NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Pesan Gelap Di Balik Layar

Suasana kemenangan di tangga belakang Aula Utama tadi mendadak buyar. Udara malam yang tadinya terasa sejuk setelah presentasi, tiba-tiba berubah jadi pengap pas gua liat muka Dedik.

Dia masih nyenderin kepalanya ke kepala gua, tapi tangannya yang pegang HP mendadak kaku.

Gua bisa ngerasain otot bahunya menegang.

"Ded? Kenapa?" tanya gua sambil menjauhkan kepala. Gua lirik layar HP-nya yang masih nyala terang di tengah remang senja.

Pesan dari nomor asing itu singkat, padat, dan horor. Soal rahasia kecelakaan Arlan dan data bambu kuning.

Dedik nggak langsung jawab. Dia malah matiin layar HP-nya, masukin ke saku celana kargo, terus benerin letak kacamatanya dengan gerakan mekanis, ciri khas kalau dia lagi mikir keras atau lagi nyembunyiin sesuatu yang nggak logis.

"Nggak ada apa-apa, Rey. Cuma spam dari operator," jawabnya datar. Bohong banget.

"Bohong! Gua liat tadi ada kata 'kecelakaan Arlan'. Siapa yang kirim, Ded? Apa hubungannya sama riset kita?" gua cecar dia. Sifat Sagitarius gua nggak bakal bisa tidur kalau ada misteri yang menggantung begini.

Dedik berdiri, dia nyampirin tas gitarnya ke pundak. "Logikanya, kalau gua kasih tau lo sekarang, lo bakal panik dan mulai bikin skenario drama di otak lo. Mending lo balik ke kostan, istirahat. Lo udah nyanyi gila-gilaan tadi."

"Gak! Gua nggak mau balik sebelum lo jelasin!" gua ikut berdiri, ngehalangin jalan dia. "Kita partner, kan? Susah seneng bareng, dikepung warga bareng, nyaris mati di hutan bareng."

"Masa sekarang ada masalah lo mau main rahasia-rahasiaan?"

Dedik natap gua lama. Dia ngehela napas panjang, tipe helaan napas yang tandanya dia nyerah sama keras kepala gua.

"Oke. Seseorang minta gua ke Lab malam ini. Dia klaim tau sesuatu soal sabotase yang bikin Arlan jatuh dari motor di Desa Pinus."

"Hah?! Bukannya Arlan jatuh karena ban motornya nggak cocok sama aspal licin?"

"Itu variabel fisik yang kelihatan, Rey. Tapi pesan ini bilang ada variabel lain. Sesuatu yang 'sengaja' ditaruh di sana," Dedik ngelirik jam tangannya. "Jam delapan malam. Gua harus ke sana."

"Gua ikut!"

"Enggak. Bahaya."

"Bahayaan mana sama dikejar anjing di hutan bambu? Gua ikut, Dedik! Titik!"

"Kalau lo nggak kasih gua ikut, gua bakal teriak sekarang juga biar Pak Dekan denger kalau lo ngebajak frekuensi kampus pake alat ilegal!" ancam gua sambil berkacak pinggang.

Dedik ngerutin dahi, natap gua nggak percaya. "Lo ngancem gua pake prestasi kita sendiri? Agak nggak logis, tapi... efektif. Fine."

"Lo ikut, tapi lo harus janji, tetep di belakang gua dan jangan ngomong apa-apa sebelum gua kasih kode."

***

Jam delapan malam. Gedung Fakultas Teknik udah sepi kayak kuburan. Cuma ada satu-dua lampu selasar yang nyala. Suara langkah sepatu kets gua dan sepatu gunung Dedik gema di koridor yang kosong.

Kita nyampe di depan pintu Lab Komputer. Pintunya sedikit terbuka, nyisain celah cahaya redup dari dalem. Dedik nahan badan gua pake tangannya, ngasih kode biar gua diem.

Dia nendang pintu itu pelan pakai ujung sepatunya. Krieeet...

Di dalem, duduk seorang cowok di kursi putar depan monitor utama. Dia pake jaket hoodie gelap, nutupin kepalanya. Begitu denger pintu kebuka, dia muter kursinya.

"Gua kira lo nggak bakal dateng, Ded," suara itu... gua kenal banget.

"Rendy?" gumam Dedik.

