NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat Merah di Obsidian

Lampu kristal yang tergantung di langit-langit The Obsidian memancarkan pendar merah temaram, bukan cahaya terang yang menyilaukan. Cahayanya membingkai ruangan dalam suasana gelap yang kelam, seolah setiap orang di dalamnya menyembunyikan rahasia terdalam mereka. Aroma pekat dari cerutu mahal bercampur dengan harumnya wiski tua dan parfum wanita-wanita elegan, sebuah perpaduan yang menciptakan atmosfer eksklusif namun berbahaya. Di tengah alunan jazz lembut yang bergema bak napas malam, ada satu sudut dingin yang menjadi pusat perhatian samar, terlalu menusuk bagi nyali kebanyakan orang untuk didekati.

Di sana, di sofa Chesterfield dari kulit hitam yang tampak mewah namun garang, Kenzo Arkana duduk bersandar dengan santai. Kemeja hitam yang dikenakannya dibiarkan terbuka di bagian atas, sedikit memperlihatkan garis-garis tato yang mengalir dari dadanya hingga leher. Matanya kelam, mengamati ruangan tanpa benar-benar memfokuskannya pada siapa pun. Pandangan itu bukanlah pandangan biasa, melainkan milik seorang predator yang menguasai wilayahnya -- sabar, tajam, dan mengintai kesalahan siapa saja yang berani menantangnya.

Seorang pria bertubuh besar dan kekar mendekat dengan langkah nyaris tak bersuara, menunduk sedikit sebelum berbisik di telinganya, "Barang dari dermaga selatan sudah masuk. Semuanya bersih."

Kenzo hanya menanggapi dengan anggukan kecil, sebuah gerakan nyaris tak terlihat namun sarat otoritas. Gestur itu saja sudah cukup untuk membuat pria besar itu segera mundur dengan rasa hormat. Tidak ada kata-kata lebih lanjut, hanya sebuah perintah dalam diam yang tak mungkin dilanggar.

Kenzo membenci kebisingan seolah itu duri yang menancap di benaknya setiap kali ia mendengarnya. Ia jijik pada emosi, sesuatu yang baginya hanya merepotkan dan tak penting. Namun, hal yang paling membuatnya muak adalah tatapan perempuan-perempuan itu arus fantasi penuh harap yang mengalir dari mata mereka setiap kali mencuri pandang ke arahnya dari sudut ruangan. Mereka adalah tipe yang mengimpi-ngimpi malam liar bersamanya; wanita nekat, haus bahaya, yang bercita-cita, meski hanya sekejap, menjadi ratu pendamping seorang raja dunia kegelapan. Tapi Kenzo lebih tahu. Ia tahu betul bahwa malam bersamanya tak pernah menjanjikan keindahan, hanya jalan satu arah menuju kehampaan tanpa akhir.

Beberapa meter dari tatapan tajamnya, Aara—atau seperti yang ia pilih malam ini, Cherry—berdiri dengan percaya diri yang terlatih sempurna. Gaun merah menyala membalut tubuhnya dengan potongan tinggi hingga hampir melampaui batas keberanian. Kilauan kulitnya berpadu dengan temaram lampu, menonjolkan semua daya tarik yang ia maksudkan. Dengan gerakan cepat, ia memoles ulang bibirnya menggunakan lipstik merah terang, lalu melirik ke cermin kecil di tangan, memamerkan senyum berbahaya yang telah ia sempurnakan berbulan-bulan selama pelatihannya sebagai agen. Senyum itu ringan, genit, dan cukup memikat untuk menaklukkan raksasa.

"Waktunya bermain, Cherry," ia berbisik pelan pada bayangannya.

Langkahnya lirih namun pasti ketika ia mulai beranjak mendekati targetnya. Gaya berjalannya ia buat begitu menggoda; setiap gerakan pinggulnya seolah menari seirama dengan alunan detak jantung yang kian cepat di dadanya. Sekilas, ia tampak seperti seorang ratu malam, menarik perhatian tanpa perlu usaha besar. Tapi hanya ada satu orang di ruangan itu yang ia incar: pria dingin yang duduk angkuh di atas sofa di pojok ruangan, dikelilingi kekuasaan dan ancaman.

Dalam hitungan detik setelah jarak antara mereka kian dekat, dua pria bertubuh besar dengan ekspresi sama kerasnya seperti baja muncul menghalangi langkahnya. Rupanya tak sembarang orang bisa mendekati Kenzo.

