Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-22
Setelah memastikan Nara pindah malam itu juga ke sebuah rumah yang tak jauh dari perumahan elitnya,karena Nara tak ingin tinggal dirumah Arkan, ia sadar ia hanya seorang kekasih bukan istri pria itu,meski sudah di rayu Arkan tatap saja Nara kekeh ingin tinggal terpisah namun tetap masih di jangkauan Arkan,
Sedangkan Arkan pergi ketempat yang sudah lama ia tinggalkan..
sebuah rumah yang ada di ujung kota, sekelilingnya di penuhi pohon pohon besar dan hutan, mobilnya terus melaju hingga berhenti di sebuah bangunan yang cuman ada satu satunya disana.
Suasana di tempat itu sangat mencekam. Hening, gelap, dan hanya terdengar suara desiran angin yang menerpa dedaunan pohon besar yang menjulang tinggi. Tempat ini adalah markas tersembunyi, tempat di mana Arkan bisa menjadi dirinya sendiri sepenuhnya—bukan sebagai CEO muda, tapi sebagai penguasa yang sesungguhnya yang tak tersentuh.
Pintu mobil terbuka. Arkan turun dengan wajah datar dan tatapan mata yang sedingin es. Tidak ada lagi senyum manis atau kelembutan seperti saat bersama Nara. Yang ada hanyalah aura mematikan yang membuat siapa saja yang melihatnya akan gemetar ketakutan.
jika hukum tak bisa membuat Raka diam,maka biarkan dia yang akan mendiamkan Raka dengan caranya sendiri..
Arkan melangkah masuk ke dalam bangunan yang terlihat seperti gudang besar namun kokoh itu. Di dalam sana, sudah ada beberapa anak buahnya yang berdiri tegak dengan wajah serius.
"Bagaimana?" tanya Arkan singkat tanpa menoleh.
"Sudah siap, Tuan. Pria itu ada di ruang bawah tanah. Masih sadar tapi sudah tidak bisa berontak," jawab salah satu pria berbadan besar itu hormat.
Arkan mengangguk pelan, lalu berjalan menuju sebuah pintu besi berat di sudut ruangan. Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan tangga yang menurun ke bawah menuju ruangan yang remang-remang dan lembap.
Di sana,terikat kuat di sebuah kursi besi, terlihat Raka yang wajahnya sudah babak belur, mata bengkak, dan mulutnya disumpal. Saat melihat Arkan datang, matanya membelalak ketakutan, tubuhnya bergetar hebat mencoba melepaskan ikatan.
Hmmm! Hmmm! Raka mencoba berteriak tapi tak bisa.
Arkan berhenti tepat di hadapannya. Ia menatap pria yang hampir menyakiti kekasihnya itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Lo pikir lo bisa bebas begitu saja? lo pikir setelah lo berani menyentuh apa yang menjadi milik gue, lo bisa hidup tenang?" ucap Arkan pelan, suaranya terdengar sangat tenang namun justru itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan.
Arkan menarik sumpal di mulut Raka.
"ARKA!! AMPUN ARKAN!! GUE GAK TAU DIA MILIK LO!! GUE MABUK!! AMPUN KA!!" rintih Raka histeris, air mata dan ingus bercampur darah mengalir di wajahnya.
Arkan tersenyum miring, senyum yang sangat menyeramkan.
"Hukum mungkin bisa dibeli. Hukum mungkin bisa membiarkan sampah seperti lo berkeliaran lagi," ucap Arkan lambat, lalu tangannya mengambil sebuah benda tajam di meja sampingnya, memainkannya dengan santai.
"Tapi gue... gue gak butuh hukum. gue adalah hukum buat lo."
Mata Arkan memancarkan kegelapan yang dalam.
"Karena lo udah berani mengganggu ketenangan wanita yang paling gue cintai... maka lo akan membayarnya dengan harga yang sangat mahal. Dan di sini... tidak ada yang akan mendengar teriakan lo."
__________
Penyiksaan pun di mulai, Arkan tidak tanggung tanggung dalam menghukum orang orang yang menurutnya telah mengganggu batasannya..
Suasana di ruang bawah tanah itu berubah menjadi neraka duniawi. Arkan tidak lagi terlihat sebagai pria muda yang berpendidikan dan sopan. Saat ini, ia adalah hakim dan algojo yang tak kenal ampun.
Bagi Arkan, ada garis batas yang tidak boleh dilangkahi siapapun. Dan Raka sudah melanggarnya sangat jauh—berani menyakiti, berani mengancam, dan hampir memperlakukan Nara dengan cara yang sangat hina.
Bugh! Bugh! Crrak!
Pukulan demi pukulan mendarat tepat di wajah dan tubuh Raka. Arkan memukul dengan tenaga penuh, tidak terburu-buru, tapi sangat terukur. Ia ingin pria itu merasakan sakit yang luar biasa, tapi tetap sadar hingga detik terakhir.
"ARGH!! AMPUN AMPUN!! JANGAN!!" rintih Raka dengan suara parau, darah membanjir dari mulut dan hidungnya.
Arkan berhenti sejenak, menyeka sedikit percikan darah yang mengenai jasnya dengan wajah jijik.
"Ampun? lo berani minta ampun?" tanya Arkan dingin. "Dimana ampun lo saat lo hampir merobek baju Nara tadi? Dimana rasa belas kasihan lo saat lo mengancam nyawanya?"
Arkan mendekatkan wajahnya, matanya menatap tajam ke bola mata Raka yang ketakutan.
"Lo tahu... gue orang yang sangat sabar. Tapi kalau sudah menyangkut dia... kesabaran gue habis."
Arkan memberi isyarat tangan, dan anak buahnya segera membawa berbagai alat yang tidak manusiawi. Tidak hanya pukulan, rasa sakit yang menusuk tulang, dingin yang membekukan, hingga rasa sesak yang mendera dada semuanya dirasakan Raka malam itu.
Raka berteriak sekencang-kencangnya, memanggil nama Tuhan, meminta tolong, mengakui semua kesalahannya, bahkan sampai mengutuk dirinya sendiri. Tapi semua itu sia-sia.
Di tempat ini, teriakan tidak akan sampai ke langit. Hanya ada Arkan yang mendengarkan dengan wajah datar, menikmati setiap jeritan kesakitan itu sebagai pembayaran atas rasa takut yang Nara rasakan.
"Jangan harap lo bisa mati dengan cepat," bisik Arkan pelan sebelum memerintahkan hukuman berikutnya. "Rasakan dulu apa itu neraka. Karena lo memang pantas berada di sana."
Malam itu menjadi malam terpanjang dan paling mengerikan bagi Raka. Ia sadar betul, ia tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup. Ia sudah menantang harimau, dan sekarang ia harus siap diterkam habis-habisan.
Sementara itu, di rumah baru Nara...
Nara terbangun karena mimpi buruk. Ia melihat Raka mengejarnya, melihat wajah Arkan yang penuh darah.
"Arkan...!" Nara terbangun dengan napas memburu, keringat dingin membasahi dahinya.
Ia menoleh ke samping, tempat tidur itu kosong. Arkan belum kembali.
"Kemana dia pergi malam-malam begini..." batin Nara cemas. ia tidak tahu kemana perginya pria itu,karena setelah meninggalkan dirinya disini Arkan langsung pergi begitu saja.
"Dimanapun kamu berada, semoga kamu baik baik aja!"
BERSAMBUNG...