NovelToon NovelToon
Sistem Restoran Antar Dimensi

Sistem Restoran Antar Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.

Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Reza membuka matanya saat cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela kamarnya.

Dia mematikan alarm ponselnya dan melihat jam menunjukkan pukul enam pagi.

Reza bangkit dari tempat tidur kayu itu dan merapikan selimutnya.

Dia berjalan perlahan menuruni anak tangga menuju lantai satu kedai.

Sesampainya di dapur, dia langsung menyalakan keran wastafel dan membasuh wajahnya.

Air dingin yang menyentuh kulit wajahnya membuat rasa kantuknya hilang seketika.

"Sistem, ke mana pintu kedai terhubung hari ini?" tanya Reza memecah kesunyian.

Layar biru transparan langsung muncul tepat di depan pandangan matanya.

"Hari ini pintu utama kembali terhubung ke dimensi asal Host, yaitu Bumi," jawab Sistem dengan suara datar.

"Kedai ini akan beroperasi di lokasi aslinya di gang kecil kota ini."

Reza menganggukkan kepalanya mengerti mendengar penjelasan tersebut.

"Apakah ada aturan khusus untuk pelanggan dari Bumi?" tanya Reza lagi.

"Aku tidak ingin mereka tiba-tiba mengeluarkan cahaya atau mendapatkan kekuatan super setelah makan."

"Host tidak perlu khawatir mengenai hal tersebut," jelas Sistem.

"Bahan makanan yang tersedia hari ini telah disesuaikan dengan kondisi tubuh manusia biasa."

"Jadi tidak ada efek sihir penyembuhan atau peningkatan tenaga dalam?" balas Reza memastikan.

"Benar, bahan makanan hari ini hanya memiliki kualitas kesegaran tingkat tertinggi," kata Sistem.

"Makanan itu hanya akan memberikan asupan gizi yang sangat optimal untuk kesehatan manusia biasa."

"Lalu bagaimana dengan sistem pembayarannya?" tanya Reza sambil mengambil celemek dari gantungan.

"Apakah aku tetap mendapatkan Poin Sistem?"

"Pendapatan hari ini sepenuhnya berupa uang tunai rupiah murni," jawab Sistem.

"Tidak ada penambahan poin sistem untuk transaksi dengan pelanggan dari Bumi."

'Itu sangat masuk akal dan terdengar adil,' batin Reza dalam hatinya.

'Aku tetap membutuhkan banyak uang tunai biasa untuk keperluanku sendiri di dunia nyata.'

Reza memakai celemeknya dan berjalan menuju pintu utama kedai.

Dia memutar kenop kuningan itu dan membuka pintu lebar-lebar.

Pemandangan di luar kini bukan lagi hutan bambu atau jalanan bersalju.

Itu adalah jalanan gang beraspal yang sepi tempat kedainya memang berada.

Udara pagi khas kota yang sedikit hangat dan lembap langsung terasa di kulitnya.

Beberapa kendaraan bermotor terdengar melintas dari arah jalan raya utama di kejauhan.

Reza kembali masuk dan menyalakan lampu gantung di area makan pelanggan.

Dia juga menyalakan tanda buka di papan kayu yang tergantung di balik kaca jendela depan.

Setelah itu, Reza masuk ke dapur untuk memeriksa persediaan bahan di dalam kulkas.

Terdapat banyak gulungan mi segar kuning, daging ayam potong dadu, sawi hijau, dan daun bawang.

"Sepertinya hari ini aku akan berjualan mi ayam jamur spesial," ucap Reza pada dirinya sendiri.

"Menu ini sangat merakyat dan cocok dimakan pagi atau siang hari."

Reza menyalakan kompor dan mulai merebus tulang ayam untuk membuat kuah kaldu.

Dia juga mulai menumis daging ayam cincang dengan kecap manis, bawang putih, dan potongan jamur merang.

Aroma manis dan gurih dari tumisan ayam kecap itu segera memenuhi seluruh ruangan kedai.

Waktu terus berjalan hingga jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Belum ada satu pun pelanggan yang datang ke kedai Reza.

Hal ini sangat wajar karena lokasi kedainya memang berada di dalam gang yang jarang dilewati orang.

Sementara itu di luar gang, seorang pemuda bernama Dimas berjalan dengan langkah gontai.

Dimas adalah seorang pembuat konten ulasan makanan yang memiliki saluran video sendiri.

Dia memegang kamera kecil di tangan kanannya dengan ekspresi wajah yang sangat kesal.