"Tunggu dulu, cantik," ujar salah seorang dari mereka dengan nada tegas namun sopan.

Aara tidak gentar sedikit pun. Bahkan dengan keberanian yang penuh perhitungan, ia mengulurkan tangan dan meletakkannya tepat di dada bidang salah satu pengawal itu, jari-jarinya dengan nakal menggoda kancing kemejanya. Suaranya keluar rendah dan serak seperti bisikan angin malam. "Tenang saja, sayang. Aku tidak membawa apa pun... kecuali sedikit kejutan manis untuk bos kalian."

Detik-detik penuh ketegangan itu berakhir ketika perintah sederhana menggema dari sudut ruangan. Suara Kenzo memecah suasana seperti sabetan pisau tajam dingin, tanpa emosi, namun penuh bobot tak terbantahkan.

"Biarkan dia lewat."

Pengawal itu mundur. Aara berjalan masuk, menembus kabut asap cerutu. Ia tidak duduk di kursi kosong di depan Kenzo. Dengan keberanian yang dianggap gila oleh semua orang di ruangan itu, ia justru mendaratkan pinggulnya di lengan sofa tepat di samping Kenzo.

"Astaga, Tuan Arkana... auramu benar-benar bisa membekukan gelas wiski ini," ucap Aara manja. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Kenzo, membiarkan aroma parfum black opium -nya yang memabukkan menyerang indra penciuman pria itu.

Kenzo tetap diam, namun matanya yang tajam kini tertuju pada Aara. Ia memperhatikan setiap inci wajah wanita itu—bulu mata yang lentik, hidung kecil yang bangir, dan bibir merah yang seolah menantangnya.

"Kau punya keberanian yang besar, atau kau hanya terlalu bodoh untuk takut mati?" tanya Kenzo rendah. Suaranya seperti gesekan logam, berbahaya namun menghanyutkan.

Aara tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat terdengar centil dan kekanak-kanakan. Ia menjangkau gelas wiski Kenzo, ujung jarinya menyentuh jari Kenzo dengan sengaja saat ia mengambil gelas itu.

"Mati di tangan pria setampan dirimu? Kedengarannya seperti akhir cerita yang sangat indah," Aara menyesap sedikit wiski itu, lalu menjilat bibir bawahnya perlahan sambil menatap mata Kenzo tanpa kedip. "Tapi aku lebih suka hidup... dan menikmati malam ini bersamamu."

Ia meletakkan kembali gelas itu dan mulai memainkan kerah kemeja Kenzo. Jemarinya merayap masuk ke balik kain mahal itu, menyentuh kulit Kenzo yang hangat.

"Aku dengar kau tidak suka wanita. Sayang sekali... padahal aku punya banyak 'keahlian' yang bisa membuatmu lupa pada urusan kapal-kapal membosankanmu itu di dermaga," bisik Aara tepat di telinga Kenzo, membiarkan napas hangatnya menyentuh kulit pria itu.

Tangan Kenzo tiba-tiba bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram leher Aara tidak cukup kuat untuk mencekik, tapi cukup untuk membuat Aara tahu siapa yang memegang kendali. Kenzo menarik wajah Aara hingga hidung mereka bersentuhan.

"Jangan bermain api jika kau tidak ingin terbakar, Jalang kecil," desis Kenzo.

Aara tidak menunjukkan ketakutan. Ia justru mendesah lembut, menyandarkan berat tubuhnya pada cengkeraman tangan Kenzo, seolah ia sangat menikmati kekasaran pria itu. Matanya sayu, penuh dengan akting gairah yang sempurna.

"Bakar aku, Kenzo... aku ingin tahu seberapa panas apimu," tantang Aara dengan nada merayu yang sangat berani.

Di balik senyum centilnya, otak Aara bekerja seperti komputer. Tangannya yang lain, yang tersembunyi di balik tubuh Kenzo, mulai meraba bagian dalam jas Kenzo dengan gerakan yang sangat halus mencari perangkat penyimpanan data yang ia incar.

Permainan maut baru saja dimulai. Di antara aroma wiski dan bahaya, Aara tahu ia sedang menari di atas pedang yang sangat tajam. Satu kesalahan kecil, dan kepalanya akan berakhir di dasar laut. Namun, saat ia melihat mata Kenzo yang mulai sedikit menggelap, ia tahu penyamarannya sebagai wanita penghibur yang haus perhatian telah berhasil memancing sang monster keluar dari gua-nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!