NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Kebenaran yang Tertunda

# Bab 12 — Kebenaran yang Tertunda

**POV: Hime**

---

Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiranku terus berputar pada Reiki, pada Penjaga Gerbang, pada kristal biru itu. Aku duduk di gudang, perangkatku menyala di depanku, menampilkan data yang tak terhitung jumlahnya.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku abaikan.

Di dalam reruntuhan tadi, sebelum Penjaga Gerbang muncul, aku melihat sesuatu. Sebuah lorong kecil yang tersembunyi di balik ukiran dinding. Terlalu rapi untuk menjadi celah alami. Terlalu sengaja.

Aku harus kembali ke sana.

Aku berdiri dan berjalan menuju pesawat. KSAN sedang tidur di kursi belakang—ia bersikeras ikut menjagaku. Tapi aku tidak ingin membangunkannya. Ini adalah perjalananku sendiri.

Tapi ketika aku sampai di pintu pesawat, suara KSAN menghentikanku.

"Kau mau ke mana?"

Aku menoleh. Ia berdiri di belakangku, matanya masih sayu tapi waspada.

"Kembali ke pulau."

"Sendirian?"

"Ya."

"Kau gila."

"Mungkin. Tapi aku harus tahu."

KSAN menghela napas. "Tunggu. Aku ikut."

"Aku tidak bisa memintamu—"

"Kau tidak meminta. Aku menawarkan."

Aku menatapnya. Untuk sesaat, aku melihat bayangan diriku di masa lalu—nekat, keras kepala, tidak mau mendengarkan. Tapi kali ini, aku tidak sendirian.

"Baik," kataku. "Tapi kau harus melakukan persis seperti yang kukatakan."

"Setuju."

---

Penerbangan kedua ke pulau itu terasa lebih pendek. Mungkin karena aku terlalu fokus pada apa yang akan kutemukan. Atau mungkin karena adrenalin.

Kami mendarat di tempat yang sama. Struktur itu masih berdiri, masih berdenyut dengan cahaya biru. Tapi kali ini, tidak ada Penjaga Gerbang yang menyambut kami.

"Mungkin mereka sedang sibuk dengan Reiki," bisik KSAN.

"Atau mungkin mereka tahu kita datang."

Kami masuk melalui pintu yang sama. Lorong-lorong yang sama. Tapi kali ini, aku mencari lorong tersembunyi itu.

Dan aku menemukannya.

Di balik ukiran dinding yang menggambarkan gerbang terbuka, ada celah sempit—cukup untuk dilewati satu orang. Aku memasukkan perangkatku terlebih dahulu, lalu tubuhku.

Di balik celah itu, ada ruangan kecil. Tidak lebih besar dari kamar losmenku. Tapi di tengahnya, ada sebuah terminal batu—seperti meja bundar dengan permukaan datar yang memancarkan cahaya redup.

"Apa itu?" tanya KSAN dari belakangku.

"Terminal data. Sangat tua. Tapi masih berfungsi."

Aku mendekat. Permukaan terminal itu diukir dengan simbol-simbol yang sama. Aku meletakkan tanganku di atasnya.

Dan terminal itu menyala.

---

Layar cahaya muncul di atas terminal, menampilkan deretan teks dalam bahasa yang tidak bisa kubaca. Tapi perangkatku bisa menerjemahkannya.

*"Catatan Dewa Psikis — Akses Level Tertinggi."*

Aku menahan napas. Ini adalah catatan miliknya. Milik Dewa Psikis.

Aku mulai membaca.

*"Hari ini aku menulis catatan ini untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membacanya. Tapi aku harus meninggalkan jejak. Jika suatu hari nanti aku tidak kembali\, setidaknya ada bukti bahwa aku pernah ada."*

*"Aku adalah Dewa Psikis. Bukan karena aku memilihnya\, tapi karena aku dilahirkan seperti ini. Kekuatanku tidak terbatas—tapi itu juga kutukanku. Semakin kuat aku\, semakin aku kehilangan diriku sendiri."*

*"Tapi ada satu orang yang membuatku tetap manusiawi. Namanya Hime. Ia adalah cahaya di tengah kegelapan yang terus mengelilingiku. Tanpanya\, aku mungkin sudah menjadi monster."*

Air mata mulai mengalir di pipiku. Aku terus membaca.

*"Aku tahu suatu hari nanti aku harus pergi. Kekuatanku terlalu besar untuk dunia ini. Tapi aku berjanji akan kembali. Mungkin tidak dalam bentuk yang sama. Tapi aku akan kembali."*

*"Dan jika aku kembali\, aku harap Hime masih ada di sana. Menungguku. Seperti yang selalu ia lakukan."*

Aku duduk di lantai batu, menangis. 38 tahun. 38 tahun aku mencari. Dan sekarang, aku membaca kata-katanya—kata-kata yang ia tulis untukku.

