Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Senyap
Cakra berdiri mematung di balkon istana . Tatapannya menyapu luas pada sekitar namun pikirannya melayang jauh melampaui batas kerajaan , terseret kembali ke dalam sebuah ingatan yang tak kunjung padam .
Flashback...
Ayunan pedang datang bertubi tubi membelah udara dengan intensitas mematikan . Ditengah denting logam sepasang mata tajam mengunci pandangan Cakra . Meski wajah lawan tersembunyi di balik topeng , Cakra tahu pasti dari lekuk geraknya bahwa sosok di hadapannya adalah seorang wanita.
" Berani sekali kau ikut campur ! siapa kau sebenarnya ? " Wanita itu bertanya dengan nada penuh intimidasi .
" Hentikan kegilaan mu ini Sedra! Kau telah menumpahkan terlalu banyak darah . Katakan , apa tujuanmu yang sebenarnya ? " Cakra menyentakan senjatanya , menghunuskan ujung pedang tepat di depan wajah Sedra .
Sedra pun terkekeh dingin di balik topeng nya .
" Tujuanku tidak penting bagimu ! Siapapun yang berani menghalangi jalanku maka bersiaplah untuk mati ! " Dengan gerakan kilat Sedra menangkis pedang Cakra dan memberikan serangan balik .
Sring!Sring !
Suara pedang yang beradu memekakkan telinga, memercikan bunga api di setiap benturannya . Cakra terus merangsek maju tanpa ampun . Baru kali ini Sedra merasa bertemu lawan yang sepadan .
" CK.., kemampuannya boleh juga . " gumam Sedra dalam hati .
Pertarungan itu kian brutal . Keduanya terus saling hantam tanpa ampun . Raga mereka sudah sama sama remuk oleh luka . Sedra mulai merasakan pandangannya mengabur , tenaganya perlahan terkuras habis .
" Siapa sebenarnya pemuda ini ? Kemampuannya gila . Kalau begini terus aku bisa celaka . " Batin Sedra sembari mencengkram dadanya yang sesak . Darah segar merembes dari sela bibirnya menetes membasahi tanah .
Melihat lawannya mulai goyah Cakra menatap tajam dengan nafas yang memburu .
" Kesombongan mu itu akan jadi lubang kuburmu sendiri Sedra . Aku akui julukan ' Dewi kematian ' memang pantas untukmu . Tapi jangan harap aku gemetar . Aku bukanlah pengecut yang takut pada maut . Aku datang untuk bertaruh nyawa . Bagiku tidak masalah siapa yang akan mati hari ini . "
Sedra menyapu pandangan dengan napas tersengal . Hatinya mencelos melihat pasukannya tengah habis bergelimpangan . Sedra kembali memasang kuda kuda saat Cakra bersiap melesat untuk menyerang .
Namun tepat saat Cakra melesat maju , sesosok bayangan berpakaian serba hitam tiba tiba muncul membelah Medan perang . Dengan satu sentakan tangan , sosok bertopeng itu menebarkan serbuk putih pekat yang meledak di udara , membutakan pandangan Cakra seketika . Sebelum kabut itu sempat menipis orang itu segera menyambar tubuh Sedra dan melesat pergi .
Cakra mengerjapkan mata berkali kali , berusaha menghalau perih saat kabut putih itu mulai menipis . Namun , dihadapannya kini hanya ada kekosongan . Sedra telah lenyap .
" Sial ! " umpatnya , tinjunya terkepal erat karena geram .
Baru saja Cakra hendak berbalik meninggalkan Medan tempur . Sudut matanya menangkap sebuah pergerakan kecil . Di antara tumpukan mayat , seorang prajurit Sedra tanpak masih bernapas meski kondisinya mengenaskan . Cakra menatapnya dingin lalu memberi isyarat pada pasukannya .
" Bawa dia ke istana ! Pastikan dia tidak mati . Kita butuh mulutnya untuk bicara . "
Flash on
Cakra melangkah menuju kamarnya dengan sisa amarah yang masih membekas , namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Rani , putri seorang Adipati yang wilayahnya tunduk pada kerajaannya .
