" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jendela yg Berdebu
Satu-satunya cara Arumi tahu dunia masih berputar adalah melalui debu yang menari di celah cahaya jendela ruang tamu. Sudah dua puluh tahun ia di sana. Di rumah yang sama, dengan aroma pembersih lantai yang sama, dan instruksi yang itu-itu saja.
Pagi itu, Ayahnya duduk di kursi kayu jengki dengan koran yang sudah dibaca tiga kali.
"Rum," panggil Ayahnya tanpa menoleh.
"Iya, Yah?" Arumi berhenti menyeka meja.
Tangannya yang putih dan halus—tangan yang tak pernah menyentuh kerasnya aspal jalanan—sedikit gemetar.
"Teman lama Ayah mau datang nanti malam. Baskara namanya." Ayah melipat korannya perlahan. "Dia orang baik,mapan. Usianya tiga puluh sembilan. Pas untuk membimbing anak sepertimu yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar."
Arumi tertegun. Jarinya mencengkeram kain lap. "Maksud Ayah... tamu untuk perjodohan?"
Ayah menatapnya tajam. Tatapan yang selama ini menjadi pagar tinggi bagi kaki Arumi. "Ini cara terbaik supaya kamu tidak merepotkan kami terus di rumah ini. Kamu akan pindah ke rumahnya setelah urusan ini selesai."
"Tapi, Yah... Arumi bahkan belum pernah—"
"Belum pernah apa? Keluar? Memang tidak perlu," potong Ayahnya dingin. "Istri itu tempatnya di rumah. Kamu hanya pindah rumah, Arumi. Itu saja."
...Malam Perjodohan...
...----------------...
Baskara datang tepat waktu. Dia mengenakan kemeja abu-abu yang rapi namun tampak kusam, seolah warna pakaian itu sudah menyatu dengan kulitnya. Wajahnya datar. Tidak ada senyum, tidak ada binar ketertarikan.
Mereka dibiarkan duduk berdua di teras belakang sementara orang tua mereka berbicara di dalam. Keheningan di antara mereka terasa lebih berat daripada semen.
"Mas... Mas Baskara?" Arumi memberanikan diri memecah sunyi. Suaranya kecil, hampir tertelan angin malam.
Baskara hanya menoleh sedikit. Matanya kosong, menatap ke arah kebun yang gelap. Ia tidak menjawab.
"Mas tinggal di mana?" tanya Arumi lagi, mencoba mencari celah komunikasi.
Baskara terdiam selama hampir satu menit, sampai Arumi mengira pria itu tidak mendengar. Akhirnya, sebuah jawaban pendek keluar.
"Pusat kota."
"Apakah di sana ramai?" Arumi mencoba tersenyum kecil. "Saya jarang keluar rumah. Saya ingin tahu seperti apa—"
"Sama saja," potong Baskara datar. Ia kembali membuang muka, seolah-olah percakapan itu adalah usaha yang sia-sia dan melelahkan baginya.
"Mas keberatan dengan... perjodohan ini?" Arumi bertanya, nyaris berbisik.
Baskara tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya menarik napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras.
"Terserah orang tua saja," jawabnya pelan. "Saya tidak mau ambil pusing."
Arumi menunduk. Ia menatap jemari kakinya. Saat itu ia menyadari, pria yang akan menjadi suaminya ini bukanlah pintu keluar dari sangkar ini. Dia hanyalah sangkar baru—yang lebih sunyi, lebih dingin, dan mungkin akan membuatnya layu lebih cepat dari yang ia bayangkan.