"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membabat Pengkhianat dan Krisis Razetha Group
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden beludru abu-abu yang tebal, memantulkan berkas sinar keemasan di atas ranjang super king size. Arumi Razetha perlahan membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah kesegaran pagi hari, melainkan rasa sakit yang luar biasa menusuk di sekujur persendian tubuhnya.
"Shhh... akh..." Arumi meringis, mencoba menggerakkan lengan kanannya.
Setiap jengkal ototnya terasa seperti habis dihantam oleh truk tronton. Seluruh tubuh rapuh milik Arumi asli ini terasa remuk redam. Di area lehernya, denyutan samar masih terasa hangat—jejak dari cengkeraman kasar dan klaim sepihak yang dilakukan oleh sosok alter ego bernama Varian semalam. Kilasan ingatan tentang ciuman brutal, tatapan mata yang gelap gulita penuh nafsu purba, dan bagaimana tubuh besarnya dikunci mati di atas kasur ini membuat wajah Arumi mendadak terasa panas.
Arumi menoleh ke sisi kanannya. Sisi kasur itu sudah kosong dan mendingin, meninggalkan kerutan di atas seprai sutra abu-abu. Pria gila itu sudah pergi.
"Bajingan kaku... awas aja lu, ya," umpat Arumi dengan suara yang serak kehabisan tenaga. Walaupun dia hanya mencicipi tapi tangan ku semalam harus memanjakan miliknya. Dasar kaku, kanebo kering."
Sifat bar-bar-nya segera mengambil alih rasa syoknya. Ia memaksakan diri untuk duduk, menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Saat melangkah turun dari ranjang, kakinya sempat gemetar hebat, memaksa Arumi untuk berpegangan pada tiang ranjang kayu jati yang semalam menjadi saksi bisu pertarungannya melawan dominasi Varian. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi pribadi yang luas. Di depan cermin, Arumi menarik kerah gaun tidur sutra putih yang kini ia kenakan.
"Gila, semalam hanya pakai tangan dan mulutnya. Bunga gua di obrak-abrik olehnya, tubuh gua sudah terasa lemas seperti ini, tapi wajar tubuh gua, dia membuat gua mencapai puncak berkali-kali. Dasar kaku Kanebo kering." Desisnya dengan wajah memerah karena malu dan juga amarah.
Di leher seputih pualam itu, sebuah tanda memar keunguan berbentuk melingkar tercetak dengan sangat jelas. Sangat mencolok.
"Sialan si Varian tebu ini, nandain gua kayak nandain hewan peliharaan!" gerutu Arumi kesal. Ia menyalakan keran air hangat, membasuh wajahnya dengan kasar untuk mengembalikan kesadaran dan fokus berpikirnya.
Arumi tahu ia tidak punya waktu untuk meratapi nasib atau berbaring meratapi tubuhnya yang remuk. Berdasarkan memori dari pemilik tubuh asli, hari ini adalah hari krusial. Razheta Group, perusahaan properti raksasa yang ditinggalkan oleh almarhum ayahnya, sedang berada di ujung tanduk. Para direktur internal yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Danu Razheta, berencana mengadakan rapat pemegang saham darurat hari ini untuk melengserkan posisi Arumi.
"Lu salah nyari lawan, Danu," gumam Arumi, sepasang mata cokelat jernihnya memancarkan kilatan dingin yang berbahaya.
Setelah mandi air hangat selama tiga puluh menit untuk meredakan nyeri ototnya, Arumi berjalan menuju walk-in closet. Kali ini, ia mengabaikan semua gaun mewah yang ketat dan menyiksa tubuh.
Pilihan jarinya jatuh pada satu setel pakaian kerja formal: kemeja putih berbahan sutra tebal yang longgar di bagian lengan, dipadukan dengan celana kulot panjang berwarna hitam dengan potongan pinggang tinggi, serta sebuah blazer merah marun yang elegan. Pakaian ini tidak hanya membuatnya terlihat berkelas, tetapi juga memberikan ruang gerak yang sangat fleksibel jika terjadi kontak fisik.
