Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.
Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.
Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.
Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.
Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2.
Brak!!
Esther menutup pintu dengan cepat, begitu ia mendorong pria tidak ia kenal itu ke dalam ruangan, yang bertepatan akan di buka oleh pria tersebut.
Ia pun bernafas dengan lega, setelah berada di dalam ruangan di balik pintu itu.
Ia akhirnya dapat bersembunyi dari pria mesum yang mengejarnya.
Tapi ia tidak sadar, saat ini ancaman lainnya sedang menantinya.
Ia tengah menekan tubuh pria asing ke daun pintu ruangan tersebut.
Ia sendiri tidak tahu tempat apa, ruangan milik pria asing, yang saat ini ia menumpang sembunyi.
"Ma.. maaf, Tuan! a.. aku sudah lancang masuk ke dalam ruangan Tuan, a.. aku hanya sebentar saja sembunyi di sini!"
Suara serak Esther mencoba menjelaskan, atas kelancangannya mendorong pria itu masuk ke dalam ruangan milik pria tersebut.
Ia memaksakan diri tetap fokus, walau pikirannya sudah mulai tidak dapat mengendalikan dirinya, yang terasa semakin panas.
Ia mencoba untuk menjauhkan dirinya dari pria tersebut, tapi tangannya tidak dapat ia kendalikan, yang berusaha untuk membuka pakaiannya.
"Sungguh berani kamu! siapa yang memerintahkan mu untuk menggodaku, Hah?! apa laki-laki yang tadi mengejarmu? kalian berpura-pura saling tidak kenal, ya?!"
Suara pria itu terdengar dingin dan serak, mencengkram pergelangan tangan Esther dengan kuat.
Ia menatap tajam Esther dengan matanya yang terlihat sayu.
Pria itu sama seperti yang tengah di alami Esther, tubuhnya juga terasa panas dan sangat tidak nyaman.
Esther meringis kesakitan, karena tangan lelaki itu mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat.
"Akh! aku tidak mengerti apa yang Tuan katakan! a.. aku... akh!!"
Pria itu menarik tangan Esther, sehingga tubuhnya membentur tubuh pria tersebut.
Aroma tubuh Esther terhirup pria itu, sehingga ia tidak dapat mengontrol dirinya.
Tubuhnya semakin panas, dan bereaksi dengan wangi khas aroma tubuh Esther.
Tangannya kemudian merangkul pinggang Esther, dan nafasnya mulai terdengar memburu oleh gairah.
Tekanan jemarinya pada pinggang Esther, membuat ia sangat ingin sekali menyentuh tubuh Esther.
Matanya yang sedikit redup, menatap nanar bibir Esther yang setengah terbuka.
Dan gairah pada tubuhnya semakin kuat ingin mencium bibir Esther.
Nafasnya terdengar semakin memburu, saat Esther menggeliat kan tubuhnya, karena semakin tidak dapat juga mengendalikan diri.
Jemari Esther menyentuh leher pria itu, dan menaikkan tubuhnya di atas ujung kakinya, agar dapat mengecup leher pria itu.
"Ahhh... !"
Suara mendesah pria asing itu terdengar, saat bibir Esther mengecup jakunnya.
Tubuhnya bergetar oleh gairah, membuatnya mendongakkan kepalanya ke atas, untuk membiarkan Esther mengecup lehernya.
Tubuh bagian bawah pria itu semakin bergairah, saat jemari Esther menyusup ke tengkuknya, dan mengelus anak rambutnya di sana.
Ia pun menerkam bibir Esther, dan kemudian mengulumnya dengan dalam.
Esther yang sudah dikuasai oleh obat afrodisiak, membalas ciuman pria itu dengan lebih bergairah.
Sekali angkat tubuh Esther pun diangkat pria itu dengan begitu ringannya.
Tubuh Esther terhempas ke atas tempat tidur, dengan nafas memburu.
Panas yang aneh dalam tubuhnya, membuat ia meliukkan tubuhnya, dengan bibir basahnya setengah terbuka.
Dan berupaya membuka gaun yang ia pakai, agar terlepas dari tubuhnya.
"Akh.. !"
Pria itu menarik satu tangan Esther, dengan nafas yang terdengar memburu, ia menyematkan sebuah cincin pada salah satu jemari Esther.
Kemudian ia dengan cepat menanggalkan pakaiannya, tanpa tersisa satu pun.
Esther melemparkan gaun seksinya ke samping, dan bibirnya kembali diterkam oleh pria tersebut.
Lidah pria itu masuk ke dalam mulut Esther, dan mereka saling memilin lidah, serta saling menyesap, dengan suara mendesah yang terdengar tiada henti.
Esther semakin tidak dapat mengontrol dirinya, membiarkan saja tangan pria itu meremas benda kembar pada dadanya.
Ia memejamkan mata membalas setiap ciuman dalam pria itu, yang semakin membuat bibirnya basah oleh air liur mereka berdua.