Gua melongo. Si pengacara kaku Arlan? Ngapain dia di sini malem-malem pake baju preman?

Rendy ngelepas penutup kepalanya. Mukanya nggak sekaku pas di Puskesmas desa. Dia kelihatan capek, matanya merah. Di atas meja Lab, ada sebuah flashdisk item yang dicolok ke laptopnya sendiri.

"Gua nggak mau urusan sama polisi atau dewan etik pengacara," kata Rendy langsung to the point. "Tapi gua juga nggak mau dikambinghitamkan sama keluarga besar Arlan kalau proyek ini bermasalah secara hukum di kemudian hari."

Dedik jalan mendekat, tapi dia tetep jaga jarak. "Maksud lo apa? Arlan jatuh karena kecelakaan murni."

"Kecelakaan murni?" Rendy ketawa sinis. Dia muter laptopnya ke arah kita. Di layar, ada rekaman video dari dashcam motor sport Arlan yang kayaknya udah di recovery datanya. "Liat bagian ini."

Video itu nunjukin detik-detik sebelum Arlan jatuh. Jalanan emang licin, tapi tepat di tikungan tajam, ada sebuah benda kecil yang mengkilap di aspal.

Begitu ban depan Arlan ngelindes benda itu, ban-nya langsung selip nggak wajar, seolah-olah ditarik gaya magnet atau pelicin instan.

"Itu tumpahan oli?" tanya gua kepo.

"Bukan. Itu polimer sintetis cair. Sangat licin, hampir nggak kelihatan di aspal basah. Dan lo tau siapa yang naruh itu di sana?" Rendy natap Dedik tajem. "Bukan Arlan. Arlan nggak bakal mau ngerusak motor mahalnya sendiri."

Dedik ngerutin dahi. "Terus siapa? Sponsor?"

"Bukan sponsor. Tapi rival bisnis mereka yang pengen proyek 'Harmoni Nada' ini gagal total biar saham mereka nggak turun," Rendy ngehela napas.

"Arlan itu cuma tumbal. Dia disuruh provokasi kalian biar kalian nggak fokus, sementara orang-orang itu kerja di belakang buat bikin sabotase fisik."

Gua gemeteran. Dunia bisnis ternyata jauh lebih serem daripada ujian Akuntansi Biaya.

"Terus kenapa lo kasih tau kita?" tanya Dedik curiga. "Lo kan dibayar buat belain Arlan."

"Karena Arlan mulai gila. Dia mau nuntut lo secara personal atas kasus pencemaran nama baik soal 'ngebajak frekuensi' tadi sore."

"Kalau dia nuntut lo, penyelidikan bakal dibuka. Kalau penyelidikan dibuka, sabotase polimer ini bakal ketahuan. Dan kalau itu ketahuan, gua sebagai pengacara yang tahu fakta tapi diem aja bakal kena sanksi pidana,"

Rendy nyerahin flashdisk item itu ke Dedik. "Di situ ada bukti siapa yang beli polimer itu. Kasih ke Pak Dekan. Bilang aja lo dapet dari sumber anonim. Tolong, jangan bawa-bawa nama gua."

Rendy langsung berdiri, ngerapihin laptopnya, dan jalan keluar Lab secepat kilat. Dia sempet nengok ke gua sebentar. "Reyna, sepupu lo itu butuh psikiater, bukan pengacara. Ati-ati."

Begitu Rendy ilang, suasana Lab jadi sunyi lagi. Gua natap Dedik yang masih megang flashdisk itu kayak megang bom waktu.

"Ded... jadi selama ini kita bukan cuma lawan Arlan? Kita lawan korporasi?" suara gua mencicit.

Dedik natap flashdisk itu, terus dia masukin ke sakunya. Dia nengok ke gua, terus tiba-tiba dia ngeraih kedua pundak gua. Matanya tajem banget, tapi ada binar protektif di sana.

"Rey, dengerin gua. Masalah ini biar gua yang urus sama Pak Dekan. Lo jangan cerita ke siapa-siapa, bahkan ke Kak Tiara sekalipun. Bahaya buat lo."

"Tapi Ded..."

"Gak ada tapi-tapi, Sagitarius!" bentak dia pelan, tapi tegas. Terus suaranya melembut. "Gua nggak mau lo kenapa-kenapa."

