"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: TRANSMIGRASI DAN NASIB SIAL YANG AGUNG
Di sebuah pondok bambu yang terletak di tepi jurang tak bernama, Ye Xuan duduk menatap langit dengan pandangan kosong. Di tangannya, sebuah sapu lidi yang sudah rontok sebagian ia pegang erat-berikut sekeranjang ubi jalar yang baru saja ia petik.
"Sialan," gumam Ye Xuan untuk yang ke-100 kalinya hari itu. "Dari miliaran manusia di Bumi, kenapa harus aku yang ditabrak truk es krim dan bangun di tempat seperti ini?"
Ye Xuan adalah seorang transmigrator. Tiga bulan lalu, dia masih seorang pengangguran yang asyik bermain game di kamarnya yang ber-AC. Sekarang? Dia berada di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana orang bisa menghancurkan bulan hanya dengan bersin.
Masalahnya bukan hanya itu. Tubuh yang ia tempati ini dulunya adalah tuan muda dari Klan Ye, klan paling mengerikan di Dunia Surgawi Atas. Namun, karena pemilik aslinya terlahir dengan "Meridian Buntu" yang tidak bisa menyerap energi spiritual setetes pun, dia dianggap sampah. Ayah dan ibunya—yang merupakan pahlawan klan—tewas mengenaskan saat melindunginya dari pembunuh bayaran yang dikirim oleh tetua klan mereka sendiri yang haus kekuasaan.
Sekarang, Ye Xuan dibuang. Hidup terasing di kaki gunung tanpa uang sepeser pun.
"Ayah dan ibuku di dunia ini tewas demi melindungiku, tapi aku bahkan tidak bisa merasakan satu pun helai Qi di udara," Ye Xuan menghela napas, lalu mulai menyapu halaman. "Sistem? Dewa? Kakek berbaju putih di dalam cincin? Di mana kalian? Kenapa aku hanya diberi sapu lidi ini?"
Ye Xuan merasa dirinya sangat lemah. Namun, dia tidak menyadari bahwa setiap kali dia mengayunkan sapu lidinya, hukum ruang dan waktu di sekitarnya sedikit terdistorsi. Saat dia menyapu debu, dia sebenarnya sedang menyapu "Hukum Kerusakan" dari permukaan bumi. Bahkan, ubi jalar di keranjangnya bukanlah ubi biasa—itu adalah Ubi Surgawi Sembilan Pemurnian yang bisa memberikan keabadian jika dimakan. Tapi bagi Ye Xuan? Itu hanya sarapan yang kurang garam.
Tepat saat Ye Xuan sedang meratapi nasibnya, di atas langit, sebuah pertempuran hebat sedang berlangsung.
BOOM!
Dua sinar cahaya, satu biru dan satu merah, saling bertabrakan, menciptakan gelombang kejut yang meratakan hutan di bawahnya. Namun, anehnya, saat gelombang kejut itu mencapai area sekitar pondok Ye Xuan, energi itu tiba-tiba menghilang tanpa bekas, seolah-olah ditelan oleh sesuatu yang sangat menakutkan.
"Hahaha! Lin Meier, menyerahlah! Serahkan Kitab Rahasia Dewa Laut atau kau akan mati di sini!" teriak seorang pria tua dengan wajah menyeramkan, berdiri di atas pedang terbang yang besar.
Seorang gadis cantik dengan gaun biru yang robek, Lin Meier, terengah-engah. Dia adalah murid jenius dari Sekte Lautan Tenang. Wajahnya yang cantik kini dipenuhi kecemasan. Saat dia melihat ke bawah, dia melihat sebuah pondok bambu yang tampak damai di tengah-tengah kehancuran hutan.
Kenapa tempat itu tidak hancur? batin Lin Meier terkejut.
Tanpa pikir panjang, ia meluncur turun dan mendarat dengan keras di halaman pondok Ye Xuan.
Brak!
Ye Xuan yang sedang asyik menyapu hampir saja melompat karena kaget. "Astaga! Apa itu?! Meteor?!"
Dia berbalik dan melihat seorang gadis cantik luar biasa tergeletak di tanah. Rambutnya hitam panjang, kulitnya putih seperti porselen, dan meskipun berlumuran darah, aura kecantikannya membuat Ye Xuan terpana.
Waduh... cantik sekali, batin Ye Xuan. Jantungnya berdegup kencang. Sebagai mantan jomblo abadi di Bumi, melihat gadis secantik ini secara langsung membuatnya gugup. Namun, dia segera menekan perasaannya. Ingat, Ye Xuan! Kau itu sampah tanpa bakat. Gadis secantik ini pasti seorang kultivator hebat. Dia tidak akan pernah melirik pria yang bahkan tidak bisa terbang sepertimu.
Ye Xuan mendekat dengan ragu-ragu. "Nona? Anda... Anda baik-baik saja? Apakah Anda jatuh dari langit saat sedang latihan senam?"
