NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Paket Nyasar ke Gudang Sembilan

Okkk... kkhhkk... blup.

Mesin motor bebek rongsokan keluaran tahun dua ribu sembilan milikku mengeluarkan suara mengorok yang jelek sebelum akhirnya mati total.

Asap putih tipis mengepul dari sela-sela mesin bawah, membawa bau besi terbakar yang menyengat hidung.

Aku mengumpat keras, menghentakkan standar dua ke pelataran semen yang retak-retak, lalu menendang ban belakangnya sampai jempol kakiku di dalam sepatu kain yang menipis terasa ngilu. "Sialan! Mau mogok kok ya pas di tempat jin buang anak begini!"

Matahari sore Tanjungbalai sedang terik-teriknya, bikin pelipisku basah kuyup dan kaos oblongku lengket di punggung. Aku menyeka keringat pakai ujung jaket inventaris kantor ekspedisi yang warnanya sudah pudar dari oranye menjadi kuning dekil. Sambil memaki nasib, aku menarik keluar bundelan kertas resi dari kantong depan.

Gudang Nomor Sembilan.

Aku menoleh ke arah bangunan besar di depanku.

Dinding sengnya sudah karatan di sana-sini, sebagian besar tertutup lumut hijau pekat karena lokasinya yang menjorok langsung ke wilayah rawa bakau. Tempat ini sepi. Jauh dari hiruk-pikuk depo sortir pusat atau dermaga utama yang biasa dipenuhi calo dan kuli angkat ikan tongkol. Yang terdengar di sini cuma suara kecipak air pasang yang lambat dan bau payau menyengat yang bikin mual.

Sialnya lagi, paket sekotak besi seberat lima kilo di jok belakang ini harusnya dibongkar di Sektor Barat, bukan ke area mati ini. Si anak magang di meja admin pasti salah menempelkan manifes digital. Kalau paket ini terlambat diinput ke sistem sebelum jam lima sore, potong gajiku bulan ini sudah pasti di depan mata. Jangankan buat bayar kontrakan Kamar Nomor Empat yang menunggak dua minggu, buat beli nasi bungkus lauk telur dadar saja aku harus putar otak.

"Apalagi ini, ya Tuhan..." aku meraba blok mesin motor. Panasnya minta ampun, mirip wajan penggorengan. Kalau dipaksa starter sekarang, yang ada jeruji mesinnya bisa rontok.

Satu-satunya cara cepat adalah menyiramnya pakai air supaya suhunya turun. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada keran, tidak ada orang.

Yang ada cuma jalur air rawa berlumpur hitam di balik dinding gudang.

Aku melangkah cepat ke arah dermaga kayu yang sudah rapuh di samping gudang, mengabaikan bunyi derit kayu di bawah sepatuku. Aku berjongkok, berniat menyiduk air payau itu pakai botol plastik bekas di sekitar situ. Namun, saat tubuhku condong ke depan, mataku menangkap sesuatu yang ganjil di celah antara dinding seng gudang dan tumpukan palet kayu kargo yang hancur berantakan.

Ada bayangan besar yang meringkuk di sana.

Awalnya kukira itu tumpukan terpal basah atau curian milik bajing loncat pelabuhan. Tapi kemudian, terpal itu bergerak. Ada suara napas yang berat, putus-putus, dan mendesis pelan mirip suara ban bocor.

Aku berdiri, memegang kunci pas di saku jaket sebagai jaga-jaga. "Hei! Siapa di situ? Jangan macam-macam ya, ini wilayah operasi Baron Logistics!" gertakku, mencoba mengusir rasa canggung yang mendadak merayap di tengkukku.

Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru suara gesekan sesuatu yang keras dengan permukaan semen—bunyi sreeek yang janggal.

Rasa dongkol karena motor mogok mengalahkan rasa was-wasku. Aku melangkah memutari tumpukan palet kayu, siap memaki siapa pun gelandangan yang berani bersembunyi di area kerjaku. Begitu aku melongok ke balik celah, kata-kata makian yang sudah di ujung lidahku mendadak tertelan kembali.

Itu seorang cowok. Tubuhnya tinggi besar, jauh melampaui ukuran rata-rata orang yang biasa kutemui di dermaga. Dia meringkuk miring di atas lumpur hitam rawa yang merembes ke pelataran gudang. Pakaiannya—sejenis kemeja hitam tebal—sudah robek-robek parah seperti habis dicabik gergaji mesin.

Tapi bukan itu yang membuatku mematung.

Dari sela-sela robekan kain di punggung dan lengannya, kulit cowok itu dipenuhi luka robek yang aneh. Bukannya berwarna merah darah, pinggiran luka itu berkilat keperakan di bawah sorotan cahaya matahari sore. Warnanya berkilau, kontras sekali dengan lumpur kotor yang menempel di tubuhnya.

"Woi, Mas. Masih hidup tidak?" aku mendekat selangkah, ujung sepatuku menyentuh lengannya yang terkulai.

Deg.

