NovelToon NovelToon
Shan Luo

Shan Luo

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”

Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.

Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.

Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Shan Luo

​PLAK!

​Tamparan keras itu membelah kesunyian paviliun tua yang pengap. Suaranya bergema, meninggalkan getaran pahit di udara.

​Raga Xue Ling terhuyung. Pipinya yang pucat seketika dihiasi jejak merah yang kontras.

Helai rambut panjangnya berantakan, menutupi wajah yang biasanya memancarkan keanggunan, kini hanya menyisakan sorot mata yang redup.

​"Wanita pembawa sial!" Suara itu melengking tajam, penuh dengan kebencian yang menusuk tulang. "Jika bukan karena ambisi politik dan kepentinganku, aku tidak akan pernah sudi membiarkan sampah seperti dirimu menyandang nama Shan!"

​Di sudut ruangan yang remang, sepasang mata muda menyaksikan segalanya.

​"Ibu ...?"

​Shan Luo(10) berdiri terpaku. Dadanya sesak, seolah pasokan udara di ruangan itu mendadak hilang.

Melihat ibunya hanya tertunduk membisu, menerima penghinaan itu tanpa perlawanan, sesuatu dalam jiwa Shan Luo retak. Kehancuran itu memicu api yang membakar akal sehatnya.

​Tangan kecilnya mengepal hingga buku jarinya memutih.

​Lalu ia menerjang.

​"Hentikan! Berani-beraninya kau menyentuh ibuku, lelaki biadab!" teriaknya dengan suara parau yang pecah oleh kemarahan.

​Namun, keberanian itu hanyalah debu di hadapan gunung.

​BUGH!

​Sebuah hantaman telak mendarat tepat di ulu hatinya.

​"Ugh—!"

​Tubuh Shan Luo menekuk seketika. Paru-parunya seolah dipaksa mengempis dalam satu detik.

Matanya membelalak, menangkap bayangan buram dunia yang berputar hebat saat tubuh kecilnya terpental dan menghantam lantai batu yang dingin.

Rasa sakit itu bukan sekadar fisik; itu adalah ledakan yang merobek kesadarannya.

​Ia terbatuk, mencoba meraup oksigen yang mendadak terasa seperti duri.

​"Shan Luo!"

​Xue Ling menjerit pilu. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia mencoba bangkit, namun langkahnya limbung. Belum sempat ia meraih putranya.

​DUGH!

​Sepatu bot berbahan kulit mahal menghujam rusuk Shan Luo tanpa ampun.

​"Dasar anak haram tidak tahu diri!" Shan Feng membentak, tatapannya dipenuhi rasa jijik seolah ia sedang menginjak serangga. "Berani kau menantangku? Kau pikir kau punya kualifikasi apa untuk bicara?!"

​DUGH! DUGH!

​Setiap tendangan membawa bobot kekuatan seorang pendekar, menghancurkan pertahanan fisik Shan Luo yang lemah.

Bocah itu hanya bisa meringkuk, merasai sensasi tulang-tulangnya yang berderak seolah akan remuk menjadi serpihan.

​"Ayah ...?" Shan Luo terbatuk darah, tawanya terdengar serak dan menyedihkan di sela rintihannya. "Hahaha ... Ayah?"

​Tawa itu begitu getir hingga mampu menggetarkan nurani siapa pun, kecuali pria di depannya.

​DUGH!

​Satu tendangan terakhir mendarat lebih brutal dari sebelumnya.

​"Jangan pernah sudi kau memanggilku dengan sebutan itu!" raung Shan Feng. "Sampah yang tidak memiliki akar kultivasi sepertimu tidak pantas menjadi darah dagingku! Kau dan ibumu hanyalah aib yang seharusnya sudah lama lenyap!"

​"CUKUP!!"

​Xue Ling menerjang maju, mendekap tubuh Shan Luo dengan sisa raga yang ia miliki. Ia menjadikan dirinya perisai hidup.

​DUARR!

​Hantaman kaki Shan Feng yang seharusnya menghancurkan tulang rusuk Shan Luo, kini sepenuhnya diterima oleh punggung Xue Ling.

​"Ibu!!"

​Raga Xue Ling terlempar beberapa langkah ke depan, menyeret Shan Luo dalam dekapannya.

Darah segar merembes dari sudut bibirnya, membasahi pakaian mereka berdua.

Namun, meski penglihatannya mulai menggelap, ia tidak sedikit pun melonggarkan pelukannya.

​Seolah-olah jika ia melepaskannya, dunianya akan benar-benar berakhir.

​"I-ibu ...?" suara Shan Luo bergetar hebat.

​Ia bisa merasakan betapa dinginnya suhu tubuh ibunya. Dingin yang tidak wajar, disertai gemetar yang tak kunjung usai.

​"Tidak apa-apa, Nak ..." bisik Xue Ling terputus-putus. Ia mencoba mengulas senyum, meski setiap kata yang keluar diikuti oleh rembesan darah. "Ibu ... ada di sini ..."

​Air mata yang hangat jatuh menetes, membasahi wajah Shan Luo yang penuh debu.

Bocah itu menggigit bibirnya begitu keras hingga rasa besi karat memenuhi indra perasanya. Tangannya yang kecil mencengkeram erat pakaian ibunya.

​Sejak malam yang kelam itu, Xue Ling tak pernah lagi kembali menjadi dirinya yang dulu.

