Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Murid Baru
Lobi SMA 1 Nusa Bangsa tidak pernah seberisik ini sebelumnya. Biasanya, pagi hari di sekolah ini hanya diisi oleh suara sepatu yang beradu dengan lantai keramik atau obrolan santai mengenai tugas matematika yang belum selesai.
Namun pagi ini berbeda. Atmosfer sekolah terasa lebih berat oleh rasa penasaran yang meluap dari setiap sudut koridor. Suara bisik-bisik para siswi terdengar seperti dengungan lebah yang tak kunjung berhenti, menyebar dari gerbang depan hingga ke deretan kelas sebelas di lantai dua.
Cinta berjalan menembus kerumunan itu dengan langkah tenang, meski dalam hati ia merasa sedikit terganggu. Ia mengeratkan pelukannya pada tiga buku tebal yang harus ia kembalikan ke perpustakaan sebelum bel masuk berbunyi. Baginya, kegaduhan seperti ini selalu terasa berlebihan. Apalagi jika penyebabnya hanya karena rumor mengenai seorang murid pindahan.
"Katanya dia tampan sekali, Cin! Kamu harus lihat sendiri. Gayanya benar-benar beda, seperti aktor yang sedang menyamar jadi anak sekolah," celetuk Sarah yang tiba-tiba muncul di sampingnya dengan wajah kemerahan karena semangat.
Cinta hanya melirik sahabatnya itu tanpa menghentikan langkah. Ia sudah hafal betul dengan kebiasaan Sarah yang mudah sekali terpesona pada hal-hal baru. Baginya, ketampanan adalah hal subjektif yang seringkali menipu jika tidak dibarengi dengan perilaku yang baik.
"Semua murid di sekolah ini juga punya wajah yang biasa saja, Sar. Kenapa harus seheboh ini? Paling juga dia cuma murid biasa yang kebetulan pindah di tengah semester," jawab Cinta datar.
Sarah mendengus, tidak terima dengan respon dingin sahabatnya. "Kamu itu terlalu kaku, Cinta. Sekali-kali cobalah sedikit peduli dengan gosip sekolah. Kabarnya dia pindah karena punya masalah di sekolah lamanya. Ada yang bilang dia sering berkelahi, ada juga yang bilang dia sengaja dikeluarkan karena nakal."
"Bayangkan, seorang murid nakal dengan wajah rupawan, bukankah itu kombinasi yang sangat menarik untuk dibahas?"
Langkah Cinta mendadak terhenti tepat di belokan menuju koridor utama. Kalimat Sarah tentang murid nakal itu seolah menjadi nyata di depan matanya. Dari arah berlawanan, seorang cowok berjalan dengan langkah santai, mengabaikan puluhan pasang mata yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
Cowok itu mengenakan seragam SMA 1 Nusa Bangsa, tapi caranya berpakaian jauh dari kata rapi. Kemeja putihnya tidak dimasukkan ke dalam celana abu-abu, kancing paling atas dibiarkan terbuka, dan dasi yang seharusnya terpasang tegak justru melingkar longgar di lehernya seperti sebuah aksesori yang dipaksakan. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menutupi sebagian dahi, menambah kesan acuh tak acuh pada penampilannya.
Dia adalah Rian.
Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa meter, Rian mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Mata Rian terlihat sangat tajam namun terasa dingin, seolah ia bisa melihat menembus apa pun yang ada di depannya. Ada semacam aura kegelapan yang mengikutinya, sebuah tanda peringatan yang sangat jelas bagi Cinta untuk tidak terlibat dengannya.
Cinta terpaku selama satu detik, merasakan embusan angin saat Rian melewatinya begitu saja tanpa ekspresi. Aroma parfum kayu yang maskulin dan kuat tertinggal di udara, meninggalkan jejak keberadaannya yang terasa dominan. Cinta segera membuang muka dan mempercepat langkahnya, merasa tidak nyaman dengan sensasi aneh yang baru saja ia rasakan.
"Lihat kan apa yang aku bilang? Gayanya benar-benar keren tapi menakutkan," bisik Sarah setelah Rian menjauh.