Hawa dingin yang pekat langsung merambat menembus sol sepatuku. Rasanya seperti aku baru saja menyenggol balok es yang baru keluar dari gudang pembekuan ikan. Padahal cuaca Tanjungbalai sore ini mendekati tiga puluh empat derajat.

Cowok itu tersentak. Kepalanya bergerak naik dengan kaku. Rambut hitamnya yang basah oleh air rawa berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi, nyaris seperti mayat. Ketika dia membuka matanya, aku refleks mundur setengah langkah, tanganku mencengkeram kunci pas lebih erat.

Matanya tidak normal. Bagian putihnya kemerahan penuh urat darah, tetapi bagian pupilnya... vertikal tajam berwarna emas kelam.

Mirip mata kucing, atau mata ular beludak yang siap mematuk.

Tatapan mata emas itu mengunci pandanganku.

Dia mengeluarkan suara geraman rendah dari tenggorokannya yang membuat bulu kudukku berdiri, seolah memperingatkanku untuk tidak melangkah lebih dekat.

Aku mengerjapkan mata, mengatur napas yang mendadak terasa pendek. Aku melihat ke arah cowok aneh ini, lalu beralih menatap tumpukan palet kayu di sekelilingnya yang patah menjadi dua bagian. Beberapa kotak kargo plastik milik Baron Logistics di dekatnya tampak retak, isinya berserakan di atas tanah berlumpur.

Seketika itu juga, rasa ngeri di kepalaku langsung menguap, digantikan oleh rasa pusing yang luar biasa hebat.

"Aduh, hancur ini..." aku menepuk jidatku sendiri, mengabaikan geraman cowok itu. Aku melangkah mendekat tanpa memedulikan hawa dingin yang mulai menusuk kulit lenganku. "Heh, Mas! Kamu kalau mau mati atau berantem jangan di sini dong! Lihat ini, kargo milik orang hancur semua. Kalau pengawas gudang lihat, aku yang dituduh tidak becus jaga barang!"

Cowok bermata emas itu tampak tertegun.

Geramannya terhenti, berganti menjadi kedipan mata yang lambat seolah dia kesulitan mencerna omongan kasualku. Dia mencoba menggerakkan lengan kirinya, tetapi gerakan itu malah membuat luka keperakan di pundaknya mengeluarkan uap dingin tipis yang berbau aroma lumut tua. Dia meringis, giginya yang putih merapat menahan sakit.

"Jangan banyak gerak dulu," kataku, berjongkok satu meter di depannya. Aku memperhatikan pola berkilau di kulitnya dengan dahi berkerut. "Ini luka kena apa? Seperti disiram air keras, tapi kok berkilat? Kamu habis merampok depo perhiasan atau bagaimana?"

Dia tidak menyahut. Napasnya semakin cepat, memburu, dan setiap embusan angin dari mulutnya membuat rumput liar di sekitar semen pelataran tampak membeku kelabu.

Aku melirik jam tangan digital murahanku yang talinya sudah diganti karet gelang. Kurang empat puluh lima menit lagi sebelum gerbang sortir dikunci. Motor bebekku masih mati di depan, kargo yang harus kuantar berantakan karena ditimpa tubuh mahluk aneh ini, dan resi pengirimanku belum ditandatangani siapa pun.

"Sial, sial, sial," keluhku sambil berdiri, mengacak rambutku frustrasi. Aku menatap cowok misterius yang kini mulai memejamkan matanya kembali, tampak kehilangan kesadaran akibat kehabisan tenaga.

Logika jalananku berputar cepat. Kalau aku meninggalkannya di sini, petugas patroli malam Baron Logistics pasti akan menemukannya. Jika tempat ini dipasangi garis polisi, giliranku untuk mengambil sisa paket besok pagi akan dibatalkan, dan itu artinya aku tidak punya pemasukan sama sekali untuk minggu depan. Ditambah lagi, aku tidak bisa membiarkan barang kargo yang rusak ini tergeletak begitu saja tanpa ada yang bertanggung jawab.

Aku menghela napas panjang, menatap kunci pas di tanganku lalu memasukkannya kembali ke saku jaket.

"Dengar ya, Mas... Siapa pun namamu," kataku pada tubuh besar yang sudah tidak bergerak itu.

Aku mencengkeram bagian bawah kemeja robeknya, mencoba menarik tubuhnya agar bersandar pada dinding seng yang lebih kering.

"Urusan kita bakal panjang setelah ini. Kamu harus ganti rugi kotak kargo yang pecah ini, atau minimal... kamu harus bantu aku dorong motor bebek rongsokan itu sampai ke bengkel depan pasar."

Dengan tenaga seadanya, aku mulai menyeret tubuh dinginnya keluar dari celah palet kayu, mengabaikan aroma mistis rawa yang mulai memenuhi indra penciumanku. Yang ada di otakku sekarang cuma satu: bagaimana cara membawa mahluk seberat ini naik ke atas sepeda motor tanpa ketahuan penjaga dermaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!