Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Di tengah perdebatan itu, ponsel Elvano bergetar. Sebuah panggilan dari Oma Ratna, satu-satunya orang yang paling ditakuti sekaligus dihormati Elvano di dunia ini.
Elvano menarik napas panjang sebelum mengangkatnya. "Ya, Oma?"
"Elvano! Malam ini tidak ada alasan! Kau harus pulang ke rumah besar jam tujuh malam. Oma sudah mengundang sahabat lama Oma, dan dia membawa cucunya. Kau harus ikut makan malam ini. Tidak ada penolakan, atau Oma akan menyita kunci apartemenmu!"
Klik. Panggilan diputus sepihak.
Elvano memijat pelipisnya. "Luar biasa. Masalah kesehatan belum selesai, sekarang harus menghadapi perjodohan kuno."
Darian tertawa terbahak-bahak melihat wajah frustrasi bosnya. "Wah, jangan-jangan Oma sudah menyiapkan calon istri yang bisa menjinakkanmu, El? Pergilah, siapa tahu dia lebih hebat dari dr. Selena."
"Kau mau aku memecatmu sekarang, Dar?" Elvano melemparkan tatapan tajam yang sanggup membekukan ruangan.
"Ampun, Bos! Tapi serius, kalau dia bisa membuatmu makan teratur, aku akan sujud syukur," sahut Darian sambil terbahak.
**
Di Rumah Sakit Medika, Selena sedang melepas jas putihnya. Ia terlihat lelah, namun tetap tersenyum pada perawat yang lewat. Ponselnya berbunyi, menampilkan panggilan dari Neneknya di Bandung.
"Halo, Nek? Selena baru mau pulang," ucapnya lembut.
"Cucu kesayangan Nenek! Nenek sudah di stasiun, Sayang. Bisa jemput Nenek sekarang? Malam ini Nenek ada janji makan malam dengan sahabat lama Nenek, kamu temani ya?"
Selena mengernyit. "Makan malam? Nenek baru sampai loh, apa tidak sebaiknya istirahat dulu?"
"Tidak bisa, Sayang. Ini janji penting. Nenek sudah siapkan baju cantik untukmu di tas. Nenek tunggu ya!"
Selena menghela napas pasrah. Ia tidak tahu bahwa Neneknya sedang tersenyum penuh kemenangan di kereta. Sang Nenek sengaja merahasiakan bahwa makan malam ini adalah kedok untuk mempertemukannya dengan cucu sahabatnya yang—katanya—sangat tampan namun terlalu gila kerja.
**
Rumah besar keluarga Alvendra diterangi lampu kristal yang megah. Elvano masuk dengan kemeja hitam yang dipadukan dengan blazer abu-abu arang, tampak sangat berkelas namun dingin.
Langkahnya terhenti tepat di pintu ruang makan. Di sana, seorang wanita dengan terusan warna peach lembut sedang duduk membelakanginya, tertawa kecil menanggapi cerita Oma Ratna.
Aroma vanilla dan jeruk yang familiar itu menyergap indra penciumannya.
"Nah, ini dia cucuku!" Oma Ratna berseru bangga.
Wanita itu menoleh. Dan dalam sekejap, waktu seolah berhenti berputar.
Selena Nayumi tersedak air mineral yang baru saja diminumnya. Matanya yang bulat melebar sempurna saat melihat pria yang tadi sore baru saja ia marahi kini berdiri di sana dengan aura yang jauh lebih mematikan.
"Dokter?" gumam Elvano, suaranya rendah dan berbahaya.
"Tuan... Al?" Selena nyaris tak bisa mengeluarkan suara.
Oma Ratna dan Nenek Asti saling berpandangan, lalu tersenyum penuh arti. "Loh, kalian sudah saling kenal? Bagus sekali! Berarti rencana perjodohan ini tidak akan sulit, kan?"
"PERJODOHAN?!" seru mereka berdua secara serentak.
"Nenek, aku tidak bisa menikah dengan orang yang bahkan tidak suka makan!" protes Selena spontan, wajahnya merona merah antara kesal dan malu.
"Dan aku tidak akan menikah karena paksaan! lagipula aku ini sangat sibuk! Aku tidak punya waktu untuk drama pernikahan!" Elvano ikut membela diri.
Oma Ratna berdiri, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak absolut. "Dengar, Elvano. Kau butuh seseorang yang menjagamu agar tidak mati muda. Dan Selena, kau adalah orang yang paling tepat. Kami sudah sepakat, kalian akan menikah bulan depan. Titik!"
