NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:348
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Mulai Dicari

Hujan malam itu akhirnya berhenti.

Tapi tidak dengan pikiran Arsenia.

Ia masih berdiri di depan jendela apartemennya, memandangi kota yang perlahan kembali hidup. Lampu-lampu jalan menyala seperti bintang buatan manusia, dingin dan teratur—tidak seperti perasaan yang kini mengganggunya.

Satu pertemuan.

Hanya satu kejadian singkat di jalan.

Tapi entah kenapa… terasa seperti sesuatu yang belum selesai.

Arsenia tidak menyukai hal yang “menggantung”.

Ia terbiasa dengan kepastian. Dengan kontrol. Dengan akhir yang jelas.

Dan pria itu…

Raka.

(Tanpa ia sadari, ia sudah mulai mengingat nama itu, meskipun belum pernah mendengarnya.)

Ia menarik napas dalam, lalu meletakkan gelas wine di meja tanpa menyentuhnya.

“Ini konyol,” gumamnya pelan.

Tapi tetap saja… ia tidak bisa berhenti memikirkan.

Sementara itu, di sisi kota yang berbeda, Raka duduk di lantai kamar kontrakannya yang sempit.

Lampu redup. Dinding lembap. Atap sedikit bocor.

Hidupnya jauh dari kata nyaman.

Tapi ia terlihat… baik-baik saja.

Ia membuka plastik makanan yang tadi ia beli, lalu mulai makan perlahan. Tidak ada meja. Tidak ada kursi. Hanya lantai dan kebiasaan.

Namun pikirannya sempat kembali ke kejadian tadi sore.

Mobil hitam itu.

Wanita itu.

Tatapan dingin itu.

Raka berhenti makan sejenak.

“Galak banget…”

gumamnya sambil tersenyum kecil.

Bukan senyum kagum.

Lebih seperti… heran.

Ia menggeleng pelan, lalu kembali makan.

Baginya, itu hanya kejadian lewat.

Besok hidup akan tetap sama.

Ia tetap harus bekerja. Tetap harus bertahan.

Dan wanita seperti itu?

Bukan bagian dari dunianya.

Keesokan paginya.

Gedung Valen Corp kembali sibuk seperti biasa.

Para karyawan berjalan cepat, membawa dokumen, menunduk hormat saat Arsenia lewat. Tidak ada yang berani menatap terlalu lama.

Hari itu seharusnya sama seperti hari lainnya.

Tapi tidak bagi Arsenia.

Ia duduk di kursinya, menatap layar laptop… tanpa benar-benar membaca.

Fokusnya terpecah.

Sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Tok.

Tok.

Pintu diketuk.

“Asisten Anda sudah datang, Nona.”

“Masuk.”

Seorang wanita muda masuk dengan tablet di tangan. Profesional. Cepat. Efisien.

“Laporan yang Anda minta…”

Ia berhenti saat melihat ekspresi Arsenia.

Ada sesuatu yang berbeda.

“Mana?” tanya Arsenia singkat.

Asisten itu meletakkan tablet di meja.

“Kami sudah mencoba mencari berdasarkan deskripsi, tapi—”

“‘Mencoba’ bukan hasil.”

Nada suaranya kembali dingin. Tajam. Familiar.

Asisten itu langsung menunduk. “Maaf, Nona. Kami akan memperluas pencarian.”

Arsenia menatap layar.

Kosong.

Tidak ada data.

Tidak ada identitas.

Tidak ada jejak.

Seolah pria itu… tidak pernah ada.

Dan itu membuatnya semakin terganggu.

“Cari lebih dalam,” katanya pelan, tapi tegas. “Gunakan semua akses yang kita punya.”

Asisten itu sedikit ragu. “Untuk… satu orang?”

Arsenia mengangkat pandangannya.

Tatapan itu cukup untuk membuat siapa pun berhenti bertanya.

“Ya. Untuk satu orang.”

Di luar sana, tanpa ia sadari, orang yang ia cari justru sedang melakukan hal yang sangat sederhana.

Raka berdiri di pinggir jalan, menawarkan jasa membantu mengangkat barang ke sebuah toko kecil.

“Kiri sedikit, Pak… iya, nah, di situ,” katanya sambil tersenyum.

Keringat bercampur debu.

Tidak ada jas mahal. Tidak ada ruangan ber-AC.

Tapi ada sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang di dunia Arsenia—

ketulusan.

Seorang ibu-ibu memberinya uang.

“Terima kasih ya, Nak.”

Raka mengangguk. “Sama-sama, Bu.”

Ia melihat uang di tangannya. Tidak banyak.

Tapi cukup.

Selalu cukup.

Sore hari.

Arsenia kembali duduk di mobilnya.

Kali ini, ia tidak langsung menyalakan mesin.

Matanya menatap ke luar jendela.

Ke arah jalan.

Ke arah… tempat kemarin.

Sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk kembali ke sana.

Bukan karena ia peduli.

Bukan.

Ia hanya… tidak suka sesuatu yang belum selesai.

Itu saja.

“Cari dia,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Dan tanpa ia sadari—

itu bukan lagi tentang rasa terganggu.

Itu sudah mulai menjadi… rasa penasaran.

Beberapa menit kemudian, mobil hitam itu kembali melaju.

Menuju jalan yang sama.

Menuju tempat di mana dua dunia pernah bertabrakan.

Dan di sisi lain…

Raka berjalan santai, membawa dua kantong plastik.

Ia tidak tahu.

Bahwa seseorang sedang mencarinya.

Seseorang yang tidak pernah ia bayangkan akan kembali hadir dalam hidupnya.

Seseorang yang akan—

mengubah segalanya.

Langit mulai gelap lagi.

Dan tanpa disadari siapa pun…

hujan pertama mereka

belum benar-benar selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!