Lin Meier menatap Ye Xuan dengan pandangan kabur. Di matanya, Ye Xuan tidak memiliki energi spiritual sedikit pun. Hanya manusia biasa? pikirnya kecewa. Namun, saat dia melihat ke sekeliling, matanya membelalak.
Sapu lidi yang dipegang pemuda itu... kenapa memancarkan cahaya Dao yang begitu murni? Dan tumpukan ubi di sana... bukankah itu tanaman obat legendaris yang dicari oleh seluruh kaisar di benua ini?
"Se... Senior... tolong saya..." bisik Lin Meier sebelum pingsan.
"Hahaha! Jadi kau bersembunyi di sini, Gadis Kecil!" Pria tua berjubah merah tadi mendarat di halaman dengan tawa sombong. Dia menatap Ye Xuan dengan jijik. "Hei, bocah manusia! Minggir dari sana jika kau tidak ingin kepalamu terpisah dari tubuhmu!"
Ye Xuan gemetar. Sial, ini dia! Kultivator jahat yang sering ada di novel! Aku pasti akan mati!
Meskipun ketakutan setengah mati, Ye Xuan teringat bagaimana orang tuanya dulu melindunginya. Dia tidak bisa membiarkan gadis ini dibunuh di depan matanya.
"Hei, Pak Tua!" teriak Ye Xuan dengan suara gemetar, sambil mengangkat sapu lidinya tinggi-tinggi sebagai senjata (satu-satunya yang dia punya). "Ini halamanku! Jangan sembarangan berteriak di sini! Pergi atau aku... aku akan memanggil warga desa!" (Padahal tidak ada warga desa dalam radius 50 km).
Pria tua itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak. "Memanggil warga? Mengancamku dengan sapu? Mati kau!"
Pria tua itu mengayunkan pedangnya, melepaskan tebasan energi merah yang bisa membelah sebuah kota kecil. Ye Xuan yang panik secara refleks mengayunkan sapu lidinya untuk menangkis.
Wush!
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada suara guntur.
Saat sapu lidi itu bersentuhan dengan energi pedang, energi merah yang mematikan itu tiba-tiba berubah menjadi kelopak bunga sakura yang jatuh dengan lembut ke tanah.
Pria tua itu terdiam. Matanya hampir keluar dari rongganya. "Apa... apa yang terjadi? Teknik pembatalan Dao?! Siapa kau sebenarnya?!"
Ye Xuan juga bingung. Dia melihat ke sapunya, lalu ke bunga-bunga di tanah. Eh? Pak tua ini sedang sulap? Kenapa serangannya jadi bunga?
Pria tua berjubah merah itu, yang dikenal sebagai Penatua Ghost Hand dari Sekte Darah, merasa seluruh dunianya runtuh. Tebasan pedang Blood-Reaping miliknya adalah teknik tingkat Bumi yang sanggup merobek baja, namun di tangan pemuda ini, serangan itu berubah menjadi kelopak bunga?
"Kau... kau mempermainkanku!" teriak Penatua Ghost Hand, meskipun suaranya kini sedikit melengking karena ketakutan. "Trik ilusi macam apa ini?! Aku adalah ahli ranah Foundation Establishment! Tidak mungkin manusia biasa bisa menangkis seranganku!"
Ye Xuan, di sisi lain, sedang berkeringat dingin. Pikirannya berputar liar. Tunggu dulu... kenapa dia marah? Harusnya aku yang marah karena dia menyerangku dengan kembang api aneh itu! Apakah orang-orang di dunia ini sudah gila? Dia menyerangku dengan bunga, lalu marah-marah sendiri?
"Dengar, Pak Tua," Ye Xuan mencoba memberanikan diri, meskipun kakinya gemetar di balik jubah kain ramisnya. "Aku tidak tahu apa maumu, tapi ini sudah jam makan siang. Kalau kau hanya ingin pamer sulap bunga, silakan cari tempat lain. Sapuku ini mahal, jangan kau kotori dengan trik-trikmu!"
Sapunya mahal?! Penatua Ghost Hand menatap sapu lidi yang sudah rontok itu dengan ngeri. Tentu saja! Itu pasti Senjata Dewa yang menyamar! Dia bilang sapu itu mahal karena nilainya tak terukur oleh batu spiritual! Dan dia menyebut teknik tertinggiku sebagai 'sulap bunga'? Senior ini... dia sedang menghinaku!
"Bajingan! Aku akan mempertaruhkan nyawaku!" Penatua Ghost Hand membakar esensi darahnya, tubuhnya menyala merah membara. Ia bersiap untuk melakukan serangan bunuh diri.
Ye Xuan melihat pria itu tiba-tiba berubah menjadi merah dan berteriak-teriak. Panik melanda hatinya. Waduh, dia mau meledak! Dia pasti punya penyakit darah tinggi dan sekarang kumat!
Karena refleks ketakutan, Ye Xuan melakukan hal pertama yang terpikirkan oleh orang yang sedang panik: Melempar benda di tangannya.
"Pergi kau, orang gila!" teriak Ye Xuan sambil melemparkan sapu lidinya sekuat tenaga ke arah pria tua itu.