Tangan pria itu kemudian membelai rusuk, dan turun ke perut Esther, lalu semakin turun ke bawah menyentuh milik Esther yang sudah lembab.
"Ahhh.. !!"
Esther mendesah dengan mata terpejam, dengan bibir setengah terbuka, saat bibir pria itu mengecup lehernya, dan sementara jemari pria tersebut tengah mengelus miliknya di bawah sana.
Panas pada tubuh Esther, membuat ia ingin meledak, dan menginginkan pria itu memasuki dirinya.
Pria yang tengah mengecup seluruh tubuhnya, juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Esther.
Tangannya pun melepaskan pakaian dalam tipis milik Esther, dan melemparkannya ke sembarang arah.
Bibirnya yang masih mengecup tubuh Esther, perlahan mengangkat tubuhnya, dan tangannya membuka kaki Esther dengan lebar.
Miliknya yang sudah ereksi sedari tadi, menggesek milik Esther sebelum ia menerobos milik Esther yang sudah begitu lembab.
Pengaruh obat afrodisiak yang kuat, membuat Esther tidak terlalu menjerit kesakitan, saat miliknya dirobek milik pria tidak dikenalnya itu.
Ia hanya mengeluarkan suara mendesah, yang terdengar menahan rasa sakit.
Setelah pria itu memasuki tubuhnya, dan menggerakkan pinggulnya, tubuh mereka terasa semakin melayang.
Mereka tiada henti saling mendesah, dengan bibir setengah terbuka menikmati sensasi yang begitu nyaman di bawah sana.
Esther yang terbuai oleh pengaruh obat afrodisiak, tidak menyadari keperawanannya telah diambil pria tidak ia kenal.
Mereka melakukannya beberapa kali, sampai tubuh mereka kelelahan, dan ambruk dengan tubuh berkeringat.
Sekitar lima belas menit berlalu, tangan pria itu menarik tubuh polos Esther, yang sudah tertidur masuk ke dalam pelukannya.
Aroma tubuh Esther sangat nyaman dihirup pria itu, membuat tubuhnya terasa sangat rileks.
Pagi hari.
Esther perlahan membuka matanya.
Tubuhnya tidak dapat ia gerakkan, dan ia pun menyadari, kalau tubuhnya di peluk seseorang.
Matanya seketika membulat, saat ia melihat siapa yang memeluk tubuhnya.
Ia melihat wajah tampan seorang pria dewasa berbaring di sampingnya, dengan satu tangan pria itu berada di bawah lehernya.
Dan tangan satu lagi merangkul pinggangnya, dalam selimut yang menutupi mereka berdua.
Esther menggeser tubuhnya, dan sontak ia merasakan sekujur tubuhnya begitu sakit.
Terutama di bagian selangkangannya.
Esther mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, dan kenapa ia bisa tidur dengan seorang pria dewasa.
Perlahan ia pun mengingat, kalau ia di bawa Vera menemui Bos perusahaan Vera bekerja.
Vera memberi ia segelas air putih, dan ia kemudian merasa pusing, lalu ia dikejar pria mesum, lalu ia menabrak seorang pria tidak ia kenal.
Akhirnya Esther pun tersadar sepenuhnya, apa yang terjadi padanya saat ini.
Ia pun merasa panik, dan mencoba untuk keluar dari pelukan pria yang tidak ia kenal tersebut.
Dengan pelan, dan hati-hati tangannya menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh mereka.
Mata Esther membulat tidak percaya, melihat tubuh polosnya bersama pria tersebut, setelah selimut ia singkapkan.
Tubuh polos pria itu terlihat begitu berotot, dengan miliknya yang terlihat seperti ereksi walau terjuntai layu.
Esther mengedipkan matanya.
Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat milik seorang pria.
Dengan pelan dan hati-hati, Esther menyingkirkan tangan lelaki itu dari merangkul pinggangnya.
Saat ia akan bergerak menjauh dari samping lelaki itu, matanya kembali membulat melihat noda darah di atas sprei.
Darah dari miliknya, yang sudah diterobos milik lelaki itu.
Esther tidak memikirkan lagi, akan keadaannya sudah tidak sama lagi, setelah ia berada di ibukota.
Sekarang, ia harus segera melarikan diri.
Dengan pelan Esther kembali menyelimuti tubuh polos pria itu, yang tampak begitu terlelap dalam tidurnya.
Dengan cepat ia memungut pakaiannya, tapi kemudian ia lemparkannya ke lantai.
Ia memungut kemeja pria itu, dan memakainya setelah memakai pakaian dalamnya.
Ia kemudian meninggalkan kamar itu dengan langkah pelan, agar tidak menimbulkan suara, dan membangunkan pria tersebut.
Bersambung.......
cari penyakit aja kamu.....😡
makanya cepetan nyatain perasaan kamu, biar gk salaha paham terus.
🤭🤭