NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:859
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Yang Berhasil, Ada Yang Mengkritik

Program pengelolaan sarang burung walet yang dulu dianggap mustahil kini mulai berkembang dengan baik. Masyarakat di sekitar goa tidak lagi hanya menjadi pekerja kasar atau penonton, tetapi mulai mampu mengelola, menjual, dan menikmati hasil usaha mereka sendiri melalui koperasi desa. Pendapatan warga meningkat pelan-pelan, anak-anak mulai kembali sekolah dengan lebih tenang, dan kampung yang dulu dipenuhi rasa takut kini mulai hidup dengan kepercayaan diri baru.

Namun Rasyid dan Ami tidak berhenti di situ. Mereka sadar sebagian besar masyarakat daerah itu tetap bergantung pada hasil pertanian yang harganya sering jatuh saat panen besar. Karena itu, dengan bantuan para pemuda desa dan kelompok ibu-ibu, mereka mulai membangun program pengolahan hasil kebun agar petani tidak terus merugi ketika harga pasar anjlok.

Bawang, tomat, cabai, hingga berbagai sayuran mulai diolah menjadi produk makanan siap saji dan bahan olahan berkualitas tinggi. Ada sambal kemasan, saus tomat, bawang goreng premium, hingga makanan kering hasil olahan desa yang dipasarkan lebih luas. Ami sendiri turun langsung mendampingi ibu-ibu desa, memastikan kualitas produk tetap baik dan pengelolaan keuangan berjalan rapi.

“Kalau harga panen turun, jangan langsung putus asa,” kata Ami suatu hari saat memberi pelatihan pada kelompok perempuan desa. “Kita harus belajar supaya hasil kebun punya nilai lebih.”

Perlahan pola pikir masyarakat mulai berubah. Mereka tidak lagi hanya menjual hasil mentah dengan harga murah, tetapi mulai belajar mengolah, mengemas, dan membangun merek produk desa mereka sendiri. Beberapa desa bahkan mulai dikenal karena produk olahan khas mereka.

Rasyid sering berdiri diam memperhatikan perubahan itu dengan rasa syukur yang sulit dijelaskan. Baginya, keberhasilan terbesar bukan sekadar angka pembangunan atau pujian media, melainkan melihat masyarakat kecil mulai percaya bahwa mereka mampu berkembang dengan tangan mereka sendiri.

Dan di sepanjang tahun pertama itu, masyarakat juga mulai melihat bagaimana pasangan Bupati dan Ibu Bupati mereka bekerja bukan hanya dari balik meja kantor. Rasyid dan Ami benar-benar turun ke lapangan bersama, satu memperjuangkan kebijakan, yang lain memastikan masyarakat mampu menjalankannya.

Banyak orang akhirnya mulai memahami kenapa keduanya begitu cocok berjalan berdampingan. Karena perjuangan mereka bukan dibangun dari ambisi kekuasaan semata, melainkan dari keyakinan yang sama: bahwa masyarakat kecil tidak membutuhkan belas kasihan, mereka hanya membutuhkan kesempatan dan keberpihakan yang jujur.

***

Di tengah banyaknya pujian atas satu tahun kepemimpinan Rasyid, ternyata tidak semua masyarakat merasakan hal yang sama. Ketika beberapa desa mulai berkembang lewat program walet dan pengolahan hasil pertanian, muncul suara-suara kritik dari kampung sebelah yang selama ini dikenal sebagai pusat peternakan ayam potong dan ayam petelur terbesar di daerah itu.

Masyarakat di sana mulai merasa diabaikan. Selama satu tahun terakhir, mereka hampir tidak pernah melihat Rasyid datang langsung ke wilayah mereka. Program pemerintah lebih banyak terlihat bergerak di desa pertanian dan kawasan walet, sementara para peternak masih bergelut dengan masalah lama: harga pakan yang mahal, permainan tengkulak, limbah peternakan yang belum tertangani, hingga harga telur dan ayam yang sering jatuh saat panen besar.

Awalnya keluhan itu hanya dibicarakan di warung-warung dan kelompok peternak kecil. Namun lama-kelamaan mulai muncul secara terbuka. Beberapa tokoh masyarakat bahkan terang-terangan mengatakan bahwa Rasyid terlalu fokus membangun citra di desa-desa yang dulu menjadi basis pendukungnya saat pilkada.

