Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melanjutkan Perjalanan
Malam itu, jarum jam di dinding ruang tamu seakan berdetak lebih keras dari biasanya, memukul-mukul kesadaran Rania yang mulai terkoyak oleh kecemasan. Aris, sahabatnya di kepolisian, belum memberikan kabar pasti mengenai laporan kecelakaan. "Sabar, Ran. Aku sedang koordinasi dengan Lantas wilayah Jakarta Timur dan Bekasi. Sejauh ini belum ada laporan SUV perak yang terlibat insiden besar," kata Aris di telepon satu jam yang lalu.
Namun, kata "sabar" adalah obat penawar yang paling tidak manjur bagi seorang dokter yang terbiasa bertindak cepat. Rania tidak bisa hanya duduk diam menatap gorden yang tertiup angin malam. Ia meraih kunci mobilnya, mengenakan jaket tebal di atas kemeja kerjanya yang mulai kusut, dan menyambar tas medis kecil yang selalu ia bawa di bagasi.
"Cikarang," bisiknya pada diri sendiri. "Dia bilang Cikarang."
Rania mengingat-ingat percakapan pagi tadi. Damar menyebutkan proyek baru di pinggiran Cikarang, sebuah kawasan industri yang luas dan seringkali membingungkan bagi mereka yang jarang ke sana. Ia membuka laptop suaminya yang tertinggal di ruang kerja. Beruntung, Damar bukan tipe pria yang protektif terhadap kata sandi; tanggal pernikahan mereka menjadi kunci pembuka rahasia itu.
Setelah mencari di riwayat pencarian dan folder dokumen terbaru, Rania menemukan satu nama: "Proyek Pergudangan Delta Mas – Tahap 1". Ada koordinat lokasi yang tersimpan di sana. Tanpa membuang waktu, Rania mengirimkan lokasi itu ke ponselnya dan segera memacu mobilnya membelah malam menuju jalan tol Jakarta-Cikampek.
Perjalanan itu terasa sangat panjang. Lampu-lampu jalan tol yang kuning pucat melesat di samping jendela, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Pikiran Rania berkecamuk. Ia membayangkan skenario terburuk: mobil Damar keluar jalur, terjebak di semak-semak yang gelap, atau mungkin Damar sedang pingsan di dalam kemudi karena kelelahan.
"Tolong, Tuhan... jangan sekarang," Rania meremas kemudi hingga buku jarinya memutih.
Setelah hampir satu jam berkendara, Rania keluar dari gerbang tol Cikarang Pusat. Suasana di sini sangat berbeda dengan Jakarta yang terang benderang. Jalanan luas dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi pabrik dan lahan-lahan kosong yang masih tertutup ilalang tinggi. Penerangan jalan sangat minim di beberapa titik, membuat Rania harus berkali-kali memicingkan mata melihat navigasi di ponselnya.
Sesuai koordinat, mobilnya berbelok ke sebuah jalan aspal yang belum sempurna, penuh dengan kerikil dan debu konstruksi. Di ujung jalan itu, terlihat pagar seng tinggi yang mengelilingi sebuah area luas. Sebuah papan kayu besar terpampang di depan gerbang: PT Bangun Sejahtera – Proyek Pembangunan Gudang Logistik.
Rania menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang yang tertutup rantai besar. Mesin mobil ia matikan, dan seketika kesunyian yang mencekam menyelimuti. Tidak ada lampu sorot proyek yang menyala. Hanya ada satu lampu neon kecil yang berkedip-kedip di pos jaga yang tampak sepi.
Rania keluar dari mobil, kakinya menginjak tanah yang becek sisa hujan sore tadi. "Halo? Permisi!" teriaknya. Suaranya tertelan oleh suara jangkrik dan deru jauh mesin pabrik dari blok sebelah.
Seorang pria tua dengan seragam petugas keamanan yang kendor keluar dari pos jaga sambil menyipitkan mata, menghalau cahaya lampu mobil Rania dengan tangannya. "Iya, siapa ya malam-malam begini?"
"Selamat malam, Pak. Saya Rania, istri Pak Damar. Pak Damar dari PT Bangun Sejahtera," Rania mendekat dengan langkah terburu-buru. "Apakah Pak Damar ada di dalam? Atau tadi pagi beliau ke sini?"
