Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aleea
Sore ini hujan membasahi tanah pelataran pesantren, hawa dingin namun aroma tanah basah membuat suasana sedikit lebih hangat, lantunan adzan anak santri memenuhi seluruh ruang yang ada di pesantren ini, aku aleea beranjak hendak menunaikan sholat di kamarku setelah sedari tadi sibuk dengan membuat Bait per bait novel baruku. aku jarang keluar rumah kecuali mengajar atau solo trip untuk mencari ide menarik untuk tulisanku, kata orang aku introvert tapi aku memang suka sekali menyendiri bahkan di dalam rumah sekalipun.
aku memiliki saudara yang sama introvertnya dan lebih pendiam dariku, namun ia sedang belajar di luar kota yang lumayan jauh dari kota ini, aylin namanya. terkadang saat aku stuck dengan tulisanku, aku pergi mengunjunginya untuk sekedar bertanya apa yang salah dari tulisan buatanku, bagiku aylin bukan sekedar adik tapi juga tempatku bertukar pikiran karna karakter kita yang tidak jauh berbeda yang membuat kesamaan berfikir hampir seluruhnya sama.
Setelah sholat asar sebenarnya ada jadwalku untuk mengajar di pesantren perempuan hingga nanti petang, namun sepertinya aku sedikit pusing padahal sudahku persiapkan materinya. Aku berdiam sejenak untuk memijat leherku agar supaya lebih ringan pusingku.
" mbak leea.... " suara ibu Ifah, ibuku
Aku tidak memanggil umi karna dari kecil dibiasakan dengan sebutan ibu, Bu Ifah juga tidak mau di panggil umi, menurutnya terasa berat rasanya padahal menurutku sama saja hahahah.
" Enggeh ibu, kenapa? "
" mbak leea mau ngajar to?" pertanyaan ibu berganti setelah melihatku bersiap membawa kitab untuk mengajar.
" Enggeh, kenapa memang?"
" oh... Yawes engko bengi wae, yen pun senggang mbak lea langsung ke ibu ya... Soale ibu perlu matur berdua serius kale mbak lea" ungkap ibuku (oh... Yasudah nanti malam saja, kalau sudah ada waktu mbak lea langsung ke ibu ya... Soalnya ibu perlu ngomong berdua sama mbak lea)
" Enggeh Bu... Mantun isya'an mbak lea mriku ke kamar ibu" ( iya Bu... Setelah sholat isya mbak lea ke kamar ibu) ucapku sambil memikirkan apa yang akan ibu obrolkan nanti malam.
Ibu pergi setelah itu dan aku melanjutkan langkahku ke pesantren perempuan yang tidak jauh dari rumah namun harus melewati halaman belakang dan kolam ikan milik abahku, aku melangkah bebas sebab pelataranku tidak terlihat sekali dengan pesantren laki- laki yang ada di bagian depan rumahku.
" assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucapku ketika memasuki kelas
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" sahutnya anak Santriwati
Aku lanjut mengajar sampai tidak terasa waktunya cepat berlalu, aku hendak pulang tapi ada santriwati menghentikan langkahku sebab dia menangis di depan kamarnya.
" kenapa mbak?" tanyaku
" eh mbak leea... engga apa apa mbak, cuma kelilipan" ucapnya sambil menghapus air mata dan sedikit ingus di pangkal hidungnya.
" mana ada kelilipan sampe ingusan mbak... Monggo cerita kalo memang harus di sembunyikan, insyaallah saya Ndak akan bilang ke siapa-siapa" ucapku, karna santriwati ini ada di sudut depan kamarnya sambil menatap sebuah surat yang dia baca dengan di tutupi satu tangan lainnya.pikirku itu sangat rahasia tapi itu membuatnya sedih entah dari siapa.
" emmm... ga apa apa mbak leea saya malu mau cerita" ucapnya sungkan ( tidak enak hati)
" ya sudah, ga apa apa mbak kalo memang belum bisa cerita tapi nanti kalo sudah terasa berat Dateng saja kerumah saya siap mendengar, jangan di simpan sendiri ya mbak, ya sudah saya pulang dulu" ucapku
Aku berlalu pergi pulang, sebenarnya aku kepikiran sama mbak santriwati tadi, entah apa itu sepertinya dia mau tidak mau harus menerima, Seperti feeling tapi bisa jadi benar. Jam menunjukkan jam 17.19 wib aku meletakan kitab di rak buku dan melepas jilbabku dan pergi berwudhu' untuk sholat magrib sebentar lagi.
Setelah itu aku ambil lagi jilbabku lalu pergi ke dapur untuk mengambil susu dan kue untuk berbuka dan kembali lagi ke kamar, jantung sedikit deg-deg.an entah kenapa mungkin belum makan kali ya.adzan pun berkumandang ku ganti jilbabku dengan mukenah dan berdoa untuk membatalkan puasaku, setelah sholat aku habiskan makananku dan melanjutkan lagi rutinitasku sampai nanti menjelang sholat isya.
"tok tok tok" suara ketukan pintu
" mbak leaa abis isya jadi ke ibu kan?" tanya ibu dari luar kamarku, tidak masuk mungkin takut mengganggu rutinitasku.
Aku beranjak dan membuka pintu dengan senyum aku ucap " Enggeh Bu"
" heheheheh yasudah lanjut lagi mbak leea " dengan senyum malu melenggang pergi, kututup kembali pintuku dan melanjutkan bacaanku tanpa memikirkan lagi apa yang mau ibu bicarakan nanti.
Setelah sholat isya dan berganti mukenahku dengan hijab aku pergi ke kamar ibu tapi ternyata ibu tidak di kamar, aku mencari ke belakang ternyata ibu di ruang makan sedang makan dengan Abah.
" maem apa Bu?" ucapku
" ini Lo leea gurami bakar buatan ustadz areez" ucap Abah, sedangk ibu mau menjawab tapi mulutnya masih penuh dengan makanan hahahah.
" ini cobain... Uwenak mbak leea" ucap ibu setelahnya
" leea... sudah kepikiran belum buat berumah tangga" ucap Abah tanpa basa basi.
Aku cukup tersentak tapi sudah menduga akan ada pertanyaan ini.
"Abah ibu... Sebenarnya les belum merasa butuh suami, lea punya Abah dan ibu yang ada buat lea, Lea juga masih muda, 24 tahun bukan usia yang sangat memprihatinkan karena belum menikah" ucapku berhati-hati takut menyakiti hati mereka
" iya sih... Sebenarnya Abah sudah punya calon tapi kalo pilihan mbak lea seperti ini, ibu ikut gimana maunya mbak lea aja" ucap ibu seperti menenangkan mungkin karna aku menjawab dengan suara sedikit bergetar.
" lea... Kalo tau calon Abah buat kamu pasti Lea ga akan nolak" ucap Abah sambil tersenyum iseng
" hust..." ucap ibu " tapi iya sih" lanjutnya
" apa si...." ucapku enggan, lalu aku pamit ke kamar meninggalkan mereka berdua tetap di meja makan.
Berat memang ketika membahas pernikahan, menurutku ini hal yang sangat sensitif atau karna aku belum siap dan kepikiran untuk ada di step kehidupan itu. Entahlah.......