"Apa yang tertulis?" tanya KSAN pelan.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menunjuk ke layar.

Ia membaca, lalu diam. "Ini... ini tentang kau?"

Aku mengangguk, masih menangis.

"Dia menulis ini untukku. 38 tahun lalu."

KSAN duduk di sampingku. "Kau benar. Reiki adalah reinkarnasinya."

"Aku tahu."

"Tapi kau belum memberitahunya?"

"Belum. Aku takut."

"Takut apa?"

Aku menatapnya. "Takut bahwa jika ia tahu, ia akan menjadi seperti dulu. Kehilangan kemanusiaannya. Menjadi dewa yang tidak bisa merasakan apa pun."

KSAN diam. Lalu ia berkata, "Tapi ia berhak tahu."

"Aku tahu. Tapi belum sekarang."

---

Kami menghabiskan satu jam berikutnya di ruangan itu, membaca catatan-catatan lain. Tentang pertempuran, tentang penyesalan, tentang harapan. Dan di setiap catatan, ada satu tema yang berulang: cintanya pada Hime.

Aku tidak tahu harus merasakan apa. Senang? Sedih? Marah?

Mungkin semuanya.

Saat kami keluar dari ruangan tersembunyi itu, aku melihat sesuatu di ujung lorong. Sosok berjubah hitam—salah satu Penjaga Gerbang.

"Aku tahu kau akan kembali," katanya.

Aku bersiap untuk bertarung. Tapi ia mengangkat tangannya.

"Aku tidak akan menghentikanmu. Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu."

"Apa?"

"Reiki aman. Kami tidak akan menyakitinya. Tapi kau harus tahu: semakin sering ia menggunakan kekuatannya, semakin cepat ia kehilangan ingatan tentang masa lalunya. Dan semakin cepat ia berubah."

"Berubah menjadi apa?"

Sosok itu menatapku. "Menjadi Dewa yang dulu. Tanpa perasaan. Tanpa kemanusiaan."

Aku diam. Kata-kata itu menusukku seperti pisau.

"Kau punya waktu, Hime Hafitis. Tapi tidak banyak."

Ia menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan aku dan KSAN di lorong itu.

---

Penerbangan pulang terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan karena fisik, tapi karena beban kata-kata Penjaga Gerbang.

*Semakin sering ia menggunakan kekuatannya\, semakin cepat ia kehilangan ingatan.*

Aku menatap ke luar jendela. Laut di bawah kami gelap, tak berujung. Seperti masa depan yang menanti.

"Kau akan memberitahunya?" tanya KSAN.

"Aku tidak tahu."

"Jika kau tidak memberitahunya sekarang, kau mungkin tidak akan punya kesempatan lagi."

Aku diam. Ia benar. Tapi bagaimana cara mengatakannya?

*Hei\, Reiki. Kau adalah reinkarnasi dewa yang kucintai 38 tahun lalu. Oh\, dan semakin sering kau menggunakan kekuatanmu\, semakin cepat kau berubah menjadi monster. Selamat datang di duniamu.*

Aku menghela napas. "Besok. Aku akan memberitahunya besok."

KSAN mengangguk. "Aku akan ada di sana jika kau butuh dukungan."

"Terima kasih."

---

Keesokan paginya, aku berjalan menuju pesawat Hubble dengan tekad bulat. Tapi ketika aku sampai di sana, Reiki sudah duduk di ruang tengah, menungguku.

"Kau kembali," katanya.

"Aku... ya."

"Aku dengar kau pergi ke pulau lagi tadi malam."

Aku tersentak. "Bagaimana kau tahu?"

"Penjaga Gerbang memberitahuku. Mereka bilang kau menemukan sesuatu."

Aku duduk di seberangnya. "Ya. Aku menemukan catatan. Catatan tentang Dewa Psikis."

"Tentang diriku?"

"Tentang dirimu. Di kehidupan sebelumnya."

Ia diam. Lalu ia berkata, "Ceritakan padaku."

Aku menarik napas dalam-dalam. Dan untuk pertama kalinya, aku menceritakan semuanya. Tentang masa lalu. Tentang cinta. Tentang janji. Tentang 38 tahun pencarian.

Reiki mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya tidak terbaca.

Ketika aku selesai, ia diam lama. Lalu ia berkata, "Aku tidak ingat."

"Aku tahu."

"Tapi aku percaya padamu."

Aku menatapnya. "Kau percaya?"

"Ya. Karena jika kau berbohong, kau tidak akan menangis saat menceritakannya."

Aku tersenyum tipis. "Terima kasih."