Cinta mendengus pelan, berusaha mengembalikan fokusnya. "Justru itu masalahnya, Sar. Lihat cara dia berpakaian. Seragamnya berantakan, dasinya tidak dipasang dengan benar, dan tatapannya seperti orang yang siap mengajak ribut siapa saja."
"Dia jelas tipe cowok bermasalah yang hanya akan mengacaukan ketenangan sekolah kita. Aku heran kenapa kalian menyebutnya pesona. Itu bukan pesona, itu peringatan bahaya."
Bagi Cinta, aturan adalah segalanya. Sebagai siswi yang selalu menduduki peringkat atas dan aktif di berbagai kegiatan organisasi, keteraturan adalah kunci kehidupan. Ia tidak suka pada segala sesuatu yang berpotensi menimbulkan kekacauan. Dan dari pandangan pertama tadi, ia sudah memberi label permanen pada nama Rian di dalam kepalanya yaitu anak nakal yang harus dihindari.
Sepanjang perjalanan menuju perpustakaan, pikiran Cinta terusik. Ia tidak suka bagaimana tatapan dingin Rian seolah-olah menantangnya tadi. Ia membayangkan betapa repotnya para guru jika harus menghadapi murid seperti itu.
Apalagi SMA 1 Nusa Bangsa dikenal dengan kedisiplinannya yang ketat. Murid seperti Rian biasanya tidak akan bertahan lama atau justru akan menjadi pusat masalah baru bagi para pengurus kelas.
Setelah menyelesaikan urusannya di perpustakaan, bel masuk berbunyi dengan nyaring. Cinta bergegas menuju kelasnya, kelas XI MIPA 1. Ia duduk di kursinya yang berada di baris kedua dari depan, tempat favoritnya karena ia bisa mendengar penjelasan guru dengan sangat jelas.
Kursi di sebelahnya biasanya kosong karena teman sebangkunya pindah sekolah bulan lalu, dan ia merasa lebih nyaman belajar sendirian tanpa gangguan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pak Bambang, guru Fisika yang dikenal paling tegas dan jarang tersenyum, masuk ke dalam kelas. Di belakangnya, sosok yang sedari pagi menjadi bahan pembicaraan seantero sekolah ikut melangkah masuk.
Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Semua mata tertuju pada Rian yang berdiri di depan kelas dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Ia tampak tidak terganggu sedikit pun oleh puluhan pasang mata yang memperhatikannya dengan berbagai ekspresi, mulai dari kagum hingga curiga.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari Jakarta. Rian, silakan perkenalkan dirimu secara singkat," ujar Pak Bambang dengan suara beratnya.
"Nama saya Rian. Saya pindah ke sini karena urusan keluarga. Mohon bantuannya," ucap Rian singkat.
Suaranya rendah dan dalam, menambah kesan misterius yang sudah melekat padanya. Ia tidak tersenyum, tidak juga menunjukkan keramahan yang biasa ditunjukkan oleh murid baru pada umumnya.
Pak Bambang mengangguk singkat. "Baik, Rian. Karena hanya ada satu kursi kosong yang tersisa, kamu bisa duduk di sana, di sebelah Cinta. Cinta, tolong angkat tanganmu."
Jantung Cinta seolah berhenti berdetak sesaat. Ia perlahan mengangkat tangannya dengan perasaan campur aduk. Ia ingin memprotes, ingin mengatakan bahwa ia lebih suka duduk sendiri, tapi ia tahu itu tidak mungkin di hadapan Pak Bambang.
Rian berjalan menuju meja Cinta. Suara decitan kursinya saat ditarik terdengar sangat keras di tengah keheningan kelas. Ia duduk tanpa menyapa Cinta, bahkan tidak menoleh sedikit pun. Ia langsung meletakkan tas hitamnya di lantai dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai.
Cinta mencengkeram pulpennya kuat-kuat hingga buku-bukunya sedikit memutih. Ia bisa merasakan kehadiran Rian yang begitu kuat di sampingnya.
