NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

POV: WAHYU

Wahyu tidak berencana ketemu Karin hari itu.

Dia sedang berjalan dari perpustakaan kampus satu menuju parkiran motor—sudah hampir jam lima sore, langit mulai keemasan, angin bertiup sejuk. Di tangannya ada tiga buku tebal tentang Hukum Acara yang baru saja dia pinjam—sumber untuk belajar ujian minggu depan.

Karin muncul dari balik gedung FISIP, berjalan ke arah yang berlawanan. Mereka bertemu persis di persimpangan jalan setapak antara dua gedung.

Keduanya berhenti.

Karin terlihat terkejut, lalu ekspresinya berubah menjadi campuran antara senang dan... gugup.

"Wahyu," sapanya pelan.

"Karin," balas Wahyu datar.

Hening canggung.

Wahyu melanjutkan jalan, tapi Karin berbicara lagi.

"Wahyu, tunggu sebentar."

Wahyu berhenti, tapi tidak berbalik.

"Boleh aku... bicara sebentar sama kamu?"

Napas panjang.

Wahyu berbalik menghadap Karin. "Apa?"

Karin menelan ludah. Dia terlihat seperti sedang mengumpulkan keberanian—tangannya menggenggam tali tas selempangnya erat.

"Aku mau minta maaf," ujar Karin akhirnya.

Wahyu menatapnya tanpa ekspresi.

"Aku tahu kamu marah karena aku cerita tentang kondisi keluargamu ke Riani. Itu... aku salah. Aku harusnya nggak melakukan itu tanpa izinmu." Karin menatap Wahyu langsung—matanya serius, tidak menghindar. "Tapi aku mau kamu tahu, aku nggak cerita untuk bergosip. Aku cerita karena aku mau Riani ngerti kenapa kamu... seperti yang kamu sekarang. Supaya dia nggak salah paham. Supaya dia nggak mudah menyerah."

Wahyu diam.

"Dan aku minta maaf juga untuk hal yang lain." Karin mengalihkan pandangan sebentar, lalu kembali menatap Wahyu. "Waktu SD dulu... kamu push aku away, dan aku... nggak cukup keras kepala untuk stay. Aku menyerah terlalu cepat. Dan itu... aku sesali sampai sekarang."

Wahyu mengerutkan kening. "Kamu sudah lama menyimpan ini?"

"Ya." Karin tersenyum tipis—senyum yang sedih. "Delapan tahun lebih."

Wahyu menatap teman masa kecilnya itu. Karin yang dulu berlari bersamanya di lapangan SD, yang dulu berbagi bekal makan siang, yang dulu adalah salah satu dari sedikit orang yang membuat Wahyu merasa... normal.

Dan Wahyu yang mendorong dia pergi.

"Kamu nggak salah," ujar Wahyu akhirnya. Suaranya pelan. "Waktu itu aku yang push kamu away."

"Tapi aku harusnya nggak menyerah."

"Karin." Wahyu menatapnya lebih dalam. "Kamu masih SD. Kalau kamu tetap deket sama aku waktu itu... kamu juga akan kena dampaknya. Anak-anak di sekolah akan mulai jauh-jauhin kamu juga. Kamu akan susah punya teman. Aku nggak mau itu terjadi sama kamu."

Karin memandang Wahyu dengan tatapan yang berkaca-kaca. "Jadi kamu... sengaja push aku away untuk melindungi aku?"

Wahyu mengalihkan pandangan. "Bukan melindungi. Aku cuma nggak mau kamu ikut terkena masalah yang bukan urusanmu."

"Itu namanya melindungi, Wahyu."

Wahyu tidak menjawab.

Hening beberapa detik.

"Aku kangen sama kamu," ujar Karin tiba-tiba, suaranya bergetar sedikit. "Maksudku, kangen sama Wahyu yang dulu. Yang suka ngajak main, yang cerewet kalau ngomongin buku komik, yang selalu tangan pertama angkat tangan di kelas kalau gurunya tanya sesuatu."

Wahyu menunduk sedikit.

Wahyu yang dulu.

Dia hampir tidak ingat seperti apa dirinya waktu itu. Seperti orang berbeda. Seperti karakter dari buku yang sudah lama tidak dibaca.

"Dia sudah lama pergi," jawab Wahyu pelan.

"Belum sepenuhnya," Karin berkata yakin. "Aku lihat dia tadi, waktu kamu bantu di acara BEM. Waktu kamu jelasin sesuatu ke Arman dan ekspresimu... fokus. Antusias. Itu Wahyu yang aku kenal dulu."

Wahyu menelan ludah.

Antusias.

Apakah dia masih bisa antusias tentang sesuatu?

Mungkin tentang hukum. Tentang kasus-kasus yang melibatkan ketidakadilan. Tentang proposal bisnis sosial yang sedang mereka kerjakan bersama.

Tapi apakah itu cukup untuk bilang "Wahyu yang dulu" masih ada?

"Wahyu," Karin melanjutkan hati-hati. "Aku nggak minta kamu langsung percaya sama aku lagi. Aku ngerti itu butuh waktu. Tapi... bolehkah kita mulai dari awal? Pelan-pelan."

Wahyu menatap Karin.