"Tapi aku tidak tahu harus merasakan apa. Maksudku, aku baru tahu bahwa aku adalah reinkarnasi dewa. Dan bahwa aku—bahwa dia—mencintaimu."

"Aku tidak memintamu untuk merasakan apa pun. Aku hanya ingin kau tahu."

Ia mengangguk. "Aku tahu. Dan aku menghargainya."

Kami duduk di sana, dalam keheningan yang nyaman. Tidak perlu bicara. Tidak perlu menjelaskan.

Karena untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku merasa bahwa beban yang kupikul mulai terasa lebih ringan.

---

Sore harinya, aku kembali ke laboratorium untuk memeriksa data yang kami kumpulkan. KSAN sedang sibuk dengan monitor, mencatat setiap fluktuasi energi yang terdeteksi.

 "Ada yang baru? " tanyaku.

 "Beberapa fluktuasi kecil di pinggir desa. Tapi tidak ada yang signifikan. "

Aku mengangguk.  "Bagus. Berarti tidak ada ancaman langsung. "

 "Tapi ada satu hal yang aneh. " Ia menunjuk ke sebuah titik di peta.  "Di sini, dekat sungai. Pola energinya berbeda. Seperti ada yang sengaja disembunyikan. "

Aku mengerutkan dahi.  "Bisa jadi itu adalah jejak psikis lain. "

 "Itu yang aku pikirkan. "

Aku menatap layar. Jejak itu samar—tapi cukup jelas untuk dikenali. Polanya berbeda dari Reiki, berbeda dari Hubble, berbeda dari siapa pun yang pernah kurekam.

Ini adalah jejak psikis level menengah. Mungkin Malaikat Psikis. Tapi yang aneh, jejak ini sengaja disembunyikan. Seperti seseorang yang tidak ingin ditemukan.

 "Kita harus mencari tahu siapa itu, " kataku.

 "Tapi bagaimana? "

 "Kita tunggu. Jika ia memang sengaja bersembunyi, pasti ada alasannya. Dan suatu hari nanti, ia akan muncul. "

KSAN mengangguk.  "Mudah-mudahan itu bukan ancaman. "

 "Mudah-mudahan. "

---

Malam harinya, aku duduk sendirian di gudang, memegang perangkatku. Data tentang Reiki masih ada di layar. Tapi kali ini, aku tidak merasa takut. Aku merasa... siap.

Siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Siap untuk melindunginya. Siap untuk membantunya mengingat.

Karena aku sudah mencarinya selama 38 tahun. Dan sekarang aku menemukannya, aku tidak akan membiarkannya pergi lagi.

Tidak peduli apa pun yang terjadi.

---

Keesokan paginya, aku bangun dengan suara ketukan di pintu gudang. KSAN masuk dengan wajah pucat.

 "Ada masalah, " katanya.  "Hubble tahu kita pergi ke pulau itu. "

Aku duduk.  "Bagaimana ia tahu? "

 "Ia memasang pelacak di pesawat. Ia tahu kita pergi semalam. "

Aku menggerutu.  "Sial. "

 "Ia ingin bicara denganmu. Sekarang. "

Aku berdiri dan berjalan menuju pesawat Hubble. Di dalam, Hubble duduk di kursinya, wajahnya dingin.

 "Duduk, " katanya.

Aku duduk di seberangnya.

 "Kau pergi ke pulau itu semalam, " katanya. Bukan pertanyaan—pernyataan.

 "Ya. "

 "Kenapa? "

 "Karena aku perlu jawaban. "

 "Dan apa yang kau temukan? "

Aku menatapnya.  "Bahwa Reiki adalah reinkarnasi Dewa Psikis. "

Hubble diam. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku bisa melihat otot-otot di rahangnya menegang.

 "Kau yakin? " tanyanya akhirnya.

 "70%. "

 "Itu belum cukup. "

 "Tapi cukup untuk membuatku khawatir. "

Hubble menatapku lama. Lalu ia berkata,  "Aku juga punya firasat yang sama. Sejak pertama kali melihatnya. "

 "Kenapa kau tidak memberitahuku? "

 "Karena aku tidak ingin percaya. "

Kami diam. Untuk pertama kalinya, aku melihat kerentanan di mata Hubble—bukan sebagai pemimpin pasukan, tapi sebagai manusia yang trauma.

 "Apa yang akan kau lakukan? " tanyaku.

Hubble menatapku.  "Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal: kita harus melindunginya. Bukan karena ia adalah Dewa, tapi karena ia masih anak-anak. "

Aku tersenyum tipis.  "Setuju. "

---

Aku meninggalkan pesawat Hubble dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, aku lega karena Hubble akhirnya tahu dan tidak bereaksi berlebihan. Di sisi lain, aku khawatir—karena jika Hubble tahu, mungkin Markas juga akan segera tahu.

