Judul: Napas Terakhir Lumina
Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : BISIKAN YANG BERUBAH JELAGA
Sena terbangun bahkan sebelum matahari sempat menyapa ufuk timur. Di dalam gubuk kayu yang kecil itu, suara napas yang berat dan pendek terdengar dari sudut ruangan. Ia menghampiri dipan bambu tempat ELARA terbaring. Gadis kecil itu, yang biasanya penuh tawa, kini hanya bisa meringis dalam tidurnya. Kulit wajahnya yang pucat tampak kontras dengan rona merah di kedua pipinya akibat demam yang membakar.
Sena menyentuh dahi adiknya, lalu menarik tangannya dengan cepat—panasnya kian mengkhawatirkan. "Sabar ya, RA. Kakak akan segera kembali," bisiknya lirih, hampir tak terdengar. Ia meraih tas anyaman dan pisau kecilnya, lalu melangkah keluar menembus dinginnya embun yang mulai turun.
Kabut pagi di Hutan Lumina bukan sekadar fenomena alam; ia adalah napas hutan itu sendiri. Putih, tebal, dan membawa aroma manis dari kelopak lumiflora yang mekar saat fajar. Sena melangkah tanpa suara, membiarkan telapak kakinya yang kapalan berinteraksi langsung dengan lumut basah dan permukaan akar purba yang menonjol. Bagi pemuda delapan belas tahun itu, hutan ini adalah sebuah percakapan panjang yang tak pernah putus. Setiap gesekan daun dan patahan ranting adalah suku kata yang ia pahami di luar kepala.
Pagi itu, tugasnya sederhana namun krusial: mengumpulkan daun veridia. Sena berlutut di dekat batang pohon tua yang tumbang, tangannya dengan cekatan memilah daun hijau pucat yang bergetar lembut. Daun ini adalah bahan utama obat penurun demam, satu-satunya harapan untuk meredam api yang membakar tubuh ELARA.
"Tolong, untuk ELARA," bisiknya pada tanaman itu, sebuah kebiasaan kecil yang ia warisi dari kakeknya—bahwa alam akan memberi lebih banyak jika kita meminta, bukan sekadar mengambil. Ia bisa membayangkan wajah ELARA yang biasanya menunggunya di ambang pintu, kini hanya bisa tergeletak tak berdaya.
Namun, saat jemarinya menyentuh helai daun kelima, melodi di kepalanya mendadak terputus.
Dunia seolah kehilangan suaranya. Burung-burung pipit pelangi yang tadi sibuk bertengkar memperebutkan nektar mendadak terbang tunggang-langgang menjauhi ufuk timur. Keheningan yang datang kemudian terasa berat, seperti beban yang menekan gendang telinga. Sena berdiri perlahan, matanya menyipit. Hutan Lumina tidak pernah sediam ini, kecuali jika ada sesuatu yang sangat asing sedang mencabik harmoni mereka.
Lalu, sebuah sensasi asing merayap di kulitnya. Bukan dingin, melainkan rasa gatal yang membakar. Bau tanah basah yang ia cintai mendadak kalah oleh aroma yang memuakkan: bau logam yang teroksidasi dan asap pekat dari pembakaran sesuatu yang tidak alami. Bau itu adalah jelaga yang mengotori kesucian pagi.
Sena segera memanjat pohon ironwood di dekatnya. Ia tidak butuh tangga; tubuhnya yang ramping bergerak lincah di antara dahan, menyatu dengan bayang-bayang daun. Dari ketinggian tiga puluh meter, ia melihat pemandangan yang membuat perutnya mual.
Di batas timur, di mana hutan bertemu dengan padang rumput kerajaan, hijau yang tenang telah dinodai oleh garis-garis baja yang berkilau. Ratusan prajurit berbaju zirah bergerak maju. Suara denting senjata dan derap langkah sepatu bot yang berat terdengar seperti guntur yang jauh. Mereka membawa mesin-mesin kayu raksasa—alat pengepung yang biasanya digunakan untuk meruntuhkan tembok kota, bukan untuk memasuki hutan yang damai.
Sena menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah pohon penjaga di garda depan tumbang dihantam kapak raksasa bertenaga uap. Suara jeritan kayu yang patah itu bergema hingga ke tulang rusuknya. Tanah bergetar, mengirimkan gelombang kepanikan yang bisa dirasakan oleh akar-akar di seluruh hutan.
"Mereka tidak datang untuk berunding," gumam Sena. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seperti burung yang terperangkap dalam sangkar.
Pikirannya melayang kembali ke desa. Ayah ELARA yang baik hati, para pengrajin kayu yang tangannya hanya terbiasa memegang pahat, dan anak-anak yang bermain di bawah pohon beringin. Melawan pasukan itu adalah bunuh diri. Desa mereka akan rata dengan tanah dalam hitungan jam jika ia hanya membawa peringatan tanpa solusi. Pedang kayu para penjaga desa tak akan mampu menembus baju zirah baja yang dipoles mengkilap itu.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah memori kuno menyeruak. Suara kakeknya yang serak, menceritakan tentang Batu Jantung—kristal yang konon menjadi sumbu sihir Hutan Lumina, yang terkubur di tempat yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar-benar "mendengar".
"Jika suatu saat hutan ini menangis, Sena, pergilah ke pusatnya. Tapi ingat, jangan bawa amarahmu. Karena batu itu hanya bicara pada hati yang jernih, bukan yang penuh jelaga."
