NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Persembahan Jiwa

Pada zaman ketika garis antara langit dan bumi masih samar oleh kabut purba, sebuah keajaiban jatuh dari cakrawala. Itu bukan meteor yang membawa kehancuran, bukan pula hujan biasa yang membasahi bumi, melainkan sesosok naga raksasa yang mewujud dari kristal air surgawi.

Naga itu meliuk indah di antara awan, memecah kesunyian jagat sebelum akhirnya menghujam jatuh ke dasar sebuah telaga yang kini dikenal sebagai Danau Cheon-gi—sang Danau Energi Langit.

Benturan itu tidak menghancurkan, melainkan menghidupkan. Energi murni sang naga meresap ke dalam pori-pori tanah, melahirkan sebuah negeri tersembunyi yang diberkati bernama Kerajaan Niskala.

Sebuah negeri yang dibentengi oleh kabut abadi, tak terbaca oleh tinta sejarah, dan tak terjamah oleh peta mana pun.

Di sinilah, segelintir orang yang terlahir dengan kemampuan memanggil kembali esensi naga air bangkit sebagai kaum penguasa yang disegani: Para Penyihir.

Namun, takdir adalah pedang bermata dua. Seseorang tidak bisa memilih di rahim mana ia akan terbentuk. Ia hanya bisa menerima garis hidup, lalu berjuang di atasnya.

Bagi rakyat Niskala, setiap hambatan bukanlah penghalang, melainkan ujian untuk membuktikan bahwa tujuan kelahiran mereka hanyalah untuk menjadi pemenang.

–––

Beratus-ratus tahun telah berlalu sejak energi naga menyirami tanah Niskala. Kini, di balik kemegahan sihir yang diagungkan, muncul sebuah borok yang amat dikutuk: Sihir Pemindahan Jiwa.

Praktik terlarang ini bagaikan racun yang merayap di kegelapan. Dan pada masa ini, nama yang paling ditakuti sekaligus dihormati dalam urusan sihir adalah Han-Gyeol. Ia bukan sekadar penyihir; ia adalah pemegang otoritas tertinggi, sosok terkuat yang berdiri di puncak hierarki kekuatan Niskala.

Malam itu, di sudut gang yang kumuh dan lembap, bau busuk sampah bercampur dengan uap air yang menyesakkan. Seorang wanita paruh baya berjalan tertatih, membawa bungkusan makanan yang aromanya sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.

Bau daging panggang itu menggoda selera, memecah pertahanan sekumpulan anak gelandangan yang tengah meringkuk kedinginan di balik tumpukan kayu tua.

"Makanlah, Nak. Jangan takut," ucap wanita itu. Suaranya lembut, selembut beludru yang menyembunyikan duri. Ia mengulas senyum yang tampak begitu tulus, menyapu wajah-wajah kotor anak-anak itu dengan tatapan keibuan.

"Aku akan membawakan lebih banyak daging lagi untuk kalian nanti. Makanlah sampai kenyang."

Anak-anak malang itu menyambut pemberian sang wanita dengan mata berbinar. Bagi mereka yang perutnya sudah lama melilit, wanita ini adalah malaikat.

Mereka tidak tahu bahwa kebaikan itu hanyalah topeng busuk yang menutupi niat ngeri.

Wanita itu sedang menyiapkan "persembahan" untuk anaknya yang kini telah berubah menjadi monster batu mengerikan—sosok yang jiwanya telah rusak dan kini haus akan esensi manusia hidup.

Setelah memastikan anak-anak itu terbuai oleh makanan, wanita itu berdiri. Langkahnya pelan, hampir tak terdengar, menuju sebuah pintu kayu yang berat dan berlumut di ujung gang.

Dengan tangan gemetar yang berkeringat dingin, ia menggeser tulak besi yang mengunci pintu itu.

Di balik celah, terlihat siluet yang tidak lagi menyerupai manusia. Kulit makhluk itu mengeras sehitam arang, retak-retak seperti tanah gersang yang terbakar, dan matanya telah berubah menjadi lubang hitam yang kelam tanpa sisa kemanusiaan.

Begitu kunci terlepas, si wanita segera mundur menjauh dengan napas memburu.

BRAKK!

Pintu itu hancur berantakan menjadi serpihan kayu. Si monster melesat keluar dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi tubuh sebongkah batu. Geraman rendahnya menggetarkan udara, menciptakan getaran yang menusuk dada.

Anak-anak yang tadinya lahap seketika membeku. Kebahagiaan singkat itu hancur, digantikan oleh teriakan histeris yang memecah kesunyian malam.

"Aaaaaa!"

Namun, maut yang tinggal seujung kuku itu mendadak terinterupsi. Sebuah kilatan perak membelah kegelapan. Pedang panjang melesat secepat kilat, memotong udara dengan bunyi berdenging yang tajam, mengincar tepat di jantung sang monster.

Tapi, dalam tindakan nekat yang didasari cinta buta, si ibu justru melompat ke jalur lintasan pedang tersebut.

Sring!

Pedang itu berhenti mendadak, bergetar hebat di udara hanya beberapa inci dari batang leher si ibu.

Sang penyihir yang mengendalikan pedang itu dari kejauhan tidak ingin menumpahkan darah orang yang salah.

Han-Gyeol melangkah keluar dari bayang-bayang gedung tua. Jubahnya yang berwarna biru gelap berkibar ditiup angin malam, memberikan kesan otoritas yang tak tergoyahkan. Wajahnya terpahat kaku, dingin, dan tanpa sedikit pun celah untuk belas kasihan.

"Kumohon... Tuan Han-Gyeol, selamatkan putraku!"