"Lo udah ngasih frekuensi terbaik lo tadi sore. Itu udah cukup buat gua. Sisanya, biar logika gua yang main."

Gua diem. Gua ngerasa kecil banget di depan dia, tapi di saat yang sama, gua ngerasa aman banget.

"Tapi lo janji ya, jangan apa-apain Arlan sendiri. Biar hukum yang main," kata gua sambil megang ujung flanelnya.

Dedik diem sebentar. "Logikanya, orang kayak Arlan emang paling sakit kalau dikalahin pake aturan yang dia banggain sendiri. Gua janji."

Dedik ngelepas pundak gua, terus dia ngebuka tas gitarnya. Dia ngambil gitar akustiknya, terus dia duduk di meja Lab. "Udah malem. Lo nggak mau balik ke kostan?"

"Gua... gua masih deg-degan, Ded. Gua nggak berani jalan ke parkiran sendirian," aku gua jujur. Emang bener, setelah denger soal sabotase polimer itu, tiap bayangan di lorong kampus jadi kelihatan kayak penjahat korporat.

Dedik ngehela napas, terus dia metik gitarnya pelan. Kali ini melodinya beda. Bukan lagu riset kita, tapi sebuah melodi klasik yang tenang banget.

"Ya udah. Duduk sini. Gua temenin sampe lo tenang. Gua harus olah data flashdisk ini dulu sebentar," katanya sambil dagunya nunjuk ke kursi sebelah dia.

Gua duduk di sana. Kita berdua di dalem Lab yang remang-remang. Cuma ada suara ketikan keyboard laptop dan suara petikan gitar yang dia mainin pake satu tangan sesekali.

"Ded," panggil gua setelah beberapa menit hening.

"Hm?"

"Password laptop lo... kenapa 'REYNA_SAGI_69'?"

Dedik mendadak berenti ngetik. Gua bisa liat telinga dia yang tadinya putih jadi merah padam kena cahaya monitor. Dia nggak nengok ke gua.

"Logikanya... 69 itu posisi Yin dan Yang, Rey. Keseimbangan. Sagitarius itu zodiak lo. Gua butuh password yang gampang gua inget tapi susah ditebak orang lain," jawabnya cepet banget, kayak lagi baca naskah.

"Terus kenapa harus nama gua? Kenapa nggak 'KABEL_LISTRIK_69'?" goda gua\, mulai balik lagi ke mode usil. Rasa takut gua pelan-pelan ilang diganti sama rasa pengen ngeledek.

Dedik nengok ke gua, mukanya balik datar tapi ada binar kesel yang lucu. "Karena lo itu variabel yang paling susah dihitung dalam hidup gua, Rey.

Dan gua benci sesuatu yang nggak bisa gua itung. Makanya gua jadiin password, biar tiap hari gua diingetin kalau gua punya partner yang... sialan."

Gua ketawa kenceng banget. "Ciaaaa! Bilang aja kangen sama gua kalau pas nggak latihan!"

"Diem, Rey. Gua mau fokus."

"Dih, salting ya? Ngaku lo!" gua colek lengannya.

"Reyna Salsabila\, kalau lo nggak diem\, gua bakal ganti password-nya jadi 'REYNA_CENGYENG_00'!"

Gua makin ketawa. Momen mencekam tadi bener-bener cair. Di dalem Lab yang dingin itu, gua ngerasa frekuensi kita bener-bener lagi selaras.

Bukan cuma soal suara bambu, tapi soal sesuatu yang lebih dalam dari sekadar gelombang akustik.

Malam itu berakhir dengan Dedik yang beneran nganterin gua sampe depan gerbang kostan pake motor bebeknya. Sebelum gua turun, dia bilang satu hal yang bikin gua susah tidur semaleman.

"Besok jam empat sore, di Lab lagi. Kita nggak latihan nyanyi."

"Terus ngapain?"

"Kita makan bakso. Rayain kemenangan kita secara... logis."

Gua senyum lebar pas motor dia menjauh. "Oke, Partner Sialan!"

***

Kenyataan soal sabotase korporat mulai terungkap! Dedik pegang bukti kunci yang bisa hancurin Arlan dan sponsornya.

Tapi apakah Arlan bakal tinggal diem liat posisinya terancam? Dan apakah kencan bakso besok sore bakal jadi kencan beneran atau justru awal dari badai baru?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!