Tanpa membuang waktu, Sena melompat turun. Ia mendarat di atas tumpukan daun kering dengan suara kresek yang tajam, sebuah kontras dari langkahnya yang biasanya tanpa suara. Ia tidak berlari ke arah desa; ia berbalik membelakangi asap hitam itu dan memacu kakinya menuju Jantung Lumina.
Perjalanan menuju pusat hutan ternyata menjadi ujian pertama. Hutan seolah tahu bahwa ada energi asing yang mengancam, dan ia bereaksi dengan cara yang liar. Ranting-ranting berduri yang biasanya melentur kini seolah sengaja menghalangi jalannya, mencakar lengan dan pipi Sena hingga meninggalkan bilur merah. Sena harus beberapa kali menyabetkan pisau kecilnya untuk membuka jalan, sambil terus menjaga keseimbangan di atas tanah yang semakin licin.
Wilayah itu adalah daerah terlarang. Semakin dalam ia masuk, pepohonan tumbuh semakin raksasa, batangnya selebar rumah penduduk, dengan sulur-sulur yang menjuntai seperti tirai hidup. Cahaya matahari yang tadinya hangat kini berubah menjadi pudar, terperangkap oleh dedaunan tebal yang saling mengunci di atas sana. Di sini, waktu seolah berhenti. Suara burung pelangi berganti dengan suara dengung rendah yang tidak diketahui asalnya—seperti jutaan lebah yang sedang menggumamkan mantra kuno.
Langkah Sena terhenti saat sebuah bayangan bergeser dari balik pohon beringin putih. Seorang wanita tua dengan punggung bungkuk dan jubah dari rajutan akar muncul dari kegelapan. Nenek Isura, sang penjaga gerbang batin hutan.
"Kau terlambat, Nak," suara Isura pecah, seperti suara dahan kering yang patah. Matanya yang putih keruh seolah menatap langsung ke dalam ketakutan Sena.
"Nenek tahu mereka datang?" napas Sena tersengal. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
"Hutan ini sudah berteriak sejak matahari belum terbit. Akar-akarnya telah mengirimkan pesan melalui air sungai, dan angin telah membisikkan bau karat sejak fajar menyingsing," Isura menunjuk ke arah pusat hutan dengan jarinya yang panjang dan kurus. "Batu itu tidak bersembunyi. Kau yang hanya belum siap melihatnya."
"Tolong saya, Nek. Apa yang harus saya lakukan? Desa kami dalam bahaya!"
"Dengarkan detak jantungmu sendiri. Jika ia selaras dengan detak bumi di bawah kakimu, air terjun perak itu akan membukakan jalan. Jika tidak, kolam itu hanya akan menjadi kuburanmu. Pergilah sekarang, sebelum bayang-bayang besi itu menelan cahaya terakhir di langit Lumina."
Sena melanjutkan lari dengan perasaan yang kian kalut namun bertekad bulat. Ia harus melompati celah jurang yang sempit, melewati sungai deras yang arusnya bisa menghanyutkan seekor kerbau, hingga memanjat tebing licin yang hanya menyediakan sedikit celah untuk jemarinya yang gemetar.
Hingga akhirnya, gemuruh air terjun itu terdengar.
Di sebuah lembah yang tersembunyi di balik kabut abadi, ia menemukannya. Air terjun itu tidak berwarna bening, melainkan berkilauan seperti perak cair yang mengalir turun dari langit. Di tengah kolam itu, jauh di bawah permukaan air yang tenang, sebuah cahaya biru safir berdenyut.
Sena berdiri di tepi tebing, merasakan hembusan angin dingin yang membawa percikan air perak ke wajahnya. Ia melihat bayangannya sendiri di permukaan air—seorang pemuda desa yang tampak sangat kecil dan rapuh di hadapan kemegahan mistis ini. Di belakangnya, sayup-sayup terdengar suara ledakan dan teriakan penduduk desa yang mulai panik.
Ia menarik napas panjang, menutup matanya sejenak, dan melepaskan segala kebencian. Ia membiarkan pikirannya hanya berisi satu tujuan: menjadi perisai bagi kehidupan yang ia cintai. Ia melepaskan genggaman tangannya yang terkepal, membiarkan tubuhnya rileks, dan menyelaraskan denyut nadinya dengan irama gemuruh air terjun.
Byurr!
Sena melompat. Air yang sedingin es menyambut tubuhnya dengan kasar. Di dalam air, tekanan mulai menghimpit dadanya. Paru-parunya mulai menjerit meminta oksigen, namun matanya tetap terbuka, menatap cahaya safir yang kian dekat.
Semakin dalam ia menyelam, cahaya itu kian terang, menyilaukan namun menenangkan. Tangannya terjulur, berusaha menggapai inti cahaya tersebut. Tepat saat kesadarannya mulai memudar karena kekurangan udara, jemarinya menyentuh permukaan dingin dari Batu Jantung.
Seketika, sebuah ledakan informasi visual menghantam benaknya. Ia melihat masa lalu hutan, masa depan yang hancur, dan sebuah suara tanpa wujud berbisik di dalam kepalanya: "Hanya satu yang bisa selamat. Hutannya, atau desanya. Pilih, Sena."
Pandangan Sena menggelap. Ia tidak lagi berada di dalam air, melainkan melayang di ruang hampa yang bercahaya biru, menunggu jawaban yang mungkin akan mengubah segalanya
jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.