Petugas keamanan itu mengerutkan dahi, tampak bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Pak Damar? Kontraktor utamanya?"
"Iya, Pak. Suami saya. Dia bilang hari ini ada jadwal mengecek material dan lokasi proyek di sini."
Pria tua itu menggeleng perlahan, sebuah gerakan yang membuat jantung Rania seolah merosot ke lambung. "Aduh, Ibu... sepertinya ada salah paham. Hari ini proyek libur total. Alat berat pun belum datang. Saya sudah jaga dari jam tujuh pagi tadi, dan gerbang ini tidak pernah dibuka untuk siapa pun."
Rania terpaku. Dunia seolah berputar lambat. "Maksud Bapak? Tidak mungkin. Suami saya berangkat jam delapan pagi dari rumah. Dia bilang ada material yang datang jam delapan tepat di lokasi ini."
"Material? Tidak ada pengiriman hari ini, Bu. Jadwal material baru minggu depan setelah perataan tanah selesai. Lihat saja ke dalam," petugas itu membuka sedikit celah pagar seng.
Rania merangsek masuk, tidak peduli dengan sepatu kerjanya yang kini terlumur lumpur hitam. Ia menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya senter itu menyapu hamparan tanah merah yang luas. Kosong. Tidak ada tumpukan semen, tidak ada besi beton, dan yang paling menyakitkan: tidak ada SUV perak milik Damar.
Tanah merah itu masih sangat halus, tidak ada bekas ban mobil yang masuk atau keluar selain jejak kaki petugas keamanan tadi. Area itu benar-benar mati. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, apalagi aktivitas seorang kontraktor handal yang sedang mengawasi proyek.
"Bapak yakin tidak ada mobil SUV perak yang datang tadi pagi? Mungkin dia parkir di sisi lain?" Rania bertanya dengan suara yang mulai bergetar karena panik yang memuncak.
"Saya yakin seratus persen, Bu. Saya bosan jaga sendirian di sini dari pagi, kalau ada mobil masuk pasti saya sudah senang ada teman bicara. Sepanjang hari ini, jalan di depan proyek ini sepi sekali. Hanya ada satu-dua motor warga yang lewat," jelas petugas itu dengan nada simpati.
Rania terduduk di atas sebuah potongan kayu besar di pinggir proyek. Napasnya pendek-pendek. Kebohongan. Kata itu menghantamnya dengan keras. Damar telah berbohong.
Suaminya yang jujur, yang tidak pernah merahasiakan apa pun, telah menyusun sebuah narasi palsu tentang "proyek Cikarang" dan "pengiriman material" hanya untuk memiliki alasan keluar dari rumah. Mengapa? Jika dia tidak ke sini, lalu ke mana dia pergi?
Rania mencoba memutar kembali memori pagi tadi. Kecupan itu. Tatapan dalam yang diberikan Damar sebelum berangkat. Ia mulai menyadari bahwa ketenangan Damar pagi tadi bukanlah ketenangan orang yang akan bekerja, melainkan ketenangan orang yang sudah mengambil keputusan besar.
"Bu? Ibu tidak apa-apa?" petugas keamanan itu mendekat, tampak khawatir melihat Rania yang mendadak pucat pasi.
Rania tidak menjawab. Ia meraih ponselnya dan kembali menelepon nomor Damar. Tetap tidak aktif. Ia kemudian menelepon Aris.
"Aris... dia tidak ada di sini," isak Rania pecah saat suara Aris terdengar di seberang sana. "Damar berbohong, Ris. Lokasi proyek ini kosong. Penjaganya bilang tidak ada siapa pun yang datang seharian ini. Dia tidak pernah sampai ke sini."
Di seberang telepon, Aris terdiam sejenak. Rania bisa mendengar suara ketikan keyboard yang cepat. "Ran, dengarkan aku. Kamu harus tenang. Kalau dia tidak sampai ke lokasi proyek, berarti ada sesuatu yang terjadi di tengah jalan atau... atau dia sengaja mengalihkan tujuannya. Aku baru saja mendapatkan data koordinat terakhir ponselnya sebelum mati."
"Di mana?" tanya Rania cepat.