Wajahnya serius. Matanya tulus. Tidak ada kepalsuan di sana.

Ini Karin—teman SD yang berlari bersamanya di lapangan, yang berbagi bekal makan siang, yang menangis sendirian waktu Wahyu perlahan menjauh.

Dan sekarang dia berdiri di sini, meminta kesempatan kedua.

Wahyu menarik napas panjang.

"Pelan-pelan," ujar Wahyu akhirnya.

Karin mengedipkan mata—tidak yakin apakah itu persetujuan. "Pelan-pelan?"

"Aku nggak bisa langsung percaya. Butuh waktu. Tapi aku... bisa mulai dari sini."

Karin tersenyum—dan kali ini, senyum itu mencapai matanya. Matanya yang berkaca-kaca.

"Oke," ujarnya pelan. "Pelan-pelan. Aku bisa terima itu."

Wahyu mengangguk. "Aku harus pergi. Parkiran jauh."

"Iya, aku juga mau pulang." Karin melangkah ke samping, memberi jalan. "Wahyu..."

"Apa?"

"Terima kasih. Untuk mau bicara."

Wahyu tidak menjawab. Tapi dia mengangguk—satu kali, singkat, tapi tulus.

Lalu dia melanjutkan jalan menuju parkiran.

Malam harinya, Wahyu duduk di meja belajarnya, mencoba fokus pada buku Hukum Acara Perdata. Tapi pikirannya tidak bisa tenang.

Dia memikirkan percakapan dengan Karin.

"Itu namanya melindungi, Wahyu."

Apakah itu yang dia lakukan dulu? Melindungi orang-orang di sekitarnya dengan mendorong mereka pergi?

Mungkin.

Tapi hasilnya adalah... dia sendirian selama bertahun-tahun.

Dan sendirian itu... tidak mudah.

Wahyu membuka lembar baru di buku catatannya. Dia menulis—bukan catatan kuliah, tapi sesuatu yang lebih personal. Sesuatu yang jarang dia lakukan.

Aku selalu pikir sendirian itu aman. Tidak ada yang bisa menyakiti karena tidak ada yang dekat.

Tapi ternyata kesendirian itu sakitnya sendiri. Berbeda, tapi sama nyatanya.

Riani tidak pergi kemarin. Karin minta maaf hari ini.

Aku nggak tahu harus bereaksi apa. Aku terlalu lama tidak terbiasa dengan orang yang... stay.

Apakah aku bisa percaya lagi? Aku tidak tahu.

Tapi mungkin... bisa mencoba.

Wahyu menutup buku catatannya.

Menatap tulisan di sampulnya yang sudah agak kusam—buku catatan itu sudah dia pakai sejak semester pertama SMA di sekolah lama. Berisi campuran catatan pelajaran dan pemikiran-pemikiran yang tidak bisa dia ungkapkan ke siapa pun.

Tempat satu-satunya dia bisa jujur.

Ponselnya bergetar.

Notifikasi grup WhatsApp kelompok.

Arman: "Guys, aku baru selesaikan bagian strategi pelaksanaan. Mau aku share sekarang atau pas meeting Kamis?"

Dinda: "Share sekarang dong, biar bisa kita review dulu."

Riani: "Setuju. Share ya, Arman."

Wahyu menatap layar. Lalu mengetik.

Wahyu: "Aku juga sudah selesaikan bagian edukasi hukum. Akan aku share malam ini."

Tiga titik langsung muncul di chat—tanda ada yang sedang mengetik.

Ternyata dari Riani.

Riani: "Wah cepet banget! Makasih Wahyu 😊"

Wahyu menatap emoji senyum itu.

Lalu—tanpa benar-benar menyadari kenapa—dia mengetik lagi.

Wahyu: "Draft bagian model bisnis kamu sudah sampai mana?"

Balasan Riani datang dalam hitungan detik.

Riani: "Sudah 70%. Bagian revenue stream masih agak bingung. Wahyu bisa bantu review nanti?"

Wahyu mempertimbangkan. Biasanya dia akan jawab singkat atau tidak sama sekali untuk permintaan di luar tugas formal masing-masing.

Tapi kali ini dia mengetik:

Wahyu: "Bisa. Share draftnya. Aku review malam ini."

Riani: "Serius?? Makasih banyak, Wahyu! Aku share sekarang ya!"

File dikirim. Wahyu membukanya—draft model bisnis yang Riani kerjakan, rapi dan cukup detail. Ada beberapa bagian yang memang perlu diperkuat, terutama soal struktur pendanaan dan analisis risiko.

Wahyu mulai membaca dan memberikan catatan.

Tanpa dia sadari, satu jam berlalu.

Dan selama satu jam itu, dia tidak memikirkan kasus ayahnya, tidak memikirkan keuangan yang menipis, tidak memikirkan ujian minggu depan.

Dia hanya fokus pada draft itu, dan pada balasan-balasan kecil yang sesekali datang dari Riani—"ohhh baru ngerti sekarang!", "ini jelas banget penjelasannya!", "kamu harusnya jadi dosen, Wahyu"—yang tanpa disengaja membuat sudut bibirnya terangkat sedikit.

Bukan senyum penuh.

Hanya sedikit.

Tapi tetap ada.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!