Aroma parfum kayu itu kembali tercium, memenuhi ruang pribadinya yang selama ini tenang. Cinta berusaha tetap fokus pada buku catatannya, mencoba mengabaikan sosok di sebelahnya yang terlihat sangat tidak berminat pada pelajaran Fisika yang mulai dijelaskan oleh Pak Bambang.
Sepanjang jam pelajaran, Rian tidak mengeluarkan satu pun buku. Ia hanya duduk diam sambil sesekali melihat ke luar jendela, seolah-olah materi tentang hukum Newton yang sedang dibahas adalah hal paling membosankan di dunia.
Sikap acuh tak acuh itu membuat Cinta semakin jengkel. Ia paling tidak suka melihat orang yang menyia-nyiakan waktu di kelas.
Setengah jam berlalu, dan Cinta tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia melirik ke arah meja Rian yang kosong tanpa selembar kertas pun.
Kamu tidak mencatat? tanya Cinta dengan suara sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh Pak Bambang.
Rian menoleh pelan. Ia menatap Cinta dengan tatapan datarnya yang khas. "Tidak perlu," jawabnya singkat.
Cinta mengerutkan kening. "Pak Bambang sering mengadakan kuis mendadak. Kalau kamu tidak punya catatan, kamu akan kesulitan nanti. Lagipula, ini aturan kelas ini, setiap murid harus punya catatan lengkap."
Rian menatap Cinta sedikit lebih lama kali ini, seolah baru menyadari keberadaan gadis itu secara penuh. "Kamu suka sekali mengatur ya?" tanyanya dengan nada yang sulit ditebak, antara mengejek atau hanya sekadar bertanya.
"Aku tidak mengatur, aku hanya memberitahu aturan yang ada di sini. Di SMA 1 Nusa Bangsa, kami menghargai kedisiplinan," balas Cinta dengan nada tegas yang tetap tertahan.
Rian hanya menaikkan satu alisnya, lalu kembali memalingkan wajah ke arah jendela tanpa membalas ucapan Cinta. Jawaban tak acuh itu membuat Cinta menarik napas panjang untuk meredam kekesalannya. Benar dugaannya, Rian adalah masalah besar.
...****************...
Saat istirahat tiba, Rian langsung berdiri dan keluar kelas tanpa berkata apa-apa. Begitu ia pergi, meja Cinta langsung dikerubungi oleh teman-teman sekelasnya, terutama para siswi yang penasaran.
"Cin! Bagaimana rasanya duduk di sebelah dia? Apa dia sedingin kelihatannya?" tanya salah satu teman kelasnya dengan antusias.
Cinta merapikan buku-bukunya dengan gerakan cepat. "Dia tidak sopan dan sangat malas. Aku tidak mengerti kenapa kalian semua begitu tertarik padanya. Dia bahkan tidak membawa buku tulis di hari pertamanya."
"Tapi dia keren banget, kan? Tipe-tipe cowok misterius yang bikin penasaran," sahut yang lain.
Cinta hanya menggelengkan kepala. "Keren tidak akan membantunya lulus ujian. Sudahlah, aku mau ke kantin. Aku tidak ingin membahas murid baru itu lagi."
Namun, meski ia berkata demikian, Cinta tahu bahwa hidupnya di sekolah tidak akan sesederhana biasanya. Kehadiran Rian di kursi sebelahnya adalah sebuah gangguan yang nyata.
Ia merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap nakal dan dingin cowok itu, sesuatu yang mungkin akan menyeretnya masuk ke dalam masalah yang selama ini ia hindari.
Cinta berjalan menuju kantin dengan perasaan yang tidak menentu. Di koridor, ia kembali melihat Rian sedang berdiri di dekat pagar pembatas lantai dua, sendirian, sambil menatap ke arah lapangan basket.
Dari kejauhan, sosoknya terlihat sangat asing dan kesepian di tengah keramaian SMA 1 Nusa Bangsa. Ada dorongan kecil di hati Cinta untuk mencari tahu lebih banyak, namun ia segera menepisnya. Ia harus tetap pada prinsipnya yaitu jangan pernah mendekati masalah. Dan bagi Cinta, Rian adalah masalah yang dibungkus dengan pesona yang mematikan.