"Ponselnya mati pukul 10.15 pagi. Lokasi terakhir tertangkap di menara seluler dekat perbatasan Bogor-Sukabumi. Itu jauh sekali dari arah Cikarang, Ran. Itu arah yang berlawanan."
Rania merasa seolah-olah dia sedang tenggelam di air yang sangat dingin. Paru-parunya sesak. Damar tidak hanya tidak sampai ke proyek; dia sengaja pergi ke arah yang sangat berbeda. Menuju daerah pegunungan yang terpencil.
"Ran? Kamu masih di sana?" suara Aris terdengar cemas.
"Aku akan ke sana, Aris. Aku akan menyusul ke koordinat itu," kata Rania dengan suara datar, seolah jiwanya sudah mati rasa.
"Jangan gila! Ini sudah jam sebelas malam. Medan di sana berat dan banyak hutan. Kamu pulang sekarang, biar aku dan tim yang bergerak besok pagi. Rania, dengarkan aku sebagai sahabatmu!"
Namun Rania sudah tidak mendengarkan lagi. Ia mematikan teleponnya. Ia memandang ke hamparan tanah merah yang gelap di depannya. Tempat yang seharusnya menjadi masa depan suaminya, kini hanya menjadi saksi bisu atas sebuah pengkhianatan kecil yang mengawali misteri besar.
Ia bangkit, membersihkan debu di celananya dengan gerakan mekanis. Petugas keamanan itu menatapnya dengan iba saat Rania berjalan kembali ke mobilnya.
"Bu, hati-hati di jalan. Mungkin Pak Damar hanya salah jalan atau... ada urusan mendadak," hibur pria tua itu, meski ia sendiri ragu dengan ucapannya.
Rania masuk ke dalam mobil, namun ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap kursi penumpang di sebelahnya, tempat yang biasanya diisi oleh Damar dengan tawa dan cerita tentang hari-harinya. Kini, kursi itu kosong dan dingin. Ia meraba dashboard, mencari-cari sisa aroma Damar yang mungkin tertinggal.
Di dalam laci dashboard, ia menemukan sebuah bungkus permen karet yang sudah kosong dan sebuah pulpen yang sering digunakan Damar. Benda-benda kecil ini seolah mengejeknya. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu nyata, begitu hadir dalam setiap hembusan napasnya, bisa menghilang begitu saja dalam hitungan jam? Dan yang lebih menyakitkan, bagaimana mungkin dia sanggup menatap mata Rania di pagi hari dan memberikan kecupan cinta sambil menyimpan sebuah rencana untuk tidak pernah kembali?
Rania menyalakan mesin mobilnya. Cahaya lampu mobilnya kembali menyapu gerbang proyek yang kosong itu. Ia memutar balik mobilnya dengan kasar, menimbulkan bunyi decit ban di atas kerikil.
Pikirannya kini terobsesi dengan satu hal: Bogor. Perbatasan Sukabumi. Tempat di mana sinyal suaminya mati. Ia tidak akan pulang ke rumah mereka yang sunyi. Ia tidak akan menunggu Aris. Sebagai seorang dokter bedah, ia tahu bahwa setiap detik sangat berharga dalam menyelamatkan nyawa—dan saat ini, ia merasa sedang mencoba menyelamatkan sisa-sisa hidupnya yang hancur.
Ia memacu mobilnya kembali ke arah jalan tol, namun kali ini tujuannya bukan lagi rumah. Ia menuju kegelapan yang lebih pekat, menuju sebuah rahasia yang bahkan dalam mimpi terburuknya pun, tidak pernah ia bayangkan akan ia temukan.
Di bawah lampu jalan tol yang mulai berkabut, Rania terus menangis tanpa suara. Setiap tarikan napasnya terasa perih. Kecupan terakhir Damar pagi tadi terus terbayang-bayang, kini tidak lagi terasa hangat, melainkan terasa seperti sebuah tanda titik yang diletakkan Damar di akhir kalimat pernikahan mereka, sementara Rania masih ingin menulis bab-bab selanjutnya.
Perjalanan malam itu baru saja dimulai, dan di kejauhan, petir mulai menyambar di langit selatan, seolah memberi peringatan bahwa badai yang sebenarnya baru saja akan menerjang hidup Rania.