NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IBLIS YANG TAK DIHARAPKAN

Layar LED besar yang berfungsi sebagai mading digital di lobi Fakultas Psikologi biasanya hanya menampilkan jadwal seminar yang membosankan atau ucapan selamat ulang tahun untuk dekan. Namun pagi ini, kerumunan mahasiswa yang memadati depan layar itu jauh lebih riuh dari biasanya. Sebuah pengumuman resmi terpampang dengan latar belakang biru tua yang kaku:

PENGUMUMAN PERUBAHAN DOSEN PENGAMPU

Mata Kuliah            : Psikologi Sosial (Kelas B & E)

Dosen Sebelumnya: Dr. Dodi Setiadi, M.Si.

Dosen Pengganti.  : Adi Pratama, Ph.D.

Berlaku efektif mulai pertemuan minggu ini.

Kabar itu menyebar lebih cepat daripada koneksi Wi-Fi kampus. Di lantai dua, Ana sedang berjalan menuju kantin saat ponsel di saku celananya bergetar tanpa henti. Rentetan notifikasi dari grup WhatsApp kelasnya meluap.

Grup: PSI-SOS KELAS B

Bagas (Ketua Kelas): Guys, pengumuman di mading digital fix ya. Pak Dodi nggak pegang kelas kita lagi karena ada restrukturisasi jadwal dosen senior. Penggantinya... Pak Adi Pratama.

Andini: Pak Adi yang lulusan Australia itu?! Yang minggu lalu bikin anak semester 5 nangis pas asistensi?

Tyo: Innalillahi... tamat riwayat kita. Aku denger dia nggak kenal kata "her" atau remedial.

Bagas: Jangan ada yang telat Selasa besok. Dia minta daftar hadir disetor lima menit setelah kelas dimulai.

Ana hanya melirik layar ponselnya sekilas, lalu memasukkannya kembali ke saku dengan gerakan malas. "Lebay deh ah!," gumamnya pelan.

PERBINCANGAN HANGAT DI KANTIN

Di kantin, suasana tidak kalah panas. Tya sudah duduk lebih dulu dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan lemas saat Ana dan Andini datang.

"Gila, beneran Pak Adi yang pegang kelas kita," Tya memulai obrolan dengan nada meratap. "Aku denger dia tipe yang bakal kasih nilai D kalau kita telat masuk satu menit aja. Dia itu perfeksionis yang sakit jiwa."

"Gila emang... ini Pak Adi yang bikin mbak Ratih nangis pas sidang skripsi, kan?" bisik Andini kepada Ana dengan suara sekecil mungkin, wajahnya pucat.

Ana hanya mendengus, menarik kursi di depan Tya lalu menyesap es tehnya yang sudah tinggal es batu, menciptakan bunyi berisik dari sedotannya. "Mau Pak Adi, Pak Fandi, atau Pak siapapun, selama kita ngerjain tugas dan ikut ujian, dia nggak punya alasan buat nggak meluluskan kita, kan? Kita bayar UKT buat kuliah, bukan buat ditakut-takuti."

"Masalahnya, Na," Andini menimpali dengan wajah pucat, tangannya sibuk mengaduk-aduk bakso yang bahkan belum ia cicipi, "dia nggak cuma nilai tugas. Kabarnya dia juga nilai 'sikap' atau performa di kelas secara subjektif. Dan kamu tahu sendiri..." Andini menjeda kalimatnya, menatap Ana ragu.

"Apa?" tanya Ana galak.

"Muka kamu kalau lagi diem atau lagi dengerin penjelasan dosen itu... kayak ngajak berantem, Na. Jutek banget. Dosen model Pak Adi pasti bakal ngerasa tertantang kalau liat ekspresi kamu yang kayak gitu," lanjut Andini jujur.

Ana memutar bola matanya dengan malas, memberikan tatapan yang justru membuktikan ucapan Andini barusan. "Itu masalah dia, bukan masalah aku. Kalau dia tersinggung cuma gara-gara muka orang, berarti dia yang kurang profesional sebagai psikolog."

Tanpa Ana sadari, percakapannya di kantin hari itu adalah sebuah ramalan. Bahwa di hari Selasa nanti, "sikap" yang ia banggakan akan menjadi sumbu ledak pertama dalam pertemuannya dengan sang dosen killer.

*

PERTEMUAN PERTAMA

Selasa pagi, kelas Psikologi Sosial dimulai. Suasana tidak seramai biasanya. Ada banyak rasa penasaran yang menggantung di udara. Pagi itu Ana duduk ditengah-tengah antara kedua teman dekatnya di kelas, Tya dan Andini.

Tepat jam delapan pagi, pintu kelas terbuka. Bukan dengan hentakan keras, tapi dengan dorongan yang tenang dan pasti.

Langkah kaki yang mantap terdengar beradu dengan lantai keramik.