“Selena, Nenek sudah janji pada mendiang kakekmu untuk melihatmu menikah dengan cucu sahabat Nenek," ucap Nenek Asti dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Oma Ratna meletakkan sendoknya dan memulai sebuah "pertunjukan" yang sudah direncanakan matang.
"Elvano," suara Oma Ratna mendadak bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Hanya Oma yang membesarkanmu sejak kecil di sini. Ayahmu sudah tidak peduli, dia menyerahkan semua keputusan hidupmu pada Oma. Apa kau benar-benar ingin melihat Oma pergi tanpa sempat melihatmu memiliki seseorang yang menjagamu?"
Elvano memijat pelipisnya. "Oma, ini bukan zaman Siti Nurbaya."
Tak mau kalah, Nenek Asti—langsung menyambar tangan Selena. "Selena, Sayang... Nenek sudah tua. Kau tahu sendiri kau yatim piatu, tidak punya siapa-siapa lagi di sini selain Nenek. Paman dan bibimu jauh di Kalimantan. Siapa yang akan melindungimu kalau Nenek sudah tidak ada?"
Nenek Asti mulai terisak kecil, menggunakan sapu tangannya untuk menghapus air mata yang sebenarnya tidak ada.
Selena dan Elvano saling berpandangan. Ada kilatan rasa bersalah, rasa hormat, dan kekesalan yang bercampur menjadi satu. Melihat kedua wanita tua itu mulai "berdrama" lebih jauh, Elvano menarik napas panjang.
"Baik," ucap Elvano pendek. Suaranya rendah dan absolut. "Aku akan melakukannya. Tapi dengan satu syarat."
Selena menoleh dengan cepat, tidak percaya pria itu menyerah begitu saja. Elvano menatap Selena dengan tatapan dinginnya yang khas.
"Pernikahan ini rahasia. Tak boleh ada satu pun kamera media yang tahu. Jika dunia tahu aku menikah, karirku dan kedamaian hidup dr. Selena akan hancur dalam semalam."
Selena tertegun, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Aku setuju. Aku juga tidak mau hidupku terusik oleh penggemar fanatikmu."
Oma Ratna dan Nenek Asti seketika berhenti menangis. Mereka saling melirik, mengedipkan mata satu sama lain dengan senyum kemenangan yang tertutup serbet makan. Misi sukses besar.
“Baik, satu bulan kedepan. Oma dan Nenek Asti akan mempersiapkan pernikahan kalian, kami yakin ini akan menjadi pernikahan termegah untuk kalian semua.”
“Terserah,” sahut Elvano.
**
Malam semakin larut di Jakarta. Sesuai perintah Oma, Elvano harus mengantar Selena pulang. Di dalam mobil mewah itu, keheningan terasa begitu pekat. Elvano fokus mengemudi, sementara Selena menatap jendela, memikirkan bagaimana hidupnya akan berubah setelah ini.
Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah area yang asri.
"Ini rumahmu?" tanya Elvano, matanya menatap dua bangunan yang menyatu indah.
"Iya. Dan di sebelah itu adalah klinikku, Serenity Nutri-Heal," jawab Selena pelan.
Bangunan itu tampak modern namun hangat, dikelilingi pepohonan hijau yang tertata rapi. Lampu-lampu taman yang kekuningan memberikan kesan mewah sekaligus tenang. Tempat itu adalah pusat terapi nutrisi dan stres yang dibangun Selena dengan seluruh kerja kerasnya.
"Tempat yang bagus," gumam Elvano singkat.
“Terima kasih, dan kalau kamu menerima saranku. Kamu akan tahu di dalamnya seperti apa dan kamu bisa menikmati terapinya.”
“Aku akan mencoba mengatur jadwalnya.”
“Hmm…” Selena menganggukkan kepala. “Oh ya, besok pagi aku akan mengirim daftar menu sarapan apa yang harus kamu makan. Aku akan mengirimnya ke nomor ponsel yang sudah kamu daftarkan di rumah sakit.”
“Jangan kirim disana.” Elvano buru-buru mencegah.
“Lalu kemana?”
“Itu nomor ponsel Darian, managerku. Jadi ke nomor ponselku saja.”
“Baiklah.”
Elvano menunjukkan barcode whatsapp miliknya dan Selena langsung memindai barcode itu.
“Aku pamit dulu ya.”
“Iya.” Elvano mengangguk.
“Hati-hati dijalan,” ucap Selena berpamitan dan turun dari mobil.
Elvano menatap punggung Selena yang menjauh. Ada rasa aneh yang mulai merayap di dadanya—rasa memiliki yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
***