Aku berjalan menuju gudang. Reiki sedang duduk di lantai, membaca buku catatan yang kuberikan. Ia mendongak ketika aku masuk.

 "Kau baik-baik saja? " tanyanya.

 "Hubble tahu tentang pulau itu. "

Ia diam.  "Dan? "

 "Dan ia tidak marah. Ia hanya... khawatir. "

 "Tentang apa? "

 "Tentang dirimu. "

Reiki tersenyum pahit.  "Semua orang khawatir tentang diriku akhir-akhir ini. "

 "Karena kau penting. "

 "Atau karena aku berbahaya. "

Aku duduk di sampingnya.  "Keduanya. "

Ia tertawa kecil.  "Kau selalu jujur. "

 "Aku tidak punya alasan untuk berbohong. "

Kami diam sejenak. Di luar, angin malam berdesir pelan.

 "Hime. "

 "Ya? "

 "Terima kasih. Karena tidak menyerah padaku. "

Aku menatapnya.  "Aku tidak akan pernah menyerah padamu. "

Ia tersenyum. Dan untuk sesaat, aku melihat kilasan dirinya di masa lalu—senyum yang sama, mata yang sama.

 "Aku tahu, " katanya.

---

Malam harinya, aku duduk sendirian di gudang, memeriksa data di perangkatku. 70%. Masih 70%. Tapi setelah membaca catatan di pulau itu, aku yakin angka itu akan naik.

Aku membuka file lama—file tentang Dewa Psikis. Aku sudah ribuan kali membukanya, tapi kali ini terasa berbeda. Karena sekarang aku tahu bahwa reinkarnasinya ada di sini, di desa ini, hanya beberapa meter dariku.

Aku mematikan perangkatku dan merebahkan diri di lantai gudang. Langit-langit kayu di atasku retak-retak, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa damai.

*Maafkan aku karena belum bisa memberitahumu semuanya\,* bisikku dalam hati. *Tapi suatu hari nanti\, kau akan tahu. Dan aku harap kau bisa memaafkanku.*

---

Keesokan paginya, aku berjalan menuju laboratorium dengan langkah lebih ringan. KSAN sudah ada di sana, sibuk dengan monitor. Dila duduk di sudut, menggambar sesuatu.

 "Ada yang baru? " tanyaku.

 "Beberapa fluktuasi kecil, " kata KSAN.  "Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "

 "Bagus. "

Aku duduk di depan perangkatku dan mulai menganalisis data dari pulau. Grafik-grafik bertebaran di layar, menunjukkan pola energi yang rumit. Tapi di tengah semua itu, ada satu pola yang menonjol—pola yang sama dengan yang ada di log mesin waktuku.

*Ini bukan kebetulan. Pulau itu\, gerbang itu\, Reiki—semuanya terhubung.*

Aku menatap layar, merasakan kepastian yang selama ini hilang. Untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku tahu bahwa aku berada di jalur yang benar.

---

Sore harinya, aku berjalan ke pinggir desa untuk mencari ketenangan. Di sana, di bawah pohon beringin tua, aku duduk dan menatap sawah yang menghijau. Angin berdesir pelan, membawa bau tanah dan padi.

Pikiranku melayang pada Reiki. Pada catatan yang kubaca di pulau itu. Pada kata-kata Dewa Psikis yang tertulis untukku.

*"Ia adalah cahaya di tengah kegelapan yang terus mengelilingiku."*

Aku tersenyum pahit. Dulu, aku adalah cahayanya. Sekarang, ia adalah cahayaku.

 "Hime. "

Aku menoleh. Reiki berdiri di belakangku, wajahnya tenang.

 "Apa yang kau lakukan di sini? " tanyaku.

 "Mencarimu. KSAN bilang kau ke sini. "

Ia duduk di sampingku. Kami diam, menatap sawah yang terbentang.

 "Hime. "

 "Ya? "

 "Aku sudah memikirkan semuanya. Tentang diriku. Tentang masa laluku. Tentang apa yang kau katakan. "

 "Dan? "

 "Dan aku memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu dalam. "

Aku menatapnya.  "Kenapa? "

 "Karena aku tidak ingin kehilangan diriku yang sekarang. Jika aku terus memikirkan masa lalu, aku takut aku akan berubah. "

Aku meraih tangannya.  "Kau tidak akan berubah. Aku di sini untuk memastikan itu. "

Ia tersenyum.  "Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak takut. "

Kami duduk di bawah pohon beringin, menatap senja yang mulai turun. Dan untuk sesaat, dunia terasa damai.

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!