"Pemilik restoran besar itu benar-benar sangat sombong," gerutu Dimas sendirian.

"Dia menolak peliputanku hanya karena jumlah pengikut saluranku masih sedikit."

Dimas menghela napas panjang dan mengusap perutnya yang mulai berbunyi.

Dia belum sarapan sama sekali sejak pagi demi menyiapkan perut untuk ulasan makanan.

"Aku harus mencari tempat makan lain di sekitar sini untuk konten hari ini," kata Dimas.

"Kalau tidak, aku tidak akan punya video baru untuk diunggah besok."

Dimas berbelok ke arah gang kecil yang sepi untuk menghindari panasnya matahari di jalan raya.

Langkahnya tiba-tiba terhenti saat hidungnya mencium aroma gurih yang sangat kuat.

"Wangi masakan apa ini?" ucap Dimas sambil mengendus udara.

"Aroma kaldu ayam dan kecap manisnya sungguh sangat menggugah selera."

Dimas mengikuti sumber aroma itu dan berjalan semakin masuk ke dalam gang.

Matanya menangkap sebuah bangunan bergaya klasik dengan dinding bata merah yang rapi.

Di atas pintu kayu bangunan itu terdapat papan nama bertuliskan Kedai Persimpangan.

"Aku sering lewat daerah sini tapi baru kali ini melihat kedai ini," gumam Dimas heran.

"Bangunannya terlihat sangat bersih dan terawat untuk ukuran tempat makan di gang buntu."

Dimas menyalakan kamera kecilnya dan mulai merekam bagian depan kedai tersebut.

Dia mendorong pintu kayu itu dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang sejuk.

Suara lonceng kecil berbunyi nyaring saat pintu itu terbuka.

"Selamat datang di Kedai Persimpangan, silakan duduk di mana saja," sapa Reza dari balik meja dapur.

Dimas menatap sekeliling ruangan dengan pandangan takjub.

Meja dan kursi kayu di tempat itu terlihat sangat mengkilap tanpa debu sedikit pun.

"Tempat ini sangat bersih, Mas," puji Dimas berjalan mendekati salah satu meja kosong.

"Apakah kedai ini baru saja dibuka hari ini?"

"Benar, ini adalah hari pertama kedai kami melayani pelanggan umum," jawab Reza ramah.

"Silakan duduk, apakah Anda ingin memesan makanan sekarang?"

Dimas duduk dan meletakkan kamera kecilnya di atas meja menghadap ke arah dapur.

"Tentu saja saya mau pesan, perut saya sudah sangat lapar," jawab Dimas sambil tersenyum.

"Apa menu andalan yang dijual di kedai ini hari ini?"

"Hari ini kami hanya menyajikan mi ayam jamur spesial, Mas," kata Reza menawarkan.

"Harganya dua puluh lima ribu rupiah untuk satu porsi lengkap."

"Wah, harganya cukup standar untuk ukuran tempat sebagus ini," balas Dimas sedikit terkejut.

"Tolong buatkan saya satu porsi mi ayam jamur itu ya, Mas."

"Baik, mohon tunggu sebentar," jawab Reza berbalik menghadap kompornya.

Dimas mengambil kameranya lagi dan merekam suasana dari tempat duduknya.

"Halo sobat penonton, hari ini aku tidak sengaja menemukan kedai tersembunyi," ucap Dimas ke arah lensa kamera.

"Tempatnya sangat nyaman dan sekarang aku sedang menunggu pesanan mi ayam jamur."

1
Yuliana Tunru
💪💪💪👍👍👍
Kasma Wati
lanjut👍👍👍👍
Alia Chans
lanjut✍️👈
Äï
loh kok dia tau?
cynth
Deja vu....
Yui: ehehehe, klo yang dah baca bayu pasti tau/Facepalm/
total 1 replies
Yuliana Tunru
cerita bagus jg santai tanpa tantangan berat reza menikmati posis koki dgn baik .. 👍👍👍up yg byk thorr
Gege
sampe bab 10 sangat ringan dan enak dibaca sebagai hiburan. saran koki akan menyiapkan menu dengan harga yang sudah dipatenkan, terkesan mahal, tapi efeknya warbyasaaah bagi tubuh. pada akhirnya pundi pundi milyaran menjadikan koki menjadi kayah rayah...
Gege
ide ceritanya menarik.. harusnya bisa jadi ratusan episode ini..💪🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!