​Penyakitnya mengakar. Setiap malam diwarnai oleh batuk darah dan napas yang semakin tipis.

Setiap kali Shan Luo menatap wajah ibunya yang kian tirus, hatinya terasa seperti disayat oleh ribuan sembilu secara perlahan.

​"Ibu ..." suara Shan Luo memecah keheningan malam yang sunyi. "Kenapa Ibu masih memilih bertahan dengan pria sekejam itu?"

​Matanya memerah karena menahan tangis yang sudah terlalu lama mengendap.

​"Dia bahkan membawa wanita lain ke rumah ini ... memperlakukan Ibu lebih rendah dari pelayan ... Dia tidak layak mendapatkan pengabdianmu!"

​Xue Ling terdiam, bersandar pada dinding kayu yang lapuk. Napasnya tersengal, pendek dan berat.

​"Ibu ... uhuk ... Ibu tahu ..."

​Ia menatap putranya. Sorot matanya adalah perpaduan antara kelelahan yang luar biasa dan kasih sayang yang tak terbatas.

​"Dulu ... dia bukan iblis seperti sekarang ..." Suara Xue Ling melayang pelan, seolah terseret kembali ke masa lalu yang jauh. "Kami bertemu di Klan Es ... di Benua Binghuo yang abadi. Dia adalah pria paling lembut yang pernah Ibu temui."

​Air mata mulai mengalir menyusuri pipinya.

​"Ibu memberikan segalanya untuknya. Cinta, masa depan ... hingga ..." Tangannya yang gemetar menyentuh puncak kepala Shan Luo. "Bahkan Kekuatan Esensi milik Ibu ..."

​Shan Luo membeku. Rahangnya mengeras.

​Ia tahu kenyataan pahit itu. Esensi Es, sumber kekuatan dan kehidupan ibunya sebagai pendekar tingkat tinggi, telah dirampas demi ambisi Shan Feng. Sejak saat itu, ibunya jatuh dari puncak kejayaan menjadi wanita lemah yang napasnya saja bisa padam kapan saja.

​"Ibu bodoh ..." isak Xue Ling. "Ibu jatuh cinta ... pada sosok yang ternyata adalah iblis."

​"Ibu tidak salah!" potong Shan Luo dengan nada yang naik satu oktav. "Dia yang bersalah! Dunia ini yang bersalah!"

​Urat-urat di pelipisnya menegang. Kemarahan yang selama ini ia pendam kini mencapai titik didihnya. Semua penderitaan, penghinaan, dan darah yang tumpah semuanya bermuara pada satu nama: Shan Feng.

​Shan Luo perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya yang semula penuh kesedihan, kini bertransformasi.

​Dingin. Kelam. Tak tersentuh.

​"Aku akan membunuhnya."

​Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan angin malam, namun mengandung tekad yang mampu meretakkan fondasi bumi.

​"Aku akan membantai semua orang yang pernah menanam luka di hatimu, Ibu."

​Namun, di balik sumpah itu, ada realitas yang menghantamnya. Ia lemah. Tak peduli seberapa keras ia berlatih hingga kulitnya mengelupas dan ototnya menjerit, hasilnya tetap nihil. Tanpa akar kultivasi, ia hanyalah debu di tengah badai.

​Tawa mengejek ibu tirinya, tatapan merendahkan dari saudara-saudara tirinya. semua itu terngiang seperti kutukan yang mengikat jiwanya.

​"Seandainya ..." Shan Luo berbisik serak, ia jatuh berlutut di tanah. "Seandainya aku memiliki kekuatan..."

​Kepalanya tertunduk dalam. Air mata jatuh, membasahi tanah yang tak memberikan jawaban.

​Hening sejenak.

​Lalu, perlahan tapi pasti, Shan Luo mendongak kembali. Air matanya belum benar-benar kering, namun sorot matanya telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.

​"Jika dunia ini menolak memberiku jalan ..."

​Suaranya kini terdengar tenang, namun ketenangan itu justru terasa lebih mengerikan daripada ledakan amarah.

​"Maka aku akan merobek takdir itu ... dan merebut kekuatan dengan tanganku sendiri."

​Tangannya mengepal erat, mencengkeram debu tanah, seolah-olah ia sedang mencekik leher takdir itu sendiri.

1
Ajipengestu
lanjut thor👍
Iwa Kakap
ribet amat thor
Beni: itu cuma penjelasan naik ranah sama kesulitannya aja. gak perlu di pikirin hehe. /Pray/
total 1 replies
angin kelana
ayooooo jdi juara💪💪💪
Beni
oke... 😐
Beni
😛
Beni
/Hunger//Sweat/
Beni
😐
Beni
oke... 😐
angin kelana
semangat bertarung💪💪💪
angin kelana
anak baik👍
angin kelana
semangaaat menjadi kuat..
angin kelana
ayo buktikan kekuatanmu💪💪💪
angin kelana
ayoooo lebih kuat lg
angin kelana
lanjuuuttt...
angin kelana
kalo untuk pengenalan bole lah pake english tpi ke depannya gak usah ajah ini kan fantasi timur bukan barat..lanjut👍
Beni: nanti di revisi ya, terima kasih/Pray/
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuttt..
angin kelana
dunia yg kejam.😬
Beni
😐
Jade Meamoure
bagus 🤣🤣🤣
Jade Meamoure
Yan Bingchen bukankah itu patriarki sekte es ya
Beni: Pendekar es dan api
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!