Untuk menyembunyikan tanda merah di lehernya, Arumi mengoleskan concealer tebal dan memakai syal sutra kecil berwarna senada dengan blazernya, melingkar rapi menyembunyikan jejak gairah Varian semalam. Rambut hitam panjangnya ia ikat tinggi bergaya ponytail, memperlihatkan garis rahangnya yang tegas tanpa riasan bedak menor sedikit pun.
Arumi sarapan di dalam kamar sebelum berangkat, dia hanya sarapan roti dan susu.
Saat Arumi melangkah keluar dari kamar utama menuju lobi depan mansion, ia mendapati Albert sudah berdiri tegak di dekat pintu keluar dengan ekspresi kaku seperti biasa.
"Nyonya Besar," sapa Albert sambil membungkuk hormat, kali ini nadanya terdengar sedikit lebih sungkan dari kemarin.
"Tuan Muda Zaviar sudah berangkat ke kantor Ravindra Holdings sejak pukul enam pagi tadi. Beliau berpesan agar Anda tetap berada di dalam mansion untuk memulihkan kondisi Anda." Ucap Albert Mengingatkan.
Arumi menghentikan langkahnya tepat di depan Albert, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kulot hitamnya dengan santai. "Oh ya? Bilang sama tuan muda lu yang kaku itu, perintah dia kagak berlaku buat gue. Siapkan mobil sekarang. Gue mau ke kantor Razheta Group."
"Tapi Nyonya, Tuan Muda Zaviar menegaskan—"
"Albert," potong Arumi dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan mutlak. "Gue ini i-s-t-r-i sahnya, bukan tahanan politik dia. Kalau lu kagak mau gerbang depan mansion ini gue jebol pakai kaki gue sendiri, suruh sopir keluarin mobil sekarang juga. Mengerti?"
Albert tertegun, aura bar-bar yang dibalut keanggunan dari Arumi membuat nyali pelayan senior itu menciut. "Baik, Nyonya Besar. Mobil akan siap dalam tiga menit."
Perjalanan menuju gedung pencakar langit Razheta Group yang terletak di pusat distrik bisnis ibu kota memakan waktu satu jam. Sepanjang perjalanan di dalam mobil Rolls-Royce yang mewah, Arumi tidak bersantai. Ia menggunakan ponselnya untuk membaca laporan keuangan internal perusahaan yang dikirimkan secara rahasia oleh sekretaris setianya yang lama, seorang pria muda bernama Leo.
Dari data tersebut, Arumi melihat dengan jelas kelicikan pamannya, Danu. Pria tua itu sengaja memalsukan laporan kerugian proyek di wilayah kota J senilai ratusan miliar rupiah, lalu menyuap beberapa direktur eksekutif untuk menyatakan bahwa Razetha Group berada dalam kondisi krisis akibat ketidakstabilan mental Arumi.
"Bagus sekali permainan lu, Paman Danu. Mari kita lihat seberapa kuat tulang tua lu menahan hantaman dari gue," bisik Arumi sambil tersenyum miring saat mobilnya berhenti tepat di depan lobi gedung Razetha Group.
Arumi turun dari mobil dengan langkah kaki yang konstan dan percaya diri. Kedatangannya yang mendadak membuat seluruh karyawan di lobi utama terperangah. Mereka yang biasanya melihat Arumi datang dengan gaun mini ketat, riasan menor, dan hobi berteriak histeris, kini melihat seorang wanita mandiri yang tampak begitu berwibawa, anggun, dan memancarkan karisma pemimpin sejati.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai 45. Suara perdebatan yang riuh dari dalam ruang rapat utama langsung terdengar menggema hingga ke lorong luar. Arumi berjalan perlahan, langkah kakinya teredam oleh karpet tebal yang melapisi lantai. Ia berhenti tepat di depan pintu kaca ganda kedap suara yang sedikit terbuka.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.