“Pak Bupati sibuk bantu kampung walet sama desa pertanian,” ujar seorang peternak dalam sebuah forum warga. “Tapi kami yang dari dulu menggerakkan ekonomi daerah malah seperti nggak dianggap.”

Yang lain menambahkan dengan nada kecewa, “Waktu kampanye dulu semua didatangi. Setelah jadi Bupati, kampung kami seperti hilang dari peta.”

Kritik itu perlahan mulai menyebar dan menarik perhatian media lokal. Beberapa pihak bahkan mulai membandingkan keberhasilan program walet dengan kondisi peternak yang masih jalan di tempat. Ada yang menilai pemerintahan Rasyid terlalu terfokus pada program yang menarik perhatian publik, tetapi belum menyentuh seluruh sektor secara merata.

Ketika laporan tentang keluhan itu sampai ke meja kerjanya, Rasyid membaca semuanya dengan diam. Ia tidak marah ataupun membela diri. Justru wajahnya terlihat serius.

Ami yang berada di sampingnya ikut membaca laporan itu lalu berkata pelan, “Mereka bukan membenci kamu.”

Rasyid mengangguk perlahan. “Mereka cuma merasa ditinggalkan.”

Rasyid kemudian bersandar sambil mengusap wajah lelahnya. Selama satu tahun ini ia terlalu fokus menghadapi tekanan dari para pemodal walet dan membangun program pemberdayaan masyarakat desa hingga tanpa sadar ada sektor lain yang belum benar-benar ia sentuh.

Dan untuk pertama kalinya sejak banyak pujian datang atas kepemimpinannya, Rasyid kembali diingatkan bahwa menjadi pemimpin berarti siap menerima kenyataan pahit: sebesar apa pun keberhasilan yang dicapai, akan selalu ada masyarakat yang merasa belum diperjuangkan.

Rasyid menyadari bahwa kritik itu benar adanya. Selama ini ia terlalu fokus menyelesaikan konflik besar di sektor walet dan pertanian hingga tanpa sadar ada masyarakat lain yang merasa tertinggal. Karena itu ketika para peternak turun menyampaikan aspirasi di depan kantor Bupati, Rasyid tidak memilih bersembunyi di balik protokoler atau membiarkan bawahannya menghadapi massa sendirian. Ia justru keluar langsung menemui mereka.

Di bawah terik matahari, Rasyid berdiri di hadapan para peternak yang datang membawa berbagai keluhan dan spanduk protes. Beberapa wajah terlihat marah, beberapa lainnya penuh kecewa. Namun Rasyid mendengarkan semuanya tanpa memotong sedikit pun. Ia membiarkan masyarakat menyampaikan keresahan mereka tentang harga pakan yang terus naik, distribusi yang tidak adil, sampai minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap peternakan yang sebenarnya menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar di wilayah itu.

Setelah semua suara mulai mereda, Rasyid akhirnya berbicara dengan tenang. “Saya menerima semua kritik ini,” katanya jujur. “Dan saya akui, masih banyak kekurangan dalam satu tahun pemerintahan saya.”

Kerumunan yang tadinya riuh perlahan mulai diam mendengarkan.

“Saya bukan pemimpin yang sempurna,” lanjutnya. “Kalau ada masyarakat yang merasa belum diperhatikan, berarti memang masih ada tugas yang belum saya selesaikan.”

Tidak ada pembelaan diri atau janji kosong yang berlebihan. Justru kejujuran itu membuat sebagian masyarakat mulai luluh. Mereka melihat Rasyid tidak datang untuk berdebat, melainkan benar-benar mendengar.

Dan benar saja, keesokan harinya tanpa banyak pemberitaan besar, Rasyid langsung datang ke kampung peternakan ayam itu bersama beberapa dinas terkait. Ia berjalan menyusuri kandang-kandang ayam, berbicara langsung dengan peternak kecil, mencatat harga pakan, melihat kondisi distribusi telur dan ayam, bahkan masuk ke area pengolahan limbah yang selama ini menjadi masalah besar warga sekitar.

Masyarakat tampak terkejut karena tidak menyangka kritik mereka benar-benar direspons secepat itu. Beberapa peternak yang sebelumnya paling keras mengkritik bahkan terlihat canggung ketika Rasyid datang langsung tanpa marah sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!