" Pangeran Cakra..." Sapa Rani dengan nada lembut yang di buat buat . mencoba mencuri perhatian dengan tatapan yang menggoda . Cakra tak bergeming bahkan tidak meliriknya sedikitpun . Hal itu membuat Rani mencebik kesal namun dia tak kehabisan cara agar tetap bisa bicara dengan Cakra .
" Pangeran , apa kau sudah dengar tentang rencana perjodohan kita ? Sepertinya bunda ratu belum sempat mengatakannya padamu . " lanjut Rani kata kata kata itu sempat mematik keterkejutan dalam diri Cakra . Namun dia dengan cepat menyembunyikannya dibalik topeng ekspresi yang datar .
" Benarkah ? Lalu apa urusannya denganku ? " Sahut Cakra dingin .
" Kalau memang benar , itu tak lebih dari sekedar tanda tangan di atas kertas politik . Jangan pernah berharap lebih ! " Cakra melayangkan tatapan tajam pada Rani .
" Tapi aku benar benar mencintaimu pangeran ! " balas Rani dengan tatapan sendu , suaranya sedikit bergetar .
Cakra meraih dagu Rani , mencengkramnya cukup kuat hingga gadis itu tersentak . Tatapannya sedingin es saat dia berbisik tepat di hadapan wajah Rani .
" Aku tidak punya kewajiban untuk bertanggungjawab atas perasaanmu itu Putri Rani . " desis Cakra tajam .
" Pikirkan baik baik ! Memaksakan pernikahan ini berarti kau sudah siap untuk kesepian selamanya . Karena jujur saja , aku sama sekali tidak tertarik padamu .
Tanpa menunggu jawaban , Cakra melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar dan berlalu pergi membiarkan Rani terpaku dalam keheningan lorong istana .
***
Malam itu di balik jeruji besi Sedra duduk terdiam dengan pikiran berkecamuk . Ia harus menemukan celah untuk kabur sebelum fajar menyingsing atau nyawanya akan berakhir di tiang gantungan .
Sedra mencoba kembali menggunakan kekuatannya namun nihil sedari tadi semua usahanya itu sia sia .
" Sial ! Aku benar benar tidak bisa menggunakan kekuatanku . Mustahil menerjang kerumunan pengawal itu dengan tangan kosong . Aku harus mencari cara lain . " batinnya gusar .
Di tengah keputusasaannya , derap langkah kaki mendekat . Dua orang pengawal dengan wajah yang tampak familiar berhenti tepat di depan sel nya .
" Nona.., ini kami . " bisik salah satu dari mereka sembari membuka sedikit penutup wajahnya . Ternyata , mereka adalah anak buah Sedra dari kawanan bandit yang berhasil menyamar dan menyelinap ke dalam istana .
" Kalian ! " Sedra terperanjat matanya membelalak tak percaya .
" Kami sudah tau semuanya nona tentang pengkhianatan pangeran Elias padamu ." Nona harus kabur sekarang juga . Di luar sana sangat kacau nona , kau telah menjadi buronan yang paling di cari sekarang . " lapor salah satu dari mereka dengan raut wajah cemas .
" Benar , Nona . " timpal yang lain dengan nada geram .
" Selama ini pengeran licik itu menggerakkan pasukannya untuk merampok kerajaan-kerajaan kecil lalu mencuci tangan dengan mengatasnamakan nona Sedra . "
Tangan Sedra bergetar menahan amarah yang meledak di dadanya . Darahnya mendidih seketika , informasi itu membuat nya sadar betapa licik dan busuknya pangeran Elias . Selama ini Elias hanyalah parasit yang berpesta di atas penderitaan perang . Pria itu memanfaatkan kekacauan saat para raja dan prajurit bertaruh nyawa di Medan perang hanya untuk menjarah harta mereka .
Sedra memejamkan mata di dera rasa sesal yang menyesakkan . Ia merasa begitu bodoh karena secara tidak langsung telah membukakan jalan bagi Elias untuk melancarkan aksi busuknya .
Namun ia tak punya waktu untuk meratapi penyesalan . Sedra segera mendekat ke jeruji besi , memberi isyarat agar kedua anak buahnya mendekat . Dengan suara serendah mungkin , ia membisikkan instruksi tajam , menyusun sebuah rencana pelarian senyap yang harus berjalan sempurna tanpa memicu keributan sedikitpun .
Bersambung....
🍒🍒🍒