Seketika, suara bisik-bisik di kelas meredup, lalu hilang sama sekali. Suasana berubah menjadi sunyi yang mencekam, tipe kesunyian yang biasanya hanya terjadi saat ujian. Ana, yang masih fokus membetulkan letak kursor di laptopnya, akhirnya ikut mendongak karena merasa suasana mendadak dingin. Begitu kepalanya terangkat, jantungnya seolah melompat keluar dari tempatnya. Pria itu berdiri di sana.

Pak Adi.

Posturnya tinggi tegap sempurna dalam balutan kemeja biru navy yang pas di tubuh. Kacamata tipisnya bertengger di pangkal hidung, membingkai matanya yang tenang. Tidak ada senyum ramah khas Pak Dodi. Yang ada hanyalah ekspresi datar yang profesional, namun entah kenapa... Meski keberadaanya nampak sangat mengintimidasi, namun kegantengannya memang sangat sulit diabaikan!.

Sungguh menyebalkan, bukan?

Kenapa harus dia sih? Dari sekian banyak dosen di fakultas ini, kenapa harus si 'killer' ini? Runtuk Ana dalam hati.

Adi meletakkan map kulit berwarna hitam di atas meja dosen dengan suara pelan namun terdengar jelas di ruangan yang hening itu. Ia menyapu pandangan ke seluruh penjuru kelas.

"Selamat pagi semuanya," suaranya bariton, tenang, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

"Selamat pagi, Pak..." jawab mahasiswa serentak dengan nada ragu.

"Perkenalkan. Saya Adi Pratama. Saya diminta oleh dekanat untuk mengajar mata kuliah Psikologi Sosial di semester ini."

Ia berhenti sejenak, membiarkan informasi itu meresap ke otak mahasiswa yang mulai panik.

Ana menatap lurus ke depan, mencoba bersikap seolah ia hanyalah butiran debu di kursi tengah. Namun, sial baginya, Adi bukan tipe orang yang melewatkan detail.

Saat mata Adi menyapu barisan tengah, tatapannya berhenti. Sedikit lebih lama dari mahasiswa lainnya. Sudut matanya menangkap sosok gadis yang dulu menatapnya penuh permusuhan di koridor. Hari ini gadis itu tidak memakai kemeja maroon, tapi Adi bisa merasakan aura "siap berperang" itu masih tersirat di wajah cantiknya.

Adi menaikkan alisnya hampir tak terlihat. Sebuah seringai tipis, sangat tipis hingga mungkin hanya Ana yang menyadarinya, muncul di wajah dosen itu.

"Karena ini pertemuan pertama kita," Adi membuka daftar presensi, "saya tidak akan membuang waktu dengan basa-basi. Saya ingin tahu sejauh mana bekal kalian untuk mengikuti kelas saya.

Kalimat itu pedas. Beberapa mahasiswa menelan ludah.

"Kita mulai dengan pemanasan sederhana," lanjut Adi sambil menutup mapnya. Ia tidak butuh buku teks. Semua teorinya seolah sudah tersimpan di luar kepala.

Ia berdiri bersandar di pinggir meja, melipat tangan di dada. Matanya kembali mengunci target di barisan tengah.

"Kamu," tunjuknya pada seorang mahasiswa laki-laki di depan Ana. "Coba jelaskan secara singkat namun substansial, apa yang dimaksud dengan konstruksi sosial dalam perspektif Peter L. Berger."

Mahasiswa yang ditunjuk langsung gelagapan. "Anu, Pak... itu... konstruksi sosial adalah... emm, kenyataan yang dibuat masyarakat..."

"Itu jawaban anak SMA," potong Adi dingin. "Saya mau analisis, bukan definisi kamus."

Kelas makin mencekam. Ana bisa merasakan aura kepanikan teman-temannya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Setelah beberapa mahasiswa ditunjuk oleh Adi untuk memberikan pendapat, selanjutnya dengan alasan waktu yang sudah semakin menipis, Adi akhirnya meminta satu per satu hanya memperkenalkan diri secara singkat.

Saat tiba giliran Ana memperkenalkan diri, Ana merasakan tatapan intens Adi kepadanya dengan kilatan yang sulit diartikan, Ana merasa bahwa pria itu menyadari keberadaanya yang... Tentu saja tidak menyukainya.

Dalam hati, Ana merutuki nasibnya.

Kehadiran Adi di kelas ini bisa jadi bencana besar bagi kenyamanan hidupnya sebagai mahasiswa yang biasanya santai, di sini seakan Ana baru saja memasuki neraka akademik yang dipimpin oleh seorang iblis tampan bernama Adi Pratama.

Ini baru hari pertama, Ana sudah merasa ingin bolos sampai akhir semester.

Tanpa Ana sadari, di sisi lain, Adi mencatat nama "Ana" di dalam pikirannya. Bukan sebagai mahasiswa biasa, tapi sebagai sesuatu yang ia rasakan seperti tantangan menarik yang ia temui sejak kembali ke tanah air.

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!