak bukan Sipir. Mbak itu korbannya Kuncen tua pertama. Kita berdua korbannya.”

Mbak Dewi nangis. Bukan desisan. Tapi tangisan manusia. Melengking, pilu. “Lestari... Lestari... maafin Mbak... Mbak... Mbak takut sendiri...”

Untuk pertama kalinya, Mbak Dewi ngomong normal. Bukan dengan suara dedemit.

Ini kesempatan.

Rendi nyikut aku. Dia menunjuk ke pemukul tulang yang menggelinding ke pinggir panggung.

Aku ngerti. Aku harus ambil itu.

Pelan-pelan, sambil Mbak Dewi nangis di pelukan Lestari, aku merangkak maju. Jantungku mau copot. Melewati Ardi yang masih di sel, matanya melotot ke arahku. Melewati sel-sel lain yang isinya tumbal-tumbal terdahulu.

Sampai di panggung. Tanganku gemetar mau megang pemukul tulang itu.

Paklik Joyo bilang cuma keturunan atau Sipir yang bisa pegang. Aku manusia biasa.

Tapi harus coba.

Jari telunjukku nyentuh ujung tulang.

SRAKK!!!

Panas. Kayak megang solder. Kulitku langsung melepuh, berasap. “Akh!”

Sakitnya tembus ke tulang. Tapi aku gak lepas. Aku genggam sekalian.

Aaaaaarrrggghhh!!!

Seluruh lenganku serasa dibakar. Bau daging gosongku sendiri menyengat. Tapi pemukul itu keangkat.

Mbak Dewi dan Lestari menoleh kaget. Tujuh penabuh langsung berdiri, mau nyerang.

“JANGAN!” teriak Lestari. Dia berdiri, badan dia pasang di depan aku. “Dia... dia mau nolong kita!”

Mbak Dewi menatapku. Menatap tanganku yang gosong tapi tetap megang pemukulnya. Sorot matanya bingung. “...Kau... manusia... kenapa... mau...”

“Karena gue gak mau jadi tumbal, Mbak!” teriakku nahan sakit. “Dan gue gak mau Ardi di sel selamanya!”

Aku seret pemukul itu ke arah Lestari. “Nih! Lu yang mukul! Lu keturunannya! Lu yang bebasin semua!”

Lestari menatap pemukul di tanganku yang berdarah dan gosong. Lalu dia menatap Lonceng Kyai Setan Kober. Lalu dia menatap kakaknya, Mbak Dewi.

Dia ambil pemukul itu dari tanganku. Enteng. Tidak kebakar sama sekali.

Dia langkahkan kaki ke depan lonceng. Dia angkat pemukul tulang itu tinggi-tinggi.

Tujuh penabuh gamelan menjerit. Tidak. Mereka nyanyi. Nyanyian kematian. Melengking, memohon ampun.

“...Ampun... Lestari... ampun...”

Mbak Dewi memejamkan mata. Air mata darahnya masih mengalir. “Pukul, Dik. Akhiri ini. Mbak udah capek...”

Lestari menarik napas. Dia menatap kami berlima. “Makasih udah datang. Bilang ke Bapak sama Ibuk... Lestari sayang mereka.”

Lalu, dia ayunkan pemukul tulang itu sekuat tenaga.

DUAAAARRRR!!!

Pemukul menghantam Lonceng Kyai Setan Kober.

Bunyinya bukan Tung. Bukan Nang. Bukan Gong.

Bunyinya adalah JERITAN. Jeritan dari ribuan orang. Jeritan tumbal 50 tahun terakhir. Memekakkan telinga, menggetarkan jiwa.

JEDAAARRR!!!

Lonceng itu pecah berkeping-keping. Pecahannya bukan kuningan. Tapi cahaya. Cahaya putih yang sangat silau.

Cahaya itu menyapu seluruh ruangan.

Aaaaaarrrggghhh!!!

Tujuh penabuh gamelan hancur jadi abu pertama kali. Diikuti jeruji sel yang meleleh. Diikuti Ardi dan puluhan tumbal lain di sel, tubuh mereka berubah jadi cahaya lalu hilang. Bebas.

Mbak Dewi menatap Lestari, tersenyum. Senyum tulus pertama dalam 3 tahun. “Makasih... Dik...” Lalu dia juga hancur jadi cahaya.

Lestari yang terakhir. Dia menatap pemukul tulang di tangannya yang ikut jadi abu. Dia menatap kami. Dia tersenyum.

Lalu dia hilang.

Penjara itu runtuh. Bukan runtuh ke bawah. Tapi runtuh ke atas. Menjadi cahaya.

Kami berlima terlempar ke atas oleh ledakan cahaya itu. Melayang menembus lubang sumur, melewati Anjing Gerbang yang juga menjerit dan jadi abu.

BRUK. BRUK. BRUK.

Kami jatuh terduduk di tanah basah di samping sumur tua. Langit di atas... sudah bersih. Gerhana selesai. Purnama bulat sempurna lagi. Tapi cahayanya... putih bersih. Tidak pucat kebiruan lagi.

Sumur tua itu... hilang. Di tempatnya sekarang cuma ada tanah lapang dengan rumput hijau. Seolah tidak pernah ada sumur di sana.

Gerbang sudah ditutup. Selamanya.

Paklik Joyo tergeletak 5 meter dari kami. Pingsan, tapi napas. Hidup.

Kami berlima saling pandang. Badan lecet, tanganku gosong, tapi... hidup. Bebas.

Tidak ada tumbal. Tidak kurang lima. Kami pulang... bawa semua nama.

Kecuali satu. Lestari.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!