Di mata Ye Xuan, itu adalah lemparan yang canggung dan lemah. Namun, di mata hukum alam Benua Sembilan Cakrawala, lemparan itu adalah "Eksekusi Surgawi". Sapu lidi itu berputar di udara, membelah awan, dan menciptakan jalur hampa udara yang menyedot seluruh energi spiritual di sekitarnya.
BUM!
Bukan ledakan api yang terjadi, melainkan suara pluk yang sangat pelan. Sapu lidi itu tepat mengenai dahi Penatua Ghost Hand.
Seketika, seluruh aura merah di tubuh pria tua itu padam. Energi kultivasinya meledak di dalam tubuhnya sendiri, hancur berkeping-keping hingga ia kembali menjadi manusia biasa tanpa tenaga dalam sedikit pun. Ia terhempas ke tanah, berguling-guling seperti bola, dan berhenti tepat di kaki pohon ubi Ye Xuan.
"Uh..." Penatua Ghost Hand mengerang. Ia mencoba merasakan energi di tubuhnya, namun nihil. "Kultivasiku... hancur? Hanya dengan lemparan sapu?"
Ia menatap Ye Xuan yang kini berdiri dengan tangan kosong, tampak terengah-engah karena "lelah" melempar sapu. Di mata pria tua itu, Ye Xuan kini terlihat seperti raksasa yang kepalanya menyentuh langit.
Mengerikan! Senior ini bahkan tidak perlu menggunakan jarinya. Dia menghancurkan kultivasi seratus tahunku hanya dengan membuang sampah!
Sementara itu, Ye Xuan mengusap dadanya yang berdegup kencang. "Hah... hah... untung saja kena. Dia pingsan? Atau mati? Ah, sudahlah, yang penting dia berhenti berteriak."
Ye Xuan kemudian teringat pada gadis yang pingsan tadi, Lin Meier. Ia segera mendekat dan berlutut di sampingnya. Dengan tangan gemetar, ia mencoba memeriksa napas gadis itu.
"Nona? Hei, bangun. Orang gila itu sudah... eh, tertidur. Jangan mati di sini, aku tidak punya uang untuk biaya pemakamanmu," ucap Ye Xuan dengan nada komedi yang getir.
Tepat saat itu, Lin Meier membuka matanya sedikit. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Ye Xuan yang sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Ia juga melihat Penatua Ghost Hand yang tadinya begitu perkasa, kini terkapar tak berdaya seperti anjing tanah di kejauhan.
"Se-senior... Anda menyelamatkan saya?" bisik Lin Meier lemah.
Ye Xuan tersenyum canggung, mencoba terlihat keren padahal hatinya hampir copot. "Oh, itu? Cuma masalah kecil. Pak tua itu sepertinya kurang minum air, dia tiba-tiba pingsan setelah aku lempar sapu. Dunia ini memang aneh, ya?"
Lin Meier terpaku. Kurang minum air? Pingsan? Ia melihat sapu lidi yang kini tergeletak tenang di tanah. Di sekeliling sapu itu, rumput-rumput liar tumbuh dengan kecepatan yang tak masuk akal, bermekaran menjadi bunga-bunga roh tingkat tinggi karena sisa energi yang menempel pada sapu tersebut.
Senior ini... dia benar-benar seorang ahli yang sudah melampaui dunia fana. Dia menganggap pertarungan hidup dan mati sebagai 'kurang minum air'. Dan lihatlah wajahnya... dia begitu rendah hati, berpura-pura tidak memiliki kekuatan agar aku tidak merasa tertekan.
"Terima kasih... Senior Ye," ucap Lin Meier dengan wajah memerah. Ia merasa jantungnya berdebar bukan hanya karena luka, tapi karena pesona misterius pemuda di depannya ini.
Ye Xuan, yang tidak tahu apa-apa, merasa sangat senang di dalam hati. Wah, dia memanggilku Senior! Dan dia cantik sekali saat tersenyum. Tapi ingat Ye Xuan, jangan baper! Dia ini bidadari, kau hanya petani ubi. Tetaplah profesional sebagai pengangguran yang baru saja pindah dimensi.
"Ayo, aku bantu masuk ke pondok. Aku punya beberapa ubi jalar. Mungkin rasanya tawar, tapi setidaknya bisa mengganjal perut," ajak Ye Xuan sambil membantu Lin Meier berdiri.
Lin Meier menatap tumpukan ubi itu dengan mata berkaca-kaca. Ubi Surgawi Sembilan Pemurnian... diberikan secara gratis untuk 'mengganjal perut'? Jika berita ini tersebar, seluruh Kaisar dari empat penjuru benua akan datang bersujud di sini!
Dan begitulah, dimulailah hari pertama Ye Xuan di dunia baru ini. Seorang pengangguran yang merasa dirinya sampah, seorang gadis jenius yang menganggapnya Dewa, dan seorang penatua sekte iblis yang kini sedang meratapi nasibnya menjadi manusia biasa sambil mencium aroma tanah di ladang ubinya
Ye Xuan
Lin Meiier