Wanita itu jatuh bersimpuh, memeluk kaki Han-Gyeol hingga debu jalanan menempel di pakaian sang penyihir. "Dia hanya sakit! Dia tidak bermaksud jahat! Dia putraku, Tuan!"

Han-Gyeol tidak bergeming. Pandangannya tetap terkunci pada monster yang masih meraung liar di belakang wanita itu.

"Menyingkirlah, Wanita Tua," suara Han-Gyeol berat, menggema dengan otoritas yang menekan.

"Apa kau buta oleh perasaanmu sendiri? Dia bukan lagi putra yang kau lahirkan. Dia adalah kutukan yang lapar. Jika kau terus menghalangi, malam ini akan menjadi pemakaman bagi anak-anak tak berdosa ini."

"Tapi dia darah dagingku!" jerit si ibu, suaranya parau karena putus asa.

"Darah dagingmu sekarang hanyalah batu yang membusuk," balas Han-Gyeol dingin sambil menarik kembali pedangnya ke genggaman.

Logam perak itu seolah bersinar di bawah rembulan yang redup.

"Menyingkir, atau kau akan ikut terkubur bersamanya di dasar tanah Niskala."

Han-Gyeol tahu persis apa yang terjadi. Sihir Pemindahan Jiwa memiliki risiko yang mengerikan. Jika jiwa dipindahkan ke tubuh yang tidak cocok, energi kehidupan akan bergejolak, membuat tubuh wadahnya mengeras menjadi batu dan pikirannya menggila.

Hanya ada dua cara untuk menghentikan penderitaan ini: berpindah ke tubuh baru yang cocok—yang berarti membunuh orang lain lagi—atau menyerap energi hidup dari manusia di sekitar secara terus-menerus.

Han-Gyeol memilih jalan ketiga: eksekusi.

Sadar bahwa Han-Gyeol tak bisa dilunakkan, si ibu berpaling. Ia berlari ke arah anaknya yang meraung. Dengan penuh kasih yang tragis, ia memeluk wajah kasar binasanya itu.

"Maafkan Ibu, Nak... Ibu gagal menjagamu," bisiknya lirih di tengah isak tangis yang menyayat hati.

Dalam dekapan itu, fenomena mengerikan terjadi. Sang putra yang sudah kehilangan kesadaran mulai menghisap esensi kehidupan ibunya sendiri.

Kulit si wanita perlahan mulai menghitam, mengeras, dan retak-retak. Ia memilih mati dimakan oleh anaknya sendiri daripada melihat putranya ditebas pedang.

Melihat proses penghisapan jiwa yang semakin parah, Han-Gyeol mengambil tindakan tegas. Ia tidak bisa membiarkan satu jiwa lagi hilang sia-sia.

SET!

Pedang di tangan Han-Gyeol meluncur kembali. Kali ini dengan kekuatan penuh. Mata pedang itu menembus tubuh si ibu yang sudah setengah membatu, lalu menghujam telak ke dada sang monster batu di belakangnya.

Keduanya terpaku dalam satu hunjaman. Monster itu mengerang panjang untuk terakhir kalinya, sebuah suara parau yang terdengar seperti batu yang pecah, sebelum akhirnya diam selamanya.

Tubuh keduanya mengeras menjadi batu seutuhnya, membeku dalam pelukan terakhir yang mematikan.

BRUKK!

Han-Gyeol melangkah mendekat, menyarungkan pedangnya dengan sentakan kasar. Tidak ada duka di wajahnya, hanya ada keletihan yang tersembunyi.

"Bawa wanita ini ke tabib," perintah Han-Gyeol pada beberapa warga yang sejak tadi mengintip dari balik jendela dengan wajah pucat.

"Jika dia selamat, biarkan dia menanggung sisa hidupnya dengan penyesalan atas keserakahan dan kebutaannya."

Han-Gyeol kemudian memanggul tubuh monster batu yang berat itu di pundaknya seolah beratnya tak berarti apa-apa.

Langkah kakinya mantap meninggalkan tempat kumuh itu menuju satu tujuan: Danau Cheon-gi.

Hanya air suci dari danau itu yang mampu menetralkan sisa-sisa energi hitam dari kegagalan sihir terlarang tersebut.

****

Langkah kaki Han-Gyeol terasa semakin berat saat ia memasuki kawasan hutan. Bukan karena beban di pundaknya, melainkan karena firasat buruk yang berkecamuk di pikirannya.

Niskala tidak lagi aman. Sihir Pemindahan Jiwa yang seharusnya terkubur dalam sejarah kelam kini mulai merayap kembali ke permukaan. Seseorang atau sesuatu sedang membangkitkan kembali ilmu hitam ini.

Ia menyusuri jalan setapak di tengah hutan pinus yang selalu diselimuti kabut tebal. Pohon-pohon menjulang tinggi tampak seperti raksasa diam yang menghakimi setiap langkahnya.

Semakin dekat dengan Danau Cheon-gi, udara terasa semakin lembap dan dingin, menusuk hingga ke sumsum tulang.

Sesampainya di tepi danau, Han-Gyeol meletakkan tubuh batu itu di atas dermaga kayu tua yang berderit. Air danau tampak tenang, sehitam tinta, namun memancarkan pendar kebiruan yang samar dari dasarnya—sisa-sisa energi naga yang melegenda ratusan tahun lalu.

"Tidurlah dalam kedamaian yang abadi. Biarkan air ini membersihkan noda yang kau bawa,"

1
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Dao Biru
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: tetap semangat. mudah-mudahan banyak yang suka sama ceritanya💪
total 1 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!